
*Pertarungan Atas Cinta (PAC)*
Joko Tenang dan Tirana memilih kembali ke Kerajaan Tarumasaga dalam masa menunggu hari duel. Setibanya di Istana, ternyata sudah terjadi perubahan penting.
Ratu Getara Cinta mengumpulkan para pejabat Kerajaan Tarumasaga yang tersisa. Setelah para pejabat itu menyatakan pengakuannya terhadap kekuasaan Ratu Getara Cinta, sang ratu kemudian secara resmi pula menyerahkan tahta Tarumasaga kepada Putri Alifa Homar.
Maka, pada hari itu juga, sang putri berubah status menjadi Ratu Kerajaan Tarumasaga. Para pejabat juga berjanji setia kepada sang putri, meski sebagian menilai bahwa Pangeran Zulkar Nain lah yang lebih layak meneruskan kepemimpinan mendiang ayah mereka.
Joko Tenang melakukan pertemuan khusus bersama Ratu Puspa, Getara Cinta, Tirana, Kembang Buangi, dan Hujabayat. Kepada mereka, Joko berbagi permasalahannya tentang kondisi Ginari yang disandera oleh racun milik Arjuna Tandang.
“Jika Ketua Raja Pedang tidak boleh dibunuh, jalan satu-satunya adalah memusnahkan seluruh kesaktiannya. Dengan begitu, ilmu yang memiliki racun itu bisa tidak bekerja,” kata Getara Cinta.
“Benar, Kakang. Aku rasa racun itu berkaitan dengan kerja jantung. Jika jantung pemilik ilmu itu berhenti di saat ilmunya masih bekerja, berarti akan turut membunuh Ginari. Namun, jika ilmunya dimusnahkan, berarti hanya membunuh ilmunya sehingga tidak bekerja lagi di jantung. Setelah itu, aku rasa dia bisa dibunuh,” kata Tirana pula, mengemukakan analisanya.
“Dengan ilmu Putih Raga, pasti semuanya selesai,” kata Kembang Buangi pula.
Itulah gambaran dari siasat yang akan diterapkan Joko dalam duelnya.
Di pihak lain, yaitu pihak Arjuna Tandang, ia pun menyiapkan siasat. Ia sadar bahwa Joko Tenang memiliki kesaktian yang mungkin bisa disebut terlalu tinggi. Jika harus berduel jujur sebagai sesama pendekar, mungkin dapat dipastikan ia akan kalah. Karenanya, ia telah memikirkan siasat sebaik dan sepintar mungkin yang nanti ia akan tunjukkan pada waktu pertarungan.
Pada masa tunggu itu, Arjuna Tandang patuh kepada Ginari. Ia menuruti semua permintaan Ginari, termasuk menyebarkan pengumuman duel tersebut.
“Undangan kepada para pendekar dunia persilatan. Saksikan pertarungan antara Ketua Raja Pedang dengan murid Ki Ageng Kunsa Pari di Lembah Cekung, tiga hari lagi pada puncak matahari.”
Seperti itulah pengumuman yang ditulis dan ditempelkan di berbagai daerah Kadipaten Rebaklaga dan sekitarnya.
Arjuna Tandang menugaskan anak buahnya yang tersisa untuk menyebarkan pengumuman tentang jadwal pertarungan itu. Ternyata pengumuman itu sampai juga di Kuthanegara, pusat pemerintahan Kerajaan Tarumasaga.
Putri Sri Rahayu alias Bidadari Asap Racun yang saat itu berada di Kuthanegara, mendapatkan berita itu. Siluman Mata Setan memberikan banyak informasi khusus tentang Joko dan orang-orang sekitarnya kepada sang putri. Bahkan cerita tentang ketegagan di kediaman Arjuna Tandang di Kadipaten Rebaklaga sampai kepada sang putri.
__ADS_1
Berita duel tidak hanya tersebar cepat melalui pengumuman tertulis dan lisan di depan publik, tetapi juga dari satu mulut ke mulut yang lain.
Rencana duel itu menjadi bahan utama obrolan di mana-mana. Tidak hanya di kalangan para pendekar sakti hingga pendekar ecek-ecek, bahkan warga biasa yang melek tentang dunia kependekaran juga membicarakannya di berbagai forum dan kesempatan.
Rencana pertarungan itu menjadi berita besar bagi kalangan dunia persilatan, karena akan mempertemukan dua pendekar yang masing-masing memiliki nama besar.
Arjuna Tandang adalah tokoh persilatan yang disegani karena memiliki sejumlah kelebihan. Di kalangan orang yang mengenalnya, Arjuna Tandang dikenal sebagai seorang pendekar sakti yang licik. Selain ditakuti karena memiliki ilmu pedang yang tinggi, ia juga ditakuti karena memiliki banyak pasukan pedang yang tidak kenal ampun. Hubungannya dengan Dewi Bayang Kematian memberikan catatan tersendiri.
Sementara Joko Tenang, sebenarnya ia tidak ternama. Ia dikenal sebagai pendekar sakti hanya oleh orang-orang yang pernah bertarung atau bersinggungan dengannya. Secara umum, Joko Tenang belum memiliki nama di dunia persilatan, karena ia memang belum lama turun bukit. Terlebih ia tidak memiliki nama julukan khusus. Karena faktor itulah Arjuna Tandang menyematkan nama guru Joko, Ki Ageng Kunsa Pari. Arjuna Tandang ingin pertarungannya kali ini terlihat memiliki level yang tinggi. Bisa membunuh murid seorang tokoh sakti ternama jelas akan mendokrak namanya lebih tinggi di dalam belantara dunia persilatan.
Sehari menjelang hari pertarungan di Lembah Cekung, rombongan prajurit Kerajaan Tabir Angin tiba di Kerajaan Tarumasaga. Sebanyak seratus prajurit andalan yang tersisa dipimpin oleh Panglima Perang Kerajaan Tabir Angin Sugeti Harum. Ia sudah pulih dari luka parahnya. Di dalam pasukan itu juga ada Badak Jawara, salah satu komandan pasukan Tabir Angin.
Selain disambut hangat di Kerajaan Tarumasaga, pasukan itu juga diberi kejutan oleh Getara Cinta yang statusnya bukan lagi sebagai seorang ratu. Mereka diwajibkan menerima Puspa sebagai ratu mereka. Meski berat hati, Panglima Sugeti Harum dan pasukannya harus menerima.
Semenjak kedatangan Sugeti Harum dan lainnya, Ratu Puspa dituntut untuk memperbaiki penampilannya, meski karakter liar lidah dan tingkahnya masih terpelihara. Awalnya Puspa tidak mau, tetapi Tirana dan Getara Cinta sudah mengerti karakter Puspa dan tahu cara membujuknya.
Joko Tenang diiringi oleh satu rombongan yang terbilang besar dan ramai. Ia didampingi oleh kedua calon istrinya, yaitu Tirana dan Getara Cinta, serta pasangan kekasih Hujabayat dan Kembang Buangi.
Dalam rombongan itu ada Ratu Puspa yang distatuskan dan diperlakukan layaknya seorang ratu. Ia begitu senang berkendara dengan kereta kuda, dikawal oleh Panglima Perang Sugeti harum bersama seratus prajurit Kerajaan Tabir Angin.
Ternyata Ratu Alifa Homar juga tertarik untuk menyaksikan pertarungan besar antara Joko dengan Arjuna Tandang. Kereta kudanya dikawal oleh seorang mahapatih baru dan lima puluh orang prajurit.
Ketika rombongan itu tiba di satu jalan yang salah satunya berjurang dangkal, tiba-tiba Joko Tenang memberi tanda untuk berhenti.
Joko Tenang terdiam mematung di atas kudanya. Pandangannya menatap kosong ke depan. Namun, telinganya sedang bekerja. Ia menghentikan rombongan karena ia samar-samar mendengar suara seseorang minta tolong. Ketika semua suara kaki kuda dan pasukan berhenti terdengar, Joko Tenang kembali mencoba menyimak suara yang sempat didengarnya di sela-sela suara langkah kaki rombongan itu.
“Jika kalian mendengar aku, tolong aku di bawah sini!” teriak satu suara perempuan yang terdengar cukup jauh. Suara itu hanya terdengar oleh Joko Tenang.
“Ada apa, Joko?” tanya Getara Cinta yang juga berkuda.
__ADS_1
“Kakang mendengar sesuatu?” tanya Tirana curiga.
“Aku mendengar suara perempuan minta tolong. Seperti jauh di bawah sana,” jawab Joko Tenang sambil memandang jauh ke bawah sisi kiri.
“Jika begitu, ayo kita ke bawah, mungkin memang ada wanita yang tidak berdaya memerlukan bantuan,” kata Tirana.
“Kalian tunggu di sini, kami akan turun sebentar!” seru Joko Tenang kepada orang-orang di belakangnya.
Joko Tenang berkelebat turun ke dasar jurang, meninggalkan punggung kudanya. Tirana dan Getara Cinta mengikuti.
Jurang itu tidak begitu ekstrem, masih bisa dituruni maupun didaki oleh orang biasa. Hanya saja, jika pendekar yang turun naik, cepat.
“Nisanak!” panggil Joko Tenang, agar wanita itu menyahut dan posisinya bisa langsung terbaca. Joko pun mendeteksi detak jantung.
Namun, belum lagi Joko mendengar detak jantung manusia lain di tempat bersemak belukar itu, satu suara perempuan mengejutkan Joko. Bukan karena suaranya, tetapi karena pertanyaannya.
“Apakah itu kau, Joko?” tanya suara itu dari balik sebuah pohon yang bawahnya ditumbuhi semak belukar yang cukup liar.
Tirana dan Getara Cinta juga agak terkejut, karena wanita yang suaranya tidak mereka kenal itu mengenal calon suami mereka.
Joko Tenang memilih berkelebat agar langsung tiba di dekat pohon.
“Dewi Bayang Kematian!” sebut Joko Tenang terkejut. (RH)
**********
AUTHOR ucapkan terima kasih yang setulus-tulusnya kepada para READERS yang dengan setia membaca perjalanan Pendekar Sanggana hingga titik ini.
Season PAC akan berakhir dalam beberapa bab/chapter lagi dan akan beralih ke season "Pusaka Serap Sakti" yang akan disingkat "Pusesa".
__ADS_1