
*Cincin Darah Suci *
Komandan Bu Ruong adalah perwira yang mendapat tugas utama mengungkap siapa dalang di balik penyergapan besar terhadap Putri Yuo Kai pada hari kemarin. Hal itu karena penyergapan dan serangan terjadi di pusat Ibu Kota He, di dalam wilayah keamanan wewenang Pasukan Naga Merah Tengah yang dikomandani oleh Komandan Bu Ruong.
Berdasarkan masukan dari Su Rai alias Ular Putih, Jenderal Mok Jueng memerintahkan Komandan Bu Ruong untuk memeriksa semua usaha jasa pembuatan tato.
Setelah melihat data jenis usaha pembuatan tato, ternyata ada sepuluh usaha pembuatan tato yang terdaftar. Namun, berdasarkan informasi dari intelijen Biro Mata Putih, ternyata ada dua usaha pembuatan tato yang ilegal atau tidak terdaftar.
Usaha jasa pembuatan tato tersebar di seluruh Ibu Kota, tetapi lebih banyak terdapat di Ibu Kota He bagian utara, yaitu ada tujuh yang legal dan dua ilegal.
Ibu Kota He bagian utara di bawah wewenang Komandan Naga Merah Utara Hei Xiong. Karena itu, Komandan Bu Ruong lebih dulu harus menyampaikan tugasnya kepada Komandan Hei Xiong agar turut membantu dalam penggerebekan serentak.
Pasukan Naga Merah Tengah dan Utara bersinergi. Namun, merujuk kepada kasus yang merupakan kejahatan besar, pembuatan tato yang dimiliki oleh para penyerang Putri Yuo Kai kemungkinan besar dilakukan di jasa tato yang ilegal.
Berdasarkan analisa itu, Komandan Bu Ruong dan Komandan Hei Xiong memilih memimpin penyergapan ke usaha jasa tato yang tidak terdaftar. Sementara pasukan mereka yang lain tetap melakukan penggerebekan di usaha-usaha yang terdaftar.
Komandan Hei Xiong adalah seorang lelaki berusia 50 tahun tetapi bertubuh tinggi kekar dengan seragam biru-biru. Pakaiannya sama dengan Komandan Bu Ruong. Namun, jika Komandan Bu Ruong berbekal senjata pedang, Komandan Hei Xiong berbekal senjata dua buah kapak bergagang pendek.
Para prajurit Pasukan Naga Merah Tengah dan Pasukan Naga Merah Utara sudah berada dan bersiap di posisinya masing-masing. Mereka yang tersebar secara luas di sejumlah titik, tinggal menunggu aba-aba tanda harus bergerak.
Di bagian utara Ibu Kota He. Tampak Komandan Bu Ruong duduk berjongkok di atap sebuah rumah. Demikian pula dengan Komandan Hei Xiong, dia juga berjongkok di atap sebuah rumah. Posisinya hanya terpisah dua bangunan dari posisi Komandan Bu Ruong.
Dum dum dum dum!
Penjaga di menara pengawas di pusat dan utara Ibu Kota He secara bersamaan menabuh empat pukulan yang terdengar ke seantero Ibu Kota hingga ke Istana.
“Bergerak!” teriak Komandan Bu Ruong dan Komandan Hei Xiong bersamaan kepada para prajurit bawahannya.
Kedua komandan itu telah meminta jasa penjaga menara pemantau untuk memberi pukulan genderang sebagai aba-aba agar mereka yang melakukan penggerebekan bisa bergerak bersamaan di titik yang berbeda-beda. Siasat itu bertujuan mencegah satu seniman tato mengirim pesan ke seniman tato lainnya di tempat lain.
Seiring melompatnya kedua komandan itu ke depan tempat usaha jasa tato, dari berbagai arah bermunculan pula para prajurit yang telah bersembunyi di berbagai tempat.
Betapa terkejutnya para seniman tato dan pelanggannya. Seketika mereka kocar-kacir mau melarikan diri, tetapi semua jalan kabur telah ditutup oleh prajurit.
“Mana pemilik usaha ini?!” tanya Komandan Bu Ruong dengan membentak kepada tiga orang seniman tato di usaha yang tidak terdaftar itu.
“Ham... hamba, Tuan!” aku seorang lelaki bertubuh kekar tanpa berbaju. Di badan depan dan belakangnya penuh dengan gambar tato naga. Ia sudah dibekuk oleh dua orang prajurit dan di bawah ancaman pedang.
Lelaki bertato itu segera dihadapkan kepada Komandan Bu Ruong.
__ADS_1
“Buatan tato siapa ini?” tanya Komandan Bu Ruong sambil menunjukkan sehelai kertas putih yang memiliki gambar ular. Kepala ular hitam itu berdiri di atas lingkaran badannya.
“Itu buatanku, Tuan,” aku lelaki bertato.
“Berapa banyak orang yang ditato seperti ini?”
“Sekitar seratus orang.”
“Siapa mereka?”
“Aku... aku tidak tahu, Tuan,” kata lelaki bertato itu tergagap.
“Bagaimana kau bisa menato pelanggan tanpa tahu siapa mereka?!” bentak marah Komandan Bu Ruong sambil memukul kepala lelaki bertato. “Kau tahu, orang-orang ini telah menyerang Yang Mulia Putri Yuo Kai!”
Terkejutlah lelaki bertato itu dan kedua anak buahnya. Mereka semakin ketakutan. Sebab, kemungkinan besar hukuman mati akan mereka hadapi.
“Jika kalian tidak mau dihukum penggal, jangan berani berbohong!” gertak Komandan Bu Ruong.
“Iya, Tuan. Baik, aku akan jawab.”
“Cepat katakan!”
“Pekerjaan menato itu dipesan oleh Tuan Ling Mo,” ungkap lelaki bertato.
“Jai Lom yang tahu rumahnya di bagian tengah. Dia pernah ke rumah Tuan Ling Mo untuk menagih bayaran,” jawab lelaki bertato.
“Yang mana Jai Lom?”
“Hamba, Tuan,” sahut satu dari anak buah lelaki bertato. Ia lelaki kurus berpakaian warna merah lengan pendek. Di kedua batang tangannya ada seni tato bergambar pedang bagus.
“Kau tunjukkan rumah Tuan Ling Mo!” perintah Komandan Bu Ruong kepada Jai Lom. “Bawa dua lainnya ke penjara!”
“Baik, Komandan!” ucap patuh beberapa prajurit.
Dari hasil penangkapan di tempat usaha jasa tato ilegal itu, Komandan Bu Ruong segera berkoordinasi dengan Komandan Hei Xiong yang tidak mendapatkan petunjuk dari hasil penggerebekannya di tempat tato lainnya.
Karena letak rumah orang yang bernama Ling Mo ada di bagian tengah Ibu Kota He, Komandan Bu Ruong merasa cukup pasukannya saja yang bergerak melakukan penggerebekan.
Maka, lelaki bertato yang bernama Jai Lom menjadi penunjuk unyuk pergi ke bagian tengah atau pusat Ibu Kota.
__ADS_1
Ternyata, Jai Lom membawa Komandan Bu Ruong dan pasukannya memasuki gang sempit yang berliku-liku, hingga mereka berhenti di depan sebuah rumah yang pintu halamannya tertutup. Rumah itu ternyata adalah rumah tempat Ketua Kelompok Hutan Timur dan Bangsawan Sushan berada. Rumah itu pula yang dikunjungi oleh Xie Yua, sahabat Putri Yuo Kai.
Komandan Bu Ruong segera mengatur posisi pasukannya dengan aba-aba isyarat.
“Dobrak!” perintah Komandan Bu Ruong.
Brakr!
Tiga prajurit secara bersamaan menendang pintu kayu yang tertutup. Dengan mudah pintu terbuka, sepertinya pintu itu tidak dikunci dengan kuat dari dalam. Sementara Komandan Bu Ruong sudah melompat melewati tembok pagar.
Di halaman itu tidak ada orang, kosong. Para prajurit segera menerobos masuk lebih jauh ke dalam rumah. Komandan Bu Ruong memilih menunggu di luar.
Tidak berapa lama, seorang ketua prajurit kembali keluar menghadap sang komandan.
“Lapor, Komandan. Di dalam tidak ada orang, tapi ada gelas dan botol di meja yang masih basah,” lapor prajurit itu.
“Periksa lagi semua ruangan dan barang-barang dengan teliti!” perintah Komandan Bu Ruong.
“Baik, Komandan.”
Ketua prajurit itu kembali balik badan dan masuk lagi.
“Bawa Jai Lom ke mari!” perintah Komandan Bu Ruong.
Prajurit yang mengawal tahanan Jai Lom segera membawa pria bertato itu ke hadapan Komandan Bu Ruong.
“Apakah Ling Mo itu warga Ibu Kota atau pendatang?” tanya Komandan Bu Ruong ketika Jai Lom sudah dihadapkan.
“Dari papan pengenalnya dia adalah warga Ibu Kota,” jawab Jai Lom.
“Kau bisa mengingat wajahnya?”
“Bisa, Tuan.”
Komandan Bu Ruong lalu memerintahkan prajuritnya, “Bawa dia ke Kementerian Penduduk untuk mengenali arsip wajah Ling Mo. Kawal dengan ketat!”
“Baik, Komandan!” ucap patuh seorang ketua prajurit yang lain.
Maka, Jai Lom dibawa pergi dengan pengawalan prajurit yang jumlahnya cukup banyak. Komandan Bu Ruong khawatir ada sabotase di tengah jalan.
__ADS_1
Tidak berapa lama, ketua prajurit yang ditugaskan menggeledah di dalam rumah muncul menghadap.
“Komandan, kami menemukan ini!” lapor ketua prajurit itu sambil menunjukkan sebuah kain hitam ikat kepala yang memiliki tulisan berbunyi “Hutan Timur”. (RH)