
🌻🌻🌻 Selamat Membaca 🌻🌻🌻
Hampir tiap hari Nayla belajar berdiri,tekadnya sudah bulat ia ingin segera sembuh agar tidak kembali menyusahkan Adit.
Dengan rutin setiap hari Damra mendampingi Nayla berlatih berdiri dan berjalan hingga akhirnya Naylapun bisa kembali berjalan walaupun hanya selangkah demi selangkah.
"Pok besok Adit pulang ya,kita masakin apa ya" tanya Nayla pada Empok disela-sela kesibukannya membuka-buka buku resep masakan.
"Kesukaan Adit aja Nay, dia kan suka ikan di Pesmol sama perkedel" jawab Empok sambil menyetrika pakaian.
"ya udah besok pagi Empok belanja ya"
"Siap neng boss" jawab Empok sambil bercanda.
"Pok jangan gitu manggilnya, panggil Nay aja kaya biasa" ucap Nayla sambil cemberut tak suka dengan sebutan yang baru saja empok lontarkan.
Hari pun berganti siang Damra dan Ryan kembali berkunjung kerumah Nayla sambil membawa makanan kesukaan Nayla.
"Wihh tau aja aku lagi mau baso beranak" ujar Nayla saat melihat bungkusan yang dibawa Damra.
"Enak aja ini buat gw,loe sosis bakar aja tuh" Damra menyembunyikan bungkusan baso yang ia bawa dibalik badannya.
" Ihh pelit amat sih Ra, icip dikit dong"Nayla berusaha mengambil bungkusan yang disembunyikan Damra.
"Gak usah rebutan Nay itu tadi aku beli 3 bungkus kok buat Empok juga" ucap Ryan menengahi.
Empok pun langsung ke dapur untuk mengambil mangkok dan juga membuatkan kopi untuk Ryan.
"Risol yang kemarin gimana enak gak" tanya Nayla dengan wajah berharap agar mereka memberi jawaban sesuai dengan yang ia inginkan.
"Enak kok Nay"
"Kamu jadi mau buka toko kue Nay?" tanya Ryan sambil menyeruput kopi yang masih panas.
"Jadi Yan, tapi aku mau sembuhin kaki aku dulu" wajah Nayla langsung berubah murung ia menatap kaki kanannya yang masih di beri baluran jahe oleh Empok.
"Jangan sedih gitu Nay, loe pasti bisa sembuh kok gw yakin" ucap Damra memberi semangat pada Nayla sambil menuang baso kedalam mangkok.
"Iya bener kata Damra " timpal Ryan.
"Makasih ya kalian udah selalu nemenin aku" Nayla menundukan kepalanya kebawah wajahnya terlihat sedih.
Tanpa terasa sudut matanya berair, ia merasa terharu karena kedua sahabatnya begitu perhatian kepadanya.
Tanpa mereka sadari Ryan menatap sedih ke arah Nayla.
Ingin rasanya ia memeluk Nayla namun ia sadar hal itu tak mungkin ia lakukan karena status Nayla yang sudah menjadi istri orang.
"Udah sih kenapa pada nangis,tuh baso keburu dingin dah" ucap Empok yang langsung menyadarkan ketiganya.
"Ahh aku mau sambel yang banyak Ra" Nayla langsung membuka plastik yang tadi dipakai untuk tempat baso 4Ã mencari sambal.
Setelah mengaduk-aduk isinya ia tak menemukan apa yang ia cari.
__ADS_1
"Ryan kok gak ada lagi sih sambel nya" tanya Nayla.
"Sengaja aku minta cuma dua Nay,kasian tukang basonya kalo minta banyak tar dia rugi lagi" jawab Ryan bercanda.
"Ihh kamu mah Ryan,mana enak sambelnya cuma se emprit gini" Nayla memajukan bibirnya karena kesal.
"Itu bibir tolong ya dikondisikan Nay.." ucap Damra sambil tertawa.
"Pokk bikinin sambel ..." rengek Nayla pada Empok.
Baru saja Empok mau berdiri Ryan keburu mencegahnya.
"Jangan Pok, itu sengaja saya minta sedikit biar Nay gak terlalu banyak makan pedas" ucap Ryan.
"Iya deh aku makan segini aja sambelnya" jawab Nayla pasrah.
Akhirnya mereka pun makan dalam diam tak ada satupun yang berbicara.
"Gak enak"
"Gak pedess" ucap Nayla
"Gak enak tapi abis" ejek Damra sambil mengambil tissue lalu menghapus bibir Nayla yang sedikit kotor karena noda sambal.
"Aku bisa sendiri Ra, emang aku bocah apa" protes Nayla sambil memalingkan wajahnya.
"Bilang aja loe malu ama Ryan, atau loe maunya Ryan ya yang elap tuh bibir" ucap Damra.
"Issh ngaco banget sih Ra" jawab Nayla yang tiba-tiba wajahnya sedikit memerah karena malu.
Ryan hanya tersenyum mendengar ucapan Damra, beruntung ia berhasil menguasai dirinya saat Damra tadi menggodanya.
Tiba-tiba ia ingat dengan kejadian beberapa hari lalu saat di Danau Duta, saat ia menghapus noda kecap dibibir Nayla seketika itu juga jantung nya berdegup kencang tanpa ia sadari ia pun tersenyum tipis namun sialnya Damra melihat senyuman Ryan.
"Ehemmm ada yang lagi bayangin nihh" ucap Damra menggoda Ryan.
"Bayangin apa sih Ra" timpal Ryan
"Kalo gak ngerasa sih gak usah jawab dong" balas Damra sambil tersenyum menggoda Ryan.
"Rese banget sih Ra" ucap Ryan sambil melemparkan kulit kacang kearah Damra.
Menjelang sore Ryan pamit karena harus bekerja, sedangkan Damra rela menemani Nayla setiap hari agar Nayla tak merasa kesepian.
"Assalam mulaikum"
"Mikummm"
Ucap seseorang yang Nayla sudah tau betul itu suara siapa.
"Wa'alaikum salam masuk aja Sih" jawab Nayla setengah berteriak.
"Serasa loe tinggal dihutan ya teriak-teriak padahal rumah deket" tegur Damra.
__ADS_1
Susi masuk sambil tertawa mendengarkan ucapan Damra.
Tanpa diperintah Susipun langsung duduk dan dengan tanpa tahu malu lagi langsung membuka toples yang berisi keripik pisang kesukaan Nayla.
"Jangan itu kalo mau ngemil, tuh yang laen banyak itu cuma buat gw" ucap Nayla sambil mengambil toples yang Susi pegang.
"Ishh pelit nya meni merki loe ya" balas Susi tanpa perduli Nayla sedikit kesal.
"Tumben amat loe kesini, ada apa'an?" tanya Nayla to the poin
"Tar dulu sih gw lagi makan juga" jawab Susi
Damra hanya tertawa melihat perdebatan kedua sahabat kecil itu sambil memakan stik keju.
"Biarin aja Pok jangan dipisahin"ujar Damra
Tanpa aba-aba Susi dan Nayla melihat kearah Damra.
"Pisss ..." Damra mengakat tangannya sambil kedua jarinya membentuk huruf V.
"Damaiii buu..kan damai itu indah" celoteh Damra sambil memasang senyum yang di paksakan.
Merekapun bercanda ria bersama sambil membahas masa kecil Nayla dan Susi sementara Damra hanya mendengarkan sambil sesekali ikut menimpali percakapan mereka.
Hari sudah semakin larut Damrapun pamit pulang begitupun dengan Susi.
Seketika itu juga suasana rumah Nayla menjadi sunyi.
Setelah mengantar Nayla kedalam kamarnya Empok pun segera masuk kedalam kamarnya.
Semenjak Nayla terluka kamar Naylapun pindah sementara di kamar bekas Mamanya dulu.
Didalam kamar bekas Mama dan Papanya Nayla duduk disini tempat tidur tiba-tiba ia ingat masa lalu dimana ia sering kali ikut tidur ditengah-tengah antara Mama dan Papanya dikala ia ketakutan.
Tanpa terasa air matanya mengalir, ia pun meraih guling yang biasa Mamanya pakai.
Nayla mendekap guling itu erat "*Mama Nay kangenn"
"Papa Nay juga kangen Papa, kenapa kalian tega ninggalin Nay ssndirian*"
Nayla menghapus kasar air mata yang mengalir dari kedua matanya.
Ia pun merebahkan diri sambil mengelus-elus kasur yang pernah Mama dan Papanya pakai.
"Semoga Kalian tenang dialam sana Mam, Pa" ucap Nayla sambil menatap foto kecil diatas meja.
Lalu sesaat kemudian Naylapun tertidur.
Hallo sampai sini dulu ya up nya.
Maaf kalo masih banyak typo jangan lupa Like dan komennya.
Salam Maniss
__ADS_1
Amellajj/author