
*Kerajaan Sanggana Kecil (Kersak)*
“Hihihi!”
Gadis muda nan cantik berpakaian dayang itu tertawa sambil menjauhi Tirana.
Sementara Kepala Dayang Kicau Semilir dilanda kecemasan karena ada seorang penyusup masuk dalam satuannya.
“Sepertinya Tirana mengenalnya, Ayah?” tanya Joko Tenang kepada Turung Gali.
“Gadis itu adalah Putri Sagiya Riangga Liya, adik Yang Mulia Pangeran. Putri Sagiya bersahabat dekat dengan putriku,” jawab Turung Gali.
“Apa Yang Mulia Putri lakukan di sini?” tanya Tirana kepada gadis cantik itu.
Semakin terkejut Kicau Semilir mendengar Tirana menyebut satu anggota dayangnya itu dengan sebutan “Yang Mulia Putri”.
“Ampuni hamba, Yang Mulia Putri!” seru Kicau Semilir cepat sambil turun berlutut menghadap kepada gadis yang memang adalah putri Kerajaan Sanggana adanya, Putri Sagiya Riangga Liya.
“Ampuni hamba, Yang Mulia Putri!” ucap para dayang pula sambil serentak turun berlutut.
“Huh, permainannya jadi tidak seru, Gadis Penjaga!” keluh Putri Sagiya dengan menyebut julukan Tirana.
“Sembah hamba, Yang Mulia!” ucap Tirana sambil menunduk menghormat.
“Bangunlah kalian semua!” perintah Putri Sagiya ketus. Lalu perintahnya lagi, “Persiapkan pelayanan terbaik untuk kakakku dan istri-istrinya. Awas jika ada keluhan dari mereka!”
“Baik, Yang Mulia Putri!” ucap para dayang serentak.
Lega perasaan Kicau Semilir, ia tidak disalahkan. Ia lalu memberi tanda kepada dayang-dayangnya untuk bergegas.
Putri Sagiya lalu dengan akrab menghampiri Tirana. Ia memeluk sahabat kentalnya itu.
“Apa kau sudah tidak perawan lagi?” tanya Putri Sagiya berbisik di sisi telinga Tirana.
Pertanyaan itu membuat Tirana mendelik dan wajah putihnya seketika bersemu merah. Ia buru-buru melepas pelukannya, membuat Putri Sagiya tertawa nyaring.
Putri Sagiya Riangga Liya memang memiliki karakter yang suka menggoda dan cenderung jahil.
Sambil tersenyum-senyum, dia lalu pergi ke hadapan Joko Tenang. Ia sedikit membungkuk sambil kedua tangannya menghormat di depan dahi.
“Hormatku kepada Kakak Pangeran yang tercinta,” ucapnya. “Perkenalkan, namaku Putri Sagiya Riangga Liya. Aku adalah adikmu, meski beda ibu.”
Joko Tenang tersenyum.
“Hormatku, Yang Mulia Putri!” ucap Getara Cinta lebih dulu kepada sang putri.
Dewi Mata Hati dan orang-orang di belakang Joko Tenang kemudian ikut menjura hormat kepada Putri Sagiya. Sang putri mengangguk seraya tersenyum lebar.
__ADS_1
“Putri tentu sudah tahu namaku, jadi aku tidak perlu memperkenalkan diri,” kata Joko Tenang.
“Benar. Aku hanya ingin memastikan bahwa kabar angin tentang bibir kakakku yang berwarna merah benar adanya. Ternyata memang benar. Dan aku pun penasaran dengan para istri kakakku yang katanya memiliki kesaktian setidaknya setingkat dengan Gadis Penjaga,” ujar Putri Sagiya.
“Tapi, apakah kepergian Yang Mulia Putri diketahui oleh Gusti Mulia Raja Anjas?” tanya Turung Gali. Ia curiga sang putri pergi tanpa memberi tahu sang ayah atau ibunya.
“Ya, mereka tahu, meski agak telat. Itu tanggung jawab Batik Mida, hihihi!” jawab Putri Sagiya.
Mendeliklah Batik Mida mendengar kata-kata sang putri.
“Tapi, Yang Mulia Putri, kenapa aku yang bertanggung jawab?” protes Batik Mida.
“Karena hanya kau yang tahu aku ada di sini,” jawab Putri Sagiya seenaknya, membuat perwira bertubuh besar itu jadi serba salah. Ketika ia tahu bahwa Putri Sagiya datang ke Sanggana Kecil, ia dilarang bicara dan harus pura-pura tidak tahu, tapi sekarang, ia justru harus bertanggung jawab.
Putri cantik berpakaian dayang itu lalu menghampiri Joko Tenang dan berdiri di sisinya dengan menghadap ke arah yang sama. Ia lalu meraih lengan Joko Tenang dan menggandengnya, seperti gadis yang sedang mengajak kekasihnya masuk ke pesta pernikahan.
“Dua pekan lamanya aku menunggu Kakak Pangeran datang, tetapi tidak kunjung datang,” ujar Putri Sagiya sambil mengajak Joko Tenang berjalan maju. “Tanpa sepengetahuan Kicau Semilir, diam-diam aku sudah menata dua puluh kamar untuk istri-istri Kakak….”
“Dua puluh?” ucap Joko Tenang agak terkejut sambil memandang gadis yang sangat dekat dengannya itu. Sebenarnya dia agak kikuk, karena ini adalah kali pertama ia bertemu dengan adik tirinya tersebut.
Namun berbeda dengan Putri Sagiya, yang terkesan sudah begitu akrab dengan Joko Tenang.
“Apakah kurang?” tanya Putri Sagiya. “Kakak Pangeran tidak perlu khawatir. Istana ini sudah dirancang memiliki seratus kamar istri.”
Mendelik Joko Tenang mendengar “seratus kamar istri”.
Tirana segera menarik tangan Putri Sagiya agar lepas dari Joko Tenang.
“Ah? Ratu? Kenapa kau tidak memberitahukan kepadaku sejak tadi?” kata Putri Sagiya menyalahkan Tirana. Sambil berbisik pula, ia bertanya, “Siapa yang ratu?”
“Kau bisa menilainya sendiri,” kata Tirana.
Putri Sagiya memandang para wanita Joko Tenang satu per satu. Kemudian lebih agak lama memandang kepada Getara Cinta yang memandangnya dengan senyuman manis, membuatnya hanya tersenyum salah tingkah.
“Kau bilang, kau sudah menata dua puluh kamar untuk kami, ayo tunjukkan!” kata Tirana lalu menarik Putri Sagiya berjalan lebih dulu mendahului Joko Tenang dan rombongan.
Untuk sampai ke pintu utama bangunan besar istana itu, mereka harus menyeberangi halaman berumput luas. Semasuknya ke dalam halaman yang luas, maka pandangan mereka hanya akan terbentur oleh tembok istana dan benteng. Halaman itu bisa menampung beberapa ribu pasukan.
Di beberapa sudut terlihat sejumlah prajurit berseragam hitam-hitam sedang berjaga, termasuk beberapa orang di atas benteng. Jumlah prajurit itu sangat kurang untuk istana sebesar itu.
Joko Tenang dan para istrinya pergi memasuki gedung utama istana. Batik Mida mendampinginya dan menjadi pramuwisata bagi Joko Tenang dan para istrinya.
Bangunan istana itu benar-benar memiliki model arsitektur yang berbeda dengan model kerajaan-kerajaan di Tanah Jawi atau yang Joko Tenang pernah lihat di Negeri Jang. Perpaduan batu bata hitam dengan kayu-kayu besar yang menjadi bahan utama untuk tiang-tiang dan palang penyanggah yang kokoh, menjadi unsur utama dari bangunan itu. Namun, gaya atap berbentuk kubah-kubah membuat bangunan itu sangat unik.
“Siapa yang memiliki kemampuan membangun istana semegah ini, Ayah?” tanya Joko Tenang sambil mendongak memandangi ketinggian tiang-tiang kayu raksasa yang pada bagia atas dan bawahnya memiliki ukiran yang bagus.
“Perancang bangunan ini adalah seorang dari daratan jauh di seberang samudera. Namanya Rowell Sola. Aku pernah bertemu dengannya sekali. Ia memiliki kulit putih yang merah dan rambutnya berwarna kuning. Sepertinya ia berasal satu negeri dengan Serigala Perak,” kata Turung Gali.
__ADS_1
Bangunan itu memiliki balairung yang megah dengan sebuah tahta berhias emas dangan dominasi warna putih. Pada sisi kanan dari singgasana, dirancang sederet kursi megah yang berbeda dengan kursi-kursi kotak di hadapan tahta.
Para istri Joko Tenang tampak senang ketika melihat kamar-kamar yang memang difungsikan sebagai kamar para istri. Setiap kamar memiliki fasilitas mandi masing-masing berupa kolam dan air mancur, dengan sistem aliran air yang tertata canggih.
Mereka pun di bawah untuk melihat taman dan bagian belakang Istana yang langsung bersentuhan dengan air Telaga Fatara. Ternyata di belakang ada empat buah perahu besar yang tertambat tenang di dermaga.
“Istana ini sungguh luar biasa indah dan nyaman,” ucap Getara Cinta sebagai orang yang pernah memiliki istana dan kerajaan.
“Bagaimana, Ratu? Apakah Yang Mulia Ratu puas dengan istana ini?” tanya Putri Sagiya kepada Getara Cinta.
Getara Cinta tertawa rendah.
“Di mana seratus kamar yang kau sebutkan tadi, Putri?” tanya Getara Cinta.
“Hihihi! Tidak ada, aku hanya menggoda kakakku. Hanya ada dua puluh kamar untuk para istri. Tapi jika memang nanti istri Pangeran Dira lebih dari dua puluh orang, cukup dengan membangun kamar-kamar yang lain. Namun aku ragu, Ratu….”
“Ragu dalam hal apa?” tanya Getara Cinta.
“Jika istri-istri Pangeran Dira sudah sedemikian cantiknya, apakah Pangeran Dira akan mencari pilihan lain lagi?” kata Putri Sagiya sambil melirik kepada Joko Tenang.
“Kakakmu tidak akan melakukannya. Selain delapan bunga yang menjadi istrinya, Joko hanya boleh menikah dengan gadis yang pernah menjadi cinta masa lalunya!” tandas Dewi Mata Hati menetapkan, padahal hal seperti itu tidak pernah mereka sepakati sebelumnya.
“Aku setuju. Aku tidak akan menikahi wanita yang di luar dari itu. Tapi seingatku, aku masih memiliki cinta masa lalu yang belum pernah aku jumpai lagi,” kata Joko Tenang.
“Siapa?” tanya Kerling Sukma cepat. “Sepertinya Kakang tidak pernah menceritakan wanita lain selain Kusuma Dewi.”
“Aku tahu!” sahut Kusuma Dewi tiba-tiba, membuat Joko Tenang dan yang lainnya memandangnya.
“Siapa?” tanya Tirana.
“Aku tidak tahu siapa namanya, tetapi dia adalah orang yang membuatku dan para sahabatku jatuh ke jurang,” jawab Kusuma Dewi.
“Namanya Tembangi Mendayu, adik Gadis Cadar Maut,” kata Joko Tenang.
“Aku kenal Gadis Cadar Maut, tapi tidak dengan adiknya,” kata Dewi Mata Hati.
“Pergilah kalian semua membersihkan diri, karena nanti malam kita akan membahas perkara yang penting!” kata Joko Tenang.
“Baik, Kakang,” ucap para istri dan calon istri patuh.
Dewi Mata Hati menarik tangan suaminya dan mengajaknya pergi ke kamarnya.
Putri Sagiya ditinggal seorang diri. Ia jadi merengut sendiri di tengah ruangan besar yang dikelilingi oleh sepuluh pintu kamar. Ia akhirnya memutuskan pergi ke kamarnya untuk mengganti penampilannya.
“Aku merasakan ada kekuatan besar di dalam telaga,” kata Nara kepada Joko Tenang saat mereka berdua masuk ke dalam kamar yang telah menjadi pilihannya.
Keduanya telah berdiri di sisi kolam yang dijatuhi tiga air dari atas dinding berpatung kepala burung.
__ADS_1
“Kekuatan besar apa?” tanya Joko Tenang sambil tangannya bekerja mulai membuka pakaian istrinya.
“Entahlah. Pastinya Telaga Fatara memiliki penghuni,” jawab Nara sambil menanggalkan pakaian suaminya pula. (RH)