TERBUKANYA MATA BATIN

TERBUKANYA MATA BATIN
Bab 169


__ADS_3

☆☆☆ Selamat Membaca ☆☆☆


Nayla nampak kesal,ia makin tidak suka dengan Fikar.


Begitu mobil berhenti niat Nayla ingin langsung keluar namun sialnya pintu mobil masih dalam keadaan lock.


"Buka dong Kar?"bentak Nayla


Bukannya membuka tapi Fikar malah berlama-lama.


"Kar buka dong gw udah kebelet mau pipis"ucap Nayla lagi.


Bukannya membuka pintu Fikar malah menarik Nayla dan sesaat kemudian Fikar berhasil kembali mencium kening Nayla.


Dada Nayla nampak naik turun dengan cepat menahan amarahnya.


"Fikar gak sopan amat sih loe"


"Balikin hp gw" Nayla menadahkan tangannya


Nampak senyumnya mengembang "ya udah aku buka pintunya,abis ini kamu istirahat ya sayang" ucap Fikar sambil mengeluarkan ponsel Nayla yang ia ambil tadi dari dalam saku celananya.


Clekkk


Tanpa menunggu lagi Nayla langsung keluar dari mobil Fikar namun sesaat kemudian ia menunduk,mengambil satu buah batu kecil dan dengan sengaja ia menggores mobil Fikar.


"Syukurin loe" Naylapun segera berlari masuk kedalam rumahnya dengan jantung yang berdegup kencang takut Fikar marah.


Sementara itu Fikar yang melihat Nayla menggores mobilnya hanya tersenyum dan tak lama kemudian ia pun meninggalkan rumah Nayla.


"uhhh untung udah pergi"Nayla menarik nafas lega.


Namun saat ia membalikan badannya ia dikejutkan dengan Papanya yang sudah berdiri disampingnya.


"Pak bikin jantung Nay mau copot aja sih"


"Pak cariin Nay tiket besok,Nay gak mau lama-lama lagi disini"pinta Nayla


"Udah yakin mau balik ke Jakarta Nak" tanya Papa Nay sedikit sedih.


Naylapun mengangguk,kemudian ia duduk dbangku diikuti dengan Papanya.


Naylapun menceritakan kejadian yang ia alami tadi.


"Ya udah besok Papa sama Jafar beliin kamu tiket bus ya"ucap Papa lalu meninggalkan Nayla ssndiri.


Setelah mengganti bajunya dengan baju tidur Naylapun merebahkan tubuhnya di atas kasur.


Ia ingat tadi ada pesan masuk dari Aa.


"ah..ini dia"Nayla nampak senang


"Nyi Iteung ngapain kabur meni jauh-jauh amat"


"Cepet pulang kesini, disana gak baik"


Nayla tersenyum "apa aa tau ya disini ada tuh monster " Nayla bermonolog sendiri


Keesokan harinya dengan diantar Jafar Papa Nayla pergi ke kota membeli tiket bus untuk Nayla kembali ke Jakarta tak lupa ia membeli beberapa cemilan kesukaan Nayla untuk bekal dijalannya besok.


"Nay aku sedih kau balik ke Jakarta,tapi kalau kau disini pun aku tak tenang"Jafar nampak murung saat membantu Nayla merapihkan pakaian yang akan ia bawa besok.


"Terima kasih ya kamu udah jadi teman baik aku selama disini"Nayla tersenyum manis sambil menepuk bahu Jafar.


"Ih...nangis,cengeng loe Far"Ucap Nayla saat melihat ada butiran bening disamping mata Jafar.


Nayla bukan tidak tau jika selama ini pria lugu didepannya ini suka padanya.


Namun Nayla tak ingin menyakiti Jafar maka ia pun lebih baik bersikap pura-pura tidak tau.


Jafar pamit pulang pada Nayla.

__ADS_1


Setelah Jafar pulang Naylapun duduk di pancuran belakang rumahnya sambil memainkan air.


"Aku akan rindu suasana disini"Mata Nayla menjelajah melihat setiap sudut rumah Papanya yang akan segera ia tinggalkan.


Saat Nayla sedang asik melihat sekeliling rumahnya ia merasa ada yang sedang memperhatikannya.


"Siapa sih tuh orang,makin bikin gw takut aja disini"Nayla bermonolog sendiri sambil melempar batu-batu kecil kearah kolam ikan yang ada dibelakang pancuran.


Karena merasa tak nyaman Naylapun masuk kedalam rumahnya.


Ia mendengarkan musik lewat ponselnya.


Entah kapan ia akan kembali kesini lagi.


Saat ia sedang asik termenung tiba-tiba terdengar suara ribut-ribut dari luar


Nayla pun segera melihat ada apa didepan rumahnya.


Nayla langsung tertawa kencang saat melihat Jafar yang berlari kencang memasuki rumahnya karena dikejar oleh ayam Kalkum milik Papanya.


"Minta minum Nay,kering tenggorokanku gara-gara ayam ayah kau"


Tanpa menjawab Naylapun berjalan kedapur dan kembali membawa segelas air putih untuk Jafar.


Mereka ngobrol diteras rumah Nayla sambil menikmati sejuknya angin sore.


Jafar memyerahkan sebuah rantang untuk Nayla.


Tanpa menunggu Naylapun langsung membukanya dan tersenyum melihat ada banyak manggis muda yang sudah dikupas.


"Kapan kamu ambil manggisnya Far?"tanya Nayla sambil memasukan satu potong manggis kedalam mulutnya.


"Tadi pas aku pulang langsung kekebun"jawab Jafar


"Makasih ya"ucap Nayla sambil tersenyum.


Sepasang mata yang selalu mengawasi gerak-gerik Nayla nampak gusar melihat Jafar yang begitu dekat dengan gadis pujaan hatinya itu.


"Jadi rumah depan ini milik saudaranya Fikar ya"


"Iya ..tapi sudah dibeli sama Fikar katanya sih"jawab Jafar sambil meneguk kopi yang Nayla buatkan.


"Kayanya aku ngerasa ada yang terus liatin kita dah Far" Nayla memang sering merasa diperhatikan tapi oleh siapa dia tidak tau.


"Nay..belum lama ini Fikar ngancam aku buat gak terlalu dekat dengan kamu"akhirnya Jafarpun menceritakan jika Fikar pernah mengancamnya.


Nayla merasa begitu bersalah pada Jafar.


Tanpa terasa mereka ngobrol hingga Magribpun tiba.


Jafar pamit pulang untuk melaksanakan sholat magrib.


Malam itu Nayla tidur dengan gelisah,entahlah ia merasa perasaannya tak karuan.


Keesokan harinya


Nayla sudah rapi,hanya tinggal menghitung jam saja ia berada dirumah Papanya.


"Papa Nay pulang dulu ya"Nayla pamit pada Papanya lalu mencium pipi Papanya lama.


Tanpa terasa ia menangis karena harus kembali hidup sendiri.


Papa Naylapun ikut menangis tak rela rasanya ia melepas Nayla sendiri namun jika ia terus memaksa Nayla untuk tetap bersamanya tinggal di kampung ia khawatir dengan keselamatan Nayla.


Sebuha bentor(becak motor)sudah menunggu didepan rumah Nayla.


Nayla sedikit bersyukur karena Fikar sedang tidak ada di kampungnya karena ia harus ke tambang.


Setelah memasukan tas kecil yang aka dibawanya Naylapun berpamitan pada Papa dan juga Ibu tirinya.


Jafar dan Mega pun ada disana.

__ADS_1


Untuk pertama kalinya Nayla memeluk Jafar dan mengucapkan terima kasih karena telah menjaganya selama ia berada di desa itu.


Bentorpun mulai melaju di jalan yang belum halus itu hingga menimbulkan sedikit guncangan.


Karena perjalan lumayan lama akhirnya Naylapun memejamkan matanya.


Baru saja ia meninggalkan kampung Papanya tiba-tiba bentor yang ia naiki berhenti mendadak hingga kepala Nayla sedikit terbentur besi didepannya.


"Aduhhh"


"Ada apa Bang kok berhenti mendadak sih"tanya Nayla pada supir bentor sambil memegangi dahinya yang tadi terbentur.


"Itu ada mobil berhenti mendadak didepan kita"jawab si supir bentor


Naylapun mengeluarkan kepalanya untuk melihat.


Tak lama kemudian turunlah dua orang menghampiri bentor yang Nayla naiki.


"Siapa mereka Bang?"tanya Nayla mulai takut


"Tak tau kak"


Tiba-tiba Nayla merasa takut saat dua orang dengan wajah yang sedikit sangar menghampirinya dan memintanya turun.


"Ehh apa-apa'an ini,kalian mau apa?"tanya Nayla sambil berpegangan besi saat kedua orang itu menariknya paksa untuk keluar.


"ayolah ka cepat turun jangan buat kami memaksa dengan cara kasar"ucap salah satu pria itu,sedangkan pria yang satunya mengambil tas Nayla dan memasukannya kedalam mobil mereka.


"Toolllloooongggg"


"Tooolllooooongggg"


Teriak Nayla sekencang mungkin


Kedua pria itu tertawa mendengar teriakan Nayla


"Tak akan ada yang dengar ka biarpun kau teriak sekencang mungkin,ini tuh jauh dari kampung"ucap pria yang menarik tangan Nayla.


Supir bentor ingin menolong Nayla namun pria yang satunya lagi menodongkan sebuah pisau tepat dilehernya hingga ia pun tak bisa berbuat apa-apa.


Karena kalah tenaga pegangan Naylapun terlepas dan pria itu berhasil membopong Nayla menuju mobil yang berhenti pas ditengah-tengah jalan.


Pria itu medorong paksa Nayla masuk kedalam mobil.


Alangkah terkejutnya Nayla begitu melihat sosok pria yang ada didalam mobil.


"Loe...."


Pria itu menyeringai melihat Nayla yang ketakutan dan berusaha membuka pintu mobil.


Namun usaha Nayla sia-sia pria itu menariknya hingga mobilpun kembali melaju meninggalkan kampung Papa Nayla dan melaju entah kemana.


Sepanjang perjalanan Nayla meronta,memukul bahkan menggigit tangan pria disampingnya yang tak lain adalah Fikar.


Karena kesal Nayla terus meronta dan memukuli akhirnya Fikar terpaksa membius Nayla hingga gadis itu tak sadarkan diri.


Haii semua maaf ya part ini agak pendek karena aku masih kurang fit.


Maaf juga kalu masih ada typo


Tapi biar begitu tetap kasih dukungan ya buat author dengan cara :


- Like


- Rate


- Vote dan juga


-Kritsarnya


Salam Maniss

__ADS_1


Amellajj/author


__ADS_2