TERBUKANYA MATA BATIN

TERBUKANYA MATA BATIN
Bab 143


__ADS_3

\=\=\= Selamat Membaca \=\=\=


Hari itu Nayla tidak masuk kerja ia ijin karena harus datang ke kantor polisi untuk memberikan keterangan tentang penemuan kerangka tadi malam.


"loe jam berapa ke kantor polisi Nay"tanya Cici


"jam 1 disuruhnya"


"gw anterin ya"ujar Cici menawarkan diri


"gak,dia gw yang anterin"celetuk Tari menyela


"terserah lah siapa aja yang mau nemenin gw,yang penting gw gak sendirian"ujar Nayla


"gw pulang dulu ya,mau ganti baju"lanjutnya


"ayo gw anterin,sekalian gw mau tau rumah loe"ucap Tari langsung duduk dimotornya.


"ishhh gw pulang sendiri aja"tolak Nayla


"gak boleh,harus gw yang anterin"paksa Tari


"ihhh kok loe ngotot banget sih mau tau rumah gw"


"udah gak usah cerewet,ayo naek,rumah loe di Asri kan,blok berapa?"


Nayla tak menjawab pertanyaan Tari,ia masih kesal karena Tari selalu ngikutin kemanapun Nayla pergi.


Setibanya dirumah Nayla,ia langsung istirahat begitu juga Tari yang ikut menumpang mandi dan bebersih diri.


"Nay kok semalem loe bisa-bisanya sih masuk kerumah itu sendirian"tanya Tari


"gak tau,kaya ada yang narik gw aja Ri"


"truss...." tanya Tari yang penasaran ingin mendengar cerita Nayla


"gak pake terus-terus gw cape mau tidur sebentar"ucap Nayla ketus


"loe jutek amat sih Nay,untung gw sayang kalo gak..."Tari tak melanjutkan kata-katanya karena Nayla sudah memelototinya


"iya...iya gw diem ni,dah molor sono gw jagain"


Karena sudah sangat lelah tanpa menunggu lama Naylapun langsung terlelap.


Jam setengah dua belas Tari membangunkan Nayla,mereka harus bersiap-siap untuk ke polsek .


Hampir satu jam Nayla berada di dalam ruangan penyidik.


"ngapain aja sih lu lama amat Nay"tanya Tari begitu Nayla keluar


"abis pacaran ama bapak polisinya,puaaass loe"


"idihh gw kan nanya baik-baik sayang,kok jawabnya malah marah sih,ni minum dulu" ujar Tari yang tahu Nayla kini dalam mode kesal.


"kita makan bakso malang dulu yuk,dideket sini katanya ada yang enak loh"bujuk Tari


"iya,gw juga udah laper ni"


Merekapun berjalan mencari kedai bakso yang dimaksud Tari.

__ADS_1


Setelah menemukan kedai bakso Tari langsung memesan sedangkan Nayla duduk disalah satu sudut ruangan.


Begitu pesanan mereka datang Nayla langsung memasukan beberapa sendok sambal dan sedikit cuka.


"kelaperan pok"canda Tari namun tak ditanggapi oleh Nayla,ia asik mengaduk bakso yang ada dihadapannya.


Saat ia hendak meyuap ponselnya berbunyi


ia pun langsung melihat nama yang tertera di layar ponselnya


"Adit???"gumamnya pelan


πŸ‘© " Hallo Assalammualaikum"


πŸ‘¨ "wa'alaikum salam,kamu lagi dimana Nay"


πŸ‘© "aku abis dari polsek,kenapa"


πŸ‘¨ " abis ngapain di kantor polisi?"


πŸ‘© "ada perlu,tapi udah selesai kok"


πŸ‘¨ "Nanti sore aku kerumah ya"


πŸ‘© "iya"


Adit sebenarnya sudah tahu kalau Nayla menemukan jenazah dari Eka sepupunya yang menjadi anak buah Nayla,namun ia berpura-pura tak tahu,Adit ingin Nayla sendiri yang menceritakannya.


Sementara itu Tari nampak kesal melihat Nayla berbicara ditelpon dengan Adit.


"udah buruan makan,udah dingin tuh pacaran mulu"


Marekapun memakan bakso dengan lahap karena memang sudah sangat lapar.


Setelah mengantar Nayla pulang tadinya Tari masih ingin dirumah Nayla namun Nayla menyuruhnya pulang dengan alasan ingin istirahat.


Jam tujuh kurang Adit sampai dirumah Nayla.


Karena taj enak dengan tetangga kalau dirumah hanya berdua merekapun memutuskan untuk keluar sambil mencari makan malam.


Pecal Ayam menjadi menu pilihan untuk makan malam mereka.


Setelah selesai makan Adit menunggu Nayla bercerita,namun seolah tanpa dosa Nayla hanya acuh seakan tak menyadari Adit mulai kesal.


"kamu gak mau cerita Nay"akhirnya Adit mengalah dan bertanya duluan


"cerita apa?"


"ya ampun Nay" Aditpun menepuk jidatnya


"kenapa Dit,banyak nyamuk ya" tanya Nayla tanpa dosa


"ihhhh bukan nyamuk Nayla,aku tuh lagi nungguin kamu cerita soal kejadian tadi malem,trus atas ijin siapa kamu ikutan acara begituan"ucap Adit sambil menahan kesalnya


"emang harus ijin ama siapa Dit,kalo mau ikut ya ikut aja gak perlu minta ijinkan"jawab Nayla polos


"kitakan udah tunangan Nay,jadi kalau apa-apa ya mesti minta ijin dulu sama aku"tegas Adit


"Dihh...apa hubungannya tunangan ama ijin"

__ADS_1


"Ya ampun Nay,mesti gimana sih ngomong ama kamu.."


"kamu ikut acara itu ada cowoknya gak"


"adalaah"


"tuh kann" Adit langsung membuang muka,ia mengepalkan tangannya menahan marah.


"kamu kenapa sih Dit,kok malah marah"tanya Nayla sambil cemberut


Adit menarik nafas dalam dan menghembuskannya dengan kasar.


"Nay...aku mau mulai sekarang kita harus saling terbuka kalau ada apa-apa tuh ngomong "ucap Adit lembut


"iya maaf"ucap Nayla pelan


"sayang,aku tuh gak marah,aku tuh khawatir ama kamu,apa lagi aku tau kalau kamu tuh penakut"


"jangan ngatain juga kali Dit"


"ishhh aku gak ngatain,itukan kenyataannya yang"


"iya...iya aku ngaku emang penakut,puasss "akhirnya Naylapun meluapkan kekesalannya namun Adit hanya tersenyum menanggapinya.


Setelah selesai makan dan berbicara merekapun pulang,ditengah perjalanan Nayla melihat ada anak kecil yang sedang menangis,ia pun meminta Adit untuk berhenti Aditpun menurutinya.


"mana Nay,kata kamu ada anak kecil nangis"tanya Adit sambil mengedarkan pandangannya mencari anak kecil yang Nayla maksud.


"itu Dit"tunjuk Nayla namun Adit tak melihat yang Nayla maksud.


Ia pun mulai mengerti yang Nayla lihat bukanlah manusia melainkan sosok yang tak kasat mata.


Aditpun langsung menjalankan kembali motornya tanpa menghiraukan protes dari Nayla.


"kamu mah jahat banget sih Dit,gak punya perasaan liat anak kecil sendirian bukannya ditolong malah ngacir"gerutu Nayla


Nayla makin kesal karena Adit tak menanggapi ucapannya pria itu malah tersenyum mendengar ocehan Nayla.


"gimana mau nolong sih yang,itu bukan orang"akhirnya Aditpun memberitahu yang sebenarnya pada Nayla


"bukan orang gimana sih,jelas-jelas itu anak kecil Dit"protes Nayla tak mau kalah


"terserah kamu aja deh yang,yang penting aku udah kasih tau yang sebenarnya"ucap Adit lalu menyandarkan tubuhnya pada sandaran sofa untuk mengurangi rasa pegalnya.


Adit menatap wajah Nayla yang masih saja cemberut karena kesal,baginya melihat wajah gadis itu cemberut mempunyai kesenangan tersendiri.


**Haiii para reader terima kasih sudah mampir dikaryaku.


Jangan lupa dukung teruss author dengan cara :


πŸ‘‰ Like


πŸ‘‰Vote


πŸ‘‰Rate dan juga


πŸ‘‰ Kritsarnya author tunggu


salam Maniss

__ADS_1


Amellajj/author**


__ADS_2