TERBUKANYA MATA BATIN

TERBUKANYA MATA BATIN
Bab 115


__ADS_3

\=\=\= Selamat Membaca \=\=\=


Keesokan paginya Nayla terbangun ia merasakan badannya sakit semua,Mamanya kini berada diruang ICU jadi ia tidak bisa bebas lagi melihat Mamanya,ia hanya bisa melihat dari kaca kecil yang terdapat dipintu itu pun jika hordengnya tidak ditutup.


"gimana kondisi mama pagi ini ya" batinnya tiba-tiba ingatannya kembali pada kejadian kemarin pagi saat Mamanya memaksanya untuk membiasakan sarapan pagi,tanpa terasa air matanya mengalir tanpa permisi.


Papa Nayla yang sebetulnya sudah terbangun sejak tadi memperhatikan Nayla,nampak wajah nya murung ia ingat percakapannya dengan a'Iwan tadi malam saat Nayla sudah terlelap "a'Iwan bilang jika saat ini roh Mama Nayla sedang tidak berada diraganya itu sebabnya ia masih belum sadar atau koma dan seandainya ia sadar dan sembuh keadaanya tidak bisa seperti semula ia harus terbaring di tempat tidur karena kemungkinan terkena stroke" air mata Papa Naylapun mengalir ia tahu putri sulungnya masih seperti anak kecil yang terkadang sangat manja pada Mamanya, ia tidak dapat membayangkan bagaimana jika istrinya itu memang harus pergi untuk selamanya.


"Pah...kok nangis sih,kalo Papa aja nangis gimana Nay" ucap Nayla yang semakin membuat Papanya sedih ia langsung berdiri dan memeluk erat putrinya itu,Nayla yang tak mengerti apa yang sedang dipikirkan oleh Papanya.


Setelah membersihkan diri Naylapun segera keruang ICU untuk melihat perkembangan Mamanya.


Nayla sedikit kecewa karena hanya bisa melihat Mamanya dari kaca kecil.


Ia sedikit senang karena Mamanya sudah siuman nampak dari kaca Mamanya sedang membenturkan tangannya dengan besi pinggir tempat tidur.


"Ma..."ucapnya Lirih tak terasa air matanya kembali mengalir hingga seorang suster yang berbaik hati menyuruhnya masuk.


Dengan perasaan senang Nayla pun masuk dan mengenakan baju khusus dan penutup rambut.


"Pagi suster"sapa Nayla pada dua orang suster yang berjaga


"pagi juga mbak"jawab suster yang bernama Nana ramah


"Assalammualaikum Mah" sapa Nayla pada Mamanya

__ADS_1


Nay nampak kaget melihat Wajah Mamanya yang sedikit miring kekiri.


Ingin rasanya ia menjerit tak terima melihat kondisi Mamanya namun ia berusaha mrnahan air matanya.


Ia tak ingin Mamanya tambah bersedih melihatnya.


"Mah...udah makan belom sini Nay suapin mau ya"ucap Nayla melihat masih ada semangkuk bubur diatas meja


"ud---dah ken---nyang Nay"ucap Mama sedikit kesusahan mengucapkannya


Nayla sudah tak mampu menahan tangisnya akhirnya ia pun membalikkan badannya dan sedikit menjauh,ia tak ingin Mamanya melihat ia menangis.


Seorang suster mendekati Nayla dan berusaha menenagkannya


"yang sabar mbak"ucap suster itu sambil mengelus punggung Nayla.


"saya boleh ikut sus"tanya Nayla polos kedua suster itu pun tersenyum sambil menganggukan kepalanya.


"terima kasih sus"


Nayla kembali menemui Mamanya ia sudah dapat menguasai hatinya.


Nampak ia sedikit bercerita pada Mamanya namun sang Mama hanya mendengarkan terkadang tersenyum.


Mungkin karena kasian suster itu membiarkan Nayla hingga hampir 30 menit menemani Mamanya.

__ADS_1


Karena Mamanya harus banyak istirahat akhirnya Naylapun keluar.


Nayla tidak kembali keruangannya namun ia penasaran dengan ruangan yang ada dibelakang ruangannya karena tidak ada pintu didekat situ akhirnya Nayla harus memutar dan alanglah terkejutnya saat ia tahu ruangan itu adalah ruang mayat.


Ia pun segera membalikkan badannya hendak keluar dari lorong itu namun matanya tertuju pada sosok pria yang nampak murung sedang bersandar pada dinding.


Ingin rasanya Nayla menegurnya namun ia ingat kata-kata aa "jangan kepo" ia pun mengurungkan niatnya dan segera berlari menjauh.


Begitu mamasuki lorong ruang perawatan ia menghentikan larinya dan berjalan dengan tenang.


Namun baru beberapa langkah ia berhenti saat berpapasan dengan belankar yang melintas disamping,Nayla langsung membalikkan badannya tak mau melihat.


Namun seperti ada yang menariknya ia pun kembali membalikkan badannya dan pada saat itu juga angin menerbangkan kain putih penutup yang menutupi tubuh yang terbujur kaku dengan luka dikepalanya.


Nayla seperti mengingat sesuatu "kenapa wajah mayat itu mirip dengan pria yang dilihatnya tadi ya" Nayla bergidik sendiri ia kembali melangkahkan kakinya dengan cepat agar segera sampai keruangannya.


Sesampainya diruang rawat Mamanya Nayla langsung mengambil sebotol minuman dingin dari kulkas mini yang memang tersedia disitu.


"kamu kenapa Nay?"tanya Papa Nayla bingung melihat anaknya yang langsung meneguk habis sebotol air mineral


"gak Pah Nay haus aja"jawab Nayla berbohong


Papa Nayla pun melanjutkan kembali membaca koran yang sedari tadi ia pegang.


Haii para reader terima kasih masih setia di karyaku dan terima kasih juga masih mau memberikan author dukungan dan semangat.

__ADS_1


Salam Manis


Amellajj/Author


__ADS_2