TERBUKANYA MATA BATIN

TERBUKANYA MATA BATIN
Bab 345


__ADS_3

SELAMAT MEMBACA


SETELAH semua berkas dan dokumen selesai jenazah Ryan pun langsung diberangkatkan dengan pasawat.


Nayla dan Damra serta beberapa teman Ryan ikut serta dalam pesawat, sedangkan Adit dengan ditemani salah seorang teman Ryan melalui jalur darat.


Dari bandara Minangkabau menuju Jakarta hanya memerlukan waktu 2 jam, begitu tiba di bandara Soekarno Hatta beberapa teman Ryan yang bertugas di kota B sudah siap menanti kedatangan jenazah lengkap dengan ambulans yang akan membawa mereka kerumah duka di kota B.


Sepanjang perjalanan Nayla memeluk peti tempat jasad Ryan berada,air mata tidak berhenti mengalir,ia terus saja memanggil nama Ryan.


"Aku berharap ini cuma mimpi buruk, aku tau kamu cuma bercanda kan Mas"


"Kamu cuma mau nguji aku kan,ya udah aku nyerah mas, aku sayang banget sama kamu, aku gak bisa hidup tanpa kamu, sekarang ayo buka petinya Mas" tak henti-hentinya Nayla meracau hingga siapapun tak tega dan pasti ikut menangis mendengar kata-kata Nayla.


Damra yang berusaha menenangkan Nayla tak bisa berbuat apa-apa, air matanya pun tak henti-hentinya mengalir merasakan kesedihan yang kini Nayla rasakan.


Kedua orang tua Ryan sudah sampai dirumah Nayla, mereka langsung menghambur keluar saat terdengar suara sirine dari mobil ambulan yang membawa jenazah Ryan tiba dirumah duka.


Beberapa polisi anak buah Ryan langsung mengeluarkan peti yang berisi jenazah Ryan dan membawanya masuk.


Nayla langsung memeluk ibu mertuanya begitu turun dari mobil, mungkin karena menahan kesedih yang mendalam akhirnya Naylapun tak sadarkan diri.


Dengan sigap beberapa anak buah Ryan yang memang ditugaskan untuk mengawal hingga pemakaman selesai langsung menahan tubuh Nayla dan menggotongnya masuk kedalam.


Empok tak lagi dapat menahan kesedihannya begitu melihat kondisi Nayla yang begitu rapuh.


Berkali-kali ia menciumi dahi Nayla dan mengelus rambut.


"Mas...Ryan jangan tinggalin Nay dan anak-anak"


"Mas janji akan bersama aku selamanya, tapi sekarang apa? mas malah pergi ninggalin aku sama anak-anak" tangis Nayla kembali pecah saat ia membuka matanya dan teringat dengan kejadian yang baru saja ia alami.


Aa Iwan yang kebetulan saja baru tiba langsung masuk kedalam kamar Nayla.


Ia berhenti sejenak diambang pintu sambil memandang kearah Nayla.


Nayla yang belum menyadari kedatangan Aa terus saja menangis sambil sesekali menghapus air matanya dengan lengannya.


"Assalamualaikum" Aa masuk kedalam kamar Nayla setelah sebelumnya membaca doa agar Nayla bisa sedikit lebih tenang lalu mengambil satu buah air minum kemasan yang terdapat didalam kamar Nayla.


"Adik Aa mah kuat gak lemah kaya gini, insyaallah kamu pasti bisa ngelewatin semuanya Nay" ucap Aa sambil duduk disamping Nayla dan mengusapkan sedikit air yang tadi ia ambil.


"Aa...." Nayla langsung memeluk erat Aa Iwan sambil kembali menangis tersedu-sedu.


"Sok atuh kalo mau nangis gak apa-apa,tapi janji setelah ini jangan nangis lagi, Nay harus ikhlas kasihan atuh si Mas Ryan nya kalau ditangisin terus" ucap Aa lembut sambil mengelus punggung Nayla yang masih menangis.

__ADS_1


Nayla terus saja menangis, ia berusaha menguatkan hatinya, namun biar bagaimanapun ia tetap saja rapuh saat ingatannya kembali pada saat terakhir bersama Ryan.


"Hik...hik...kamu jahat Mas"


"Kenapa dunia ini begitu kejam pada ku, apa salah aku sampai harus kaya gini Aa" ucap Nayla disela-sela Isak tangisannya.


"Nay...kamu gak salah apa-apa, ini semua udah takdir dari Allah,As yakin Nay pasti kuat, inget Nay masih ada anak-anak yang butuh Nay" Aa terus saja menguatkan Nayla yang masih belum bisa ikhlas dengan kepergian Ryan.


Saat Nayla masih menangis dalam dekapan Aa, tiba-tiba saja salah satu anak buah Ryan masuk dan berbicara pada Mamanya Ryan.


"Nay...ini kan udah sore, apa boleh jenazah Ryan dimakamin sekarang" ucap Mama Ryan dengan sangat hati-hati.


"Ya udah Tante kalau mau dimakamkan sebaiknya abis Ashar biar gak terlalu sore" jawab Aa mewakili Nayla yang hanya terdiam.


"Gak apa-apa kan Nay dimakamin sekarang takutnya nanti kemalaman kasian jenazahnya" tanya Aa pada Nayla.


Naylapun mengangguk kepalanya bertanda setuju.


Sebelum jenazah diberangkatkan ada beberapa acara yang harus dilalui hingga akhirnya acara penghormatan.


Terdengar suara dentuman senjata yang ditembakkan ke udara sebanyak 7 kali sebelum jenazah diberangkatkan.


Nayla langsung berlari keluar saat ia mendengar suara derap langkah sepatu yang beradu dengan aspal menjauh dari rumahnya.


"Mas....mas Ryan...." ucap Nayla lemah karena tiba-tiba saja kakinya lemas seakan tak bertenaga.


"Tapi Ma...mas Ryan..." Nayla tak sanggup lagi meneruskan kata-katanya hanya air matanya saja yang kembali mengalir deras.


"Nay mau ikut kepemakaman kan?" tanya Aa dengan suara berat seakan menahan tangisnya.


Nayla hanya mengangguk, namun kakinya tak kuat lagi berdiri.


"Aa Nay mau ikut nganterin mas Ryan" ucap Nayla pelan.


"Nay janji gak nangis, Nay kuat tapi tolong Aa, Nay mau ngaterin Mas Ryan ketempat peristirahatan terakhirnya" pinta Nayla memohon.


Aa yang mengerti dari maksud Nayla langsung membopong Nayla menuju mobil.


Nayla sekuat mungkin menahan air matanya agar tak kembali menetes,ia harus kuat,apalagi saat tanpa sengaja ia melihat Rania yang tertidur dalam gendongan ayah Ryan.


Acara pemakaman berjalan dengan lancar, Nayla menguatkan dirinya agar tidak sampai jatuh pingsan.


Satu persatu yang mengantar kepemakaman pun mulai kembali kerumah masing-masing.


Hanya tinggal Nayla dan juga sanak saudara yang masih tersisa disana.

__ADS_1


Nayla memeluk nisan yang masih berbentuk kayu bertuliskan nama Ryan disana.


Tiba-tiba saja pandangannya mulai kabur dan ia pun tak sadarkan diri.


Aa yang berada disampingnya langsung membopong kembali tubuh Nayla kedalam mobil dan kembali kerumah.


Hampir satu jam lamanya Nayla tak sadarkan diri,Susi,Damra dan Lilis serta ketiga putra dan putrinya pun berasa didalam kamar menunggu Nayla siuman.


Rania yang baru saja berusian beberapa bulan menepuk-nepuk pipi bundanya.


Ia seakan mengerti jika saat ini bundanya sedang tak sadarkan diri.


Di alam bawah sadarnya Nayla merasakan ada sesuatu yang hangat menyentuh pipinya, ia pun berusaha membuka matanya.


Nayla merasakan ada sesuatu yang menetes diwajahnya, ia pun menggerakkan tangannya dan mengusap cairan itu.


Ia pun berhasil membuka matanya dan melihat wajah mungil Rania berada tepat didepan wajahnya sambil tertawa.


Naylapun berusaha untuk bangun namun badannya lemas seakan tak memiliki tenaga.


Ia hanya tersenyum memandang wajah putrinya.


Damra dan Susi langsung mengambil Rania begitu melihat Nayla siuman.


"Alhamdulillah akhirnya sadar juga"ucap Damra


Nayla hanya tersenyum mendengar ucapan Damra,ia pun berusaha untuk duduk dengan bersama pada kepala tempat tidur.


Hallo semua dah up lagi ni.


Kalo banyak typo maaf ya


Jangan lupa ya kasih dukungan buat author


carany


Like


Rate


Favorit


dan komen nya author tunggu.


Salam Maniss

__ADS_1


Amelajj/author


__ADS_2