Pendekar Sanggana

Pendekar Sanggana
60. Pengorbanan Sang Ratu


__ADS_3

*Arak Kahyangan*


Ratu Getara Cinta lalu duduk bersila di lantai papan ruangan. Ia menggerakkan sepasang tangannya lalu sepuluh jari-jari tangannya saling mengait di atas pangkuan.


“Hamba mohon, Yang Mulia Ratu! Jangan lakukan itu!” ucap Jagaraya dengan suara berat dan bergetar. Lelaki tua itu bersimpuh seraya menangis.


Sedemikian takutnya Panglima Besar Jagaraya atas tindakan Ratu Getara Cinta membuat yang lainnya jadi tidak habis pikir. Mereka hanya bisa menduga bahwa Ratu Getara Cinta akan melakukan sesuatu untuk menyelamatkan Joko Tenang dari kematian.


Tiba-tiba sepasang mata Ratu Getara Cinta menyala kuning emas lalu redup kembali.


“Hoekh!”


Sesaat kemudian, Ratu Getara Cinta mual dan sesuatu termuntahkan dari dalam mulutnya lalu jatuh ke telapak tangannya. Sebuah benda kecil seperti gundu berwarna hijau bening sebening embun. Setelah memuntahkan benda hijau itu, terlihat Ratu Getara Cinta berubah seperti orang yang duduk tanpa energi. Wajahnya berkeringat dingin dan pucat.


“Yang Mulia Ratu!” sebut Jagaraya lemah meratap.


“Tirana, makankan ini kepada Joko,” kata Ratu Getara Cinta lemah seraya mengulurkan tangannya.


“Beribu terima kasih teruntukmu, Yang Mulia Ratu!” ucap Tirana begitu gembira bercampur haru. Ia melepas tubuh Joko terbaring di lantai lalu dengan dalam dan khusyuk menjura hormat kepada Ratu Getara Cinta.


“Ambillah Permata Darah Suci ini!” perintah Ratu Getara Cinta.


Tirana segera maju kepada Ratu Getara Cinta dan mengambil benda yang ada di telapak tangannya. Gadis itu segera menghampiri Joko kembali. Ia membuka paksa mulut Joko dan memasukkan benda yang bernama Permata Darah Suci.


Sementara Panglima Jagaraya tidak dapat menghentikan ratapan tangisnya. Tidak ada yang berani bertanya mengapa Panglima Jagaraya yang sakti itu begitu menyesali tindakan junjungannya.


“Panglima Harum!” panggil Ratu Getara Cinta.


“Hamba, Yang Mulia Ratu!” Panglima Sugeti Harum segera maju menghadap dan menjura hormat.


“Ambilkan tandu untuk membawaku kembali ke Keratuan!” perintah Ratu Getara Cinta.


“Baik, Yang Mulia Ratu!” patuh panglima wanita itu lalu segera beranjak ke luar.


Tirana mengangkat tubuh Joko dan meletakkannya di sisi Ginari yang belum juga sadarkan diri.


“Tirana!” panggil sang ratu.


“Hamba, Yang Mulia Ratu!” sahut Tirana lalu segera menghadap.


“Ketika kau menyebut Joko sebagai seorang pangeran, aku seketika tersadar akan begitu tinggginya kemuliaan hatinya. Dia yang seorang pangeran tetapi mau mengorbankan nyawanya, meski ia tahu pasti bahwa ia akan mati. Lalu aku bertanya, kenapa aku tidak bisa berkorban seperti Joko. Padahal aku tahu bahwa jika aku berkorban, aku masih bisa bertahan hidup selama satu purnama. Makanya aku memutuskan memberikan Permata Darah Suci, pusaka sakti yang aku miliki yang juga menjadi sumber nyawaku. Permata Darah Suci akan membuat racun Arak Kahyangan berubah tawar. Jadi, berbahagialah, semua orang yang kau sayangi dalam proses penyembuhan. Namun setelah ini, aku akan meminta kalian melakukan sesuatu demi aku,” tutur Ratu Getara Cinta.

__ADS_1


“Hamba sangat bersyukur dan berterima kasih sepenuh jiwa dan hati atas kebaikan Yang Mulia Ratu. Kami berjanji akan melakukan apa pun Yang Mulia Ratu perintahkan,” kata Tirana.


Dalam waktu singkat, empat prajurit bertubuh besar telah tiba masuk membawa tandu kebesaran berwarna merah berhias tirai dari untaian manik-manik mutiara. Sugeti Harum yang datang bersama mereka segera menghampiri ratunya.


Ratu Getara Cinta mengulurkan tangannya kepada Sugeti Harum agar membantunya berdiri, karena memang sang ratu sudah tidak sanggup bangkit sendiri.


“Bawa kembali Arak Kahyang ke tempatnya, Jagaraya!” perintah Ratu Getara Cinta.


“Baik, Yang Mulia.”


Setelah Ratu Getara Cinta naik ke dalam rumah tandu bertirai mutiara, keempat prajurit mengangkat tandu membawa ratu mereka ke luar. Panglima Jagaraya dan Sugeti Harum mengiringi kepergian Ratu Getara Cinta.


Tinggallah Tirana, Nintari dan Sulasi di ruangan itu. Nintari dan Sulasih menghampiri Tirana. Mereka melihat ada perubahan pada kondisi tubuh Joko. Kulit wajah dan tubuh Joko sudah berubah tidak sebiru tadi. Namun, Joko belum sadarkan diri.


“Ti... Tirana!” ucap seorang wanita pelan memanggil.


Panggilan itu bukan dari Nintari atau Sulasi. Tirana yang dipangggil langsung berpaling memandang ke dipan tempat Kembang Buangi berbaring. Dilihatnya tangan kanan Kembang Buangi terangkat lemah. Tirana segera mendatangi Kembang Buangi. Ia melihat ekspresi kesakitan di wajah Kembang Buangi telah berkurang. Keluarnya suara dari mulutnya adalah jelas perkembangan yang menggembirakan.


Tirana duduk di sisi Kembang Buangi seraya tersenyum lembut. Kembang Buangi dengan lemah meraih jemari Tirana. Kembang Buangi memaksa bibirnya untuk tersenyum dalam kondisinya yang masih begitu lemah. Derita yang dilalui oleh Kembang Buangi sangat memberikan trauma mental ketika setiap saat merasakan tubuh seolah dicincang-cincang di setiap serat dagingnya. Di kala itu, hanya Tirana yang begitu dekat dengannya. Hujabayat yang sempat membuatnya bahagia telah hilang dalam beberapa hari terakhir.


“Terima kasih,” ucap Kembang Buangi lirih.


Tirana hanya mengangguk seraya tersenyum tanpa putus.


“Kakang Joko sudah selamat dan aman,” jawab Tirana menenangkannya. Ia tahu, meski dalam kondisi sekarat, Kembang Buangi pasti mengikuti proses perjuangan Joko dalam melawan racun Arak Kahyangan.


“Kakang Hujabayat?” sebut Kembang Buangi.


“Jangan pikirkan dia dulu. Beristirahatlah. Kau nanti pun akan bersamanya,” kata Tirana.


Kembang Buangi tersenyum lemah dengan tatapan sayu.


“Beristirahatlah,” kata Tirana seraya tersenyum membelai kepala Kembang Buangi.


Tirana meninggalkan Kembang Buangi dan kembali kepada Joko Tenang.


“Tidak aku sangka, diam-diam aku mengatur rencana dengan Kakak Bidadari, tapi justru Kakang Joko merahasiakan lebih dulu rencana nekatnya,” kata Tirana.


“Bagaimana jika seandainya Joko benar-benar mati?” tanya Nintari.


“Tidak bisa aku bayangkan hidupku selanjutku. Aku sudah begitu mencintai Kakang Joko,” jawab Tirana.

__ADS_1


“Apakah benar Joko itu seorang pangeran?” tanya Nintari.


“Benar. Seharusnya aku tetap merahasiakannya. Baru kali ini aku mengalami kepanikan yang luar biasa.”


“Kerajaan apa?”


“Sanggana. Mungkin Kakak Bidadari tidak pernah mendengar nama kerajaan itu, tempatnya jauh dan sangat tersembunyi,” kata Tirana.


“Tidak. Apa kedudukanmu di Kerajaan Sanggana?” tanya Nintari lagi.


“Putri rakyat biasa.”


“Putri rakyat biasa?” ulang Nintari menunjukkan adanya rasa tidak percaya.


“Tapi aku sahabat dekat Yang Mulia Putri, adik Kakang Joko,” tambah Tirana yang membuat Nintari tersenyum kecut seraya manggut-manggut.


“Racunnya mulai menghilang,” kata Sulasih yang melihat warna kulit wajah Joko sudah kembali memutih, meski masih tampak pucat. Bibir Joko pun kembali memerah seperti bibir wanita yang bergincu.


“Sepertinya racun Arak Kahyangan hanya bisa diatasi dengan cara ditawarkan,” kata Nintari.


“Lalu bagaimana dengan Ratu Getara?” tanya Tirana.


“Tidak perlu mengkhawatirkan dia. Aku rasa Ratu Getara memiliki perhitungan sendiri sehingga memutuskan mengeluarkan Permata Darah Suci yang bersemayam di dalam tubuhnya. Jika memang ia harus mengorbankan nyawanya, tentunya itu pilihan yang tidak seburuk Joko ambil.”


“Tetapi Yang Mulia Ratu mengatakan bahwa permata itu adalah sumber nyawanya,” kata Tirana.


“Dan Ratu menyebutkan bahwa ia memiliki waktu satu purnama sebelum kematiannya. Mungkin pertimbangannya, jika Joko bisa hidup terus, ia yakin ada cara untuk menyelamatkannya,” duga Nintari. “Mengapa Joko dan kau melarang kami mendekatinya?”


“Maaf, Kakak Bidadari. Aku tidak bisa menjelaskannya,” kata Tirana.


“Baiklah.”


Terdengar ramai suara langkah kaki menuju ke ruangan itu. Tak lama kemudian, selusin prajurit datang masuk membawa tiga tandu untuk membawa orang sakit. Tandu khusus itu memiliki atap kain melengkung yang bisa dibuka dan tutup.


“Lapor, Pendekar. Yang Mulia Ratu memerintahkan kami untuk membawa Pendekar Joko dan kedua calon istrinya ke Istana Perak Timur agar bisa beristirahat dengan tenang!” lapor seorang prajurit.


Tirana mengangguk. Ia lalu meraih tubuh Joko Tenang yang kekar berotot, yang sejatinya lebih besar dari tubuh wanitanya. Namun, terlihat Tirana sedikit pun tidak kesulitan dalam mengangkat tubuh calon suami.


Tirana membaringkan Joko di salah satu tandu. Atapnya yang dibuka, kembali ia tutup sehingga nanti tubuh Joko akan terlindung dari terpaan sinar mentari.


Nintari yang bertubuh mungil ternyata tidak kalah dengan Tirana. Ia mengangkat tubuh Ginari yang lebih besar dari tubuhnya. Sulasih pun berinisiatif mengangkat tubuh Kembang Buangi.

__ADS_1


Setelah ketiganya terbaring baik di atas tandu, para prajurit segera mengangkat tandu dan membawanya ke luar rumah. Ketiga wanita itu berjalan mengiringi kerja para prajurit. Mereka pun ingin tahu di mana letak Istana Perak Timur berada.


“Jamuan untukku jadi batal,” keluh Nintari yang membuat Sulasih tertawa kecil. (RH)


__ADS_2