
*Asmara Segel Sakti (Assesa)*
Kuda yang ditunggangi oleh Lirik Layangati memasuki gerbang utama pertama dari Perguruan Tiga Tapak.
Di dalam irama gamelan yang indah dan iringan tarian penyambutan, para murid Perguruan Tiga Tapak menyambut kedatangan Lirik Layangati bak kedatangan seorang putri raja.
“Lirik layangati! Lirik Layangati!” teriak murid-murid yang dulu pernah akrab dengan Lirik Layangati sambil melambaikan tangan, karena murid-murid berkerumun membentuk gang manusia.
Sambil tersenyum lebar, Lirik Layangati melambai kepada teman-teman lamanya. Di matanya, ternyata banyak wajah murid-murid baru. Jumlah yang dilihatnya bahkan lebih banyak dari jumlah yang dulu.
“Adik Lirik!” panggil Jaga Manta yang berlari kecil datang menyongsong kuda yang berjalan santai di antara para murid.
Bukannya menjawab panggilan kakaknya, Lirik Layangati justru melompat dan berkelebat cepat. Seperti sedang menggantung di angkasa, Lirik Layangati menendangkan kedua kakinya bergantian dengan ritme cepat yang mengincar wajah Jaga Manta. Tendangan itupun bertenaga dalam tinggi.
Pak pak pak pak!
Jaga Manta yang terkejut karena langsung diserang oleh adiknya, gesit menangkis dengan kedua telapak tangannya sambil kakinya melangkah mundur.
Semua yang menyaksikan itu terkejut. Mereka tidak menyangka jika Lirik Layangati akan menyerang kakaknya.
Ternyata, Lirik Layangati tidak berhenti. Ketika ia mendarat di tanah, ia langsung maju dengan kecepatan yang tinggi. Melihat Lirik Layangati menyerang dengan serius, Jaga Manta juga meladeni dengan serius. Gerakannya tidak kalah cepat dan gesit dengan adiknya.
Sejauh ini, hingga tiga puluh serangan dari pukulan dan tendangan Lirik Layangati, Jaga Manta masih memilih mengelak dan bertahan.
Dari dalam bangunan utama perguruan keluar Lili Angkir, Gatri Yandana, Sari Tembaya, dan Obang Kenari. Menyusul pula kemunculan Pendekar Seribu Tapak dan Tumbuk Gertak. Mereka terkejut melihat kakak beradik itu sedang bertarung serius.
“Liriiik!” teriak Lili Angkir cepat. Ia sebagai ibu kandung dari keduanya tentu tidak berharap ada pertarungan di antara saudara itu.
Mendengar teriakan ibunya, Lirik Layangati justru mengeluarkan ilmu Jari Hijau-nya, ilmu yang dia dapat dari Pendekar Jari-Jari Hijau.
Lirik Layangati maju secepat anak panah dengan jari tengah dan telunjuk bersinar hijau. Para orang tua yang mengenal ilmu Jari Hijau jadi berubah semakin tegang, kecuali Pendekar Seribu Tapak, kakak dari guru Lirik Layangati.
Jrusss!
Dua jari hijau Lirik Layangati ditahan oleh telapak tangan kanan Jaga Manta yang bersinar biru dari ilmu Penangkal Maut, dengan kedua kaki memasang kuda-kuda nan kokoh. Pertemuan dua tenaga itu menciptakan suara berdesis dan percikan sinar dua warna seperti kembang api yang indah. Mungkin akan lebih indah jika terjadi di malam hari.
__ADS_1
Semua orang yang menyaksikan tahap itu, masih diliputi ketegangan.
Namun kemudian, Lirik Layangati yang menatap tajam wajah kakaknya, tersenyum. Melihat adiknya tersenyum, Jaga Manta segera paham bahwa adiknya hanya bertujuan uji coba. Ia pun akhirnya tersenyum.
Dulu, lawan tarung Lirik Layangati dalam latihan adalah kakaknya.
Lirik Layangati lalu menarik mundur jarinya dari telapak tangan kakaknya. Ia lalu melompat mundur dengan menjaga jarak. Barulah setelah itu Lirik Layangati tersenyum lebar.
“Hihihi! Aku kira aku akan melampaui kesaktian Kakang, ternyata tidak,” kata Lirik Layangati.
“Tentu aku mempersiapkan diri, karena aku selalu menunggu kepulanganmu! Hahaha!” sahut Jaga Manta lalu balas tertawa.
“Kakang!” sebut Lirik Layangati sambil menghamburkan dirinya memeluk kakaknya.
Semua orang yang tegang dan sudah berpikir jelek, jadi bernapas lega, meski sejak tadi mereka sudah bernapas lapang.
“Hebat, kemajuanmu sangat pesat. Untung aku juga dilatih oleh Kakek Guru, jika tidak, matilah aku hari ini. Hahaha!” puji Jaga Manta dan berseloroh.
Kakak adik itu tertawa bersama.
“Anak nakal! Selalu membuat Ibu jantungan!” maki Lili Angkir yang sudah mendekati kedua anaknya.
“Akhirnya kebahagiaanku lengkap pula dengan kepulanganmu, Nak,” ucap Lili Angkir di balik kepala putrinya. Ia memeluk erat dan lama tubuh putri cantiknya. Seolah ingin membayar rasa rindunya selama ini.
Dulu ia melepas pergi putrinya dengan kesedihan dan air mata. Ia tentu sangat berharap putrinya telah kembali menjadi Lirik Layangati yang baik.
“Oh ya, Lirik. Kenalkan, ini suami Ibu, Pangeran Arya Duduwani!” kata Lili Angkir setelah melepas pelukannya. Ia memperkenalkan suaminya.
“Hah! Ibu menikah lagi?” kejut Lirik Layangati seolah tidak percaya. Ia lalu fokus memandang kepada ayah tirinya dan kemudian tertawa kecil.
Pangeran Arya Duduwani hanya tersenyum lebar.
“Hormat Ananda, Pangeran!” ucap Lirik Layangati sambil turun menjura hormat.
“Jangan sungkan, anakku!’ ucap Pangeran Arya Duduwani sambil cepat menahan kedua lengan anak tirinya agar tidak turun menghormat.
__ADS_1
“Aku tidak menyangka akan menjadi anak dari seorang pangeran,” seloroh Lirik Layangati.
“Hahaha!” Mereka tertawa rendah mendengar ucapan Lirik Layangati.
Lirik Layangati lalu beralih kepada Gatri Yandana yang juga berdiri di sisi Lili Angkir.
“Ibu Kedua!” sebut Lirik Layangati seraya tersenyum lebar dan ganti menghambur memeluk ibu tirinya.
“Panjang umur kau, Nak!” ucap Gatri Yandana sambil memeluk putrinya.
“Di mana Sukma?” tanya Lirik Layangati sambil mencari ke sekitar.
“Sukma sedang mengurung diri di kamar asmara bersama suaminya setelah menikah tadi pagi,” kata Gatri Yandana setengah berbisik.
“Hah! Sukma menikah? Aku pikir ini pernikahan Kakang Jaga. Dengan siapa Sukma menikah, Bu?” tanya Lirik Layangati terkejut sambil tersenyum lebar.
“Dengan Joko Tenang, pemuda yang pernah menolongnya di jurang dulu,” jawab Gatri Yandana.
“Berarti aku belum bisa bertemu degannya?” tanya Lirik Layangati.
“Tidak bisa. Pengantin tidak boleh diganggu hingga besok pagi,” jawab Lili Angkir.
“Hah, aku jadi ketinggalan peristiwa penting. Padahal aku hanya telat sebentar,” keluh Lirik Layangati.
Gadis itu kemudian menemui anggota keluarga satu demi satu. Ia menyapa dan memeluk Sari Tembaya sebagai bibinya dan Obang Kenari yang sudah seperti neneknya. Ia juga menyapa pamannya, Tumbuk Gertak. Terakhir, ia menjura hormat kepada Pendekar Seribu Tapak.
Lengkap sudah kebahagian keluarga Perguruan Tiga Tapak. Pulang dan menikahnya Kerling Sukma dengan Pangeran Dira memberi kebahagiaan yang besar bagi mereka. Kini kebahagiaan itu lengkap dengan kepulangan Lirik Layangati. Sementara Jaga Manta sepertinya sudah memiliki calon, yaitu Helai Sejengkal.
Gadis murid Nenek Haus Darah itu telah diobati oleh Pendekar Seribu Tapak, yang artinya tubuhnya sudah bersih dari Racun Naga Es.
Tidak lupa, Lirik Layangati juga diperkenalkan dengan para guru lainnya, terutama kepada dua madu Kerling Sukma, yaitu Tirana dan Getara Cinta.
Namun, ketika diperkenalkan dengan Dewi Mata Hati, nenek awet muda itu terlihat bersikap dingin. Sikap dingin itu ditangkap oleh para tokoh yang lain.
“Aku rasa, Dewi Mata Hati masih menyimpan ketidaksukaan terhadapmu, karena mengingat perbuatanmu dulu kepada muridnya. Sukma adalah murid kesayangan Dewi Mata Hati,” kata Lili Angkir kepada Lirik Layangati, saat putrinya itu mempertanyakan sikap Dewi Mata Hati di kamar istirahatnya.
__ADS_1
Sambil beristirahat, Lirik Layangati mendengar banyak cerita dari ibunya, termasuk cerita tentang pernikahan Joko Tenang dengan ketiga istri barunya.
Lirik Layangati pun bercerita tentang kehidupannya di kediaman Pendekar Jari-Jari Hijau. Tentunya bercerita pula tentang ilmu-ilmu kesaktiannya. (RH)