
*Pendekar Gila Mabuk (PGM)*
Surya Kasyara dan Rara Sutri berjalan di sepanjang bibir jurang berumput. Pendekar Gila Mabuk dan Putri Cemeti Bulan itu sedang menuju pulang ke kediaman guru mereka, yaitu Linglung Pitura yang berjuluk Pangeran Mabuk.
Meski usia Rara Sutri sedikit lebih muda dibandingkan Surya Kasyara, tetapi Rara Sutri adalah kakak seperguruan Surya Kasyara. Kesaktian pun lebih tinggi Rara Sutri karena ia diajari kesaktian sejak usia kecil. Sedangkan Surya Kasyara berguru pada Linglung Pitura baru tiga tahun. Meski baru tiga tahun, tetapi semangat yang dilatari dendam membuat Surya Kasyara berlatih giat tanpa kenal lelah, meski ketika lelah ia pun harus beristirahat.
Ia baru sehari dua hari ini diizinkan keluyuran meninggalkan kediaman gurunya.
“Surya, coba buatkan pantun mengenai diriku,” pinta Rara Sutri.
“Petani berdagang pulang membawa laba, gandum terjatuh rusak dilindas roda. Pagi siang malam selalu kudamba-damba, gadis menawan berbibir merah muda. Hahaha!” pantun Surya Kasyara.
“Hihihi!” tawa Rara Sutri seraya menunduk malu.
“Satu lagi,” kata Surya Kasyara bersemangat.
“Aku dengarkan,” kata Rara Sutri seraya tersenyum senang.
“Kelinci bermain berlari-lari manja, subuh-subuh dibawa lari kalong. Kecantikanmu tidak sebanding dengan indahnya purnama, sungguh-sungguh disayang tapi bohong! Hahaha…!” pantun Surya Kasyara, lalu buru-buru berlari sambil tertawa terbahak-bahak.
“Surya! Awas, kau! Aku cemeti bokongmu!” teriak Rara Sutri kesal. Ia cepat berkelebat mengejar dengan cemeti sudah terurai.
Namun, Rara Sutri berhenti mengejar saat melihat Surya Kasyara bersembunyi di balik semak liar sambil mengintip sesuatu. Rara Sutri menggulung cemetinya hanya sekali hentakan saja. Ia pun mengintip apa yang sedang disaksikan oleh Surya Kasyara.
Hal yang mereka saksikan adalah pertarungan dua wanita cantik di tengah jalan yang menuju ke Kadipaten Surosoh.
Wanita muda cantik pertama mengenakan pakaian merah muda. Ia berkulit putih terang dengan rambut diikat oleh perhiasan dari emas. Ia bersenjatakan pedang dalam bertarung. Ia adalah Kayuni Larasati, putri Adipati Tambak Ruso.
Wanita muda cantik kedua berpakaian serba putih. Ia berambut lurus sebahu tanpa ikat rambut atau jepit rambut. Ia juga bersenjata pedang, tetapi pedangnya model kurus dan sedikit melengkung, jenis pedang yang biasa dipakai oleh militer Negara Yamato dan umumnya dikenal dengan sebutan katana atau pedang samurai. Wanita cantik yang juga berkulit putih bersih itu bernama Kusuma Dewi.
Namun, ada sepuluh orang lelaki berpakaian beda-beda yang berdiri berbaris turut menyaksikan pertarungan. Sepertinya mereka merupakan rekan dari salah satu pihak yang bertarung.
Ting ting ting…!
Peraduan dua pedang terjadi terus-terusan, menciptakan suara denting yang seoalah mengiris-iris perasaan. Namun, Kusuma Dewi memiliki gaya berpedang yang lebih gesit dan kuat. Ia selalu memegang pedangnya dengan dua genggaman.
Pada satu waktu, sepuluh kali peraduan pedang terjadi di antara keduanya. Berbeda dari sebelumnya, kali ini tebasan pedang samurai Kusuma Dewi mengandung tenaga dalam yang lebih tinggi. Sehingga ketika kedua gadis itu berhenti bentrok sejenak, tampak kedua tangan Kayuni Larasati gemetar, mata pedangnya pun berompalan.
“Itu adalah Kayuni Larasati, putri Adipati Tambak Ruso,” bisik Surya Kasyara kepada Rara Sutri.
__ADS_1
“Bukankah ini kesempatanmu untuk membalas dendam?” tanya Rara Sutri yang tahu kisah masa lalu Surya Kasyara.
“Benar. Aku akan lucuti kesombongan gadis pujaanku itu,” desis Surya Kasyara.
“Gadis pujaan apa maksudmu? Kau dendam kepadanya, tetapi kau juga memujanya?” tanya Rara Sutri dengan mimik heran.
“Hehehe! Semua pemuda kadipaten begitu memujanya, tetapi tidak ada yang bisa menaklukkannya. Aku akan menjadi pemuda Kadipaten Surosoh pertama yang akan melakukannya,” kata Surya Kasyara sambil tersenyum seperti orang licik, tanpa mengalihkan pandangannya dari pertarungan.
“Huh! Itu namanya bukan dendam, tapi nafsu!” rutuk Rara Sutri kesal dengan wajah merengut. Ia sejenak memandangi wajah pemuda di sampingnya itu dengan kesal. Kejengkelannya memuncak ketika melihat Surya Kasyara fokus memperhatikan pertarungan tanpa mengindahkan dirinya yang sedang kesal.
“Dasar tukang pemabuk buaya!” maki Rara Sutri sambil berbalik dan melangkah pergi meninggalkan Surya Kasyara.
Surya Kasyara terkejut disebut “pemabuk buaya” oleh kakak seperguruannya. Ia menengok heran memandangi kepergian Rara Sutri.
“Sebentar lagi Gerombolan Kuda Biru akan meratakan Kadipaten Surosoh, jadi tidak mengapa jika kau mati lebih dulu, Kayuni!” kata Kusuma Dewi.
Mendelik Surya Kasyara mendengar nama Gerombolan Kuda Biru. Setahu dia dari Rara Sutri, Gerombolan Kuda Biru adalah kelompok yang sedang meresahkan orang-orang Kadipaten Surosoh dan tiga kadipaten tetangga lainnya.
Di arena tarung, Kayuni Larasati sedang terdesak hebat, ketika Kusuma Dewi maju menyerang dengan putaran tubuh seperti gangsing. Jenis serangan itu mirip jurus Putaran Pedang Angin milik Kelompok Pedang Angin.
Tratang!
Buk!
Melihat lawannya terjatuh dan terluka, Kusuma Dewi semakin bersemangat. Ia segera berkelebat cepat untuk mengakhiri nyawa Kayuni Larasati.
Namun, Kusuma Dewi harus menahan gerakannya saat tiba-tiba dari arah samping melesat sesosok tubuh yang berputar seperti silinder.
Dak!
Tahu-tahu putaran cepat tubuh itu telah mendaratkan tendangannya dengan gaya mengapak dari atas ke bawah kepada Kusuma Dewi. Si gadis cantik itu menangkis dengan punggung pedang samurainya.
Kemudian ia cepat melesat mundur saat tangan penyerang itu berkelebat mencoba menyambar wajahnya.
Kusuma Dewi menatap tajam kepada sosok pemuda yang baru saja menyerangnya dan menolong Kayuni Larasati. Sosok pemuda yang adalah Surya Kasyara itu, berdiri dengan kuda-kuda yang goyah, seperti orang sedang mabuk. Ia tersenyum kuda kepada Kusuma Dewi.
“Serang!” teriak Kusuma Dewi memberi komando kepada kesepuluh lelaki yang sejak tadi menonton.
“Seraaang!” teriak kesepuluh lelaki itu sambil berkelebatan beramai-ramai, menunjukkan bahwa mereka juga memiliki kesaktian yang bukan sekedar anak buah tukang angkat batu.
__ADS_1
Mendelik terkejut Surya Kasyara mendapat serangan keroyokan dari orang-orang yang belum jelas setinggi apa kesaktiannya.
Maka, sepuluh orang lelaki dengan berbagai macam senjata di tangan itu menyerbu Surya Kasyara.
“Bisa pingsan aku!” rutuk Surya Kasyara sambil buru-buru menghindari serangan dengan gaya orang mabuk.
Ia bertarung tanpa memiliki kuda-kuda yang kuat. Gerak tubuhnya tidak jelas antara menghindar, menyerang atau jatuh, tetapi itu membuat tubuhnya selamat dari serangan. Saat tubuh atasnya ditebas pedang, ia malah pura-pura jatuh membungkuk. Saat disepak oleh tendangan, ia pura-pura terkena, tetapi sambil tangannya menangkap tendangan itu dan mengajaknya jatuh bersama.
Saat ada yang hendak menyerang, ia lebih dulu berlari memeluk sambil menghantamkan jidatnya ke hidung orang yang dipeluknya. Langkahnya yang kacau dan tidak jelas, sering kali menginjak kaki-kaki para penyerangnya. Serangan balasan Surya Kasyara jarang memakai tinju dan tendangan, tetapi lebih banyak memakai sodokan kepala dan dorongan tubuh yang memaksa lawan jatuh.
Meski dikeroyok oleh sepuluh orang bersenjata, tetapi gerakan kacau Surya Kasyara benar-benar tidak terbaca. Sebaliknya, kesepuluh orang itu berulang kali harus jatuh bangun. Meski tidak berakibat fatal, tetapi itu sangat membuat jengkel dan gusar para pengeroyoknya.
“Bodoh atau tidak berguna anak buahku?” gerutuh Kusuma Dewi gusar melihat anak buahnya tidak mampu menundukkan satu orang mabuk. Maka ia pun berteriak kencang, “Minggir!”
Teriakan itu membuat kesepuluh lelaki anak buah Kusuma Dewi serempak berlompatan menjauh. Mereka sudah hapal, teriakan itu adalah tanda bahwa pimpinan mereka akan melakukan serangan berbahaya.
Bset! Tak!
“Hukr!”
Dan benar saja. Seiring kesepuluh lelaki itu bertebaran menjauhi Surya Kasyara, Kusuma Dewi telah melesat cepat dengan tebasan miring di udara, dari atas ke bawah. Sekiblat sinar putih begitu cepat menebas.
Seiring terdengar suara seperti besi mengenai bambu, tubuh Surya Kasyara terpental cukup jauh, lalu jatuh berguling-gulingan di tanah berumput.
Surya Kasyara cepat bangun dan berdiri gontai, karena dia berdiri dengan sepasang kaki saling menyilang, seperti sedang menahan pipis. Surya Kasyara telah terselamatkan oleh bumbung tuaknya yang tadi terkena tebasan ilmu Pedang Membelah Gunung. Bumbung tuak Surya Kasyara memang bukan sembarang bumbung, itu bumbung antibacok dan jelasnya antiair.
Namun, Surya Kasyara harus terkejut. Ia muntah di dalam mulut. Kedua pipinya menggelembung karena ia menahan bibirnya untuk tidak terbuka. Buru-buru Surya Kasyara membalikkan tubuh atasnya.
“Hoek!” Surya Kasyara muntah darah, menunjukkan bahwa ia menderita luka dalam serius.
Melihat lawannya terluka, Kusuma Dewi hendak bergerak menyerang lagi, tetapi satu kelebatan tubuh mengganggunya.
Ctas!
Kusuma Dewi cepat berkelebat mundur saat seutas cemeti kuning melesat menyerangnya. Menghindarnya Kusuma Dewi membuat cemeti milik Rara Sutri itu mengenai ruang kosong, tetapi tetap menimbulkan suara kebutan yang keren.
“Cepat bawa anak Adipati itu, biar aku yang mengurus gerombolan ini!” seru Rara Sutri tanpa memandang Surya Kasyara yang ada di belakangnya. Ia lebih mewaspadai Kusuma Dewi.
Surya Kasyara segera berjalan menghampiri Kayuni Larasati yang dalam kondisi terduduk di bawah pohon sambil memegangi perutnya yang berdarah banyak.
__ADS_1
“Ayo!” kata Surya Kasyara sambil bergerak cepat meraih tubuh Kayuni Larasati dan memanggulnya. Rupanya Surya Kasyara masih kuat berkelebat dengan membawa beban satu tubuh. Ia percaya bahwa kakak seperguruannya bisa menghadapi wanita berpedang itu.
Kini, Rara Sutri berdiri siap tarung melawan Kusuma Dewi, salah satu pemimpin di dalam Gerombolan Kuda Biru. (RH)