Pendekar Sanggana

Pendekar Sanggana
PAC27: Kalung Tujuh Roh


__ADS_3

*Pertarungan Atas Cinta (PAC)* 


 


Lelaki separuh baya itu menggebah kencang kuda hitamnya memasuki desa. Ia seorang yang berpostur tubuh jangkung, tetapi kurus. Ia mengenakan jubah hitam yang ujungnya berkibar mengikuti lari kuda. Lelaki berambut gondrong sebahu itu tampak tegang.


“Hiaah!” gebahnya lebih keras agar kudanya berlari lebih cepat, padahal kuda itu sudah berlari dengan kecepatan maksimal.


Lelaki bernama Tawang Suka itu akhirnya mendekati sebuah rumah kayu besar. Di depan rumah ramai berkerumun orang, hampir semua adalah lelaki. Mereka adalah warga desa itu.


“Kenapa ramai sekali orang?” ucap Tawang Suka kesal.


Mendengar suara lari kuda yang terdengar kencang , para warga desa segera melihat ke belakang.


“Minggir!” teriak Tawang Suka marah. Ia marah karena jalannya tertutup oleh keramaian.


Buru-buru para warga bergerak menyingkir. Namun, karena mereka awalnya berdesakan, jadi pergerakan mereka lambat.


Terpaksa Tawang Suka melompat dari kudanya dan berkelebat cepat di udara meninggalkan kudanya yang berlari berbelok, nyaris menabrak warga yang berkerumun.


Tubuh Tawang Suka berkelebat cepat lewat di atas kepala para warga dan mendarat di lantai papan teras rumah. Ia langsung berlari masuk dan menemui dua perempuan, yaitu adik perempuan dan kakaknya.


“Kakak, apakah berhasil?” tanya wanita berusia separuh abad juga, tetapi lebih muda dari Tawang Suka. Ia bernama Kariya.


“Raja Kera bersedia meminjamkan Kalung Tujuh Roh!” jawab Tawang Suka penuh semangat. Ia merogoh balik bajunya kemudian mengeluarkan seuntai kalung yang terdiri dari rangkaian batu permata berwarna hijau.


Kedua wanita itupun tersenyum. Itu artinya ada harapan untuk menghidupkan kembali ayah mereka, Satria Gagah.


Satria Gagah yang sudah berusia delapan puluh tahun, kini terbaring di dipan kayu berkasur keras. Rambut putih panjangnya tergerai di bawah tubuhnya. Sepasang wajah tuanya telah pucat memutih, seolah tanpa ada darah lagi. Sepasang mata cekungnya terpejam. Kedua bibirnya agak terbuka.


“Cepat lakukan kepada Ayah!” kata wanita yang tertua. Tubuhnya agak gemuk dengan rambut digelung sederhana. Ia mengenakan pakaian warna putih. Wanita berusia enam puluh tahun itu bernama Sintri Lewo, kakak dari Tawang Suka dan Kariya.


Tawang Suka mengangguk. Ia memandang sejenak ayah mereka yang sebenarnya sudah tidak bernapas. Tidak ada tanda-tanda gerakan napas pada tubuh tuanya.


“Tapi, apakah Ayah sudah tidak bernapas?” tanya Tawang Suka, ragu.


“Lakukan saja. Jika Kalung Tuju Roh itu tidak bisa menghidupkan Ayah lagi, apa gunanya kalung itu disebut sakti!” tandas Sintri Lewo dengan nada suara agak meninggi.


“Baik,” ucap Tawang Suka. Ia lalu menarik napas dan mulai melakukan gerakan tangan sesuai petunjuk Raja Kera.

__ADS_1


Kalung Tujuh Roh yang kini berada di tangan Tawang Suka adalah milik Raja Kera. Tawang Suka mendapat kepercayaan dipinjami kalung itu karena Satria Gagah dan Raja Kera bersahabat. Hanya saja, kali ini Raja Kera tidak bisa datang langsung karena sedang mengurung diri untuk sebuah ilmu kesaktian.


Tiba-tiba Kalung Tujuh Roh bersinar hijau, tapi kelap-kelip. Setelah bersinar terang, lalu meredup kembali, kemudian terang lagi, meredup lagi, demikian seterusnya.


Tawang Suka segera mengalungkan kalung itu ke leher Satria Gagah.


Yang terjadi selanjutnya, dari kalung itu menjalar sinar hijau ke seluruh bagian tubuh Satria Gagah. Penjalaran itu terjadi hingga sepuluh kali.


Sintri Lewo, Tawang Suka dan Kariya tegang menunggu apa yang kemudian akan terjadi dan seperti apa hasilnya. Jantung mereka bertiga berdebar-debar.


Akhirnya, Kalung Tujuh Roh padam. Sinarnya menghilang.


Namun kemudian, ketiga putra Satria Gagah yang sudah berusia itu terkejut. Mereka jelas sekali melihat sepasang bibir ayah mereka bergerak menutup.


“Ayah!” sebut mereka bertiga bersamaan sambil bergerak lebih mendekat kepada tubuh ayahnya.


Selanjutnya, sepasang kelopak mata tua Satria Gagah terbuka. Tersenyum lebarlah mereka.


Raja Gagah pun hidup kembali.


“Setelah itu, Tawang Suka datang kepadaku dan memberi tahu bahwa Kalung Tujuh Roh sudah musnah,” kata Raja Kera kepada Joko Tenang, Tirana, Hujabayat, dan Kembang Buangi.


Mereka berlima masih berada di pinggir sungai. Raja Kera menceritakan sebab Kalung Tujuh Roh hilang. Namun, kini kalung itu berada di tangannya setelah Kembang Buangi mengembalikannya.


“Ada yang aneh dari ceritamu, Kek,” kata Tirana. “Kenapa kau tidak marah ketika Tawang Suka mengatakan bahwa kalung ini telah musnah?”


“Kalung Tujuh Roh ini adalah pemberian sahabatku. Kalung ini hanya bisa menghidupkan mayat dari orang yang baru mati sebanyak tujuh kali. Jika sudah menghidupkan sebanyak tujuh kali, kalung ini akan musnah dengan sendirinya. Aku tidak tahu, sudah berapa kali Kalung Tujuh Roh ini menghidupkan orang mati. Hal ini aku beritahukan kepada Tawang Suka sebelum ia pulang untuk menghidupkan Satria Gagah,” jelas Raja Kera.


“Berarti kalung ini masih bisa digunakan?” tanya Kembang Buangi.


“Benar. Sebenarnya aku sudah tidak memikirkan kalung ini, sebab aku sangka memang telah musnah setelah dipakai untuk menghidupkan Satria Gagah. Entah apa yang terjadi di antara ketiga bersaudara itu. Aku tidak menyangka jika Kariya harus mati demi menyelamatkan kalung ini dari Suci Sari dan temannya. Aku harus memperjelas masalah ini kepada Satria Gagah dan anak-anaknya,” kata lelaki cebol dan tua itu.


“Kami sedikit pun tidak tahu apa-apa tentang kalung ini. Setelah tahu tentang khasiatnya, kami pun tidak tertarik atau berniat memilikinya. Yang pastinya, amanah dari Kariya telah aku sampaikan kepadamu, Raja Kera. Berarti tugasku selesai untuk masalah kalung ini,” ujar Kembang Buangi.


“Aku sangat berterima kasih atas pertolonganmu, Joko, dan kau, Kembang Buangi. Jarang-jarang aku bertemu orang-orang yang nafsunya tidak jelalatan ketika melihat benda sakti atau wanita cantik,” kata Raja Kera yang ujung-ujungnya tersenyum kepada Joko Tenang, tetapi Joko yang diajak tersenyum hanya diam menelan salivanya.


Tirana sedikit kerutkan kening menangkap isyarat tidak wajar Raja Kera kepada Joko.


“Kau jangan memancing di depan calon istriku, Raja Kera. Aku tadi hanya merasa berkewajiban untuk meluruskan permasalahan kalian berdua, tidak punya niat apa pun terhadap Dewi Bayang Kematian,” kata Joko, menegur Raja Kera secara halus.

__ADS_1


“Hahahak!” tawa Raja Kera agak terbahak mendengar alasan Joko.


Percakapan khusus antara calon suaminya dengan Raja Kera membuat Tirana cukup penasaran. Saat Joko Tenang dan Dewi Bayang Kematian meluruskan permasalahan di seberang sana, Tirana dan yang lainnya tidak mendengar apa yang mereka bicarakan. Berbeda ketika Raja Kera dan Dewi Bayang Kematian saling balas berteriak dalam pertarungannya.


“Hujabayat, Kembang, lebih baik kalian kembali ke Kerajaan Tarumasaga. Biarkan aku dan Tirana yang pergi ke Kadipaten Rabaklaga. Kami berdua bisa mengatasinya,” kata Joko kepada pasangan kekasih itu.


Sebelum Hujabayat berkata, Kembang Buangi lebih dulu menjawab.


“Baik, Joko.”


Kembang Buangi sudah tidak meragukan kesaktian Joko Tenang, terlebih masih ditambah dengan kesaktian Tirana. Ia pun ingin melepas rindu beratnya hanya berdua dengan Hujabayat. Terlebih pikirnya, Joko pasti ingin sesekali hanya berdua dengan calon istri jelitanya itu. Ia tidak tahu, bahwa ketika pulang dari negeri seberang samudera, Joko puas berduaan dengan Tirana di atas punggung sang rajawali, tanpa diganggu sedikit pun oleh Puspa.


“Raja Kera, sebelum kita berpisah, aku ingin menyampaikan bahwa kau diundang datang ke Jurang Lolongan pada purnama kedua,” ujar Joko.


“Siapa yang mengundangku?” tanya Raja Kera.


“Tiga Malaikat Kipas,” jawab Joko.


Mendeliklah sepasang mata Raja Kera.


“Kau bertemu dengannya atau kau memiliki hubungan dengannya?” tanya Raja Kera lagi.


“Aku muridnya,” jawab Joko Tenang.


“Hah!” pekik Raja Kera. Lalu tanyanya lagi tidak percaya, “Kau muridnya?”


“Tepatnya aku murid Ki Ageng Kunsa Pari, tapi sekarang aku juga murid Tiga Malaikat Kipas,” tandas Joko.


“Hah!” pekik Raja Kera lebih keras.


Para pemuda itu hanya memandangi ekspresi Raja Kera yang heboh sendiri.


“Jadi kau mendapat ilmu langsung dari Tiga Malaikat Kipas?” tanya Raja Kera lagi, ia rasanya kurang yakin.


“Iya,” jawab Joko.


“Hebat... hebat!” puji Raja Kera sambil manggut-manggut. “Setahuku, berarti kau murid termuda dari Tiga Malaikat Kipas.”


“Mungkin,” jawab Joko singkat.

__ADS_1


“Jika Tiga Malaikat Kipas yang mengundang, meski pada waktu yang bersamaan aku harus menikah, pasti aku lebih memilih datang memenuhi undangan mereka daripada menikah,” kata Raja Kera yang membuat para pemuda itu tertawa rendah. “Aku harus pergi menyelesaikan masalahku.”


“Silakan,” ucap Joko. (RH)


__ADS_2