Pendekar Sanggana

Pendekar Sanggana
49. Penyelamatan Tirana


__ADS_3

Tirana segera masuk ketika pintu penjara telah dibuka. Sejenak ia terdiam memandangi kondisi kedua wanita cantik yang tergeletak tidak berdaya di atas dipan batu tanpa bantal satu pun. Tirana yang tidak mempedulikan bau busuk yang menyengat, terenyuh hatinya.


Kedua wanita cantik yang tergeletak seperti orang mati itu tidak lain adalah Ginari dan Kembang Buangi. Kondisi fisik keduanya tetap utuh, hanya tampak wajah kulit mereka putih pucat seperti orang yang aliran darah telah berhenti.


Ginari terpejam seperti orang yang sudah mati. Area sekitar mulut dan leher banjir oleh muntahan darah hitam yang berbau busuk. Dari pori-pori kulitnya keluar keringat yang menyebarkan bau busuk yang menusuk penciuman. Sulasih bahkan enggan masuk mendekat dan memilih menutup hidungnya dengan kain pakaiannya. Racun Pil Gerogot Jantung milik Nenek Kerdil Raga yang diberikan kepada Ginari menyerang jantung menuju kepada pembusukan hingga jantung itu tidak dapat memompa lagi.


Sementara di sisi Ginari, bisa dikatakan Kembang Buangi mengalami penderitaan yang lebih parah. Kembang Buangi tidak mengalami kondisi pingsan, tetapi ia pun berada diambang maut. Mulut Kembang Buangi sudah tidak bisa mengeluarkan suara, tetapi ekspresi dan ketegangan urat lehernya menunjukkan ia merasakan rasa sakit yang luar biasa. Gerakan-gerakan kejang yang samar tapi kencang selalu terjadi berulang-ulang pada Kembang Buangi. Sepasang matanya yang merah selalu mengeluarkan air mata kesakitan. Ajian Sayat Nyawa yang dikenakan oleh Ki Demang Rubagaya membuatnya merasakan sakit seperti sayatan benda tajam di seluruh daging tubuhnya. Semakin lama rasa sakit itu semakin kuat.


Kemarin pagi keduanya terlihat masih agak segar karena bantuan pengobatan Nyi Lampingiwa, guru Hujabayat. Karena pengobatan itu pula, keduanya memiliki waktu bertahan tambahan selama tiga hari. Seharusnya hari ini adalah batas napas Ginari dan Kembang Buangi.


Breeet!


Tirana merobek sedikit ujung pakaiannya. Ia segera membersihkan darah busuk yang mengotori wajah dan leher Ginari. Setelah itu ia bergerak mencium kening Kembang Buangi. Seiring kecupan itu, satu gelombang sinar kuning tipis masuk ke wajah cantik Kembang Buangi. Kembang Buangi merasakan satu gelombang rasa sejuk memasuki kepalanya lalu menjalar berproses ke seluruh dalam tubuhnya. Rasa sakit yang menyayat-nyayat dalam tubuhnya tidak hilang, tetapi rasanya hanya berkurang. Entah, berapa lama pengaruh Kecupan Malaikat Tirana bisa bertahan di tubuh Kembang Buangi. Beberapa hari yang lalu, ketika Tirana memberikan Kecupan Malaikat, Kembang Buangi jadi bisa bicara. Namun kali ini, tidak.


“Sulasih, bawa tubuh Kembang Buangi!” perintah Tirana.


“Baik,” patuh Sulasih.


Dengan menahan napas, Sulasih datang dan mengangkat tubuh Kembang Buangi lalu meletakkannya di bahu kanan. Tirana pun tanpa ragu mengangkat dan memanggul tubuh Ginari yang tetap tidak sadarkan diri dalam komanya.


Tirana memimpin Sulasih keluar dari sel tahanan itu.


“Hoekh!”


Para prajurit yang Tirana lalui seketika mual-mual karena tidak kuat menahan bau busuk tubuh Ginari.


Ketika Tirana dan Sulasih cukup jauh meninggalkan sel penjara, lima prajurit yang mematung karena ilmu Pemutus Waktu Tirana kambali bisa bergerak. Mereka segera berlari mengejar Tirana dan Sulasih.


Sementara itu, Tirana mengambil kumpulan kunci yang dipegang Sulasih. Kunci itu lalu dilempar ke dalam sebuah sel yang kosong.


“Bagaimana kita bisa keluar tanpa kunci itu?” tanya Sulasih.


“Kita tidak butuh kunci,” kata Tirana sambil berjalan pergi. Sulasih mengikuti.


“Hoekh!”


Dua prajurit yang mereka lewati sampai muntah mencium bau busuk dari Ginari.

__ADS_1


Kini mereka dihadapkan pada pintu besi yang terkunci. Ada dua prajurit di sana. Tiba-tiba di belakang terdenar suara gaduh orang berlari. Lebih dari satu. Tirana dan Sulasih tahu, itu adalah suara para prajurit yang mengejar.


Dari balik tikungan lorong muncul tujuh orang prajurit yang sebelumnya mereka tinggalkan.


“Berhenti!” teriak seorang prajurit yang mengejar.


Keributan itu mengejutkan dua prajurit penjaga pintu besi.


Tirana dan Sulasih tetap berjalan menuju pintu besi. Ketika ketujuh prajurit yang dari belakang mendekat. Tirana bergerak ke belakang Sulasih. Maka gelombang tenaga dalam Pemutus Waktu dilepaskan oleh Tirana. Gelombang itu sangat halus. Ketika menerpa ketujuh prajurit tersebut, maka mematunglah mereka tanpa bisa bergerak dan bersuara.


Tirana kemudiaan maju ke depan Sulasih. Dua prajurit yang datang menyerang dari depan turut terhenti dan mematung. Satu bahkan berhenti bergerak dalam posisi miring sehingga jatuh berdebam tanpa berubah posisi tekukan tangan dan kakinya.


Bress!


Tirana melemparkan sinar merah yang melekat di pintu besi. Sinar merah berpola jaring laba-laba besar menempel di pintu. Tirana lalu menggandeng tangan Sulasih dan menuntunnya masuk ke dalam jaring sinar. Mereka pun hilang ditelan jaring sinar itu seperti masuk ke alam lain.


Tirana dan Sulasih tidak muncul di seberang pintu besi itu, tetapi mereka muncul tiba-tiba di area terbuka, tidak jauh dari gerbang masuk penjara. Kemunculan mereka yang tiba-tiba tertangkap mata oleh sejumlah prajurit wanita yang berjaga di area tersebut. Kondisi Tirana dan Sulasih yang membawa tubuh dua orang wanita, membuat para prajurit curiga.


“Aku kembalikan tenaga dalammu, tapi jangan coba-coba mencurangiku,” kata Tirana.


“Baik,” ucap Sulasih.


“Berhenti!” seru prajurit yang datang mendekat.


Tirana tidak mengindahkan. Mereka terus berjalan untuk keluar dari area Kerajaan Hutan Kabut. Namun, ketika tiga prajurit datang mendekat, mereka terkena gelombang ilmu Pemutus Waktu. Mereka diam tidak bergerak.


“Kita harus pergi ke Kerajaan Tabir Angin,” kata Tirana.


“Biar aku tunjukkan jalan,” kata Sulasih. Kali ini ia harus membuat pilihan jelas. Ilmu Tirana ia nilai terlalu tinggi, akan sulit jika memaksakan niat jahat untuk membokongnya.


Sulasih berkelebat pergi. Tirana menyusul. Seiring ditinggalnya tiga prajurit yang mematung, pengaruh ilmu Pemutus Waktu pun buyar.


“Ada penyusup! Ada penyusup!” teriak prajurit wanita itu sambil berlari pergi untuk memberi tahu prajurit yang lain.


Tong tong tong...!


Selanjutnya, suara kentongan terdengar dipukul di beberapa titik di lingkungan Kerajaan Hutan Kabut. Itu menunjukkan bahwa ada musuh yang menyusup masuk. Para prajurit pun ramai bergerak mencari bersama satuan-satuannya.

__ADS_1


Dari sisi lain, prajurit wanita yang diutus Pina Pima bersama dua prajurit lainnya telah tiba di gerbang penjara. Mereka mendapati para prajurit yang terkapar. Prajurit tersebut segera masuk dan menuju ke pintu penjara. Namun, mereka tidak bisa membuka pintu yang terkunci.


“Cari kuncinya!” perintah prajurit itu kepada temannya.


Sementara itu, Tirana dan Sulasih mendapat pengepungan di dekat gerbang keluar. Puluhan prajurit mengepung dua lapis dan semuanya bersenjatakan tombak. Ada pula dua barisan pemanah yang siap menembakkan anak panahnya.


Namun, pengepungan itu sia-sia belaka. Sebab, sebelum para prajurit itu bertindak, Tirana telah menciptakan Lorong Laba-Laba di tanah. Tirana menggandeng Sulasih masuk ke dalam sinar merah berbentuk jaring laba-laba itu.


“Serang!” teriak seorang wanita yang tidak lain adalah Sawiri.


Apa boleh buat, Tirana dan Sulasih yang membawa tubuh Ginari dan Kembang Buangi telah lenyap seiring sinar merah jaring laba-laba yang juga kemudian menghilang.


Tirana dan Sulasih muncul begitu saja di hutan belantara.


“Kau tahu letak Kerajaan Tabir Angin?” tanya Tirana.


“Di wilayah timur. Tapi, kita masih berada di daerah Hutan Kabut. Masih banyak prajurit Hutan Kabut di hutan ini,” kata Sulasih.


“Ayo jalan, mereka bukan halangan berarti,” kata Tirana.


Sulasih memimpin jalan untuk keluar dari daerah kekuasaan Kerajaan Hutan Kabut. Sulasih menggunakan ilmu peringan tubuhnya. Tirana mengikuti.


Set set set!


Tiba-tiba dari sisi barat berlesatan belasan anak panah yang menyerang Tirana dan Sulasih. Namun, dengan mudah serangan itu dielaki.


Sezz! Brass! Blar!


Dua sosok perempuan berpakaian putih muncul berkelebat di depan Tirana dan Sulasih sambil bersamaan melesatkan sebulat sinar merah.


Sinar merah yang menargetkan Tirana sirna begitu saja saat mencapai dua jengkal dari tubuh si gadis. Hal itu mengejutkan prajurit wanita pemilik serangan.


Sementara Sulasih mampu menghindari sinar merah sehingga sinar itu lolos menghancurkan sebagian batang pohon besar.


Dua prajurit perempuan tanpa senjata itu memilih melesat maju melabrak Tirana. Namun, gelombang ilmu Pemutus Waktu membuat mereka diam terhenti di jalan.


Zersss! Blar! Blar!

__ADS_1


Dua bola sinar biru sebesar genggaman muncul di kedua tangan Tirana. Kedua sinar dari ilmu Bola Kulit Langit itu dilesatkan menghantam tubuh kedua prajurit wanita yang sudah mematung. Tubuh kedua perempuan itu hancur pecah mengerikan.


Melihat keganasan Tirana membuat Sulasih menyeringai ngeri. Memang sebelumnya, dia tidak turut menyaksikan pertarungan di Sumur Juara hari itu. (RH)


__ADS_2