Pendekar Sanggana

Pendekar Sanggana
140. Genderang Perang di Perbatasan Timur


__ADS_3

*Cincin Darah Suci* 


Di malam itu di hadapan Kaisar Long Tsaw dan Putri Yuo Kai, Jenderal Mok Jueng selaku Kepala Pasukan Naga Merah menyampaikan laporannya tentang pencapaian besar yang didapat pasukannya dalam operasi besar-besaran di sore tadi.


Jenderal Mok Jueng dengan yakin memastikan bahwa kelompok pengacau keamanan di Ibu Kota telah habis tanpa tersisa. Hal itu berdasarkan terbunuhnya dua pimpinan mereka, yaitu Ketua Kelompok Hutan Timur Ushang La dan Bangsawan Sushan.


Bangsawan Sushan ternyata memiliki identitas asli yaitu seorang pangeran dari Negeri Ci Cin. Dia adalah Pangeran Bairin, adik dari Pangeran Baijin. Laporan tentang itu mengejutkan Kaisar Long Tsaw.


“Itu artinya Ci Cin akan berperang dengan kita. Persiapkan 60.000 pasukan untuk di berangkatkan besok pagi ke perbatasan timur! Perdana Menteri, tunjuk lima utusan khusus untuk dikirim ke negeri-negeri sahabat!”


Itulah perintah Kaisar Long Tsaw pada malam itu yang besok pagi akan dikukuhkan dengan surat titah Kaisar.


Di saat Negeri Jang berhasil membasmi pengacau keamanan yang dikirim oleh Negeri Ci Cin, sebanyak 40.000 pasukan Negeri Ci Cin telah tiba di perbatasan timur Negeri Lor We.


Sebanyak 40.000 pasukan berbaris sejauh di luar jangkauan lesatan panah dari benteng kota Taele. Meski obor yang mereka nyalakan tidak sebanyak jumlah pasukannya, tetap saja terlihat mengerikan. Warna seragam prajurit yang hitam-hitam membuat mereka terlihat seperti pasukan setan.


Ada lima belas alat manjanik yang berdiri tinggi, siap digunakan jika seandainya perang pecah.


Pasukan itu dipimpin oleh Putra Mahkota Negeri Ci Cin Pangeran Baijin. Kali ini dia tidak berkuda, tetapi duduk di sebuah kereta kuda perang. Di samping keretanya ada kuda yang ditunggangi oleh pengawal pribadinya, Sala A jin.


Pasukan itu menatap benteng tinggi yang di atasnya telah berbaris pasukan panah Negeri Lor We. Obor-obor besar menyala di atas benteng sebagai penerangan. Sementara di sisi bawah, pintu gerbang besar tertutup rapat.


Di atas sana berdiri Jenderal Zhao Jilian, Kepala Perbatasan Timur Negeri Lor We. Ia berdiri gagah dengan tubuh dilindungi lengkap oleh zirah perangnya. Kepalanya pun ditutupi helm sehingga hanya wajahnya yang tidak terlindungi.


Di samping kanan Jenderal Zhao Jilian berdiri tangan kanannya, Ho Mo. Di atas mereka berkibar gagah bendera Negeri Jin dan bendera pasukan.


Sebelumnya dua hari lalu, Putra Mahkota Young Tua telah memerintahkan untuk membiarkan 40.000 pasukan Negeri Ci Cin memasuki benteng di kota Taele itu agar bisa melanjutkan perjalanannya menuju perbatasan Negeri Jang.


Namun, sebenarnya Jenderal Zhao Jiliang menolak perintah berbahaya dari Pangeran Young Tua. Kaisar Young Yeng adalah sekutu kuat Kaisar Long Tsaw. Namun, Keluarga Zhao yang ada di ibu kota We terancam akan dimusnahkan jika perintah itu ditolaknya. Terlebih, ada kabar bahwa Pangeran Young Tua sudah mengkudeta ayahnya sendiri.


“Kirim surat!” perintah Pangeran Baijin.


Sala A Jin lalu mengayunkan tangan kanannya di atas, memberi tanda kepada prajurit pembawa pesan. Maka seorang prajurit berkuda segera menggebah kudanya untuk berlari kencang. Di punggung prajurit itu berdiri sebatang bendera putih yang berkibar kencang. Ia membawa busur dan satu anak panah.


Jenderal Zhao Jiliang dan pasukannya di atas benteng hanya memandangi kedatangan prajurit utusan itu, yang kemudian berhenti sejauh dua puluh tombak dari dinding benteng. Prajurit utusan kemudian memasang busur dan anak panah berekor kain putih kecil. Dengan teliti ia mengeker bidikannya.


Set! Tep!


Anak panah itu dilepaskan dari senar busurnya dan melesat jauh ke atas benteng. Anak panah itu tepat mengarah kepada Jenderal Zhao Jiliang. Sigap sekali tangan kanan sang jenderal menangkap batang panah yang melesat.

__ADS_1


Jenderal Zhao Jiliang segera menarik lepas kain putih dari anak panah itu. Dibacanya pesan yang tertera di kain putih tersebut.


“Biarkan pasukan Ci Cin memasuki benteng. Jika tidak, benteng akan kami hancurkan!”


Jenderal Zhao Jilian menekan giginya, membuat sepasang rahangnya mengeras. Kain pesan di tangannya ia remas, menunjukkan kemarahannya. Namun, kemudian dia berteriak memberi perintah kepada prajurit penjaga pintu.


“Buka gerbang!”


Maka empat prajuri yang ada di atas benteng, tepatnya di atas gerbang, menarik putar roda untuk menggulung rantai besar yang akan menarik naik pintu gerbang benteng.


Prajurit utusan pasukan Ci Cin kembali berbalik dan berkuda pulang.


Pangeran Baijin tersenyum melihat gerbang benteng mulai terangkat naik, membuka lubang besar untuk bisa dimasuki. Hingga akhirnya gerbang itu terangkat penuh dan sudah bisa untuk dilewati pasukan dalam jumlah yang besar. Bahkan ketinggian alat pelontar manjanik bisa melewati lorong gerbang itu.


Pangeran Baijin memberi tanda kepada pasukannya untuk mulai bergerak secara teratur menuju gerbang kota Taele.


Mulailah pasukan itu bergerak. Yang pertama menuju gerbang bukanlah kereta perang Pangeran Baijin, tetapi pasukan infanteri. Hal itu untuk mewaspadai adanya jebakan yang menunggu di dalam benteng.


Seorang prajurit tiba-tiba muncul menghadap kepada Jenderal Zhao Jiliang.


“Lapor, Jenderal!” teriak prajurit itu seraya berlutut menghormat.


“Pesan burung elang mengatakan, Putra Mahkota Young Tua telah tewas. Yang Mulia Kaisar Young Yeng kembali ke tahtanya!” lapor prajurit itu sambil memberikan gulungan kertas kecil.


“Apa?!” kejut Jenderal Zhao Jiliang. Ia segera membuka kertas itu dan membaca isinya.


Kabar itu merupakan kabar gembira bagi sang jenderal. Itu artinya, saat ini putrinya dan keluarga besarnya di Ibu Kota dalam kondisi aman.


Buru-buru Jenderal Zhao Jiliang berteriak memerintah.


“Tutup gerbaaang!”


Prajurit penarik pintu jadi terkejut, tetapi mereka segera membalik putaran roda penarik rantai. Pintu gerbang yang tebal dan berat itu kembali bergerak turun.


Hal itu membuat pasukan Negeri Ci Cin terkejut, terutama Pangeran Baijin.


“Siapkan panah!” teriak seorang komandan prajurit panah setelah Jenderal Zhao Jiliang memberi kode dengan gerakan tangannya.


Pasukan panah di atas benteng segera membidikkan panah mereka ke arah rombongan terdepan pasukan Ci Cin.

__ADS_1


Melihat pintu gerbang kembali ditutup dan pasukan panah di atas benteng bersiap, jenderal terdepan pasukan Ci Cin dan pasukannya menjadi panik.


“Munduuur!” teriak jenderal pasukan Ci Cin.


“Panaaah!” teriak komandan pasukan panah di atas benteng.


Seset seset...!


Ratusan anak panah berlesatan menghujani pasukan Ci Cin yang berada dalam jangkauan lesatan anak panah. Pasukan itu jadi kocar-kacir seiring bertumbangannya para prajurit yang terkena panah. Sementara sang jenderal bisa menangkis anak panah dengan kibasan pedangnya.


Pasukan terdepan itu segera mundur secara kacau sehingga mereka berada di luar jangkauan anak panah, meninggalkan puluhan prajurit yang gugur.


“Beraninya!” teriak Pangeran Baijin murka. “Bersiap perang!”


“Bersiap peraaang!” teriak Sala A Jin.


“Bersiap peraaang!” teriak empat jenderal yang memimpin pasukan Ci Cin.


Dum dum dum dum...!


Troooeeet!


Prajurit penabuh genderang perang segera beraksi kompak. Mereka menabuh genderang dengan tabuhan yang sama. Prajurit peniup terompet pun meniup kencang memberi tanda bahwa perang akan dimulai.


Pasukan Ci Cin kembali merapikan diri. Para komandan mempersiapkan pasukannya. Alat pelontar batu manjanik didorong lebih maju ke depan posisinya. Ratusan prajurit pengusung tangga pun bersiap, termasuk kereta pendobrak pintu.


“Pasukan Negeri Ci Cin!” teriak para jenderal bersahut-sahutan sambil berkuda menyisir sisi depan barisan pasukan.


“Perkasa! Perkasa! Hancurkan musuh!” teriak seluruh prajurit Ci Cin sambil memukul-mukulkan senjatanya menyambut seruan para jenderal, memberi efek gentar bagi pasukan Lor We yang ada di atas dan dalam benteng.


Dum dum dum...!


Tabuhan genderang perang juga dibunyikan oleh lima prajurit di atas benteng.


Pasukan panah dipasang tiga lapis dengan satu lapis adalah prajurit penyuplai anak panah. Senjata-senjata segera di siapkan. Drum-drum kayu yang berisi minyak segera disiapkan. Ribuan pasukan yang berkumpul di bawah, segera berlarian naik ke atas benteng dan menyebar mengambil posisi. Puluhan panah raksasa yang anak panahnya sebesar tombak segera di siapkan di sepanjang garis atas benteng.


Jumlah pasukan perbatasan timur Negeri Lor We hanya sebanyak 6.000, kalah jauh dari jumlah pasukan Negeri Ci Cin, tetapi pasukan Lor We tetap percaya diri dengan kekuatan benteng yang mereka miliki.


Kini, jantung setiap prajurit di kedua pihak berdegup kencang, dilanda kegugupan dan juga adrenalin semangat untuk meraih kemenangan. (RH)

__ADS_1


__ADS_2