
*Asmara Segel Sakti (Assesa)*
Dewi Mata Hati akhirnya melakukan prosesi pengobatan Lintah Cinta. Hanya ia dan Joko Tenang yang ada di atas ranjang. Hanya ia dan Joko Tenang yang ada di kamar gua besar yang sudah berubah kembali hangat, setelah semua lapisan es kembali dicairkan dengan tenaga panas.
Dewi Mata Hati dan Joko Tenang harus menyatukan tubuh dalam kondisi tanpa penghalang sehelai benang pun. Empat saluran tenaga harus terbentuk tanpa boleh bocor dengan udara luar.
Dewi Mata Hati harus menempelkan mulutnya ke mulut Joko Tenang tanpa boleh ada lubang yang terbuka sedikit pun. Pori-pori kulit harus bertemu dengan pori-pori kulit. Lubang pusar harus bertemu dengan lubang pusar. Dan anggota intim harus bertemu masuk dengan anggota intim. Posisi itu harus Dewi Mata Hati pertahankan selama beberapa hari, tanpa gerakan dan tanpa melepas.
Dalam posisi itulah, Dewi Mata Hati melakukan proses pengisapan. Dewi Mata Hati mengisap unsur-unsur jahat di dalam tubuh Joko Tenang sedikit demi sedikit masuk ke dalam tubuhnya. Unsur jahat dari ilmu Jari Penghancur Nyawa yang terisap masuk ke dalam tubuh Dewi Mata Hati akan dimusnahkan di sana. Seperti itulah proses pengobatan ilmu Lintah Cinta.
Di ruangan lain di gua besar itu, Tirana, Getara Cinta, Kerling Sukma, dan Turung Gali menunggu dengan harap-harap cemas. Hingga hari-hari pun berganti malam dan siang.
Saat satu hari berlalu, Robenta dan Kumala Rimbayu datang menyusul ke Jurang Patah Hati.
Satu hari berlalu, warna hitam pekat kulit Joko Tenang mulai berkurang. Hingga hari kedua, kulit Joko Tenang semakin berubah terang, warna hitamnya berubah menjadi abu-abu. Namun, Joko Tenang masih dalam kondisi tidak sadarkan diri.
Pada hari keempat pengobatan, kulit Joko Tenang barulah berubah bersih menjadi normal kembali. Saat itulah Joko Tenang siuman, tetapi masih dalam kondisi tanpa tenaga sedikit pun.
“Bibi Nara? Apa yang terjadi? Kenapa aku bersama Bibi Nara?” tanya Joko Tenang sangat terkejut, tetapi hanya di dalam pikirannya. Sebab bibirnya dalam kondisi terus menempel kuat pada bibir Dewi Mata Hati yang akrab ia sebut Bibi Nara.
Joko Tenang dapat mengenali bahwa orang yang menempel kuat pada tubuhnya adalah Dewi Mata Hati karena ia mengenal sepasang mata hitam itu.
Meski batas lima hari dari ilmu Jari Penghancur Nyawa sudah terlewati, Joko Tenang dapat lolos dari kematian. Hal itu terjadi karena ketika Joko Tenang semakin membaik, dengan sendirinya nyawanya semakin tidak terancam. Dan ketika batas lima hari tiba, jantung Joko Tenang sudah terbebas dari kejahatan ilmu tersebut.
Hingga akhirnya, Dewi Mata Hati melepas bibirnya dari bibir Joko Tenang.
“Bibi Na…!”
Tus!
Kata-kata Joko Tenang langsung terputus oleh tusukan jari Dewi Mata Hati pada leher pemuda berbibir merah itu. Joko Tenang terkulai pingsan.
“Dewi Mata Hijau, masuklah!” perintah Dewi Mata Hati pelan, tetapi suara kata-katanya ia kirimkan dengan tenaga dalam hingga sampai kepada pendengaran Kerling Sukma alias Dewi Mata Hijau.
Tidak berapa lama, datanglah Kerling Sukma yang langsung menjura hormat kepada gurunya.
“Apakah kau masih pantas menghormat seperti itu, padahal aku adalah calon madumu?” tanyaDewi Mata Hati yang sudah berpakaian.
“Apa pun kondisinya, aku adalah tetap murid kesayanganmu, Guru,” jawab Kerling Sukma.
“Pakaikan baju suamimu. Ia hanya pingsan sejenak. Bawa dia ke kamarmu lalu bantu aku berdandan untuk menikah!” perintah Dewi Mata Hati.
“Terima kasih, Guru! Terima kasih! Hihihi!” ucap Kerling Sukma begitu gembira, lalu meraih tangan kanan gurunya dan menciuminya beberapa kali.
Setelahnya, ia bangkit dan menghampiri tubuh Joko Tenang yang dalam kondisi bugil.
“Jangan lupa, suruh Kumala Rimbayu buatkan aku makanan yang enak, aku lapar!” kata Dewi Mata Hati lagi.
“Baik, Guru.”
__ADS_1
Singkat cerita. Joko Tenang di bawa ke kamar Kerling Sukma. Ketika ia siuman, Tirana menjelaskan secara lengkap apa yang telah terjadi kepada Joko Tenang.
Joko Tenang hanya bisa terkejut dan bingung.
“Mengapa harus Bibi Nara?” tanya Joko Tenang yang tidak membutuhkan jawaban. “Jika Bibi Nara hanya sebagai guru Kerling Sukma dan wanita yang berusia lebih seratus tahun, mungkin tidak begitu berat beban yang aku junjung di kemudian hari. Namun, bagaimana jika Guru Kunsa Pari tahu?”
“Anak durhaka tidak tahu malu! Betapa gila nafsumu, sampai-sampai wanitaku kau garap juga!” teriak Ki Ageng Kunsa Pari begitu marah.
Kira-kira seperti itulah gambaran yang tercipta di dalam benak Joko Tenang.
“Kakang, apa yang terjadi tidak bisa kita hindari, justru kami yang memaksa Guru Dewi untuk mengobatimu. Jika tidak, hari ini kami semua akan berduka,” kata Tirana lembut saat mereka berkumpul di kamar milik Kerling Sukma.
Singkat cerita, akhirnya kedua calon mempelai dipertemukan. Bukannya saling tersenyum penuh cinta, tetapi Joko Tenang langsung berlutut di depan kaki Dewi Mata Hati.
“Maafkan aku, Bi Nara!” ucap Joko Tenang bernada sedih dan menyesal.
“Jangan membuatku marah dengan ulah kalian!” hardik Dewi Mata Hati. “Aku ini sekarang calon istrimu, jangan panggil aku Bibi lagi, panggil aku Nara. Jangan anggap aku sebagai guru istrimu lagi, anggap aku sebagai istrimu. Jangan anggap aku sebagai nenek-nenek lagi, anggap aku sebagai gadis seusia istri-istrimu. Mengerti kau, Joko?”
“I… iya, Nara,” ucap Joko patuh.
“Sekarang bangun dan nikahi aku!” perintah Dewi Mata Hati.
“Iya,” ucap Joko Tenang patuh, seperti lelaki yang telah ditaklukkan.
Joko Tenang berdiri dengan kepala tertunduk, seolah ia tidak berani menatap wajah jelita Dewi Mata Hati.
“I… iya, Bi. Eh, maksudku Nara,” ucap Joko Tenang, benar-benar seperti suami takut bini.
Tirana, Getara Cinta, dan Kerling Sukma hanya tersenyum melihat suami mereka seperti itu. Sementara Kumala Rimbayu hanya diam, bersikap dingin. Ia yang kurang lengkap mendapat cerita tentang pengobatan Joko Tenang, jadi berpikir lain.
“Kenapa Guru Besar mengambil keputusan memalukan seperti ini? Bagaimana mungkin dia juga mau menjadi istri Kakang Joko?” tanya Kumala Rimbayu dalam hati. “Jika Guru Besar boleh menikah dengan Kakang Joko, lalu kenapa aku tidak boleh?”
Pikiran yang hampir sama ada di dalam kepala Robenta, tetapi ia tidak memprotes masalah tentang Kumala Rimbayu. Ia hanya bertanya-tanya, kenapa gurunya mau menikah dengan suami muridnya sendiri. Namun, ia tetaplah seorang murid yang harus menerima apa pun keputusan guru.
Joko Tenang lalu memberikan sebuah Cincin Mata Langit bermata warna biru. Joko Tenang memasangkan langsung cincin itu ke jari manis Dewi Mata Hati. Pada saat itu, Joko Tenang dan Dewi Mata Hati merasakan rasa berdebar di dalam hatinya. Hal itu karena Joko Tenang memegang tangan Dewi Mata Hati layaknya seorang pemuda memegang jemari kekasihnya.
Zersss!
Tiba-tiba dari dalam mata cincin melesat keluar sinar biru besar berwujud kalajengking raksasa, tetapi anehnya memiliki sayap seperti sayap kupu-kupu. Makhluk sinar itu tidak melesat menembus langit-langit gua lalu terbang ke langit, tetapi hanya melesat terbang dengan sangat cepat di langit-langit, sehingga mereka bisa melihat dengan jelas wujud sinar biru itu.
Tidak berapa lama, setelah makhluk sinar biru itu terbang berputar-putar, ia masuk ke dalam tubuh Dewi Mata Hati.
“Nara, yang bergelar Dewi Mata Hati, dengan kesungguhan dan penuh harapan, bersediakah kau aku jadikan sebagai istriku?” tanya Joko Tenang dengan lantang memulai ijab qabulnya.
“Aku bersedia menjadi istrimu, Pangeran Dira Pratakarsa Diwana. Berjanjilah kepadaku!” jawab Dewi Mata Hati.
“Aku berjanji kepadamu, Nara. Aku akan mencintai dan menyayangimu dengan sepenuh hati. Aku akan berusaha sekuat tenaga untuk membahagiakanmu, baik di medan tarung ataupun di segala medan!” janji Joko Tenang.
“Saaah!” teriak Robenta kencang.
__ADS_1
Maka resmilah Dewi Mata Hati menjadi istri tertua Joko Tenang.
“Cium aku!” pinta Dewi Mata Hati dingin, tanpa senyum ataupun ekspresi kebahagiaan.
Dengan sedikit ragu, Joko Tenang lalu mencium bibir indah Dewi Mata Hati di hadapan mereka semua. Ciuman yang Joko Tenang berikan adalah ciuman biasa, hanya sekedar tempel, tetapi Dewi Mata Hati berinisiatif sedikit mengemut bibir suaminya. Joko Tenang hanya mendelik saat merasakan emutan istri barunya itu.
“Bawa pengantin ke ranjang asmara!” teriak Robenta.
“Tidak!” seru Dewi Mata Hati cepat. Ia lalu berkata serius kepada Joko Tenang sebagai suaminya, “Joko, aku sekarang adalah istrimu, tapi aku akan pergi menanggung aibku.”
Mendeliklah Joko Tenang dan yang lainnya mendengar kata-kata itu.
“Apakah kau akan pergi, Nara?” tanya Joko, terdengar berat.
“Kita tidak akan bersama seperti kau dengan istri-istrimu yang lain. Kita akan berpisah, tetapi aku tetap adalah istrimu. Sudah cukup malu yang aku rasakan. Namun, jika istrimu sudah ada delapan orang, aku akan datang menemuimu,” ujar Dewi Mata Hati.
“Kenapa kita tidak menanggung malu itu bersama-sama, Nara?” tanya Joko Tenang yang sudah mulai mencintai Dewi Mata Hati, karena wanita itu telah menjadi istrinya, maka ia wajib untuk mencintainya.
“Tidak, aku akan menderita batin jika bersamamu,” kilah Dewi Mata Hati.
“Guru!” sebut Kerling Sukma sambill maju dan berlutut di dekat kaki Dewi Mata Hati. Ia langsung menangis dan berkata, “Guru, jangan pergi. Tetaplah bersamaku, Guru!”
“Jangan sebut aku Guru, Mata Hijau!” bentak Dewi Mata Hati. “Sampai mati aku akan tetap sebagai gurumu, tapi jangan panggil aku Guru. Kita adalah sama-sama istri Joko. Aku nasihati kau, Mata Hijau, patuhlah dan bahagiakan suamiku!”
Clap!
Tiba-tiba sosok Dewi Mata Hati menghilang begitu saja.
“Guru! Guruuu…! Hiks hiks…!” panggil Kerling Sukma kencang karena terkejut sekali. Ia kemudian menangis tersedu-sedu.
Kali ini bukan Getara Cinta atau Tirana yang menenangkannya, tetapi suaminya yang segera mengangkatnya berdiri dan memeluknya. Kerling Sukma menumpahkan tangisnya dalam pelukan Joko Tenang.
Tirana dan Getara Cinta hanya bisa bersedih menghadapi kenyataan itu. (RH)
*****************
Season Asmara Segel Sakti (Assesa) telah berakhir dan akan berlanjut ke season yang berjudul Pendekar Gila Mabuk (PGM).
Nama Readers yang masuk dalam season PGM:
1) Surya Kasyara (panggilan; Sontoloyo), Pendekar Gila Mabuk
2) Kayuni Larasati, Kekasih Pendekar Gila Mabuk
3) Rara Sutri, Putri Cemeti Bulan
4) Lanang Jagad, Si Tampan Sakti
__ADS_1