
*Pangeran Dira VS Ratu Ginari (Padi Ragi)*
Ketika rombongan yang dipimpin oleh Joko Tenang memasuki jalan menuju pusat Kadipaten Surosoh, ketiga istri Joko Tenang bisa merasakan kehadiran beberapa orang yang mengintai perjalanan mereka.
“Beberapa orang sedang mengawasi kita, Kakang,” kata Tirana kepada suaminya. Ia tahu bahwa kesaktian Joko Tenang belum sepenuhnya pulih, tidak setajam dulu.
“Biarkan saja, kecuali mereka menyerang. Kita akan langsung bertarung di pusat Kadipaten,” kata Joko Tenang.
Bertepatan dengan mengintipnya sang surya pagi, rombongan Joko Tenang memasuki pusat Kadipaten Surosoh. Mereka melihat puing-puing hangus dari rumah-rumah yang dibakar. Asap masih mengepul dari bara yang masih menyala.
Rombongan Joko Tenang juga melihat kelebatan beberapa orang yang mengikuti pergerakan mereka dari sisi kanan dan kiri. Mereka yakin bahwa orang-orang itu adalah anggota Gerombolan Kuda Biru.
Namun pada akhirnya, rombongan Joko Tenang harus berhenti.
Sepuluh tombak di hadapan mereka telah berbaris tidak rapi dua lusin orang pendekar, seolah memang sudah menunggu kedatangan mereka.
Orang-orang yang tadi mengikuti mereka di sisi kanan dan kiri, turut bergabung dalam kumpulan orang-orang yang menghadang. Jadi genap, rombongan orang yang di pimpin oleh Celurit Kembar itu berjumlah tiga puluh orang.
Sementara di pihak Joko Tenang hanya ada delapan orang, sebab tiga orang lainnya sedang bertarung melawan Tiga Cebol Aneh.
“Waw!” desah sejumlah lelaki dalam Gerombolan Kuda Biru saat melihat sosok Tirana yang bangkit berdiri. Mereka terkagum melihat kecantikan wanita itu, padahal jarak pandang masih cukup jauh.
Kerling Sukma turun keluar dari bilik kereta kuda.
“Wawww!” desah kaum batangan lagi dalam gerombolan itu. Nada desahan mereka kali ini agak berbeda, terdengar lebih dangdut karena semakin gembira.
Kerling Sukma berdiri di samping kuda kereta.
Kemudian, menyusul keluarnya Getara Cinta dan berdiri di sisi Kerling Sukma.
“Waw waw waw!” desah kaum batangan Gerombolan Kuda Biru lagi lebih centil.
“Auuu…!” lolong lima lelaki bersamaan sambil mendongak ke langit seperti seekor serigala sedang menyahuti bulan purnama. Kelima lelaki itu dikenal dengan nama Lima Guguk Rembulan.
“Aku jadi ingat Sandaria,” ucap Joko Tenang setelah mendengar lolongan kelima lelaki mata bakul itu.
“Kakang rindu dengannya?” tanya Tirana seraya tersenyum dari sisi atas.
“Lelaki mana yang tidak akan merindukannya,” jawab Joko Tenang seraya tersenyum.
__ADS_1
“Seandainya dia ada bersama kita sekarang,” harap Tirana.
Setelah terkagum-kagum melihat kecantikan tiga istri Joko Tenang, jajaran Gerombolan Kuda Biru dilanda tanda tanya dan keterkejutan.
“Bukankah itu Reksa Dipa?” tanyas seorang pendekar perempuan kepada teman di sampingnya.
“Benar. Tapi kenapa dia ada di pihak musuh?” tanggap pendekar yang lain.
“Pengkhianat. Reksa Dipa berkhianat!” desis pendekar yang lain, merasa benci.
Terlihat tatapan orang-orang di Gerombolan Kuda Biru begitu menunjukkan raut kemarahan kepada sosok Reksa Dipa.
“Maju lagi, Ayah!” perintah Joko Tenang kepada ayah mertuanya.
Turung Gali kembali menjalankan kuda keretanya dengan pelan. Getara Cinta dan Kerling Sukma turut maju mengiringi kuda. Demikian pula dengan Reksa Dipa, Lanang Jagad dan Rara Sutri.
“Cukup, Ayah!” kata Joko Tenang setelah maju sejauh tiga tombak.
Turung Gali pun menghentikan kuda penarik kereta, diikuti oleh yang lainnya.
Semakin dekatnya jarak membuat kaum batangan di Gerombolan Kuda Biru terdengar ramai. Mereka semakin gembira bisa menikmati kecantikan para wanita di pihak musuh, ditambah kecantikan Rara Sutri. Rasa-rasanya begitu sayang jika mereka harus bertempur untuk saling bunuh.
Reksa Dipa yang ditanya hanya memandang tajam kepada Renggong Walu. Ia tidak menyahut sepatah kata pun.
“Hanya kematian yang layak kau dapat dari pengkhianatanmu!” seru Renggong Walu.
“Biar aku yang mencabut nyawanya!” teriak seorang pemuda berpakaian ungu gelap. Dipunggungnya ada sebuah cangkang besar kura-kura, tapi berwarna merah. Pemuda berkumis tipis itu dikenal dengan nama Pendekar Penyu Merah. Nama aslinya Terakak. Ia adalah sahabat Reksa Dipa di dalam Gerombolan Kuda Biru. Ia lalu berteriak kepada semua temannya, “Dengarkan kalian semua! Jangan ada yang melawan Reksa Dipa, dia harus mati di tanganku!”
Renggong Walu lalu maju sejauh lima langkah. Melihat pemimpin pasukan pendekar itu maju, Joko Tenang lalu melompat dan berlari di udara. Joko Tenang berhenti pada jarak dua belas langkah di depan Renggong Walu.
“Apa yang kalian inginkan dengan jumlah kecil seperti itu?” tanya Renggong Walu dengan senyum sinis mengejek.
“Kami ingin menunjukkan bahwa kebenaran tidak bisa diremehkan dan pasti akan menang!” jawab Joko Tenang.
“Hahaha!” tawa Renggong Walu angkuh. “Bergabunglah dengan Gerombolan Kuda Biru, maka kalian yang kecil akan menjadi besar!”
“Aku ingin menawarkan satu ajakan saja kepada kalian,” kata Joko Tenang. Ia lalu berseru keras kepada seluruh anggota Gerombolan Kuda Biru, “Dengarkan! Semua anggota Gerombolan Kuda Biru akan kami bunuh semua, kecuali kalian yang keluar dari gerombolan dan bertobat!”
“Hahaha…!”
__ADS_1
Meledaklah tawa seluruh anggota Gerombolan Kuda Biru mendengar ancaman Joko Tenang. Melihat jumlah rombongan Joko Tenang yang hanya sesisir pisang, jelas mereka tertawa karena saat itu Joko Tenang dan kelompoknya sedang berhadapan dengan setandan pisang.
“Kau lihat sendiri, kau justru ditertawakan!” kata Renggong Walu.
“Sebelum pertempuran ini dimulai, tidak ada salahnya jika aku ingin mengetahui sesuatu,” ujar Joko Tenang.
“Tanyakanlah, sebelum kau berakhir di sini, Pemuda Tampan!” kata Renggong Walu sambil tersenyum merendahkan.
“Apakah Adipati Tambak Ruso sudah kalian bunuh?” tanya Joko Tenang.
“Hahaha! Gerombolan Kuda Biru tidak akan membunuh sekutu,” jawab Renggong Walu.
Mengerut kening Joko Tenang mendengar jawaban Renggong Walu.
“Apa maksudmu dengan sekutu?” tanya Joko Tenang.
“Adipati itu orang licik, lebih licik dari kami. Dia menumbalkan kedua anaknya hanya untuk merahasiakan perselingkuhannya dengan kami. Hahaha! Tapi kini sebentar lagi dia akan mendapatkan apa yang diinginkannya, karena setelah mengurus kalian, kami akan menyerang tiga kadipaten lainnya,” kata Renggong Walu. “Silakan kalian terkejut! Hahaha!”
Joko Tenang sebenarnya tidak terlalu terkejut dengan kenyataan itu. Kecurigaannya terhadap sikap Adipati Tambak Ruso sebelumnya, ditambah keterangan dari Resi Tambak Boyo, membuat Joko Tenang sudah menduga-duga.
“Jika demikian, pertarungan kita mulai!” kata Joko Tenang.
Renggong Walu lalu mencabut kedua celuritnya. Satu celurit dia angkat tinggi-tinggi. Dia pun berteriak kencang memberi komando.
“Seraaang!” teriaknya.
“Seraaang…!” teriak para anggota Gerombolan Kuda Biru beramai-ramai sambil berkelebatan ke arah lawan yang mereka pilih.
Seiring majunya para pendekar Gerombolan Kuda Biru, pihak Joko Tenang pun bergerak menyambut serangan tanpa teriakan.
Getara Cinta langsung maju lebih dulu dan menyentuh bahu suaminya dari belakang.
Bress!
Serentak, tubuh Joko Tenang dan Getara Cinta bersinar hijau menyilaukan. Hal itu membuat Renggong Walu dan delapan orang rekannya yang hendak mengeroyok Joko Tenang menahan langkah.
Lima Guguk Rembulan rupanya sepakat menargetkan Tirana. Mereka bersamaan melesat memburu ke arah gadis cantik itu.
Tiga pendekar wanita berpakaian beda warna, beda senjata dan usia melesat langsung menyerang Kerling Sukma.
__ADS_1
Lima pendekar menyerang ke arah Turung Gali. Empat pendekar mengeroyok Lanang Jagad dan tiga orang mengeroyok Rara Sutri. Sementara Reksa Dipa hanya mendapat satu lawan, yaitu sahabatnya yang bernama Terakak, Pendekar Penyu Merah. Namun, mereka tidak langsung tarung, tetapi debat politik lebih dulu. (RH)