
Selamat Membaca
Akhirnya hari yang ditunggu pun tiba, Berhubung Nayla sudah tidak ada orang tua lagi maka nikah kantor pun diwakilkan oleh Empok dan Aa.
Begitu tiba di Aula tempat acara sidang BKPM (Badan Pembantu Penasehat Perkawinan) akan dimulai, tubuh Nayla bergetar, jantungnya berdetak dua kali lebih cepat dari biasanya.
Entah apa yang akan ditanyakan nanti,ia takut tidak bisa menjawab.
"Yan aku takut" ucap Nayla pelan.
Ryan yang melihat wajah Nayla sedikit pucat berusaha menenangkan Nayla.
"Nanti jawab sebisa kamu aja Nay,yang penting tegas" Ryan merapihkan rambut Nayla yang berterbangan tertiup angin.
Aa pun tak tinggal diam ia memberikan satu gelas air kemasan kepada Nayla dan menyuruhnya untuk segera diminum namun sebelumnya harus membaca BISMILLAH HIROHMANI ROHIM.
Naylapun langsung meneguk habis minum yang Aa berikan.
Mereka berempat pun segera masuk kedalam Aula lalu duduk dibangku yang sudah disediakan.
Nayla dan Ryan duduk didepan, sedangkan Mpok dan Aa dibelakang mereka.
Tak lama kemudian dua orang perwira dan satu orang wanita masuk.
Detak jantung Nayla semakin tak karuan, ia mencoba menenangkan dirinya sendiri dengan memejamkan mata lalu menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan.
"BISMILLAH HIROHMANI ROHIM" batin Nayla.
Setelah begitu banyak nasehat yang yang diutarakan akhirnya beberapa pertanyaan pun dilontarkan oleh atasan Ryan
" Mbak Nayla, menjadi istri seorang polisi itu tidak mudah, karena anda harus rela berbagi suami dengan negara,apakah anda sudah siap untuk berbagi" tanya salah seorang perwira polisi.
"Siap" jawab Nayla tegas.
"Apakah anda juga sudah siap jika suatu hari nanti suami anda tidak pulang kerumah satu atau dua hari bahkan berbulan-bulan" tanya nya lagi.
"Siap" jawab Nayla tegas.
Akhirnya acara itu pun selesai juga setelah hampir dua jam lama
Ketiga orang itu pun memberi ucapan selamat sebelum akhirnya meninggalkan ruangan.
Begitu ketiga orang pejabat itu keluar Naylapun langsung lemas karena ia begitu tegang dan takut.
"Sayang sekarang kita udah resmi menurut kantor aku,apa aku udah boleh mecium kening kamu" ujar Ryan malu-malu.
"Gak lah, kan kita belom resmi secara agama" tolak Nayla.
"Ya ellah cuma jidat mah kasih aja Napa Nay,pan Minggu depan juga dah resmi"ucap Empok blak-blakan dan berhasil membuat siapapun yang mendengarnya tertawa.
Dengan malu-malu Ryan untuk pertama kalinya mencium kening Nayla.
__ADS_1
swittt... swittt
Prokkk...prokkk
suara siulan dan tepuk tangan riuh terdengar.
Entah sejak kapan beberapa anak buah Ryan sudah berkerumun didepan pintu masuk lalu satu persatu mereka memberikan ucapan selamat kepada Ryan dan Nayla.
Tanpa segaja Nayla melihat sosok wanita berbaju putih berdiri tak jauh dari dirinya.
Sejenak Nayla tertegun sepertinya ia pernah melihat wanita itu namun dimana ia lupa.
"Sayang ada apa?" tegur Ryan yang ternyata memperhatikan arah pandang Nayla.
"Jangan dilitin Nay" ucap Aa
Tiba-tiba Nayla ingat sosok itu adalah Ina.
Ya Ina mantannya Adit.
"Tapi Aa, itu kan...."
"Udah jangan dipertegas Nay" ucap Aa lagi.
Naylapun mengikuti ucapan Aa,ia mencoba tak mau ambil pusing dengan sosok itu lagi.
Mereka pun segera keluar Aula dan menuju parkiran.
"Aisss Nay sekarang tuh Ryan udah 50 persen suami kamu, masa iya manggilnya Yan aja yang bener atuh" Aa pun memperingatkan Nayla.
"Manggilnya apa atuh Aa" ucap Nayla malu.
"Ryan kan orang Jawa ya manggilnya Mas Ryan dong" timpal Empok.
"Iya aku manggilnya Mas Ryan" jawab Nayla malu.
Tanpa aba-aba mereka pun tertawa bersamaan.
Rencananya hari ini mereka akan makan diluar.
Setelah mengantar Nayla pulang Ryan diam-diam janjian bertemu dengan Adit.
Mereka pun bertemu dikafe yang sudah disepakati.
"Hallo maaf nunggu lama" sapa Ryan pada Adit yang ternyata sudah menunggunya.
"Gak apa-apa, duduk Yan" ucap Adit berusaha Ramah.
"Ada apa mau ketemu ama gw" tanya Ryan.
"Selamat ya Yan, akhirnya loe bisa nikah sama Nay" Adit mengulurkan tangannya memberikan ucapan selamat pada Ryan walaupun dalam hatinya terasa begitu sakit.
__ADS_1
Ya beberapa hari ini Adit mencoba ikhlas menerima kenyataan jika Nayla akan segera menjadi milik orang lain.
Buatnya saat ini mencintai bukan berarti harus memiliki tetapi bisa melihat orang yang dicintai bahagia itu sudah cukup buat Adit.
Sekarang keinginannya hanya satu yaitu ia masih di ijinkan untuk bertemu dengan Radit putranya.
Ia pun mengutarakan keinginannya pada Ryan dan Alhamdulillah Ryanpun setuju untuk tetap mengijinkan Adit bertemu dengan putranya nanti.
Mereka nampak begitu dekat hingga tak terasa sorepun tiba.
Berhubung Ryan sudah berjanji akan merayakannya diluar, Ryanpun berniat mengundang Adit, namun sebelumnya ia pun menghubungi Nayla untuk meminta persetujuan.
Mereka pun berkumpul disebuah rumah makan dipinggiran kota B.
Atas permintaan Nayla yang ingin agar Adit membawa serta Dina akhirnya mereka pun kembali bertemu.
"Selamat ya Nay,semoga kamu selalu bahagia" ucap Dina dengan wajah sedihnya.
"Terima kasih Dina,kamu kenapa?" Nayla yang melihat wajah Dina murung langsung bertanya.
"Aku iri liat kamu Nay,kamu bisa jadi wanita yang sempurna, sedangkan aku..." Dina menundukkan kepalanya.
"Kamu bisa cerita ke aku Din" Nayla memeluk Dina.
"Hai kenapa jadi mellow sih,hari ini kan hari bahagia,ayo kita senang-senang"Damra yang datang langsung memberikan Radit pada Dina agar menggendongnya.
Awalnya Dina terkejut namun ia langsung tersenyum bahagia saat melihat wajah lucu Radit.
Merekapun berkumpul dalam satu saung bersenda gurau hingga tanpa terasa hari pun sudah larut malam.
Hari itu Adit sedikit bahagia karena bisa bersama dengan Radit bercengkrama, namun ia juga merasa sakit saat melihat keromantisan Ryan dan Nayla.
Hari ini juga ia berusaha berdamai dengan hatinya, ia bersikap lembut pada Dina, ia tak ingin Nayla dan Ryan tahu jika rumah tangganya tidak bahagia.
Hallo Author up lagi ini.
Maaf ya bab ini lebih sedikit.
Jangan lupa tetap kasih dukungan buat Author ya.
Caranya :
-Like
-Rate
-Komen juga ya author tunggu.
Salam Maniss
Amellajj/Author
__ADS_1