
*Cincin Darah Suci*
“Yang Mulia Putri Yuo Kai tiba!” teriak prajurit yang berdiri di gerbang ruangan.
Maka semua wajah segera beralih memandang ke arah pintu masuk utama. Tidak ada yang berbicara, mereka menunggu.
Putri Yuo Kai melangkah anggun dengan pakaian berwarna merah bercampur warna kuning. Model sanggulnya tidak berubah, hanya hiasannya saja yang diganti lebih cantik dan berharga. Ujung belakang pakaian bawahnya memanjang terseret menyapu lantai yang dilalui oleh langkahnya. Berjalan di belakangnya adalah pengawal Bo Fei dan dua pelayannya, Mai Cui dan Yi Liun.
Tidak berkedip Pangeran Baijin dan Bairin memandang wajah yang semakin mendekat semakin terlihat cantik itu. Mereka memang baru perdana ini melihat paras Putri Yuo Kai yang tersohor namanya melintasi berbagai negeri. Kecantikan Putri Yuo Kai telah lama menjadi buah bibir orang-orang yang pernah melihatnya. Namun, ada pula desas-desus bahwa Putri Yuo Kai adalah seorang penyihir.
Putri Yuo Kai terus melangkah menuju ke hadapan tahta, berjalan dengan tatapan lurus kepada ayahandanya, tidak sedikit pun melirik kepada mereka yang sudah duduk menunggu cukup lama. Bo Fei dan dua pelayannya berbelok untuk mengambil posisi di belakang meja yang akan ditempati oleh tuan mereka.
Putri Yuo Kai akhirnya berhenti di titik yang semestinya di depan tangga tahta.
“Hormat sembah hamba, Yang Mulia Kaisar dan Permaisuri!” ucap Putri Yuo Kai sambil turun berlutut menghormat.
“Bangunlah, anakku!” kata Kaisar Tsaw.
Putri Kai pun bangun berdiri tegak.
“Perkenalkan, itu Putra Mahkota Negeri Ci Cin Pangeran Baijin!” kata Kaisar memperkenalkan tamunya.
Putri Kai segera menghadapkan tubuhnya kepada Pangeran Baijin yang bangun berdiri lalu menghormat agak membungkuk kepada sang putri.
“Semoga Yang Mulia Putri Kai dalam kondisi yang sehat selalu,” ucap Pangeran Baijin dalam hormat dan senyumnya.
“Terima kasih sudah mengorbankan waktu dan lainnya demi datang ke Negeri Jang, Yang Mulia,” balas Putri Kai dengan senyum yang lebih tipis.
“Perkenalkan pula, ini adikku, Pangeran Bairin,” kata Pangeran Baijin menunjukkan keberadaan adiknya.
“Senang bisa bertemu dan mengenal Yang Mulia Putri,” ucap Pangeran Bairin setelah berdiri dan membungkuk hormat.
__ADS_1
“Apakah Pangeran Bairin juga memiliki maksud yang sama dengan Pangeran Baijin?” tanya Putri Kai langsung.
“Tidak. Aku hanya mendampingi kakakku dan penasaran ingin melihat seperti apa Negeri Jang,” jawab Pangeran Bairin seraya tersenyum, kekesalannya karena lama menunggu sirna sudah. Menurutnya, tidak sia-sia perjuangan mereka datang jika memang Putri Yuo Kai secantik itu, meski terlihat lebih matang dalam hal usia.
“Di sini juga ada adikku Putri Ling Mei yang cantik. Kau bisa melakukan kesepakatan dengan Yang Mulia jika kau tertarik memboyongnya ke Ci Cin,” kata Putri Kai, merujuk kepada adiknya yang sejak tadi duduk dan diam di sisi Pangeran Tsun.
“Kakak!” sahut Putri Ling Mei dengan wajah tersipu malu.
Pangeran Bairin memandang sejenak kepada Putri Ling Mei yang memang juga cantik, tetapi sayang masih begitu muda.
“Aku khawatir, perjalanan pulang kalian hanya membawa kesan hampa,” kata Putri Kai.
Perkataan terakhir itu membuat kedua pangeran dari Negeri Ci Cin sedikit kerutkan kening. Mereka seolah menangkap isyarat tidak baik dalam kata-kata itu.
Putri Kai kemudian melangkah pergi ke belakang meja pendek yang sudah diperuntukkan kepadanya. Sebelum ia duduk di bantal empuk yang tersedia, kedua pelayannya dengan cekatan mengatur letak ujung pakaiannya.
“Hahaha!”
Terdengar Kaisar tertawa.
“Terima kasih, Yang Mulia,” ucap Pangeran Baijin yang sudah kembali duduk.
Ia lalu beralih berbicara kepada Putri Kai di hadapan semuanya.
“Tuan Putri, telah lama nama dan kecantikanmu terdengar olehku di negeri Ci Cin. Terlebih aku pun mendengar kabar bahwa tidak satu pun ada lelaki yang berhasil menaklukkan hatimu. Setelah saat ini, barulah aku percaya dengan kebenaran kabar dari para pedagang yang singgah di negeriku. Tuan Putri memang cantik, bahkan aku mengakui, apa yang aku saksikan lebih cantik dari bayangan yang aku hayalkan. Namun, aku belum percaya bahwa tidak ada seorang lelaki pun yang bisa membuat hati Tuan Putri tertarik. Karena itu, aku ingin membuktikannya hari ini,” ujar Pangeran Baijin.
“Dengan cara apa kau ingin membuktikan bahwa ada lelaki yang bisa membuatku tertarik untuk menjadi istrinya?” tanya Putri Kai datar.
“Jauhnya kami datang menunjukkan besarnya kesungguhanku untuk menjemput calon istriku. Banyaknya hadiah yang aku bawa menunjukkan betapa kayanya Negeri Ci Cin yang kelak akan berada di tanganku. Mudahnya perjalananku dengan melalui Negeri Moh dan Negeri Lor We sampai ke Negeri Jang, menunjukkan bahwa kami bangsa yang disegani dan ditakuti. Karena niatku ini pula, Negeri Ci Cin menghindari konflik perbatasan dengaan Negeri Moh dan Lor We yang merupakan sekutu kuat Negeri Jang. Bukan hanya seorang pangeran, aku pun seorang jenderal perang yang tidak terkalahkan di medan tempur. Negeri Ci Cin adalah negeri yang memiliki sumber alam yang kaya raya. Aku punya janji kepada diriku sendiri, jika Putri Kai bersedia menjadi istriku, maka kota Lang akan aku berikan sebagai hadiah. Kota Lang adalah kota yang memiliki tambang perak yang kaya.”
“Pangeran Baijin,” sebut Putri Kai. “Apakah kau adalah orang yang berani menerima kekalahan?”
__ADS_1
“Pantang bagiku untuk kalah dalam sebuah perang atau adu tarung. Semua jenderal yang dimiliki oleh Negeri Ci Cin sudah pernah takluk di tanganku. Ci Cin telah menaklukkan enam negeri lain yang kemudian membuat Ci Cin semakin luas ke timur,” jawab Pangeran Baijin jumawa.
“Bagaimana jika suatu hari Pangeran kalah bertarung?” tanya Putri Kai lagi, membuat adiknya, Pangeran Tsun, tersenyum, seolah memahami sesuatu dari pertanyaan kakaknya itu.
Senyum Pangeran Tsun membuat Pangeran Baijin dan Bairin tidak suka. Ekspresi wajah Pangeran Bairin berubah agak keras dengan alis agak mengerut. Sementara Pangeran Baijin harus menjawab pertanyaan Putri Kai.
“Aku akan mundur lalu datang kembali untuk menang!” jawab Pangeran Baijin dengan tegas dan suara yang agak meninggi.
“Maka jawabanku sudah jelas. Aku akan menunggu kedatangan Yang Mulia Pangeran untuk yang kedua kali,” tandas Putri Kai dingin.
Terkejutlah Pangeran Baijin, Pangeran Bairin dan Pengawal Sala A Jin mendengar perkataan Putri Kai. Sementara Kaisar Tsaw dan Permaisuri menunjukkan wajah kecewa.
Tiba-tiba Pangeran Baijin berdiri dengan kesal, lalu menghormat kepada Kaisar Tsaw.
“Maafkan aku jika lancang, Yang Mulia!” seru Pangeran Baijin degan wajah menegang. “Apakah ini bentuk penghinaan yang diberikan Putri Kai kepadaku?”
Pertanyaan keras Pangeran Baijin seketika merubah warna muka Kaisar Tsaw dan yang lainnya. Hanya Pangeran Tsun yang bersikap dingin karena ia sudah bisa menebak hasil dari pertemuan itu. Terlihat Pangeran Bairin juga gusar dalam diamnya.
“Pangeran Baijin, jangan lancang kau kepada Yang Mulia!” hardik Perdana Menteri La Gonho sambil bangkit berdiri. Ia marah atas tindakan tamu di sampingnya itu.
“Bagaimana mungkin aku ditolak tanpa alasan yang jelas?” tanya Pangeran Baijin lagi, masih gusar.
“Pangeran!” sebut Putri Kai lagi, masih duduk dengan tenang. “Kau bukan pelamar pertama yang marah dan merasa terhina di istana ini. Namun, aku akan menjelaskan kenapa Pangeran langsung aku tolak, agar Pangeran bisa kembali tanpa rasa penasaran.”
Putri Kai berhenti sejenak. Ia memilih untuk berdiri karena lawan bicaranya juga berdiri.
“Apa yang semua Pangeran sampaikan untuk meyakinkan aku, tidak berbeda dengan puluhan lelaki yang pernah datang untuk melamarku. Negeri Jang juga negeri yang kaya raya, dan Negeri Jang juga bangsa yang kuat yang sehingga lima negeri yang mengelilingi Jang tidak pernah mau mengusik perbatasan wilayah Jang. Tidak hanya kuat, tetapi juga terhormat. Kami tidak akan pernah mengganggu perbatasan negeri tetangga kami. Karena itulah, kelima negeri yang mengepung Jang bersekutu erat dengan kami. Jadi, aku muak mendengar iming-iming kekayaan, kekuasaan dan kekuatan hanya untuk mendapatkan diriku. Namun, penyebab utama aku menolak Pangeran adalah usia. Usia Pangeran Baijin menimbulkan banyak pertanyaan yang aku tidak perlu mendengar jawabannya.”
Memerah telinga Pangeran Baijin mendengar kata-kata Putri Kai. Ia sungguh tidak menyangka putri Negeri Jang itu memiliki perangai yang “buruk” menurutnya. Ia merasa sangat dipermalukan di depan keluarga besar Kaisar Tsaw. Bukan hanya Pangeran Baijin seorang yang merasa malu dan marah, Pangeran Bairin dan Pengawal Sala A Jin pun demikian. Pangeran Bairin pun telah berdiri dari duduknya.
“Tidak, Yang Mulia!” kata Pangeran Baijin kepada Kaisar Tsaw, dengan tatapan tajam menahan kemarahan. “Alasan yang diutarakan oleh Putri Kai tidak bisa aku terima. Alasan usia dan tawaran kekayaan tidak bisa dijadikan alasan kuat untuk menolak satu lamaran!”
__ADS_1
“Baiklah. Aku beri Pangeran satu kemudahan,” kata Putri Kai. “Meski aku sudah menolak, tapi Pangeran aku beri kesempatan untuk pulang dengan tetap merasa terhormat. Satu hal yang menjadi syarat utamaku adalah, lelaki yang melamarku harus bisa mengalahkanku dengan cara bertarung.”
“Apa?!” kejut Pangeran Baijin. (RH)