
SELAMAT MEMBACA
Karena pendarahan dan air ketuban Dina sudah pecah akhirnya ia pun harus melahirkan lebih cepat itupun dengan cara caesar.
Dua hari setelah operasi Dina belum juga sadar.
Adit nampak begitu sedih, sedetikpun ia tak mau jauh dari Dina.
Semetara itu bayi mereka ditangani oleh para parawat diruang bayi, hanya sesekali Adit melihat putri kecilnya.
"Sayang bangun,kamu gak mau liat putri kita" Adit terus saja berbisik ditelinga Dina.
Ia berharap Dina segera membuka mata.
Yah...setelah operasi Dina belum juga siuman.
pendarahan yang ia alami membuatnya kehilangan banyak darah dan kini ia dalam kondisi koma.
Aditpun hanya sesekali saja di ijinkan masuk, namun ia tak pernah beranjak dari depan ruang ICU tempat dimana Dina dirawat.
Sementara itu dirumah Nayla ia terlihat gelisah.
Empok yang sedari tadi memperhatikannya sedikit heran dengan Nayla.
"Kamu kenapa sih Nay"
"Bulak balik dah kaya setrikaan aja" tegur empok sambil melipat pakaian yang baru saja ia gosok.
"Gak tau pok, perasaan Nay gak enak aja dari kemarin"
"Nay mau liat Dina ah tar sore,pok mau ikut gak?" tanya Nayla sambil membereskan mainan Radit yang berserakan.
"Iya ikutlah, mang bisa kamu sendirian Nay"
"He..he gak" Nayla tersenyum lebar
"Ya gak bisa sendirilah pok, kan ni perut dah maju banget,kalau Radit minta gendong gak bisa.." jelas Nayla.
Empok hanya tertawa mendengar ucapan Nayla.
Siang itu udara begitu panas, Nayla yang sedang tidur-tiduran sambil bermain dengan Radit mendadak ingin es campur.
"Pok..." panggil Nayla pada Empok yang sedang asik melihat televisi
Empok pun melihat ke arah Nayla tanpa mengeluarkan suara.
"Mau es campur yang dideket stasiun" ucap Nayla pelan.
"Astaga gak kurang jauh Nay"
"yang deket aja,mau gak?" tawar pok
"Gak mau pok, Nay maunya yang disana" Nayla bersikukuh ingin es campur yang berada distasiun yang kebetulan jaraknya lumayan jauh.
Demi anak dalam kandungan Nayla akhirnya Empok pun membeli es yang di inginkan oleh Nayla.
Sore itu Nayla ditemani oleh Empok datang ke RS untuk melihat kondisi Dina.
"Adit..." panggil Nayla saat melihat Adit yang sedang duduk dibangku didepan ruang ICU.
Adit yang memang sedang termenung memikirkan kondisi Dina tersentak kaget saat mendengar suara yang tak asing memanggil namanya.
"Nay..."
Tanpa perlu disuruh duduk oleh Adit Nayla langsung duduk disebelah Adit.
"Gimana kondisi Dina?" tanya Nayla
__ADS_1
Empok yang sibuk dengan Radit nampak sibuk mundar-mandir mengikuti Radit.
"Nay...kenapa perasaan aku gak enak ya"ucap Adit dengan wajah sendu.
Nayla menatap Adit sesaat
"Jangan berpikiran yang gak-gak Dit, mending kamu berdoa minta sama Allah agar Dina cepet sembuh" ucap Nayla
Adit sedikit heran mendengar ucapan Nayla.
"Kamu sekarang jauh lebih dewasa ya Nay" ucap Adit
"Ah..gak kok dari dulu juga kan gini Dit, kamunya aja yang selalu anggap aku bocah" balas Nayla.
Tiba-tiba Nayla ingin ke toilet, setelah pamit pada Adit Naylapun berjalan menuju toilet yang berada tak jauh dari sana.
Setelah buang air kecil Naylapun merapikan rambutnya yang sedikit berantakan.
Saat ia menatap cermin ia sedikit mengerutkan keningnya.
Entah ia salah lihat atau sekedar halusinasinya ia melihat sekilas Dina keluar dari salah satu bilik kamar mandi dan langsung keluar.
"Bukananya Dina lagi di ICU ya, lah tadi siapa ya" batin Nayla.
Karena penasaran ia pun langsung menyelesaikan kegiatannya dan langsung keluar dari toilet .
Didepan toilet ia nampak mencari sosok Dina yang ia lihat tadi.
Saat ia hendak melewati satu lorong ia bertemu dengan seorang dokter yang ia kenal.
Ia pun berbincang-bincang dengan dokter itu yang ternyata menangani Dina juga.
Dari situlah ia tahu kondisi Dina saat ini.
Dengan langkah gontai Nayla kembali ketempat Adit duduk.
"Muka kamu kok pucet Nay, perut kamu sakit?" Adit merasa khawatir saat melihat wajah Nayla sedikit pucat.
"Aku gak apa-apa Dit"
"Bapak Adit, bisa masuk sebentar, Nyonya Dina ingin bicara dengan anda" seorang suster keluar dan meminta Adit masuk.
"Istri saya sudah sadar sus?"tanya Adit setengah tidak percaya.
Suster itu hanya membalas pertanyaan Adit dengan sebuah senyuman.
Setelah pamit pada Nayla Aditpun bergegas masuk.
"Kenapa aku ngerasa gak enak gini ya" batin Nayla saat ia merasakan hawa yang tak enak.
Empok datang sambil menggendong Radit yang menangis.
"Radit kenapa Pok? jatoh?"tanya Nayla.
"Gak...tadi Radit tiba-tiba aja nangis, kata dia ada tante-tante senyum ama dia" tutur Empok menjelaskan.
"Siapa Pok?"tanya Nayla penasaran.
"Justru itu Nay, Empok gak tau,orang disana gak ada siapa-siapa" jelas Empok.
Radit yang tadinya menangis langsung terdiam saat Nayla memangkunya.
Mungkin karena lelah Raditpun tertidur dalam pangkuan Nayla.
"Pulang aja yuk Pok, Dina udah sadar tadi kata suster" ajak Nayla.
Empok yang kasihan melihat Nayla langsung mengenddong Radit.
__ADS_1
Belum jauh mereka berjalan, pintu ruang ICU terbuka.
"Nay...Nayla kamu mau kemana?"tanya Adit yang baru saja keluar .
"Aku pamit pulang dulu Dit"ucap Nayla yang kembali menghampiri Adit bermaksud untuk pamit.
"Nay...tadi Dina minta ketemu kamu" ucap Adit.
"Oh...emang boleh aku masuk?" tanya Nayla
Aditpun tersenyum mendengar pertanyaan Nayla.
"Nay...Nay"
"Kan Dina yang minta kamu masuk,ya artinya boleh lah"ucap Adit.
Naylapun langsung masuk kedalam namun sebelumnya ia memakai pakaian khusus yang sudah disediakan.
Dek...seketika itu juga jantung Nayla berdegup kencang.
Ia melihat wajah Dina seperti berbeda.
"Din..gimana keaadan kamu,pasti seneng ya udah punya anak" ucap Nayla begitu duduk disamping Dina.
Dina tersenyum, dengan sebuah isyarat Dina meminta Nayla mendekat.
"Nay...aku minta maaf sama kamu,aku banyak salah sama kamu" bisik Dina pelan ditelinga Nayla.
"Kamu ngomong apa sih Din,aku dah maafin kamu dari dulu,malah aku udah anggap kamu kaka aku" entah kenapa hati Nayla semakin tidak tenang mendengar perkataan Dina.
Dina kembali menggerakan tangannya meminta Nayla mendekat kembali.
Naylapun mendekatkan telinganya
"Aku titip anak aku Nay,aku takut gak bisa membesarkannya,aku takut gak bisa mengurusnya Nay" belum sempat Dina melanjutkan kata-katanya Nayla sudah menjauhkan telinganya.
Terlihat air mata Dina mengalir dari sudut matanya.
"Jangan ngomong begitu Dina,gak baik" ucap Nayla sambil menghapus air mata Dina.
"Nay..janji sama aku,tolong jaga anak ku" ucap Dina kembali kali ini tatapan mata Dina seperti kosong.
Jantung Nayla berdegup sangat kencang, ia merasakan tangan Dina begitu dingin.
"Dina..kamu gak apa-apa kan?" Nayla begitu panik saat perlahan mata Dina mulai sedikit demi sedikit meredup.
Nayla yang panik langsung memanggil suster yang yang berada tak jauh dari sana.
Naylapun segera keluar dengan wajah panik.
Adit yang melihat Nayla langsung menghampirinya.
"Kamu kenapa Nay?" tanya Adit sambil menatap kearah Nayla
"Itu...Dit...Dina..."
Adit hanya tertegun mempergatikan Nayla yang gugup.
Aditpun langsung mengintip lewat kaca yang terdapat dipintu.
Terlihat ada sedikit kesibukan disana,namun apa yang terjadi disana ia tak tahu karena ia belum di ijinkan masuk.
Hallo semua maaf author baru bisa up lagi.
Tetap kasih dukungan ya buat author Like dan komennya ditunggu.
Salam Maniss
__ADS_1
Amellajj/author