Pendekar Sanggana

Pendekar Sanggana
PGM 21: Jurus Pemabuk Buta


__ADS_3

*Pendekar Gila Mabuk (PGM)* 


 


“Apakah kita hanya akan menyaksikan, Tabib?” tanya Turung Gali kepada Tabib Rakitanjamu. Mereka masih memantau dari kamar atas penginapan.


Padahal, beberapa orang Gerombolan Kuda Biru sudah masuk ke penginapan dan mengobrak-abrik setiap kamar inap. Namun anehnya, kamar itu tidak tersentuh atau tidak ditemukan. Itu semua terjadi berkat kesaktian Tabib Rakitanjamu. Meski ia tidak bercerita, tetapi Turung Gali bisa memahami apa yang terjadi.


“Apakah junjunganmu dan ketiga istrinya itu bisa membantu?” tanya Tabib Rakitanjamu.


“Sangat bisa,” jawab Turung Gali.


“Terpaksa kali ini kita harus membiarkan mereka, kita harus bertemu dulu dengan junjunganmu itu, Kisanak. Lebih baik kita selamatkan pendekar yang bisa diandalkan, seperti bocah nekat itu,” ujar Tabib Rakitanjamu. “Aku melihat gaya bertarungnya seperti Linglung Pitura, Pangeran Mabuk. Mungkin dia muridnya.”


Sementara itu di tengah jalan sana, Surya Kasyara diam terkapar dalam posisi tengkurap.


Setelah diam untuk beberapa saat, tiba-tiba tangan kanan Surya Kasyara terangkat tinggi ke atas, seperti pegulat yang menunjukkan bahwa ia masih sanggup bertarung.


Tiga Algojo Besi yang awalnya hendak pergi mendekati Surya Kasyara, jadi urungkan niat.


Surya Kasyara perlahan bangkit hingga berdiri tegak. Ia sejenak menatap liar kepada ketiga lawannya. Tubuhnya memang terasa sangat sakit, tetapi sebentar lagi itu akan hilang setelah ia minum tuaknya.


“Jagung bakar ketela segenggaman, kue cucur dijual habis tanpa laba, jangan bangga kalau mainnya keroyokan, akan kuhancurkan dengan jurus Pemabuk Buta!” teriak Surya Kasyara berpantun siap tarung serius.


Glek glek glek!


Surya Kasyara mendongak dan menuangkan tuaknya ke mulut. Surya Kasyara meneguk nonstop tuaknya tanpa jeda, seolah-olah tenggorokannya memang saluran air tanpa stoper.


Mutlak, air tuak dalam bumbung habis hingga tetesan terakhir. Sampai-sampai bumbung itu diguncang-guncang seperti mengguncang celengan manuk.


Surya Kasyara melepas bumbung tuaknya dan membiarkannya menggantung tanpa isi. Kini wajah Surya Kasyara memerah, matanya memerah. Kali ini ia benar-benar mabuk. Goyangan tubuhnya semakin parah. Beberapa kali ia harus memindahkan pijakan kakinya untuk mencegah tubuh jatuh.


“Eeegg!” Surya Kasyara bersendawa nyaring. Sambil berlari maju dia berteriak, “Aaa…!”


Blugk!


Surya Kasyara justru jatuh tersungkur di tengah jalan karena ia berlari belok-belok tidak jelas akibat pengaruh tuak.


“Hahahak!” tawa Tiga Algojo Besi.


Namun, ketiga orang besar itu terkejut saat tiba-tiba tubuh Surya Kasyara melesat terbang rendah.


Dukk!


“Hukh!” keluh Sakare dengan tubuh terjengkang keras setelah tubuh Surya Kasyara menyundul keras perutnya.


Surya Kasyara yang juga jatuh, langsung bangun menyerang dengan gaya orang mabuk, tetapi sepuluh tinjunya mendarat beruntun dengan begitu cepat ke perut Segoro Wono. Namun, meski tinju itu bertenaga dalam tinggi, tetap saja tubuh Segoro Wono tetap perkasa tanpa terdampak.


Tap!


Segoro Wono justru berhasil menangkap tengkuk Surya Kasyara dengan cengkeramannya.


Sebelum lehernya diremukkan, Surya Kasyara lebih dulu menyemburkan air di dalam mulutnya.


“Fruurt!” Surya Kasyara menyembur wajah Segoro Wono.


“Aaa…!” jerit Segoro Wono saat wajahnya terkena air ilmu Semburan Ular Mabuk.


Buk!

__ADS_1


Namun, dari samping tendangan keras Gelaga menghajar lambung kiri Surya Kasyara, membuat pemuda mabuk itu terlempar jatuh.


Seolah tidak kenal rasa sakit, Surya Kasyara langsung bangun dan melompat dengan tubuh berputar samping seperti silinder.


Dak! Buk!


Tahu-tahu tendangan kapak dari atas ke bawah milik Surya Kasyara mengincar kepala Gelaga. Lelaki besar itu tangkas menangkis dengan silangan tangan besarnya di atas kepala. Namun, kaki Surya Kasyara yang lain menusuk masuk ke dada kekar itu.


Kali ini tenaga dalam serangan Surya Kasyara bisa membuat lawannya jatuh.


“Hiaat!” teriak Segoro Wono murka sambil merasakan derita pada wajahnya. Ia menyerang dengan sepasang batang tangan bersinar hijau menyala.


Serangan tinju Segoro Wono sangat cepat, tetapi masih bisa dielaki oleh gerakan mabuk Surya Kasyara dengan cara menurunkan tangannya ke belakang. Pukulan maut itu hanya lewat di atas tubuh Surya Kasyara yang berpose kayang.


Dak!


Surya Kasyara yang sedang kayang, melesatkan kaki kanannya dari bawah menyodok dagu Segoro Wono. Tubuh besar itu sampai terlompat jatuh ke belakang.


Tinju serupa datang kepada Surya Kasyara dari Sakare. Surya Kasyara cepat memelintir tubuh di udara menghindari tinju itu. Namun, tinju tangan bersinar hijau juga datang tanpa jeda dari Gelaga.


Bduk!


Karena tidak bisa menghindar, Surya Kasyara sedikit menggeser posisi bumbung tuaknya, sehingga tinju Gelaga menghantam bumbung tuak.


“Hugk!” keluh Gelaga dengan tubuh terjajar dua tindak akibat meninju bumbung tuak itu.


Sementara Surya Kasyara terbanting keras ke tanah. Ia bahkan menyemburkan sedikit darah kental. Terlindungi oleh bumbung tuaknya saja Surya Kasyara bisa terluka dalam, apalah jadinya jika tinju itu mengenai langsung tubuhnya?


Serangan bagi Surya Kasyara tidak berhenti. Kali ini Sakare yang merangsek maju dengan tinju sinar hijau.


Wuut! Dak!


Baru saja Surya Kasyara bangkit dari jatuhnya, dari samping melesat cepat tubuh besar Gelaga seperti harimau melompat menyerang, sementara tinju tangan hijaunya meluncur deras.


Bduk!


Tidak bisa menghindar, lagi-lagi Surya Kasyara menggunakan bumbung bambunya sebagai tameng. Tinju Gelaga lagi-lagi menghantam bumbung tuak. Hasilnya, Gelaga mendarat dengan wajah meringis, menahan sakit pada tangan kanannya yang adu kekuatan dengan bumbung sakti.


Sementara Surya Kasyara sendiri, ia terlempar deras sejauh dua tombak. Namun, benar-benar seperti orang mabuk buta rasa, ia cepat bangkit berdiri dengan gaya sempoyongan.


“Cuih!” Surya Kasyara meludah darah kental. Ia menyeka darah di bibir dan dagunya dengan lengan bajunya, mirip bocah mengelap ingusnya. “Hiaaat!”


Surya Kasyara berlari kencang, tetapi larinya tidak lurus sehingga sedikit berbelok. Namun, tiba-tiba ia lesatkan kembali bumbungnya bersama tubuhnya yang tertarik terbang.


Bumbung tuak itu melesat cepat menyerang Gelaga, tetapi Gelaga sigap mengelak ke samping sambil tendangannya main kibas.


Dak!


Tendangan Gelaga yang menghantam ke perut Surya Kasyara masih dapat ditangkis dengan tangan kiri, membuat Surya Kasyara hanya terlempar ke samping dan mampu mendarat dengan baik di tanah.


“Hekh!” keluh Surya Kasyara saat tiba-tiba dari belakang Segoro Wono menyergapnya dengan kuat.


Kedua lengan besar Segoro Wono memeluk kuat tubuh Surya Kasyara, bahkan kesepuluh jari tangannya bertautan memperkuat kuncian. Hal itu membuat Surya Kasyara tidak berkutik karena kedua tangannya juga terjepit.


Begitu kuatnya pelukan Segoro Wono, tubuh Surya Kasyara serasa mau remuk dan tulang-tulangnya tertekan semua, terutama pada bagian lengan, punggung dan dada. Surya Kasyara pun jadi agak sulit bernapas.


Belum lagi Surya Kasyara berbuat sesuatu, dari arah depan telah melesat maju Sakare dengan tinju tangan hijaunya. Tinju itu tepat mengincar wajah tampan Surya Kasyara.


“Fruurt!”

__ADS_1


Tes! Bukr!


“Aaa!” Surya Kasyara dan Sakare menjerit sakit bersamaan.


Yang terjadi adalah Surya Kasyara menyemburkan air dari dalam mulutnya sambil kepalanya miring mengelak. Hasilnya, Semburan Ular Mabuk mengenai tinju Sakare yang datang, tetapi tinju itu terus maju dan menyambar telinga kiri Surya Kasyara, lalu langsung menghantam wajah Segoro Wono.


Sakare menjerit karena tangannya melepuh seperti usai tersiram air panas mendidih. Sementara Surya Kasyara menjerit karena daun telinga kirinya putus tersambar tinju Sakara. Darah langsung mengucur deras dari pangkal telinga yang putus.


Sementara nasib buruk menimpa Segoro Wono. Sudahlah tadi kulit wajahnya hancur, kini bukan hanya wajahnya, tetapi juga tengkorak kepalanya remuk terkena tinju teman sendiri. Segoro Wono tumbang ke belakang tanpa nyawa.


Lagi-lagi Gelaga melesat menerkam dengan tinju yang serupa ke arah Surya Kasyara. Murid Pangeran Mabuk yang sedang kesakitan itu terkejut. Lagi-lagi pula ia mengandalkan bumbung tuaknya untuk menangkis tinju.


Bduk!


Untuk ketiga kalinya tinju Gelaga menghantam bumbung tuak. Dan untuk ketiga kalinya Surya Kasyara terpental oleh kekuatan tinju itu. Pemuda itu jatuh bergulingan.


“Hoekh!” Surya Kasyara muntah darah kental saat hendak bangkit berdiri. Ia segera sadar bahwa kondisinya keritis.


Buru-buru ia membuka bumbung tuaknya. Namun, ketika dituang, tidak ada tuak yang mengalir, kecuali setetes saja. Ia lupa bahwa ia sudah menghabiskan tuaknya.


Sementara itu, Sakare melompat tinggi ke udara. Pada puncak lompatannya, ia mengatur posisi tubuhnya untuk meluncur jatuh, yaitu kepala di bawah dan kaki di atas.


Pada saat yang sama, Gelaga berlari cepat menyerang dari depan Surya Kasyara.


Surya Kasyara yang lukanya semakin parah, jadi tegang bersiap menghadapi dua serangan sekaligus.


Wuss! Blet!


Tiba-tiba muncul serangkum gelombang angin tenaga dalam menyambar tubuh Sakare dan menghempaskannya cukup jauh. Pada saat yang sama, seutas tali kuning melesat membelit leher Gelaga dengan begitu kuat, memaksanya menghentikan larinya.


“Surya! Tinggalkan tempat ini! Pulanglah kepada Guru!” teriak Rara Sutri sambil menarik kencang cemeti kuningnya yang membelit leher Gelaga. Kedatangan Putri Cemeti Bulan tepat waktu untuk menolong Surya Kasyara.


Sementara itu, Gelaga mencoba adu tarik dengan Rara Sutri. Ia mengencangkan otot lehernya, sementara tangannya yang masih bersinar hijau menggenggam kuat tali cemeti itu.


“Aku harus menyelamatkan Kayuni lebih dulu!” teriak Surya Kasyara sambil berbalik dan berlari sempoyongan meninggalkan kakak seperguruannya bertarung sendirian.


“Suryaaa!” teriak Rara Sutri panjang. Ia kesal bukan main. “Kau aku bantu, tetapi kau justru memikirkan perempuan jahat itu!”


Namun, seolah telah dibutakan oleh rasa cinta, Surya Kasyara yang masih bisa mendengar teriakan Rara Sutri itu, tetap berlari pergi sambil membekap telinga kirinya.


Gelaga mengalirkan tenaga saktinya menjalar lewat tali cemeti untuk menyerang Rara Sutri.


Sets!


Melihat tindakan Gelaga itu, Rara Sutri menarik hentak cemetinya dengan tanaga dalam tinggi. Hasilnya, cemeti itu tertarik lepas dari tangan dan leher Gelaga. Namun, tarikan itu membuat tubuh besar Gelaga terpelintir kencang menghantam bumi.


Gelaga Tewas dengan luka selingkaran leher, seperti usai disayat melingkar.


Mendeliklah Sakare melihat Gelaga tewas pula. Ia langsung melesat menyerang Rara Sutri dengan kemarahan yang tinggi. (RH)


***************


Satu Dua Kata Author


Assalamu 'Alaikum dan Salam Sejahtera kepada para Readers dan Author Sahabat yang Author cintai dan hormati.


Pasti banyak kekurangan dan kesalahan Author di dalam novel "Pendekar Sanggana" ini yang menghasilkan kekecewaan dan ketidak puasan. Karena itulah, pada momentum indah menjelang Bulan Suci Ramadhan yang penuh keberkahan dan ampunan, Author ucapkan permohonan maaf yang sebesar-besarnya kepada para Readers dan Author Sahabat.


Sebaliknya, keseruan, kegembiraan, kebersamaan dan silaturahmi yang dimediasi oleh novel ini antara Author dengan para Readers dan Author Sahabat, semoga bisa tetap terjaga dan semakin dalam terjalin. Author ucapkan terima kasih yang setinggi-tingginya atas segala dukungannya. Semoga kita semua diberkahi oleh Tuhan. Aamiin.

__ADS_1


Author: Rudi Hendrik😁🙏🙏


__ADS_2