TERBUKANYA MATA BATIN

TERBUKANYA MATA BATIN
Bab 156


__ADS_3

\=\=\= Selamat Membaca \=\=\=


Setelah menempuh perjalanan 4 jam lebih akhirnya Naylapun sampai di kota yang terkenal dengan Dodolnya.


Nayla tidak langsung kerumah Bibinya melainkan mampir ke puskesmas tempat Bibi dan Mamangnya bekerja.


Ia tau jika jam segini mereka masih sibuk di puskesmas,Naylapun langsung menuju dapur tempat bibinya bekerja.


Yah... Bibi Nayla memang bekerja sebagai juru masak dipuskesmas itu sedangkan Mamangnya salah seorang perawat disana.


"Assalammualaikum Bibi"Nayla memberi salam,ia pun langsung memeluk Bibinya yang sedang menyiapkan makanan untuk pasien


"Wa'alikum salam,kamu sama siapa kesini Nay?"tanya Bibinya sambil melihat kearah belakang Nayla seperti mencari seseorang.


"Nay sendirian Bi?"jawab Nayla dengan tertunduk sedih.


Memang dulu waktu Tia belum menikah Nayla sering kesana berdua dengan adiknya,namun kini Tia sudah memiliki kesibukan sendiri dengan kekuarga kecilnya.


Kesepian? Mungkin itu yang Nayla rasakan saat ini dimana Sang Mama telah pergi menghadap Penciptanya,adiknya sudah hidup mandiri,apa lagi sekarang Papanya telah menikah lagi,tanpa terasa air matanya mengalir dan Bibinya yang melihat Nayla sedih langsung menghentikan aktifitasnya ia memeluk Nayla dengan penuh rasa sayang.


Keluarganya yang di kota "G" memang belum ada yang tau jika Papanya sudah menikah lagi.


Untuk sesaat Nayla lupa dengan kesedihannya karena ia sibuk membantu Bibinya menyiapkan makanan,karena sebentar lagi sudah waktunya makan siang.


"Bi ..Nay aja yang nganterin keruangan ya"pinta Nayla saat ada seorang yang hendak mengambil dan mengantarkan makanan keruang perawatan.


"Ya udah berdua aja sama Azat"


"Ok..hayu mang kita bagiin makananya"ajak Nayla sok akrab


Azat pun langsung membawa makanan yang sudah disusun rapi menuju ruang perawatan.


Setelah membersihkan rantang bekas makan pasien Naylapun beristirahat.


"Teh pang nyieunkeun kopi cenah keur doktor Rizal(teh tolong buatin kopi buat dokter Rizal)"pinta Azat yang ternyata seorang tukang bersih-bersih.


Setelah kopi yang dipinta jadi Azatpun membawanya kedalam.


Nayla yang memang sudah tak asing lagi dengan para penjual yang ada diparkiran Puskesmas, ia pun langsung memesan makanan kesukaannya bakso.


Setelah makan Naylapun ikut sibuk mempersiapkan kembali menu makan malam buat pasien.


Nayla hanya ditugaskan memotong-motong sayuran dan berbagai tugas ringan lainnya.


Setelah selesai merekapun pulang kerumah Bibi Nayla.


"kangen ama suasana ini Bi"ucap Nayla yang langsung melihat kearah gunung Guntur.


Ia pun langsung naik keatas pagar dan duduk dengan santai diatasnya dan disampingnya ada segelas kopi susu dan cemilan.


Nayla nampak menikmati suasana yang telah lama ia rindukan sambil menghadap gunung Guntur,dan didepannya ada kolam ikan mas milik bibinya.


"Ah...damainya..."ucap Nayla sambil merentangkan tangannya keatas


Tiba-tiba Nayla teringat Haris,ia pun langsung mengirimi Haris chat yang berisi kalau sekarang berada dirumah Bibi Wiwin

__ADS_1


Tak menunggu lama Harispun membalas,sepulang kerja nanti akan mampir kerumah Bi Wiwin.


Malam harinya Haris pun datang membawa krupuk kulit kesukaan Nayla.


"Teh ni Haris bawain dorogdog(kerupuk kulit)"ucap Haris lalu meletakan bungkusan besar atas meja.


Malam itu Nayla bercanda ria dengan Ali,anak Bibinya yang masih SMP dan Haris.


Waktu sudah menunjukan pukul 9 malam,Harispun pamit pulang begitupun Ali sudah masuk kamarnya karena besok harus sekolah.


Tinggallah Nayla sendiri,kembali ia merasakan sepi,air matanya kembali mengalir tanpa ijin.


"Mah...sekarang Nay bener-bener kesepian,Pàpa gak sayang Nay lagi,Nay pergi aja Papa gak nyariin,pasti sekarang mereka asik makan-makan" Nayla bermonolog sendiri sambil menghapus kasar air matanya.


Bi Wiwin yang tanpa sengaja hendak kedapur melihat Nayla menangis langsung menghampiri Nayla.


"Kamu kenapa Nay? cerita sama Bibi ada apa?"tanya Bi Wiwin lembut


Nayla menceritakan semuanya pada Bi Wiwin,nampak wajah Bi Wiwin menahan kesal


"Bisa ya orang tua kaya gitu,eta juga kenapa atuh mau nikah gak minta ijin dulu sama anak"Bi Wiwin bercuap-cuap marah


Nayla merebahkan tubuhnya diatas kasur dengan paha Bi Wiwin menjadi bantalnya,sementara itu tangan Bi Wiwin mengelus lembut kepala keponakannya itu.


Malam itu Nayla tidur bersama Bibinya sedangkan Mang Iman tidur bersama Ali.


Pagi harinya Nayla demam tinggi,Bi Wiwin yang tak bisa meninggalkan pekerjaannya terpaksa meninggalkan Nayla sendiri dirumah .


Nanti setelah dokter Rizal tiba barulah ia akan menjemput Nayla untuk berobat.


Setelah 3 hari lamanya Nayla berada dirumah Bibinya,hari pertama disana Papanya hanya Wa bertanya ada dimana,namun hari kedua dan ketiga hanya Adit,Dian dan Susi serta Tari yang menanyakan Kabarnya.


Nayla menempati ruang VVIP yang kebetulan letaknya tak jauh dari dapur jadi Bibinya dapat sering-sering menengoknya.


Nayla menghubingi Dian,ia terpaksa tak dapat masuk kerja dalam waktu yang lama karena sakit.


Sementara itu di tempatnya bekerja Dian nampak kesal menerima pesan dari Nayla apa lagi memperlihatkan tangannya yang di infus


📞 "Nay...kok bisa sih loe terdampar disana"


📞 "Iya Dian tadinya gw cuma mau ketemu ama bibi gw"


📞 "Loe sakitnya jauh banget Nay,gimana bisa gw nengokin loe" suara Dian terdengar seperti menahan tangis


📞 " Gw gak apa-apa Dian,gw cuma mau ngabarin itu aja biar tar gw gak di SP pas masuk he..he"


📞 "y udah cepat sembuh ya Nay Assalammualaikim"


Sambungan telp dengan Dianpun diakhiri.


Namun tak lama kemudian Hp Nayla kembali berdering namun kali ini chat dari Susi


Susi " Nay loe dimana?"


Nayla " Gw lagi semedi,kenapa?"

__ADS_1


Susi "Parah loe jadi anak,masa


panci,penggorengan,ember loe


umpetin sih"


Nayla " Biarin dari pada tar rusak semua


punya emak gw"


Susi " Balik loe,kalo loe gak balik-balik tar


pas loe pulang udah punya ade lagi


ha....ha"


Nayla tak lagi membalas chat dari Susi,ia pun kembali menonaktifkan ponselnya.


Tanpa terasa tiga hari sudah Nayla dirawat disana,terkadang Haris menemaninya disana tak jarang juga ia sendirian.


Saat Nayla tertidur tadi ia sempat bermimpi melihat orang tergeletak ditengah jalan namun bagaimana awal mulainya ia tak ingat.


Nayla terbangun dan berusaha duduk walaupun terasa sangat lemas.


Haris yang memang berada disana melihat wajah Nayla tambah pucat.


Tanpa sepengetahuan Nayla Bi Wiwin mengirim pesan pada Papa Nayla untuk memberi kabar tentang keadaan putrinya.


Sebenarnya ia tak ingin memberitahu Papa Nayla,namun Bi Wiwin sering melihat ponsel Nayla tak ada satu pun wa dari Papanya yang menanyakan keberadaan Nayla.


Ia ingin tahu apakan Papanya akan segera menengok putrinya yang sakit atau akan acuh dan tak perduli karena asik dengan istri barunya.


Saat Nayla tertidur ponselnya berdering,kebetulan saat itu Haris sedang menemaninya,Harispun mengambil ponsel Nayla dan melihat siapa yang menelpon, ternyata Adit yang menelpon kebetulan Haris sudah kenal juga dengan Adit.


Adit melihat foto yang dikirimkan Haris,hatinya sedih melihat kekasihnya terbaring diatas ranjang dengan selang infus ditangannya,wajahnya nampak pucat.


"kenapa kamu kaburnya jauh banget sih yang,aku yakin kamu bisa lewati semua ini,kamu harus kuat Nay" ucap Adit sambil memandang foto Nayla.


Sementara itu Nayla sedang marah pada Haris karena memberitahu kondisinya pada Adit.


Haris teruss membujuk Nayla agar tidak marah lagi,sampai pada akhirnya ia pun terpaksa menakut-nakuti Nayla akan pulang jika Nayla masih marah dan tak lupa juga ia bilang kalau dkamar itu dulu ada yang bunuh diri.


Nayla yang merasa takut akhirnya mau memaafkan Haris dengan syarat Haris harus menemaninya sampai ia sembuh.


Haii semua terima kasih sudah mampir diceritaku.


Jangan lupa tap tombol :


- Like


- **Vote


- Rate dan juga


- Kritsarnya author tunggu

__ADS_1


Salam Maniss


Amellajj/author**


__ADS_2