
*Cincin Darah Suci*
“Tirana adalah calon istriku, juga pengawalku, juga pelayanku, juga tabibku. Izinkan Tirana ikut serta,” kata Joko berdalih.
“Kalau dia calon istri Kucing Hutan, Getara calon istri Kucing Hutan, dia calon istri Kucing Hutan,” kata Puspa lalu menunjuk Ginari pula. Kemudian menunjuk para pelayan Ratu Getara Cinta sambil berkata, “Dia semua calon istri Kucing Hutan, lalu Puspa apanya Kucing Hutan?”
Tertawa rendahlah mereka semua mendengar protes Puspa.
“Apakah kau juga mau menjadi calon istri Joko?” tanya Getara seraya tersenyum.
“Tidak akan!” jawab Puspa keras. “Kucing Hutan suka kawin.”
“Puspa adalah sahabatku,” kata Joko. “Kau tahu, nilai seorang sahabat lebih tinggi dari seorang calon istri.”
“Oh, Puspa mau, Puspa mau jadi sahabat Kucing Hutan. Kucing Hutan juga sahabat Puspa. Hihihi,” kata Puspa lalu tertawa senang, membuat yang lain pun turut tersenyum dan tertawa rendah.
“Bagaimana? Tirana boleh ikut?” tanya Joko lagi.
“Boleh, tapi hanya boleh jadi calon istri Kucing Hutan, jangan jadi sahabat Kucing Hutan. Puspa lah sahabat Kucing Hutan!” tandas Jalang.
“Lalu, ke mana kita akan pergi bersama mencari Permata Darah Suci?” tanya Joko.
“Harus Puspa lacak dulu dengan Jelajah Alam Semesta Puspa,” kata Puspa. Lalu perintahnya, “Menjauhlah kalian!”
Panglima Jagaraya bergeser duduk menjauhi Puspa. Joko pun lebih menjauh lagi. Termasuk ke sepuluh pelayan Ratu Getara Cinta ketika mereka diberi isyarat tangan oleh ratunya untuk menjauh.
Puspa sendiri duduk bersila di lantai dan sekitarnya cukup lapang tanpa ada orang di dekatnya. Ia pejamkan mata, kedua tangannya diangkat tinggi lurus ke atas dengan telapak saling menempel di atas kepala.
Pak! Bress!
Tangan kiri kemudian bergerak turun dengan cepat dan menapak lantai. Sinar putih berbentuk lingkaran yang mengurung posisi Jalang di lantai bergerak dari ukuran kecil lalu membesar dan menghilang dalam radius lima langkah. Jumlah lingkaran sinar putih yang keluar dari bawah telapak tangan kiri Puspa terus mengalir dan bergerak melebar lalu hilang. Demikian terus menerus sehingga membentuk gerakan gelombang lingkaran sinar putih. Sementara tangan kanan tetap lurus di atas kepala.
Agak lama Puspa terdiam dalam posisi seperti itu. Hanya gelombang lingkaran sinar putih yang bergerak tanpa henti.
Cezz!
__ADS_1
Selanjutnya, sebutir sinar biru muncul di ujung jari tangan kanan Puspa yang masih lurus ke langit. Kemudian Puspa mengayunkan tangan kanannya ke bawah, membanting bola sina biru kecil di ujung jarinya.
Sinar itu terbanting ke lantai dan bergerak liar dengan sendirinya di antara gelombang sinar putih. Gerakan sinar biru itu cepat dan acak, tidak teratur. Terkadang bergerak acak di depan Puspa, terkadang bergerak di samping, belakang, tidak menentu.
Mereka yang menyaksikan hanya bisa menunggu apa yang akan terjadi. Sementara sepasang mata Puspa masih terpejam.
Tiba-tiba gerakan liar bola sinar biru terhenti di satu titik. Warna birunya pun berubah menyala warna merah. Sinar itu tidak bergerak lagi di sisi kanan tubuh Puspa. Sementara gelombang sinar putih terus bergerak muncul dari bawah telapak tangan kiri Puspa yang masih menapak ke lantai.
Selanjutnya, Puspa membuka kedua matanya dan melihat area lantai di sekitarnya.
“Posisi Permata Darah Suci sudah terlacak. Ada di daratan utara jauh menyeberang lautan dan gurun. Waktunya kita berangkat Kucing Hutan!” kata Puspa dengan nada semangat.
“Apa yang harus aku lakukan?” tanya Joko.
“Kalian berdua duduklah di dalam lingkaran dan pegang tanganku!” perintah Puspa, merujuk kepada Joko dan Tirana.
Joko Tenang memandang Tirana sejenak. Jika ia masuk ke lingkaran sinar, berarti ia akan berdekatan dengan Puspa yang adalah wanita, terlebih harus berpegangan tangan. Cara itu akan membuat Joko jatuh lemah dan kehilangan tenaga sama sekali.
“Aku akan menjaga, Kakang,” kata Tirana, memahami maksud pandangan calon suaminya kepadanya.
“Aku pasti kembali, Sayang,” ucap Joko kepada Ginari, menyejukkan perasaan gadis itu dengan sebutan “sayang”. Jika ia tidak anti terhadap sentuhan wanita, mungkin ia akan memeluk Ginari sebelum berpisah.
Sepasang mata bening Ginari hanya bisa berkaca-kaca.
Justru Tirana yang datang memeluk Ginari dan berbisik kepada calon madunya itu, “Jangan khawatir, aku akan membawa calon suami kita kembali bersama.”
“Aku percayakan kepadamu, Tirana,” ucap Ginari dengan nada agak bergetar, menahan kesedihan. Rasanya cukup sekali saja ia merasakan hampir ditinggal oleh Joko.
“Kami mohon izin, Yang Mulia Ratu,” ucap Joko sambil menghormat kepada Ratu Getara Cinta.
“Setiap waktu berlalu, aku akan menunggumu. Kepulanganmu lebih aku harapkan dibandingkan permata itu,” kata Getara Cinta.
Joko Tenang tersenyum mendengar kata-kata wanita cantik di atas batu pualam itu.
“Yakinlah, kami akan pulang semua dengan selamat dan membawa Permata Darah Suci. Aku tidak akan pernah memaafkan diriku jika pulang dengan kegagalan,” kata Joko.
__ADS_1
“Hei!” hardik Puspa. “Cepat masuk!”
Tirana masuk ke lingkaran sinar lebih dulu. Ia duduk bersila di depan Puspa. Puspa memberikan tangan kanannya untuk dipegang Tirana. Sementara tangan kirinya masih menapak di lantai mengaliirkan gelombang putih.
Joko pun datang masuk dan segera duduk di dekat kedua wanita itu. Seketika wajah Joko agak mengerenyit, seiring tenaga dalam tubuhnya menghilang. Keringat segera keluar di dahi Joko.
“Pegang tangannya!” perintah Puspa kepada Tirana.
Tirana segera memegang tangan kiri Joko, ia memandangi wajah calon suaminya itu. Ada rasa khawatir. Tubuh Joko seketika lemah seperti tidak bertenaga. Duduk pun ia mulai goyah.
“Kakang, apakah kau kuat?” tanya Tirana, cemas.
“Kakang!” sebut Ginari pula, cemas, tapi tidak mendekat.
Ratu Getara Cinta dan Panglima Jagaraya juga turut was-was melihat Joko berubah melemah dengan tubuh atas agak menekuk ke depan, seolah tidak kuat menahan tubuhnya untuk duduk tegak. Mereka pun tahu bahwa Joko Tenang memiliki penyakit yang tidak bisa didekati dan disentuh oleh wanita. Pergelangan tangan kirinya dipegang erat oleh tangan kanan Tirana.
“Lanjutkan, akan aku coba untuk bertahan,” kata Joko dengan nada lemah dan napas tersengal. Keringat semakin banyak yang keluar dari kepala, dahi, leher dan tubuhnya.
Melihat keanehan yang terjadi pada Joko, Puspa jadi heran, sebab ia memang tidak mengetahui penyakit Joko.
“Kenapa Kucing Hutan?” tanya Puspa, tangan krinya tetap ditahan di lantai.
“Kakang Joko akan jatuh lemah jika dekat dengan perempuan,” jawab Tirana.
“Terlanjur. Asalkan Kucing Hutan tidak mati. Jangan pernah lepas tangannya!” seru Puspa, membuat suasana semakin tegang. “Bersiaplah masuk ke Gerbang Tanpa Batas!”
Bress!
Seiring Puspa melepas tapak tangan kirinya dari lantai, gelombang sinar putih berganti satu sinar merah bulat datar yang bergerak melebar di atas lantai, melewati bawah tubuh Puspa, Joko dan Tirana. Tangan kiri Puspa cepat mengambil pergelangan tangan kanan Joko dan memegangnya dengan erat.
Namun ternyata, sinar merah itu menciptakan lubang gaib berwarna merah. Tubuh Puspa, Joko dan Tirana seketika jatuh ke bawah, ke dalam lubang merah yang dengan cepat menutup sendiri dan hilang. Ketiganya telah masuk ke Gerbang Tanpa Batas, salah satu kesaktian unik yang dimiliki Puspa.
Hening. Puspa, Joko dan Tirana telah hilang. Mereka tidak tahu seperti apa kondisi mereka setelahnya.
Tidak terasa, sebulir air bening mengalir dari sudut mata Ginari. Entah mengapa, seketika ia merasa rindu kepada Joko, padahal baru setarikan nafas Joko pergi menghilang.
__ADS_1
Ratu Getara Cinta terdiam. Ada rasa bergejolak di dalam hatinya. Ada kecemasan dan ada kesedihan. Kepergian Joko memberi rasa yang mendalam pada hatinya yang cukup lama tidak pernah tersentuh oleh rasa cinta kepada seorang lelaki. (RH)