TERBUKANYA MATA BATIN

TERBUKANYA MATA BATIN
Bab 369


__ADS_3

SELAMAT MEMBACA


Siang itu Nayla dan kedua putrinya menjaga Radit di rumah sakit.


"Sayang sebenarnya kamu kena apa sih, kok bisa sampe luka begitu, mama liat teman-teman kamu gak ada yang suka separah kamu" ucap Nayla sambil menyuapi Radit makan siang.


"Gak tau juga Mah, Radit tidur pas kejadian, itu juga Radit kebangun gara-gara jatuh dari bangku" jawab Radit sambil mengunyah makanan yang di sediakan rumah sakit.


"Selama disana apa ada kejadian yg aneh nak, kok mama liat ada yang sampe ikut kerumah kita" tanya Nayla


"Ada mah, katanya dia suka sama salah satu teman Radit tapi aku gak tau siapa" ucap Radit.


"kenapa dia malah ikut kerumah ya" batin Nayla


"Ya sudah kamu sekarang istirahat aja ya Nak, biar cepat sembuh dah kita dirumah aja" Nayla mengelus lembut kepala Radit dengan penuh kasih sayang.


Sementara itu kedua gadis yang dari tadi sibuk dengan ponselnya memperhatikan Nayla.


"Kalian kenapa?" tanya Nayla dan membuat keduanya langsung tersadar dari lamunannya.


"Mah kalo aku yang sakit apa mama akan sekhwatir itu juga" tanya Rania sambil mengigit satu buah apel.


"Kok nanya begitu sayang, mama gak akan membeda-bedakan kalian"


"Mama itu selalu berdoa agar kita semua selalu sehat wal afiat" lanjut Nayla.


"Abis kayanya mama perhatian banget sama Aa Radit sampe lupa sama kita" ucap Rania lagi.


"Kok begitu sih ngomongnya Sayang" tanya Nayla yang langsung terlihat sedih.


Rania yang menyadari kesalahannya langsung menghampiri Nayla dan meminta maaf.


"Maaf Mah bukan maksud Rania, maksudnya pilih kasih itu tadi mama udah nyuapin aa, terus kita berdua belum makan mah, laper" ucap Rania menjelaskan maksud perkataannya tadi kepada Nayla.


"Oh..jadi kalian laper, maafin mama sayang mama pikir kamu...." Nayla tidak melanjutkan kata-katanya karena Rania sudah lebih dulu memeluknya.


"Kalian beli makan gih, nanti mama bungkussin aja" Nayla mengeluarkan selembar uang seratus ribu an dan memberikannya kepada Ardina.


Mereka pun segera berjalan keluar mencari makanan.


Mereka berdua akhirnya memutuskan untuk membeli bakso.


Setelah kenyang mereka pun segera masuk kembali kedalam rumah sakit.


Saat akan melintasi tangga tanpa sengaja Rania melihat ada seorang wanita yang sedang duduk tidak jauh dari poli bedah.


Entah kenapa Rania malah menghampiri wanita itu.


"Ibu kenapa nunggunya disini, lebih baik disana Bu nunggunya lebih terang dan ramai" ucap Rania pada seorang wanita yang dari tadi hanya menunduk.


Ardina yang melihat Rania berbicara sendiri sudah faham apa yang terjadi pada saudaranya itu.


Beberapa orang yang lewat nampak heran melihat Rania berbicara dengan tangga.


"Ran..lloe di liatin orang tuh di sangka orang anu.."


"Apa sih Ar, ini loh gw lagi bilangin sama ibu ini nunggu nya di sana aja tempat yang rame sama terang" ucap Rania yang masih belum sadar jika yang ia ajak bicara adalah bukan manusia tapi salah satu mahluk penghuni disana.

__ADS_1


Ardina yang memang terkadang bisa melihat dan terkadang kini melihat dengan jelas sosok wanita itu.


"Ran..."


"Rania ..ayo kabur" ucap Ardina yang mulai takut saat wanita itu menunjukkan wajahnya.


"Apa sih Ar berisik banget sih loe..."


Waaaaaaaa


Kaburrrrrrrrr


Teriak Rania sambil berlari meninggalkan Ardina yang masih tidak bisa berlari dari sana.


Kakinya serasa menginjak lem dan tidak bisa digerakkan.


"Ra....Rania.."


"uwaaaaa gw ditinggalin


"Tungguin woiiiii" teriak Ardina


"Maaf Mbak ini rumah sakit dilarang buat gaduh" seorang suster tiba-tiba saja sudah berdiri disampingnya.


"Alhamdulillah ada suster, maaf sus" ucap Ardina yang merasa kakinya sudah dapat bergerak.


Tanpa buang waktu ia pun langsung berjalan secepat mungkin menuju ruang perawatan Radit.


"Liat aja ya Ran masa gw ditinggalin sendirian" ucap Ardina kesal.


Sepanjang jalan mulutnya tidak berhenti komat Kamit memaki Rania.


Setelah hampir 15 menit ia berjalan tiba-tiba saja ia baru menyadari jika jalan yang ia lalui bukanlah jalan menuju kamar perawatan Radit.


"Lah ini gw dimana?" ucap Ardina kebingungan.


Ia pun melihat sekitarnya nampak begitu asing.


Tanpa sengaja matanya melihat sebuah kamar yang terdapat tulisan "KAMAR MAYAT" didepannya.


"Mama Nay tolongggggg"


Ardina pun langsung balik arah dan berlari sekencang mungkin entah kemana yang penting menjauh dari sana.


Sementara itu di kamar perawatan Radit nampak Nayla sedang menenangkan Rania yang terlihat begitu pucat.


"Ran ..dimana Ardina kan tadi kalian barengan" tanya Nayla yang tidak melihat Ardina bersama Rania.


"Tadi itu Rania ketemu hantu mah, Rania lari aja gak tau Ardina ikut lari apa gimana" ucap Rania menjelaskan kepada Mamanya.


Nayla hanya menggelengkan kepala, bisa-bisa Rania meninggalkak Ardina entah dimana.


Naylapun keluar ruangan berniat mencari keberadaan Ardina.


Ia pun berjalan menyusuri lorong demi lorong rumah sakit namun belum juga menemukan keberadaan Ardina.


Ia pun berhenti sebentar untuk beristirahat sebentar sambil melihat sekitarnya.

__ADS_1


Entah kenapa tiba-tiba ia merasa jika Ardina berada tidak jauh dari tempatnya berdiri sekarang.


Naylapun berjalan perlahan hingga akhirnya ia melihat ujung sendal yang sangat ia kenal dibalik tembok.


"Ar... Ardina sayang itu kamu ya" ucap Nayla pelan sambil terus mendekat.


Hingga akhirnya ia pun berhasil menemukan Ardina yang sedang berjongkok dengan wajah yang tertunduk seperti sedang menangis.


"Sayang ini mama" ucap Nayla pelan sambil mengelus rambutnnya.


Wahhhhhh setannnnn


Teriak Nayla yang terkejut melihat sosok yang ia kira Ardina ternyata bukan.


"Astaghfirullah Al Azim" Nayla mengelus dada nya yang berdetak cepat saat melihat sosok tadi.


Ia pun segera menjauh dari sana dan kembali berjalan mencari Ardina.


"Sayang kamu dimana" ucap Nayla entah kepada siapa.


Saat ia mulai lelah tiba- tiba saja ia mendengar suara wanita memanggil namanya.


"Mama Nay, aku taku takutt" samar-samar Nayla mendengar suara Ardina.


Tanpa menghiraukan rasa takutnya ia pun terus saja mencari Ardina hingga ia tiba di sebuah tempat yang terdapat banyak tempat tidur rusak.


"Masa iya Ardina sampe kesini sih"batin Nayla


Namun kata hatinya memerintahkannya untuk masuk kedalam.


Tanpa ragu ia pun masuk kedalam walaupun ia merasa takut.


Dan benar saja ia melihat Ardina sedang menagis sambil terus memanggil namanya.


Nayla terus mendekat, ia tidak perduli itu hantu lagi atau betul putrinya.


Ia pun semakin mendekat lalu menyentuh pundaknya perlahan.


"Sayang...." ucap Nayla ragu..


Ardina yang sedang merasa ketakutan sayup-sayup mendengar suara mama Nay memanggil namanya.


" Sayang ini benar kamu kah?" ulang Nayla berusaha melihat wajah gadis didepannya yang tertunduk ketakutan.


Setelah yakin itu suara mamanya akhirnya Ardina pun mengangkat kepalanya dan melihat wajah Mama Nay.


Ia pun langsung memeluk Nayla sambil menagis.


"Mah..ini betulan mamah kan, bukan hantu"tanya Ardina masih belum yakin jika yang dihadapannya adalah mamanya.


"Untung ini betulan Mama, Ardina takut mah" ucap Ardina sambil memeluk Nayla.


"Iya sayang, Alhamdulillah akhirnya mama nemuin kamu" Nayla mengelus lembut kenapa Ardina.


Mereka pun segera keluar dari gudang rumah sakit dan kembali menuju kamar perawatan Radit.


Rania yang merasa bersalah langsung memeluk Ardina begitu Nayla dan Ardina masuk.

__ADS_1


__ADS_2