TERBUKANYA MATA BATIN

TERBUKANYA MATA BATIN
Bab 342


__ADS_3

SELAMAT MEMBACA


Jantung Nayla berdegup kencang saat ia melihat beberapa suster keluar masuk ruangan ICU.


Ingin rasanya ia bertanya namun kakinya seakan kaku tak mau diajak berjalan dan mulutnya seakan bisu tak bisa untuk bertanya.


Hanya matanya saja yang sibuk memperhatikan semuanya.


"Ada apa ini, kenapa perasaanku kok gak enak ya" batin Nayla mulai berpikiran buruk.


"Kamu kenapa Nay?" sapa Adit yang tiba-tiba saja sudah berdiri disampingnya.


"Aku takut Dit, aku takut ada apa-apa dan Mas Ryan" ucap Nayla lirih.


"Kita berdoa saja Nay,minta sama Allah buat kesembuhan Ryan"


Nayla hanya mengangguk sambil menggigit kuku tangannya.


Adit yang diam-diam memperhatikan Nayla hanya tersenyum.


"Kamu kenapa senyum sendirian?" tanya Nayla


"Gak apa-apa Nay, aku cuma heran aja kebiasaan kamu gak berubah sama sekali" ujar Adit.


Nayla melihat Adit sekilas,lalu ia pun tersenyum sekilas.


Karena perasaannya semakin tak enak, ia pun berdiri lalu berjalan menuju pintu ruangan ICU, Ia menempelkan wajahnya pada kaca kecil yang terdapat di depan pintu berusaha untuk melihat kedalam.


Jantungnya seakan berhenti saat ia melihat beberapa dokter sedang mengerumuni Ryan.


"Mas Ryan, ada apa sama kamu mas" ucap Nayla yang langsung ingin berusaha masuk kedalam namun dicegah oleh Adit.


"Jangan masuk Nay,biarkan mereka melakukan tugas mereka, kita beri aja minta sama Allah yang terbaik buat Ryan" ucap Adit sambil menahan tangan Nayla yang hendak membuka pintu.


Naylapun menyadarkan tubuhnya pada dinding,ia memejamkan matanya, tanpa terasa air matanya mengalir.


Adit yang melihat Nayla menangis hatinya seakan ikut merasakan sedih.


Tanpa bisa ditahan lagi Aditpun menarik Nayla dan membawanya dalam dekapannya.


"Kalau menangis bisa membuat kamu lebih baik menangislah Nay, kamu bisa memakai bahu atau dadaku untuk kamu bersandar" bisik Adit.


Tanpa menunggu lama suara tangisan Nayla semakin kencang.


"Kamu harus kuat Nay,harus kamu ingat masih ada Rania, sama Radit yang butuh kamu"


Naylapun menghentikan tangisannya, tiba-tiba saja ia ingat sama Rania putri mereka yang baru saja beberapa bulan.


"Adit...."


"Aku lupa belum telpon Empok buat nanyain kabar Rania" ucap Nayla sambil sedikit menjauh dari Adit.


"Mereka baik-baik aja kok, tadi siang aku dah telpon Empok" jawab Adit sambil menyentuh pakaiannya yang basah oleh air mata Nayla.


"Maaf..."


"Maaf buat apa Nay?" tanya Adit sambil mengerutkan keningnya.


"Udah bikin baju kamu basah" ucap Nayla pelan.

__ADS_1


Adit hanya tertawa pelan sambil mengelus lembut kepala Nayla "Gak apa-apa Nay"


Sesaat Nayla terpaku dengan perlakuan Adit padanya.


Adit yang menyadari tindakannya tadi langsung meminta maaf.


Untuk menghilangkan rasa canggung Naylapun pamit untuk ke toilet.


Didalam toilet Nayla merasakan hawa yang berbeda, namun ia berusaha untuk tidak menghiraukan rasa takutnya.


Ia pun berniat mencuci mukanya agar terlihat lebih segar, berkali-kali ia memutar kran namun airnya tidak keluar.


Ia pun mencoba satu persatu kran namun sama saja, akhirnya ia pun masuk kedalam salah satu kamar mandi untuk mencuci muka disana.


Saat Nayla sedang membasuh wajahnya tiba-tiba saja kran di washtafel mengeluarkan air semuanya.


"Gak usah usil, aku gak takut kok" ucap Nayla entah pada siapa.


Lagi-lagi ia dijahili oleh mahluk penunggu kamar mandi itu.


Tiba-tiba saja pintu kamar mandi disebelahnya seperti ada yang memainkan.


Pintu itu terbuka dan tertutup sendiri.


Lama kelamaan Nayla semakin tak nyaman ia pun segera keluar dari toilet itu, saat ia hendak keluar ia mendengar suara wanita tertawa, seperti menertawakannya.


"Dasar hantu gak ada akhlak,orang lagi sedih malah dikerjain" maki Nayla kesal entah pada siapa.


Dari kejauhan Nayla melihat dua orang suster keluar sambil mendorong blankar yang berisi pasien yang sudah meninggal.


Jantung Nayla seakan berhenti berdetak saat blankar itu melintas disampingnya.


Air matanya sudah tak terbendung lagi mengalir begitu saja.


Rasa malu sudah tak ia perdulikan lagi, ia terus mengikuti blankar itu menuju ruang mayat yang terletak di belakang.


Adit yang melihat Nayla mengikuti suster Langsung mengejar Nayla.


"Nay ...Nayla kamu ngapain?" tanya Adit saat berhasil meraih tangan Nayla.


"Adit...mas Ryan..." ucap Nayla disela-sela tangisannya.


Adit merasa sedikit heran dengan yang Nayla ucapkan.


"Ryan..." ulang Adit


"Iya...itu mas Ryan"


"Mas..jangan tinggalin aku Mas" teriak Nayla berusaha melepaskan pegangan Adit.


"Nay..."


"Nayla..." Adit berusaha menahan tangan Nayla karena ia terus berusaha mengejar suster yang Adit lihat berjalan sendiri.


"Adit ....lepasin,aku mau lihat mas Ryan" sentak Nayla kesal.


"Nayla istighfar..."


"Itu suster lagi mau ke ruangan Radiologi" ucap Adit berusaha menyadarkan Nayla.

__ADS_1


Sesaat Nayla terdiam.


Ia berusaha melihat kembali kearah suster yang tadi ia lihat berjalan menuju ruang mayat.


Nayla sedikit heran jelas-jelas ia melihat tadi ada dua orang suster yang mendorong blankar berisi mayat.


"Tapi tadi ..." ucap Nayla masih bingung.


"Udah deh Nay, mungkin kamu lagi cape dan banyak pikiran" Adit mengajak Nayla kembali kedepan ruangan ICU.


Tanpa banyak berkata-kata Naylapun mengikuti Adit.


Setelah Nayla duduk dan sedikit tenang, Adit memberitahukan apa yang baru saja dokter sampaikan tentang kondisi Ryan.


Wajah Naylapun sedikit berseri-seri.


"Bener Dit kalau mas Ryan udah lewat masa kritisnya"ulang Nayla seakan tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.


Karena pasien butuh istirahat dan tidak boleh ditunggui akhirnya mereka pun kembali kepenginapan untuk istirahat.


Damra yang memang berada di penginapan sedikit heran melihat wajah Nayla yang sedikit sembab.


"Loe kenapa Nay?"


Nayla tak menjawab,ia langsung masuk kedalam kamar mandi dan membersihkan dirinya.


Karena penasaran Damrapun menelfon Adit,dan Aditpun menceritakan semuanya.


Setelah selesai membersihkan diri Naylapun langsung merebahkan dirinya disamping Damra dan tak lama kemudian ia pun tertidur.


Dalam tidurnya ia bermimpi melihat Ryan jalan bersama seorang wanita yang Nayla tak tahu siapa.


Mereka berjalan membelakangi Nayla sambil bergandengan tangan.


Nayla pun menangis, tiba-tiba dadanya terasa sesak hingga membuatnya tak bisa bernafas.


Damra yang kebetulan baru saja hendak kembali tidur langsung membangunkan Nayla saat melihat Nayla menangis sambil memanggil nama Ryan.


"Loe mimpi apa Nay?" tanya Damra begitu Nayla membuka mata dan langsung memeluk Damra sambil menangis.


Naylapun menceritakan tentang mimpinya pada Damra.


"Itu cuma mimpi Nay, mana mungkin Ryan cingkuh diakan sayang banget Ama loe" tutur Damra sambil mengelus punggung Nayla.


"Tapi kan Ra...." dengan suara tersendat-sendat Nayla menceritakan tentang kekhawatirannya.


"Udah lah Nay, itu cuma mimpi,mending sekarang tidur lagi,gw tungguin" ucap Damra sambil menaikan selimut Nayla.


Perlahan Naylapun memejamkan matanya dan kembali terlelap.


Hallo semua dah up lagi ni.


Jangan lupa tetap kasih dukungan buat author ya


Like,komen dan rate nya author tunggu.


kalau ada yang mau kasih gif atau vote juga boleh kok.


Salam manis

__ADS_1


Amellajj/author


__ADS_2