Pendekar Sanggana

Pendekar Sanggana
68. Serangan ke Sumur Juara


__ADS_3

*Arak Kahyangan*


"Seraaang!”


Tiba-tiba terdengar teriakan suara lelaki yang banyak. Muncul dari dalam terowongan di sisi tribun selatan.


Seiring itu, puluhan orang lelaki bersenjata masuk ke tribun selatan dan langsung melakukan serangan terhadap kumpulan prajurit perempuan yang ada.


Serangan itu mengejutkan Ratu Aswa Tara yang tidak menyangka akan ada pasukan lain yang bisa menyusup masuk ke dalam kerajaannya.


Tidak hanya puluhan lelaki bersenjata yang hampir semuanya bertelanjang dada, tetapi ratusan jumlahnya.


Keadaan di tribun selatan menjadi rusuh oleh pertempuran. Sementara Ratu Getara Cinta dan pasukannya di tribun utara hanya menjadi penonton.


Di tengah kekacauan itu pula, satu sosok berpakaian ungu melesat cepat melabrak Ratu Aswa Tara, mengejutkannya dan membuatnya terpaksa melompat menghindar ke arena Sumur Juara. Sosok yang menyerang Ratu Aswa Tara adalah Nintari, Bidadari Seruling Kubur.


Nintari segera mengejar Ratu Aswa Tara turun ke bawah sambil lepaskan satu angin pukulan penghancur.


Blarr!


Angin pukulan itu menghancurkan lantai batu tempat Ratu Aswa berpijak, sebab ratu itu lebih dulu melompat jauh menghindar.


“Apa yang kau lakukan, Seruling Kubur?!” bentak Ratu Aswa Tara. “Apakah kau diperintahkan oleh Getara Cinta?!”


“Aku pendekar bayaran. Sejak aku kalah oleh Joko, aku sudah tidak terikat dengan Kerajaan Tabir Angin. Kini aku dibayar untuk menghancurkan Hutan Kabut!” jawab Nintari.


Melihat keberadaan ratunya sedang berhadapan dengan seorang pendekar sakti, Pina Pima segera meninggalkan para pengeroyoknya di tribun. Ia berkelebat turun dan langsung menyerang Nintari dengan lesatan sinar merah Tali Pemupus.


Sebagai pendekar kelas atas, Nintari dengan mudah mengelaki tali sinar yang bisa melumpuhkan kesaktian itu. Selanjutnya, Pina Pima tanpa ucap sepatah kata pun, langsung menyerang Nintari.


“Getara Cinta!” teriak Ratu Aswa Tara marah sambil menunjuk kepada Ratu Getara Cinta. “Kau menyalahi perjanjian dua kerajaan!”


Namun yang menjawab bukanlah Ratau Getara Cinta, tetapi Panglima Jagaraya.


“Kerajaan Tabir Angin sedikit pun tidak terkait dengan serangan itu. Kami tidak melanggar perjanjian!” tandas Panglima Jagaraya.


Belum lagi perdebatan itu berlanjut, muncul dua sosok wanita berpakaian pendekar yang terjun turun ke medan laga.


“Ratu Aswa Tara! Di mana kau sembunyikan Hujabayat!” seru Kembang Buangi yang mendarat tidak jauh dari sang ratu. Ia datang bersama Ginari.


Melihat kemunculan calon istrinya dan Kembang Buangi, Joko Tenang segera memberi isyarat kepada Tirana agar tidak memberi tahu tentang keberadaan Hujabayat.


“Orang yang terkena Kendali Arwah tidak akan sembuh jika pemilik ilmu tidak dibunuh,” kata Panglima Jagaraya kepada Joko.


“Apakah harus seperti itu?” tanya Joko. Ia enggan jika kedua wanitanya itu harus membunuh Ratu Aswa Tara demi menyembuhkan Hujabayat.


“Memang seperti itu sifat ilmu-ilmu penakluk yang dimiliki oleh Aswa Tara. Sama seperti Tali Pemupus, tali itu bisa lenyap jika pemiliknya mati,” kata Panglima Jagaraya.


“Tapi, jika Ratu Aswa Tara mencabut Kendali Arwah dari Hujabayat, maka Hujabayat bisa sembuh?” tanya Joko.


“Bisa.”


Di bawah sana, Ratu Aswa Tara telah dikeroyok oleh Kembang Buangi dan Ginari.


Di tribun selatan, para budak pekerja tambang yang selama bertahun-tahun dilumpuhkan kesaktiannya, mengamuk. Satu demi satu prajurit wanita Hutan Kabut tumbang meregang nyawa, karena memang sebagian dari para lelaki itu memiliki kesaktian di atas level prajurit biasa.


Sawiri bertarung keras. Ia telah membunuh beberapa orang lelaki. Sekilas ia berhenti dan mencari keberadaan ratunya. Ia mendapati sang ratu dalam keadaan terdesak oleh keroyokan dua mantan tahanan mereka. Sementara itu, pasukan Hutan Kabut di tribun itu mulai terdesak. Sejumlah pasukan bahkan mulai jatuh mentalnya.

__ADS_1


“Buat Kabut Racun!” teriak Sawiri keras memberi perintah kepada seluruh prajurit yang masih hidup.


Bless! Bless!


Para prajurit yang dibekali dengan senjata bernama Kabut Racun segera membanting bola-bola kecil ke lantai batu. Bom-bom asap putih berledakan. Asap putih itu adalah racun yang akan membuat pingsan.


“Halau asapnya!” teriak Badak Jawara kepada pasukannya.


Wuss!


Maka Badak Jawara dan sejumlah pria melepaskan angin pukulan. Gabungan angin pukulan itu membuat asap tertiup menyerang pasukan Hutan Kabut sendiri.


“Hiaaat!”


Seorang lelaki melompat ke arah posisi Sawiri.


Slet! Blug!


“Hekh!”


Keluh lelaki itu saat satu tali sinar merah melesat lalu melilit lehernya saat ia berada di udara. Tubuhnya langsung jatuh dengan kondisi telah kehilangan tenaga dalam.


“Hiaaat!” teriak dua lelaki lain datang berlari menyerang ke arah Sawiri.


Slet! Slet!


Kembali Sawiri mengandalkan Tali Pemupus. Dua tali merah melesat menjerat leher kedua lelaki itu. Keduanya pun jatuh tertahan.


“Mati kau, Sawiri!” teriak Badak Jawara yang datang bersama dua lelaki lain.


Slet! Slet!


Buk!


Satu tinju bertenaga dalam tinggi dari Badak Jawara masuk menghajar dada atas Sawiri. Sawiri terjajar.


Bak bak!


Dua terjangan menyusul menghajar perut dan bahu bersamaan. Kali ini membuat Sawiri jatuh bergulingan ke pinggir tribun lalu terjatuh. Dalam jatuhnya, kaki Sawiri masih sempat mendorong tebing sehingga tubuhnya bisa berkelebat terkendali di udara.


Set! Seb!


“Akh!”


Namun, saat tubuh Sawiri berkelebat, satu tombak yang diraih oleh Badak Jawara dilempar cepat dan tepat menghujam dada kanan Sawiri. Bersama jeritannya yang sebentar Sawiri jatuh berdebam ke medan berbatu, sekaligus merenggut nyawanya. 


“Yang Mulia Ratu, ternyata Badak Jawara masih hidup!” lapor Panglima Jagaraya kepada Ratu Getara Cinta.


Sang ratu hanya mengangguk sekali, karena ia juga bisa melihat keberadaan Badak Jawara yang hilang beberapa tahun lalu.


“Sugeti Harum!” panggil Ratu Getara Cinta.


“Hamba, Yang Mulia Ratu,” sahut panglima perempuan itu.


“Tetaplah di sini bersama satu pasukanmu sampai kerusuhan ini selesai!” perintah Ratu Getara Cinta.


“Baik, Yang Mulia Ratu,” patuh Sugeti Harum.

__ADS_1


“Panglima Jagaraya, kita kembali ke Tabir Angin!” perintah Ratu Getara Cinta.


Mendengar perintah itu, Joko Tenang segera menyahut.


“Aku dan Tirana akan kembali bersama Panglima Harum!”


Ratu Getara Cinta yang kondisinya lemah, hanya tersenyum kecil dan mengangguk.


Tandu segera didekatkan kepada Ratu untuk dinaiki. Panglima Jagaraya memberi tanda kepada peniup terompet.


Trooot trooot tetet tetet...!


Para peniup terompet segera meniup memberi nada khusus yang sudah dihapal oleh seluruh prajurit Tabir Angin. Itu tiupan perintah untuk kembali atau mundur.


Pasukan berpakaian yang dipimpin oleh para komandan segera bergerak dalam barisan yang rapi mengikuti kepergian Ratu Getara Cinta. Tinggallah Panglima Perang Sugeti Harum bersama sejumlah kecil pasukan tetap berada di tribun utara Sumur Juara.


Sementara di tribun selatan, pasukan Kerajaan Hutan Kabut semakin terdesak, terlebih munculnya pasukan perempuan dengan seragam yang serupa di bawah pimpinan Sulasih. Mereka bisa disebut “pasukan pengkhianat” bagi Kerajaan Hutan Kabut. Pada akhirnya, sejumlah pasukan Ratu Aswa Tara memilih melarikan diri ketika ada celah dan kesempatan.


Sementara pasukan mantan para budak membabi buta. Mereka melampiaskan dendam mereka setelah salama bertahun-tahun dijadikan budak tambang di Lembah Gelap.


Di medan tarung Sumur Juara, terjadi dua pertarungan, yakni antara Bidadari Seruling Kubur melawan Pina Pima serta Ratu Aswa Tara yang dikeroyok oleh Kembang Buangi dan Ginari.


Pina Pima memiliki kesaktian di atas Sawiri. Namun, kondisi yang salah jika ia harus mati-matian melawan Nintari yang berjuluk Bidadari Seruling Kubur, salah seorang pendekar sakti bayaran yang sulit dicari tandingannya.


Meski unggul dari segi fisik, Pina Pima tetap kewalahan meladeni kecepatan Nintari. Sudah beberapa kali ia harus jatuh bangun oleh tendangan dan pukulan Nintari yang masih memakai tenaga kasar.


Tidak mau berlarut-larut dalam keterdesakan, Pina Pima memilih segera mengerahkan kesaktian tingkat tingginya yang bernama Penjara Kegelapan.


Plak!


Setelah melakukan sejumlah gerakan bertenaga dalam tinggi, Pina Pima bertepuk tangan sekali sambil matanya tajam menatap mata Nintari.


Seketika itu juga, tiba-tiba pandangan Nintari gelap semua. Ia cepat sadar dengan posisinya. Ia yakin matanya masih normal, hanya saja alam sekeliling dibuat gelap oleh Pina Pima. Karenanya, Nintari segera mengerahkan ilmu tenaga dalam tinggi untuk mengantisipasi serangan tidak terduga.


Bak bak!


Terbukti, dua pukulan telapak tangan bertenaga dalam tinggi menghantam dada Nintari, tanpa bisa ia lihat kedatangannya dan hanya bisa merasakan. Nintari terjajar empat langkah ke belakang. Tenaga dalam tinggi yang ia kerahkan untuk perisai membuat pukulan Pina Pima tidak membuat gadis bertubuh mungil itu terluka.


Setelah serangan itu, pandangan mata Nintari kembali normal. Ia bisa melihat keberadaan Pina Pima.


Begg! Wezz!


Plak!


Nintari langsung ambil kesempatan menjejakkan kaki kanannya ke batu mengirim aliran sinar hijau dari ilmu Jalar Kematian. Pada saat yang sama, pandangan Nintari kembali gelap setelah Pina Pima bertepuk tangan sekali. Nintari langsung melesat ke samping meski hanya melihat kegelapan semata.


Zerzrzz!


“Aakh!” pekik Pina Pima.


Setelah bertepuk tangan, Pina Pima melompat hendak menerjang Nintari dengan kekuatan penuh yang mematikan. Namun, sinar hijau yang menjalar di permukaan batu tiba-tiba naik menangkap lesatan tubuh besar Pina Pima di udara. Seketika tubuh itu terhenti sejenak di udara tersetrum oleh sinar hijau, membuat Pina Pima menjerit.


Blugk!


Kemudian, tubuh Pina Pima jatuh berdebam di lantai batu dalam kondisi yang sudah hangus berbau sangit.


Sementara Nintari sudah bisa melihat terang kembali. Ia melihat tubuh lawannya telah tergeletak sebagai mayat. (RH)

__ADS_1


__ADS_2