TERBUKANYA MATA BATIN

TERBUKANYA MATA BATIN
BAB 348


__ADS_3

Beberapa tahun berlalu sejak kepergian Ryan, Nayla masih merasa sangat kehilangan,ia menyibukkan diri dengan toko kuenya yang semakin berkembang pesat.


Dengan dukungan dari orang -orang terdekatnya Adit terus berusaha mendekati Nayla, namun memang rasa cinta Nayla yang begitu besar pada Ryan hingga ia pun menutup diri dari semua pria yang mendekati nya termasuk Adit.


Sore itu entah untuk keberapa kalinya Adit datang menemui Nayla dan mengajaknya makan malam diluar dan entah untuk kesekian kalinya juga Nayla menolak dengan alasan lelah.


"Ayo lah Nay, aku janji setelah makan kita langsung pulang dan itu gak lama" paksa Adit.


" Gak ah Dit,kasian anak-anak kalo ditinggal" tolak Nayla beralasan.


"Kan ada Lilis yang jagain Nay,ada hal penting yang mau aku omongin" Aditpuj tak mau kalah ia terus mencoba untuk berbicara dengan Nayla.


*Disini aja kalo mau ngomong Dit,lagi jugaaku males ganti baju,terus dandan nya, mending aku tidur aja"


" Ya ampun Nay susah banget sih mau jalan sama kamu" desis Adit putus asa.


Berkali-kali Adit mencoba, berkali-kali juga Nayla menolak dengan berbagai alasan.


Tak mau berputus asa Aditpun meminta bantuan dari orang-orang terdekat Nayla dan kebetulan aa Iwan bersedia membantu dengan berbagai pertimbangan.


Nayla yang merasa kesal karena Adit terus mendekati nya akhirnya mampir ke salon Damra untuk sekedar bercerita sekalian memanjangkan diri.


"Assalamualaikum" ucap Nayla saat membuka pintu salon yang sekarang bertambah ramai.


"Waalaikum salam warahmatullahi wabarokatuh,hai Nay, duduk dulu ya tanggung nih" jawab Damra yang sedang sibuk mewarnai rambut pelanggan nya.


"Sain aja Ra,aku juga lagi gak buru-buru kok"Nayla meraih majalah yang ada diatas meja lalu membuka tanpa niat membaca.


Setelah menyelesaikan pekerjaannya Damra langsung duduk disebelah Nayla.


"Rame ya sekarang salon nya Ra"


"Alhamdulillah Nay,toko kue loe juga sekarang rame banget"


"Kemarin gw kesana beli cemilan antri banget" lanjut Damra.


"Alhamdulillah rezeki nya anak-anak Ra" jawab Nayla


Mereka pun bercakap-cakap saling bertukar cerita.


"Nay..loe gak mau nikah lagi?"


"Kasian anak-anak loe butuh sosok seorang ayah" ujar Damra


"Belum sempat mikir kesana Ra,aku belum bisa ngilangin bayangan mas Ryan dari hati" wajah Nayla mendadak muram.


Tiba-tiba saja bayangan wajah Ryan melintas dalam ingatan nya.


"Sedalam itu rasa kehilangan loe ya Nay sampe susah buat move on"


"Gw bukannya maksa loe buat nikah lagi,gw cuma gak tega aja liat Radit sama Rania gak punya ayah" ucap Damra sambil menatap sahabatnya itu.


"Aku dah coba Ra buat nerima Adit lagi tapi hati ini belum mau nerima"


"Sebenernya saat Adit ngajak jalan aku tuh mau, tapi hati aku nolak Ra" tiba-tiba saja dari sudut mata Nayla nampak kristal bening bersiap untuk meluncur bebas.

__ADS_1


Damra yang menyadari langsung meminta maaf kepada sahabat nya.


Nayla yang niat awalnya ingin memanjakan diri disalon Damra akhirnya mengurungkan niatnya.


Ia segera pamit pulang pada Damra.


Entah mengapa saat dalam perjalanan pulang seperti ada yang mengarahkannya menuju pemakaman umum tempat dimana jasad Ryan dikebumikan.


Saat berada di gerbang pemakaman Nayla baru menyadari jika dirinya kini berada di pemakaman bukan dirumahnya.


"Loh kok malah kesini sih" ucap Nayla pelan sambil memasuki area makam.


"Mas kamu ya yang nuntun aku buat kesini" ucap Nayla bermonolog sendiri.


Tak lama kemudian Naylapun sampai dimakam Ryan.


"Assalamualaikum mas"


Naylapun langsung membacakan doa buat Ryan.


Air matanya mengalir begitu saja saat potongan kenangan kebersamaan Ryan melintas tanpa permisi salam ingatan nya.


"Maaf kalau aku belum ikhlas mas"


"Aku gak bisa gantiin posisi kamu dengan yang lain" ucap Nayla sambil mengelus batu nisan yang bertuliskan nama Ryan.


"Mungkin aku memang egois tidak memikirkan anak-anak tapi aku yakin mas aku bisa membesarkan mereka dengan baik walaupun tanpa kehadiran seorang sosok ayah buat mereka" lanjut Nayla dengan air mata yang semakin deras mengalir dari kedua matanya.


Tanpa Nayla sadari Mang Ujang yang melihat kedatangan Nayla nampak sedang mengawasi nya.


Saat melihat Nayla menangis Mang Ujangpun langsung menghampiri.


Nayla tersentak kaget saat sebuah tangan menepuk bahunya.


"Astaghfirullah mamang ngagetin aja" Nayla langsung menghapus sisa air mata yang masih tersisa di pipinya.


"kenapa nangis?" tanya Mang Ujang berpura-pura tidak tahu.


"Siapa yang nangis Mang" sangkal Nayla


"Gak usah bohong sama mamang,itu air apa di pipi" ujar Mang Ujang.


"Oh...ini tetesan air dari pohon itu mang" sangkal Nayla lagi


Mang Ujang hanya tertawa mendengar ucapan Nayla.


Setelah bercerita pada Mang Ujang,hati Nayla sedikit lebih tenang dan ia pun segera pulang.


Setelah membersihkan diri ia pun bermain bersama kedua anaknya.


Karena kelelahan bermain Rania dan Radit langsung terlelap tak berapa lama setelah naik keatas tempat tidur.


Hari semakin larut,Nayla masih duduk di balkon kamarnya sambil menatap keluar.


Ia kembali memikirkan apa saja yang mang Ujang bicarakan.

__ADS_1


Saat ia sedang termenung sekelebat ia melihat bayangan putih berlalu keluar dari kamarnya tanpa membuka pintu.


"Mas itu kamu" teriak Nayla sambil mengejar bayangan yang baru saja ia lihat.


"Mas...."


"Mas Ryan..." panggil Nayla lagi sambil melihat sekitarnya.


Matanya terus mencari sosok yang ia yakin Ryan setelah mencari beberapa saat ia tak menemukan bayangan itu.


Dengan lemas Nayla duduk di bangku ruang tamu sendirian.


"Mas...aku kangen"


"Sekarang aku gak bisa liat kamu,tapi aku yakin kamu tau apa yang aku rasakan saat ini"


Memang betul kata orang,rasa rindu yang paling menyakitkan adalah merindukan orang yang sudah tiada karena tidak dapat lagi melihat sosoknya hanya dapat mengirim doa sebagai pengobat rindu.


Karena sedih yang begitu dalam Naylapun tertidur disofa ruang tamu.


"*Nay..maafin mas karena tidak bisa menemani kamu membesarkan anak kita"


"Mas gak keberatan jika kamu mencari pengganti mas karena anak-anak kita butuh sosok ayah"


"Mas ingin kamu juga bahagia Nay*"


Nayla yang setengah sadar mendengar ada suara yang begitu mirip dengan suara Ryan langsung berusaha membuka matanya namun terasa begitu sulit.


"Mas....."


"Mas Ryan jangan pergi aku masih kangen mas huk....hukk" suara tangis Nayla pecah.


"Mas tunggu" teriak Nayla dengan mata masih terpejam dan dengan tangan yang seakan ingin menggapai sesuatu.


Lilis yang kebetulan terbangun langsung mencari keberadaan Nayla.


"Astaghfirullah teh Nay..." Lilis berusaha membangunkan Nayla yang terus saja memangil nama Ryan.


Saat Nayla terbangun ia langsung memeluk Lilis dan menangis.


"Aku belum bisa ikhlas Lis"


"Tadi aku liat mas Ryan..."


"Aku kangen dia Lis"


huk....hukkk


"Masss kenapa kamu pergi ninggalin aku"


Lilis tak bisa berkata -kata bahkan ia pun ikut menangis seakan ikut merasakan kepedihan yang kini Nayla rasa.


HALLO SEMUA MAAF BARU UP LAGI.


SEMOGA GAK PADA LUPA SAMA ALUR CERITA NYA.

__ADS_1


SALAM MANISS


AMELLAJJ/AUTHOR


__ADS_2