Pendekar Sanggana

Pendekar Sanggana
Dewo26: Bidadari Asap Racun


__ADS_3

*Desa Wongawet (Dewo)*


Mau tidak mau, Joko Tenang harus beristirahat menunggu pagi hari. Pertarungannya dengan Tetua Desa Bajik Lungo menguras stamina yang cukup banyak.


Kemuning, Riri Liwet dan Mawar Embun mendapat bantuan pengobatan dari Tirana dengan ilmu Kecupan Malaikat-nya. Sementara Kembang Buangi mendapat bantuan dari Joko Tenang. Dengan menggunakan ilmu Serap Luka, Joko Tenang mengeluarkan semua racun di dalam tubuh Kembang Buangi. Sama seperti ketika mengobati istrinya, Joko akan memejamkan mata dan merapalkan kalimat sugesti agar pikirannya tidak membayangkan sosok perempuan. Cara itu berhasil.


Ada yang berbeda, yaitu sinar biru yang biasa keluar dari telapak tangan Joko, berubah warna menjadi hijau. Semua sinar dan api yang bersumber dari tenaga sakti Joko Tenang kini berubah menjadi warna hijau.


Dikurashabisnya racun tidur di dalam tubuh Kembang Buangi, membuat gadis cantik itu siuman. Ia pun menceritakan apa yang telah terjadi di Kerajaan Tabir Angin. Ketiga pemimpin pasukan Kelompok Pedang Angin memiliki kesaktian yang tinggi. Kembang Buangi dan yang lainnya tidak bisa mengalahkan ketiga orang itu. Bahkan Panglima Besar Jagaraya dibuat tewas.


Kembang Buangi bersama Ratu Getara Cinta, Ginari dan Hujabayat tidak bisa mengalahkan ketiga pemimpin itu. Ratu Getara Cinta sendiri memang tidak bisa melawan dan semua orang yang melindunginya harus mati. Kembang Buangi, Ginari dan Hujabayat ditawan paksa karena Ratu dijadikan sandera. Kemudian, ketiga gadis itu diberi racun tidur yang membuat ketiganya tertidur, sementara Hujabayat tidak.


Kembang Buangi sedikit pun tidak sadar atau mengetahui bahwa dirinya telah diserahkan sebagai persembahan di desa itu.


Kemenangan itu membuat warga Desa Wongawet berpesta ria hingga pagi hari. Warga awalnya sepakat menunjuk Sedap Malu sebagai pemimpin desa, tetapi ia menolak, karena harus merawat kakaknya. Akhirnya pilihan jatuh kepada Mak Gandur sebagai tokoh senior di desa itu.


“Mulai saat ini juga, aku menghapus larangan percampuran lelaki dan perempuan. Namun, aku melarang hubungan tubuh lelaki dan wanita di luar ikatan pernikahan!” teriak Mak Gandur kepada seluruh warga Desa Wongawet.


Warga desa itupun bersorak gembira. Mereka yang punya kekasih secara diam-diam segera melampiaskan kegembiraan dan kerinduannya dengan memeluk pasangannya. Namun, mereka tetap memegang komitmen, mereka tidak akan melampaui batas di malam itu. Sehingga, mereka ramai-ramai berencana akan langsung menikah besok pagi.


Wiro Keling atau Si Kucing Merah kembali memilih tinggal di desa itu. Besok pagi ia pun akan memutuskan menikahi Riri Liwet. Semalaman ia menemani kekasihnya, sehingga ia melewatkan kesempatan untuk menyaksikan kematian Ki Daraki dan Tetua Desa.


Warga desa sempat membujuk Joko Tenang dan Tirana tinggal di desa itu dan memimpin mereka, tetapi itu tidak mungkin karena Joko harus berburu waktu.


Keesokan paginya, Kemuning menunjukkan cara membuka Jalan Lubang Cahaya. Sebelumnya ia menyuruh warga untuk mengais di arang reruntuhan rumah Ki Daraki, mencari sebuah kunci besar yang terbuat dari baja.


Kunci itu berhasil ditemukan, bentuknya batangan baja setebal pergelangan tangan. Setengah bagiannya memilik corak bentuk tertentu seperti kunci-kunci besi pada umumnya.


Kini, Joko Tenang, Tirana dan Kembang Buangi duduk di atas punggung kuda yang berdiri menghadap ke dinding batu yang memiliki tanda bahwa ada pintu batu di sana. Di belakang mereka berdiri puluhan warga Desa Wongawet yang mengantar kepergian mereka.


Kemuning memasukkan kunci ke dalam sebuah lubang di dinding batu. Lubang itu sangat pas polanya dengan batang kunci tersebut. Batang kunci masuk hingga setengah batang.


Bak!


Selanjutnya, Kemuning menapak ujung batang kunci dengan telapak tangan kanannya yang bertenaga dalam, membuat batang kunci kembali masuk sejauh seperempat.


Gregrr!


Tiba-tiba sebidang bagian dari dinding batu bergerak masuk. Ternyata dinding itu masuk sejauh lima belas langkah, sehingga terbukalah satu jalan berbentuk lorong. Ketebalan dinding batu yang bergerak menunjukkan bahwa jika pintu itu dihancurkan dengan ilmu kesaktian, tetap akan sulit dijebol.


Joko Tenang mulai melangkahkan kudanya lebih dulu memasuki lorong besar itu. Tirana dan Kembang Buangi mengikuti.


Semua warga Desa Wongawet hanya bisa memandangi kepergian pahlawan mereka dengan senyuman.


Ternyata, yang namanya Jalan Lubang Cahaya adalah sebuah lorong besar dan panjang yang menembus kedalaman dinding batu itu. Lorong itu gelap tanpa penerangan. Cahaya hanya akan terlihat jika mereka telah tiba di ujung lorong.


Mulai hari itu pula, Kepala Desa Wongawet Mak Gandur mencabut aturan bermalam tiga hari bagi orang asing yang ingin melewati Jalan Lubang Cahaya. Kini, jika ada orang asing yang ingin lewat, mereka diwajibkan membayar pajak.


Setelah itu, mulailah warga Desa Wongawet menyibukkan diri untuk acara pernikahan massal.


Namun, tiba-tiba terdengar ada keributan terjadi di gerbang desa.


“Jajaja... jangan cegah aku!” teriak seseorang dengan cara bicara yang gagap.


“Apa yang kau inginkan, Gagap?” tanya pemuda penjaga gerbang. Kali ini ia ditemani oleh tiga pemuda lain, menunjukkan bahwa personel penjagaan di gerbang desa ditambah jumlahnya.


“Aku ingin bebebe... bertemu dengan bibibi... bidadariku!” kata lelaki gemuk yang tidak lain adalah Gulung Lidah.


“Di sini banyak bidadari. Siapa bidadari yang kau maksud?” tanya penjaga gerbang lagi.

__ADS_1


“Tititi... Tirana, gagaga... gadis yang bersama lelele... lelaki berbibir pepepe... perempuan itu!” tandas Gulung Lidah.


“Beraninya kau mengejek pahlawan desa ini!” sentak penjaga gerbang, marah.


“Papapa... pahlawan?” ulang Gulung Lidah dengan kening berkerut, membuat wajah bulatnya terlihat lebih lucu.


“Ya, Pendekar Joko dan istrinya Tirana sudah pergi belum lama ini,” kata penjaga gerbang.


“Bababa... bagaimana bisa?” tanya Gulung Lidah terkejut. “Sesese... seharunya mereka bebebe... bermalam selama tiga hahaha....”


“Hamil?” potong penjaga gerbang.


“Hahaha!” tawa keempat pemuda itu.


“Kakaka... kalian bebebe... berani meledekku?!” geram Gulung Lidah melotot.


Bduarr!


Tiba-tiba satu suara ledakan dahsyat mengejutkan seisi Desa Wongawet. Demikian pula keempat penjaga gerbang dan Gulung Lidah.


“Suaranya dari daerah terlarang!” seru Palang Segi yang sedang berdandan ria menjelang pernikahannya bersama rekan-rekan yang lain. Dia akan menikah dengan Asih Marang.


“Batu Siluman!” seru Tudurya, seperti orang yang tersadar.


Semakin terkejut para pemuda itu.


Di wilayah perempuan, para gadis sudah berkerumun di sepanjang pagar pembatas daerah terlarang. Telah hadir pula Mak Gandur, Sedap Malu dan Wiro Keling.


Tidak berapa lama, kelompok lelaki berlesatan seperti kerumunan belalang berlompatan, seolah berlomba untuk tiba di daerah terlarang.


Suara ledakan yang keras membuat Gulung Lidah sangat penasaran. Karenanya, ia melesat sangat cepat menerobos keempat penjaga yang saling pandang.


Semua mata penghuni Desa Wongawet tertuju pada satu titik, yaitu ke batu besar berbentuk kubah putih, yang selama ini mereka kenal dengan nama Batu Siluman. Ternyata batu itu telah hancur, menciptakan lubang besar.


Sesss!


Terdengar jelas suara desisan seiring keluarnya gumpalan asap merah tebal dari dalam lubang batu putih. Anehnya, asap yang banyak itu tidak terbang terus ke angkasa luas, tetapi dia bergulung-gulung di tempat, seolah ada kekuatan yang mengaturnya.


Semua mata menunggu, hal apa yang akan terjadi selanjutnya.


“Apakah ada siluman harimau yang akan keluar dari batu itu?” tanya Rawing berbisik kepada Tudurya.


“Lihat saja, tidak usah menebak,” kata Tudurya.


Memang, mereka yang menunggu akhirnya bisa melihat kejadian berikutnya.


Sesosok tubuh wanita tiba-tiba muncul naik perlahan keluar dari gulungan asap merah. Awalnya kepala yang muncul, lalu terus naik hingga menampakkan tubuh yang indah lagi langsing, dibalut pakaian serba merah dengan rok panjang. Sepasang tangannya ditutupi oleh sarung tangan berwarna merah pula. Namun, kaki wanita itu tidak terlihat karena tertutupi oleh gumpalan asap merah.


Warga Desa Wongawet terdiam terpaku menyaksikan fenomena itu. Mereka sedikit pun tidak pernah tahu selama ini bahwa Batu Siluman ternyata berisi seorang wanita berasap merah.


Selanjutnya, tubuh wanita berbaju merah itu bergerak melayang dengan kaki tetap diselubungi asap merah yang tebal dan tidak buyar oleh angin alam. Seolah asap itu yang membawa terbang wanita tersebut.


Sosok wanita berkendara asap itu terbang perlahan mendekat ke arah pagar yang dipenuhi warga. Saat pada jarak tertentu yang terhitung dekat, gerakan terbang wanita itu berhenti dan diam mengambang. Hanya asap merah yang terus bergolak tidak pernah diam menutupi bagian kaki si wanita.


Namun, keindahan bentuk tubuh yang sempurna dari wanita itu tidak seindah parasnya. Meski memiliki kulit wajah yang putih, tetapi wajah itu penuh lubang bopeng dan jerawat. Bahkan ada kulit seperti bekas luka bakar yang sudah lama. Dibandingkan dengan paras awet muda kaum wanita Desa Wongawet, jelas wajah wanita terbang itu jauh dari kata cantik.


“Bibibi... bidadari!” seru Gulung Lidah dari sisi belakang kerumunan.


Perkataan Gulung Lidah itu membuat sebagian besar warga menengok ke belakang. Mereka melihat Gulung Lidah tersenyum sumringah, seolah ia kenal dengan wanita terbang itu.

__ADS_1


Selanjutnya, Gulung Lidah berkelebat di udara, melampaui puluhan kepala warga Desa Wongawet. Gulung Lidah masuk melanggar daerah terlarang. Namun, tidak ada yang terjadi. Hal itu berbeda ketika dulu ada orang yang melanggar batas daerah larangan. Orang tersebut langsung mendapat serangan misterius yang membunuh dari Batu Siluman.


“Hohoho... hormat hamba, Bibibi... Bidadari Asap Racun!” ucap Gulung Lidah sambil turun menghormat dengan berlutut satu kaki.


“Siluman Gagap, kenapa kau ada di sini?” tanya wanita yang mengambang di udara itu, ia disebut bernama Bidadari Asap Racun. Nada suaranya agak serak tapi terdengar dingin.


“Aku kekeke... kebetulan sesese... sedang dadada... datang ke dedede... desa ini, Bidadari,” jawab Gulung Lidah, masih berlutut.


“Bangkitlah!” perintah Bidadari Asap Racun.


Gulung Lidah bergerak bangkit berdiri. Meski Gulung Lidah adalah penyusup, tetapi tidak ada yang berani bertindak, termasuk para penjaga gerbang yang telah tiba di tempat itu.


“Siapa kepala di desa ini sekarang?” tanya Bidadari Asap Racun.


“Aku!” seru Mak Gandur.


“Hmm, seorang wanita. Ke mana Ki Daraki?” tanya wanita misterius itu lagi.


“Sudah mati tadi malam,” jawab Mak Gandur.


“Siapa yang membunuhnya?” tanya Bidadari Asap Racun.


“Joko Tenang dan istrinya.”


“Jika Ki Daraki dibunuh, bagaimana dengan Tetua Desa?”


“Juga dibunuh oleh Joko,” jawab Mak Gandur lagi.


Mendengar jawaban itu, Bidadari Asap Racun terdiam sejenak, seolah sedang berpikir.


“Mana orang itu dan istrinya?” tanya Bidadari Asap Racun.


“Sudah pergi mengejar Kelompok Pedang Angin,” jawab Mak Gandur jujur.


“Bubarlah kalian semua, aku tidak akan mengganggu kehidupan di desa ini. Sebentar lagi aku akan pergi!” perintah Bidadari Asap Racun datar.


“Bubar!” seru Mak Gandur kepada warganya.


Meski mereka semua menyimpan banyak pertanyaan tentang sosok yang tadi disebut bernama Bidadari Asap Racun itu, semua warga tetap memilih membubarkan diri. Mereka sangat tidak ingin berurusan dengan penghuni daerah terlarang.


Tidak berapa lama, tinggallah Bidadari Asap Racun dan Gulung Lidah yang tadi disebut dengan nama Siluman Gagap.


“Kenapa kau bisa sampai di tempat ini, Siluman Gagap?” tanya Bidadari Asap Racun.


“Aku sesese... sempat melihat bububu... burung rajawali raksasa mememe... melintas di langit. Lalu aku bebebe... berusaha mengikutinya, tatata... tapi aku kehilangan, Bidadari,” jawab Gulung Lidah.


“Hewan Alam Kahyangan,” ucap Bidadari Asap Racun lirih kepada dirinya sendiri.


“Tatata... tapi aku sedang mengikuti pepepe... pendekar sakti, yang aku cucucu... curigai terkait dedede... dengan hewan itu, Bidadari,” ujar Gulung Lidah.


“Siapa?”


“Orang yang tatata... tadi disebut oleh kekeke... kepala desa perempuan itu.”


Bidadari Asap Racun yang bernama asli Putri Sri Rahayu itu termenung berpikir. (RH)


******


TERIMA KASIH kepada seluruh READERS yang sudah setia dan AUTHORS sahabat yang sudah mendukung karya OM RUDI.

__ADS_1


Season "Desa Wongawet (Dewo)" telah berakhir dan masuk ke dalam perjalanan season "PERTARUNGAN ATAS CINTA" yang akan disingkat "PAC".


__ADS_2