Pendekar Sanggana

Pendekar Sanggana
Kersak 27: Hutan Malam Abadi Resmi Takluk


__ADS_3

*Kerajaan Sanggana Kecil (Kersak)*


 


Blar blar blar…!


Lagi-lagi Reksa Dipa mengeluarkan ilmu Sukma Bayang Wujud. Sepuluh ledakan kembali menelan korban yang banyak.


“Reksa Dipa! Hentikan membunuh mereka!” seru Permaisuri Kerling Sukma kepada Reksa Dipa.


“Baik, Yang Mulia Permaisuri!” sahut Reksa Dipa patuh. Setelahnya, ia hanya bertarung untuk melumpuhkan, bukan untuk membunuh.


Sementara itu, Ririn Salawi harus benar-benar berjuang. Hari ini, kesaktian yang ia bangga-banggakan seolah tidak ada apa-apanya di hadapan seorang wanita jelita kecil. Namun, ia pantang menyerah.


Sreeets!


Dengan tatapan tajam, Ririn Salawi menghentakkan kedua lengannya. Dari kedua punggung tangannya muncul dua tanduk sinar ungu berwujud seperti dua cakaran besi yang panjang. Laksana Wolverine perempuan, Ririn Salawi merangsek maju lalu menyerang membabi buta.


Tak tik tok…!


Namun, dengan tenangnya Permaisuri Sandaria menangkis semua cakaran sinar ungu itu dengan tongkat birunya.


Tak!


Bahkan, seperti seorang guru yang sedang mengajari muridnya, seenaknya saja Permaisuri Sandaria mementung dahi Ririn Salawi, membuat wanita dewasa itu terjengkang.


“Apakah kau belum mau menyerah, Kakak?” tanya Permaisuri Sandaria seraya tersenyum manis, tapi begitu mengesalkan bagi Ririn Salawi. “Bergabung dengan Kerajaan Sanggana Kecil tidak akan membuat Kakak rugi, yaaa hanya kehilangan jabatan ketua saja. Aku menjanjikan Kakak jabatan yang bagus dalam pemerintahan.”


“Aku tertarik, tapi aku tidak akan menyerah sebelum semua kesaktianku aku kuras untuk mengalahkanmu!” desis Ririn Salawi.


“Baik, aku suka kegigihan Kakak. Aku akan sabar meladeni,” kata Permaisuri Sandaria santai.


“Menjauh kalian semua!” teriak Ririn Salawi kepada seluruh pengikutnya yang masih bertahan. Ia lalu melompat tinggi ke udara.


Melihat gelagat tidak bagus itu, Permaisuri Sandaria segera melesat mundur seperti burung terbang. Pikir Permaisuri Serigala, jika ia tetap di tempatnya, itu akan membahayakan sejumlah pengikut Ririn Salawi yang sudah terkapar di sekitar tempat itu.


Melihat lawannya melesat menjauh, Ririn Salawi yang hendak melepaskan ilmu pamungkasnya, terpaksa mengurungkan niatnya. Ia kembali turun ke tanah lalu langsung bertolak melesat memburu sang permaisuri.


Pada titik yang lapang tanpa banyak orang, Permaisuri Sandaria berhenti menunggu. Maka datanglah sosok merah Ririn Salawi di udara dengan kedua lengan telah bersinar merah.


Duk! Cresss!


Blar blar blar!


Saat masih di udara itu, Ririn Salawi mengadukan kedua tinjunya yang bersinar merah. Ilmu yang bernama Tempa Kembang Matahari itu melesatkan percikan sinar merah ke berbagai arah secara acak, salah satunya ke arah Permaisuri Sandaria. Banyaknya percikan sinar yang melesat membuat ruang hindar bagi Permaisuri Sandaria menjadi sempit.


Namun, ilmu perasa Permaisuri Sandaria dengan sendirinya menjadi ilmu perisai bagi wanita buta itu. Dengan sendirinya, Permaisuri Sandaria akan melakukan perlindungan atau penghindaran jika serangan mendekati kulit tubuhnya. Dengan begitu cepat gerakannya, Permaisuri Sandaria melakukan penghindaran beberapa kali.


Sejumlah ledakan dahsyat terjadi, membuat para pendekar yang masih bertarung menyempatkan diri untuk melihat apa yang terjadi.


Permaisuri Sandaria telah melesat maju hendak menyerang Ririn Salawi, tetapi sebelum serangannya masuk, Penagih Nyawa lebih dulu mengadukan kembali dua kepal tinjunya yang bersinar merah.


Duk! Cresss!


Blar blar blar…!

__ADS_1


Percikan sinar merah yang melesat random kembali menimbulkan sejumlah ledakan di daerah sekitar Ririn Salawi. Tidak satu pun sinar yang mengenai Permaisuri Sandaria karena wanita mungil itu lebih dulu menghilang, lalu berlindung di belakang tubuh Ririn Salawi.


Tak!


“Akh!” keluh Ririn Salawi lalu ia ambruk tidak sadarkan diri.


Posisi Permaisuri Sandaria yang berlindung di belakang punggung lawan, membuatnya dengan mudah memukul kepala belakang Ririn Salawi. Pukulan yang tidak biasa itu mengakhiri perlawanan penguasa Hutan Malam Abadi.


Sementara itu, Gebang Batra harus menerima nasibnya. Kondisi tangan kanan yang terluka akibat panahan Asih Marang, membuat keunggulan pertarungannya jadi berkurang.


Ketika Gebang Batra mencakarkan tangan kirinya, Adi Manukbumi lebih cepat maju masuk menangkis batang tangan Gebang Batra. Sementara tinju kirinya menonjok masuk ke perut Gebang Batra.


Pemuda yang sudah terluka itu terjajar tiga tindak.


Dari belakang tubuh Adi Manukbumi melompat tubuh kurus si botak Luring. Golok panjangnya mengayun menebas.


“Ini pembayaran nyawa Mumu Kedalang!” teriak Luring sambil menebas.


Tring! Sreet!


“Aaak…!”


Namun, tebasan golok dari atas sanggup ditangkis oleh cakaran besi tangan kiri Gebang Batra. Mendapati goloknya tertahan, Luring terus menarik jauh ke bawah goloknya, membuat golok itu turun menyayat paha kanan Gebang Batra. Lelaki berbaju merah itupun menjerit.


Crass!


“Aaakk…!”


Dengan tubuh berputar sekali sambil tangannya mengayunkan goloknya, Luring menebas lengan kanan Gebang Batra sampai putus terpisah dari tubuh. Gebang Batra menjerit semakin tinggi.


Tubuh besar Adi Manukbumi bersalto di udara melewati atas kepala Luring. Tahu-tahu tendangan keras menghantam dada Gebang Batra, membuat Ketua Kawanan Cakar Hutan itu terjengkang keras.


“Lunas!” teriak Luring yang tubuhnya sudah terbang seperti kucing melompat jauh ke depan. Sementara golok yang dipegang oleh kedua tangannya menancap di perut Gebang Batra.


“Hekrr!” erang Gebang Batra saat golok Luring menancap dalam di perutnya.


Tubuh Gebang Batra mengejang menahan sakit dan sakratul maut. Dari celah bibirnya keluar darah yang banyak. Setelah itu, tidak ada napas untuk Gebang Batra.


Puaslah Adi Manukbumi dan Luring berhasil membunuh Gebang Batra, orang yang membunuh Mumu Kedalang.


“Penagih Nyawa sudah takluk! Menyerahlah kalian!” teriak Senopati Batik Mida keras setelah melihat tumbangnya Penagih Nyawa di tangan Permaisuri Sandaria.


Seruan Senopati batik Mida membuat semua pertarungan berhenti. Terlihat jelas bahwa orang-orang Hutan Malam Abadi yang masih mampu bertahan untuk bertarung tinggal kurang dari separuhnya.


“Kami menyerah! Kami tunduk kepada Kerajaan Sanggana Kecil!” teriak seorang pendekar berpakaian merah dan bersenjata tali. Ia turun berlutut. Hal itu ia lakukan setelah melihat kondisi saat itu.


Tindakannya itu kemudian diikuti oleh rekan-rekannya. Mereka semua bergerak turun berlutut tanda menyerah.


Dengan demikian, Hutan Malam Abadi resmi takluk dan menjadi wilayah kekuasaan Kerajaan Sanggana Kecil.


DI pihak Hutan Malam Abadi terlihat banyak yang tewas. Kebanyakan mereka tewas di tangan Reksa Dipa dengan ilmu Sukma Bayang Wujud-nya. Namun, lebih banyak jumlah korban terluka, rata-rata mereka lumpuh oleh ilmu Pengunci Paha dan pukulan tongkat Permaisuri Sandaria. Banyak pula yang patah tulang akibat serudukan para serigala yang berubah karakter jadi banteng. Beberapa orang juga harus terluka oleh panah Asih Marang.


Sementara di pihak Kerajaan Sanggana Kecil, beberapa prajurit umum tewas dan juga mengalami luka cakar atau terkena senjata paku beracun.


“Permaisuri Matah Hijau, kenapa kau memanggil pasukan bantuan, padahal kita bisa dengan mudah memenangkan pertempuran ini?” tanya Permaisuri yang sudah duduk kembali di punggung serigala hitamnya.

__ADS_1


“Kita memang dengan mudah mengalahkan mereka, tetapi tidak mudah untuk membawa mereka semua ke dalam penjara,” jawab Permaisuri Kerling Sukma.


“Hihihi!” tawa Permaisuri Sandaria, baru paham maksud madunya itu meminta pasukan bantuan.


Mereka memang akan mengalami kesulitan untuk bisa membawa semua tawanan perang itu ke dalam penjara Kerajaan Sanggana Kecil, terlebih banyak orang yang terluka, lumpuh, dan tidak sadarkan diri tapi belum mati.


“Belang! Tangkap orang itu!” perintah Permaisuri Sandaria kepada serigalanya yang bernama Belang.


Belang cepat berlari kencang melewati apitan dua batang pohon besar. Lalu ia melompat menerkam seorang wanita berpakaian serba hitam yang bergerak diam-diam di balik semak belukar untuk kabur.


“Aaa! Tolong! Tolong, lepaskan!” jerit wanita itu histeris diterkam oleh binatang besar lagi buas.


“Lepaskan, Belang!” perintah Permaisuri Sandaria.


Teriakan Permaisuri Sandaria membuat Belang berhenti menyerang wanita itu, lalu menjauhinya.


“Bawa wanita itu, sepertinya aku pernah bertemu dengannya!” perintah Permaisuri Sandaria.


Adi Manukbumi dan Luring bergerak mencekal kedua lengan wanita berusia tiga puluhan tahun itu. Wanita itu lalu diseret ke hadapan Satria.


Diletakkan di depan serigala hitam yang lebih besar dari serigala tadi, membuat wanita itu kian ketakutan sambil meringis menahan luka cakar pada punggungnya.


“Siapa namamu, Nisanak?” tanya Permaisuri Sandaria seraya tersenyum.


“Jinai Selayang,” jawab wanita itu.


“Apakah kau sering bermain racun?” tanya Permaisuri Sandaria lagi.


“Bagaimana kau tahu?” tanya wanita bernama Jinai Selayang.


“Tidak perlu kau tahu bagaimana aku bisa tahu, sama tidak perlunya kau tahu kenapa aku bisa buta. Kau wanita yang menaruh racun di bubur kacang kehidupan Pangeran Kubur. Benarkah?” tanya Permaisuri Sandaria.


“Benar,” jawab Jinai Selayang.


“Hihihi…!” tawa Permaisuri Sandaria, bangga dengan kebenaran terkaannya.


“Kalian kumpulkan semua tawanan dan belenggu tangan-tangan mereka!” perintah Permaisuri Kerling Sukma. “Kita tunggu pasukan tambahan tiba!”


“Aku kira ada musuh hebat yang belum muncul sehingga Yang Mulia harus memanggil bantuan,” ucap Senopati Batik Mida seraya tersenyum lebar.


“Hihihi! Aku tidak mau ikut mengurus para tawanan ini,” kata Permaisuri Kerling Sukma.


“Sepertinya kita perlu pejabat khusus yang mengurus orang-orang terluka sebanyak ini,” kata Permaisuri Sandaria.


“Dan kita juga butuh pejabat hakim untuk mengadili para tawanan ini,” kata Permaisuri Kerling Sukma.


Akhirnya mereka harus menunggu beberapa jam lamanya. Hingga akhirnya….


“Seraaang!” teriak satu pasukan besar tiba-tiba menyergap lokasi sarang Penagih Nyawa.


Puluhan prajurit berseragam hitam-hitam itu tiba-tiba berhenti dalam keheranan, dengan senjata siap berperang. Mereka melihat tidak ada pertempuran yang terjadi, tetapi yang mereka dapati adalah pertempuran yang sudah usai.


“Ser…!” teriak Surya Kasyara sambil berkelebat di udara. Namun, teriakannya putus saat melihat situasi di tempat itu.


“Kalian semua, bantu bawa para tawanan!” perintah Senopati Batik Mida. (RH)

__ADS_1


__ADS_2