
*Asmara Segel Sakti (Assesa)*
Pertanyaan Malaikat Serba Tahu yang mengandung sindiran membuat Jaga Manta segera pergi menyambut kedatangan Malaikat Serba Tahu bersama kambing tunggangannya.
“Selamat datang di Perguruan Tiga Tapak, Malaikat Serba Tahu!” sapa Jaga Manta sebagai Ketua Perguruan Tiga Tapak.
“Ketua Perguruan Tiga Tapak Jaga Manta. Putra tertua mendiang Sangar Hentak. Baru dua tahun memimpin perguruan. Belum menikah, tapi sedang dekat dengan pendekar wanita berambut pendek. Benar?” kata Malaikat Serba Tahu menerka profil pemuda di depannya itu. Lalu bertanya.
“Benar sekali, Malaikat,” jawab Jaga Manta seraya tersenyum ramah.
“Malaikat Serba Tahu!” teriak Serigala Perak.
Terkejut Malaikat Serba Tahu yang masih duduk di punggung kambingnya. Ia segera menengok ke samping kanan.
“Wak!” pekik Malaikat Serba Tahu terkejut melihat keberadaan sembilan ekor serigala besar beserta Serigala Perak dan Putri Serigala. Sejak tadi ia memang memandang lurus ke depan layaknya tamu kehormatan.
“Katakan kepada mereka semua bahwa sesuai dengan ramalanmu, pemuda berbibir merah adalah calon suami Sandaria!” teriak Serigala Perak lagi.
“Turun, Cantik!” perintah Malaikat Serba Tahu kepada kambingnya.
Si kambing yang disebut “Cantik” itu segera menekuk kedua kaki depannya saja, membuat lelaki cebol ganteng itu terperosot turun melalui kepala Cantik.
“Sepertinya ada masalah yang lebih mendesak daripada penyambutan untukku,” kata Malaikat Serba Tahu kepada Jaga Manta. Ia lalu berlari kecil ke tengah-tengah ketegangan yang terjadi.
“Serba Tahu, jelaskan yang sebenar-benarnya, ada berapa istri dari Joko Tenang!” tanya Ki Ranggasewa langsung ke pokok permasalahan.
Belum lagi Malaikat Serba Tahu menjawab, Serigala Perak sudah memanggilnya pula.
“Serba Tahu!”
Malaikat Serba Tahu jadi menengok kepada Serigala Perak.
“Bukankah calon suami cucuku pemuda sakti berbibir merah?” tanya Serigala Perak.
“Benar!” jawab Malaikat Serba Tahu sambil manggut sekali.
“Serba Tahu!” panggil Pendekar Seribu Tapak.
Malaikat Serba Tahu cepat menengok kepada Pendekar Seribu Tapak.
“Ada berapa istri Joko Tenang?” Pendekar Seribu Tapak mengulang pertanyaan Ki Ranggasewa.
“Maksudmu Joko Tenang cicit dari Dewa Kematian?” Malaikat Serba Tahu justru balik bertanya.
__ADS_1
Terkejutlah Serigala Perak mendengar nama Dewa Kematian disebut.
“Apakah benar Joko Tenang cicit Dewa Kematian?” membatin Serigala Perak.
“Benar!” Ki Ranggasewa menjawab pertanyaan si kakek cebol.
“Oh, anak itu pernah ditanyakan oleh Dewi Mata Hati. Jawabannya adalah dia akan seperti Dewa Kematian. Kalian tahu berapa istri Dewa Kematian?” kata Malaikat Serba Tahu.
“Delapan,” jawab Pendekar Seribu Tapak, Ki Ranggasewa dan ketiga calon istri Joko Tenang bersamaan.
“Benar, tapi yang sama bukan jumlah istrinya. Hahaha!” kata Malaikat Serba Tahu lalu tertawa terbahak sendiri. Ia merasa lucu karena banyak orang yang telah salah tafsir.
Jawaban Malaikat Serba Tahu jadi membuat Kerling Sukma was-was. Berbeda dengan Tirana dan Getara Cinta yang tidak peduli dengan ramalan Malaikat Serba Tahu. Bagi mereka berdua, mereka dalam misi untuk menyembuhkan penyakit Joko Tenang dan menguasai ilmu Delapan Dewi Bunga.
“Kalau bukan jumlah istrinya yang sama, lalu apa? Jangan bertele-tele!” tanya Pendekar Seribu Tapak jadi agak kesal.
“Tenang… tenang…! Aku tidak akan menjawab pertanyaan-pertanyaan kalian sebelum aku disuguhkan hidangan dan minuman. Aku ini tamu mahal, aku datang dari jauh, aku ini tamu lelaki ganteng yang jarang ada. Tapi lihat, setibanya di sini justru dicecar oleh pertanyaan-pertanyaan yang tidak jelas!” celoteh Malaikat Serba Tahu mengomel.
“Serba Tahu! Kau harus jawab pertanyaanku yang terakhir. Jika benar calon suami cucuku adalah pemuda berbibir merah, berarti pernikahan ini akan gagal. Benar begitu?” tanya Serigala Perak.
“Hah? Apa hubungannya calon suami cucumu dengan pernikahan ini?” Malaikat Serba Tahu justru bertanya balik.
“Karena yang mau menikah dengan tiga wanita saat ini adalah pemuda berbibir merah yang kau ramalkan!” jawab Serigala Perak agak keras dan kesal.
Mendelik gusar Serigala Perak, ia merasa tersindir oleh ucapan Malaikat Serba Tahu. Namun, kakek berwujud muda itu sudah melompat naik ke balairung.
“Wuuh, cantik-cantik, luar biasa!” puji Malaikat Serba Tahu sambil menaikturunkan sepasang alisnya saat berlalu memandangi keempat gadis cantik yang berdiri berjejer.
Malaikat Serba Tahu lalu masuk ke balairung dan duduk begitu saja melepas lelah sambil bersandar pada tiang.
“Bakal bertambah panjang urusannya,” celetuk Putri Sri Rahayu.
Semua orang harus menarik napas dalam untuk meredam kekesalannya. Namun, bagi mereka yang akrab dengan Malaikat Serba Tahu, mereka tidak heran lagi dengan sikap lelaki pendek itu.
Sebagai seorang yang menjadi tempat bertanya hampir setiap orang, sering kali Malaikat Serba Tahu jual mahal dan ingin diperlakukan sebagai orang penting.
Maka Gatri Yandana segera memerintah dua orang murid perempuannya untuk segera pergi mengambilkan minuman segar dan panganan enak.
Jaga Manta lalu memerintahkan para murid untuk membubarkan formasi pengepungan. Ia yakin, kehadiran Malaikat Serba Tahu akan menyelesaikan masalah, hanya mungkin memerlukan waktu yang agak panjang dan bertele.
Serigala Perak, Putri Serigala dan kesembilan hewannya ditinggalkan. Semua tokoh memilih berkumpul di balairung untuk menunggu penjelasan Malaikat Serba Tahu.
Kondisi itu jelas membuat Serigala Perak gusar bukan main. Ia ingin marah, tetapi ia juga butuh kejelasan dari si kakek cebol ganteng itu. Ia akhirnya memerintahkan Samudera turun. Serigala Perak turun. Ia mengajak Sandaria juga turun.
__ADS_1
Mumpung sedang masa rehat, Joko Tenang segera pergi untuk mencuci wajahnya. Ketika ia kembali lagi ke balairung, dilihatnya semua orang sedang duduk menunggu Malaikat Serba Tahu yang khusyuk makan kacang tanah rebus berteman air kelapa muda. Si cebol tampan itu tidak mengindahkan bahwa banyak orang yang sedang menunggunya.
Serigala Perak dan Sandaria telah duduk pula menunggu.
Joko Tenang lalu mengambil duduk di samping Ki Ranggasewa.
Saat melihat kemunculan Joko Tenang dengan wajah tampannya yang berbibir merah, Malaikat Serba Tahu jadi berhenti makan. Ia serius memandangi Joko Tenang.
“Rupanya kau di sini, Pemuda Berbibir Merah,” tegur Malaikat Serba Tahu kepada Joko. Tadi ia tidak mengenali Joko sebagai pemuda berbibir merah karena bibir pemuda itu tertutupi oleh bedak bengkuang.
Malaikat Serba Tahu lalu berkata kepada Serigala Perak.
“Ini pemuda berbibir merah yang aku ramalkan. Kau bisa tanya langsung kepadanya, apakah dia mau menjadi suami dari cucumu, Santa Marya!” kata Malaikat Serba Tahu.
“Joko, apakah kau mau menikah dengan Sandaria, cucuku ini?” tanya Serigala Perak bernada agak keras.
“Sangat mau!” jawab Joko Tenang cepat dan mantap, seolah sedang menjawab pertanyaan wali mempelai perempuan.
Jawaban Joko itu membuat Sandaria jadi tertunduk dalam senyum malunya. Wajahnya bersemu agak kemerahan.
Joko Tenang kemudian tersadar bahwa jawabannya terkesan ia memang jatuh hati kepada Sandaria. Ia lalu melirik ke barisan calon istrinya. Tirana, Getara Cinta, Kerling Sukma dan Putri Sri Rahayu memandanginya dengan serius. Joko Tenang hanya tersenyum kepada para wanitanya. Ketiga calon istri itupun akhirnya turut tersenyum melihat semangat cinta sang pangeran.
“Hahaha!” tawa Malaikat Serba Tahu. “Berarti masalahmu selesai, Santa Marya. Kau tinggal menikahkan mereka berdua.”
“Belum selesai jika Joko Tenang tetap mau menikah dengan ketiga calonnya. Pernikahan Joko saat ini harus dibatalkan!” tegas Serigala Perak.
“Tidak bisa!” sela Pendekar Seribu Tapak pula. Ia tidak mau kehilangan Joko Tenang. “Joko Tenang juga telah diramalkan oleh Serba Tahu bahwa dia akan sama seperti Dewa Kematian. Itu artinya istrinya akan ada delapan!”
“Oooh! Aku paham apa yang sedang kalian ributkan. Dengarkan baik-baik. Ketika aku meramal tentang calon suami Sandaria, aku hanya menyebut pemuda sakti berbibir merah. Saat itu aku tidak tahu bahwa pemuda itu adalah orang yang bernama Joko Tenang alias cicit Dewa Kematian. Aku juga tidak tahu, apakah pemuda berbibir merah itu sudah beristri, atau masih perjaka, atau akan beristri banyak….”
“Bagaimana kau bisa tidak tahu, Serba Tahu? Untuk apa kau berjuluk Malaikat Serba Tahu?!” sentak Serigala Perak geram karena penjelasan lelaki cebol itu melemahkan hujjahnya.
“Aku ini manusia, Santa Marya. Jika aku tahu semua, aku bisa jadi Tuhan. Jika aku berlakon seperti Tuhan, bisa disambar petir sembilan kali aku. Lucu jadinya jika aku berjuluk Malaikat Separuh Tahu. Biar kesannya lebih hebat, ya aku pakai julukan Malaikat Serba Tahu. Hehehe!” kilah Malaikat Serba Tahu.
“huh! Kelak aku tidak akan pernah mau bertanya lagi kepadamu!” dengus Serigala Perak, merengut marah.
“Dengarkan kembali. Ketika aku meramalkan tentang Joko Tenang, aku tidak pernah tahu bahwa dialah pemuda berbibir merah itu. Aku hanya mengatakan bahwa ia akan seperti Dewa Kematian. Yang aku maksud sama seperti Dewa Kematian adalah bahwa Joko Tenang akan mewarisi ilmu Delapan Dewi Bunga. Itu jika Joko Tenang selamat dari berbagai macam ancaman kematian. Jika Delapan Dewi Bunga terwujud, maka siapa pun wanita yang menjaganya, menjadi istrinya dan menjadi salah satu bunga itu, maka ia akan beruntung. Tapi….”
“Ah, ada-ada saja pakai kata tapi. Pasti itu kabar buruknya,” keluh Pendekar Seribu Tapak.
“Hasil penerawanganku dulu menyebutkan, istri cicit Dewa Kematian itu akan lebih banyak jumlahnya dibandingkan buyutnya,” kata Malaikat Serba Tahu.
“Apa?!” ucap Tirana, Getara Cinta, Kerling Sukma, dan Putri Sri Rahayu bersamaan. (RH)
__ADS_1