
*Desa Wongawet (Dewo)*
Lelaki tua bertubuh gagah itu berdiri menghadap ke pembaringan batu yang di atasnya dilapisi tilam berwarna emas. Lelaki tua itu memiliki sorot mata yang tajam. Kedua alis tebalnya sudah berwarna putih, sama dengan rambut putihnya yang digelung di atas kepala. Baju merahnya yang tidak berkancing dibiarkan terbuka, memperlihatkan badan tuanya yang masih kokoh berotot.
Lelaki tua bercelana pangsi merah itu sedang menikmati kecantikan jelita seorang wanita, yang terbaring terpejam di atas tilam emas itu. Wanita berpakaian putih seperti gaun itu memiliki kehalusan kulit yang seperti kulit bayi, bersih, seolah tanpa lapisan kotoran sedikit pun. Dari gerak dadanya yang naik turun secara samar, menunjukkan bahwa wanita itu masih bernapas.
Mendengar suara langkah kaki seseorang datang, lelaki tua itu tahu bahwa orang yang datang adalah Ki Daraki. Ia berbalik dan memandang kepada kedatangan Ki Daraki.
“Ada apa, Tetua?” tanya Ki Daraki dengan ekspresi wajah yang datar.
“Aku tidak bisa menunggu lagi!” kata lelaki tua yang disebut Tetua oleh Ki Daraki. Dia memang orang yang disebut sebagai Tetua Desa, orang nomor satu di desa itu. Ia menunjuk gadis cantik di atas pembaringan. “Kau lihat! Bagaimana aku bisa menahan nafsuku jika memandangi kecantikan seperti itu?”
“Apakah Tetua tidak bisa menahan dua hari lagi sampai pengaruh racun tidurnya hilang?” tanya Ki Daraki.
“Tidak!” teriak Tetua Desa marah. “Kau harus mencari jamur emas malam ini juga agar aku bisa membuat ramuan untuk menghilangkan pengaruh racun itu!”
“Percuma, Tetua. Tidak mudah mencari jamur jenis itu di daerah ini, terlebih ini adalah malam hari. Jikapun mujur menemukannya, paling cepat memakan waktu satu hari. Hanya selisih satu hari, belum termasuk meracik ramuannya. Sama saja dengan menunggu dua hari, lebih jelas,” ujar Ki Daraki. “Jika memang burung Tetua tidak bisa menahan diri, bagaimana jika aku memberikan gantinya sebagai pelampiasan, agar Tetua tidak marah-marah kepadaku?”
“Siapa yang ingin kau tawarkan?” tanya Tetua.
“Kekasih Sudarka, gadis tercantik di desa ini....”
“Boleh itu!” kata Tetua Desa cepat memotong perkataan Ki Daraki.
“Tapi sebenarnya dia sudah menjadi milikku. Aku mau memberikannya kepada Tetua sebagai budak nafsu, tetapi aku minta pengertian Tetua untuk memberikanku satu ilmu yang lebih tinggi dari yang kumiliki saat ini,” ujar Ki Daraki.
“Hahaha! Dasar kepala desa tamak!” rutuk Tetua Desa seraya tertawa rendah. “Aku akan memberikanmu setelah aku bersetubuh dengan perempuan itu. Bawa kemari sekarang juga!”
“Baik, Tetua,” ucap Ki Daraki.
Namun, tiba-tiba….
“Kurang ajar, orang sakti mana yang berani menyusup ke gua ini?” geram Tetua Desa tiba-tiba sambil memandang tajam ke arah mulut lorong.
Ki Daraki terkejut mendengar perkataan Tetua Desa itu.
Wess!
Tiba-tiba Tetua Desa melesat cepat ke mulut lorong dan melesat lagi menuju tempat Kemuning disiksa.
Ki Daraki buru-buru berkelebat mengikuti, meninggalkan ruangan gua yang besar itu.
Bress!
Tiba-tiba di lantai gua muncul sinar merah berbentuk jaring laba-laba. Dari dalam sinar itu melompat muncul sosok Tirana yang langsung bersalto di udara dan mendarat dengan ringan di lantai gua.
__ADS_1
Tirana sejenak mengedarkan pandangannya. Ia tidak menemukan siapa pun di tempat itu, kecuali sesosok gadis cantik yang terbaring laksana bidadari tidur.
“Kembang Buangi?” sebut Tirana terkejut.
Sekali gerak, Tirana sudah berdiri di sisi pembaringan batu itu.
“Kembang!” panggil Tirana sambil menepuk pelan pipi gadis tidur yang memang Kembang Buangi adanya, kekasih Hujabayat.
Tirana cepat memeriksa tanda-tanda kehidupan Kembang Buangi.
“Sepertinya Kembang dalam pengaruh racun,” membatin Tirana. Ia segera meraih tubuh sahabatnya itu dan meletakkannya dalam panggulan bahunya.
“Berhenti!” teriak Tetua Desa yang tahu-tahu sudah muncul di mulut lorong.
Meski terkejut dengan teriakan itu, Tirana hanya tersenyum.
Bress!
Tirana melempar sinar merah Lorong Laba-Laba-nya di lantai depan kakinya.
Wess! Blaar!
Tetua Desa langsung melesatkan sekiblatan sinar merah tipis. Sambil tersenyum, Tirana tinggal maju selangkah dan langsung jatuh masuk menghilang ke dalam lantai. Serangan Tetua Desa hanya menghancurkan ranjang batu.
“Aaaarggk!” teriak Tetua Desa begitu murka.
“Penyusup itu membawa gadisku!” teriak Tetua Desa sangat marah.
“Ini pasti ulah Joko Tenang dan istrinya,” terka Ki Daraki.
“Siapa orang itu?”
“Pendekar yang menjadi tamu di desa ini.”
“Berpuluh-puluh tahun tidak ada orang persilatan yang berani mengusik Bajik Lungo, tapi kali ini ada yang coba-coba!” desis Tetua Desa yang mengaku bernama Bajik Lungo. “Bunuh mereka, Daraki!”
“Baik, Tetua.”
Sementara itu, di dalam kegelapan, tidak jauh di depan rumah Ki Daraki, Joko Tenang dan Sedap Malu berdiri bersama dalam jarak pisah empat langkah.
“Apa yang membuatmu datang ke desa ini?” tanya Joko.
“Aku mencari kakakku. Menurut kesaksian orang yang aku percaya, Mawar Embun berada di desa ini, tetapi keberadaannya tidak aku temukan. Mawar Embun menghilang sebelum aku menemukannya di desa ini. Aku berkeyakinan bahwa Ki Daraki telah membunuh kakakku. Aku kemudian mau menjadi kekasih Sudarka agar aku terlindungi dan bisa mengorek berbagai rahasia,” jelas Sedap Malu.
“Setelah kita membunuh Ki Daraki, apa yang akan kau lakukan?” tanya Joko lagi.
__ADS_1
“Menunjuk pemimpin desa yang tepat dan mengubah semua aturan desa yang merugikan. Aku berharap semua warga kembali mendapatkan haknya untuk mencintai lawan jenisnya,” jawab Sedap Malu.
Bress!
Tiba-tiba sinar jaring laba-laba muncul di dinding rumah Ki Daraki. Tirana melangkah keluar seperti bidadari dari alam lain.
Wuss!
Melihat kemunculan Tirana, Joko Tenang tanpa perhitungan lagi melesatkan satu sinar hijau berbentuk bulan sabit. Itu ilmu Bulan Pecah Karang.
Buaarr!
Satu ledakan hebat terjadi, menghancurkan rumah besar Ki Daraki seperti hancur oleh ledakan bom besar.
Ledakan itu mengejutkan semua penghuni Desa Wongawet, sekaligus tanda bagi para pemberontak untuk mulai bertindak.
“Seraaang!” teriak Palang Segi dari balik kegelapan di pinggir alun-alun.
Teriakan itu mengejutkan Tungkur Wagi dan rekan-rekannya yang menjaga Riri Liwet. Namun, Palang Segi dan sembilan rekannya sudah berkelebatan di udara dengan senjata masing-masing.
“Seraaang!” teriak Bangirayu pula. Dia bersama empat wanita lain keluar dari dalam kegelapan dan turun mengeroyok Tungkur Wagi dan rekan-rekannya.
“Riri Liwet!” panggil seorang lelaki berpakaian serba hitam. Ia berlari mendatangi Riri Liwet yang digantung sambil melesatkan dua pisau terbang.
Teb teb!
Kedua pisau terbang itu menancap di sisi atas dan bawah tiang kayu besar, sekaligus memutus tali yang mengikat tangan dan kaki Riri Liwet.
Lelaki yang adalah Si Kucing Merah itu berkelebat cepat dan menangkap jatuh tubuh Riri Liwet. Si Kucing Merah memeluk erat tubuh Riri Liwet dan mendudukkannya dengan hati-hati.
“Riri, maafkan aku,” ucap Si Topeng Merah lirih sambil menangisi kondisi Riri Liwet.
“Tidak, Wiro. Kita akan berhasil,” ucap Riri Liwet lemah.
Tanpa mempedulikan pertarungan yang sedang berlangsung di sekitarnya, Si Topeng Merah terus memeluk tubuh kekasihnya yang tidak berdaya.
“Kembang Buangi, Kakang. Dia keracunan,” kata Tirana memberi tahu Joko.
“Berarti Ratu dan Ginari ada pada Kelompok Pedang Angin,” kata Joko.
“Sedap Malu!” teriak seorang wanita tiba-tiba. Sedap Malu langsung menengok ke sumber suara.
Orang yang memanggil Sedap Malu adalah Titin Susina. Ia datang dengan membawa satu obor bambu.
“Beraninya kau memberontak!” kata Titin Susina.
__ADS_1
“Biar aku yang mengurus ayam betina ini!” kata Sedap Malu kepada Joko dan Tirana.
Sedap Malu melangkah pergi ke hadapan Titin Susina. Kedua wanita cantik itupun berhadapan. Titin melempar obornya ke sisa kehancuran rumah Ki Daraki. Secara perlahan api membakar sisa rumah itu. (RH)