
\=\=\= Selamat Membaca \=\=\=
Malam itu perasaan Nayla begitu tak tenang begitu banyak juga sosok yang ia lihat dari yang berbentuk biasa sampai yang berbentuk mengerikan.
Ia juga melihat sosok pria bersorban dan anak kecil yang ia yakini adalah Vano kakanya selalu berada disisi Mamanya.
Sementara itu Tia yang sudah dua hari tinggal dirumahnya merasakan hal yang sama dengan Nayla,ia juga merasa malam ini begitu beda namun entahlah apa yang membuatnya beda,sebenarnya malam itu ia ingin tidur dirumah sakit menemani Nayla dan Mamanya namun karena kondisinya yang sedang hamil muda Andi tidak mengijinkannya.
Sementara itu dirumah sakit Nayla merasakan hawa yang berbeda,sebentar-sebentar bulu halus ditangan serta tengkuknya berdiri.
Ia menatap wajah Mamanya seakan enggan berpaling walau hanya sebentar.
tring...
tring...
suara besi penyangga tempat tidur diadu dengan tangan mama.
"Mama kenapa?"tanya Nayla bingung soalnya ia melihat wajah Mamanya nampak kesal.
"kenapa jamnya lama Nay,emang gak ada batrenya" gerutu Mama
"emang Mama mau kemana sih"tanya Nayla semakin penasaran
"Mama nunggu jam sembilan Nay,nanti ada yang mau jemput Mama"
dek...
tiba-tiba saja perasaan Nayla semakin tak karuan
"Nay...Mama nitip Papa yah,tolong urus dan jagain Papa" ucap Mama dengan suara seperti menahan tangis
"Mama ngomong apa sih,jangan yang aneh-aneh mikirnya Mah,Nay yakin Mama sembuh" ucap Nayla
"Mama mau pulang Nay"ucap Mama kemudian
"Iya,tadi kata dokter kartini Mama boleh pulang kalo udah bisa makan bubur" ucap Nayla menjelaskan
"Nay..jaga diri baik-baik ya,maafin Mama Nak belum bisa menuntaskan tugas Mama sama kamu" kini nampak ada air mata yang mengalir dari sudut mata Mama
"Mama ngomong apa sih,Nayla yang minta maaf karena belum bisa bikin Mama senang,maafin Nay ya Mah"ucap Nayla sambil mengecup tangan Mamanya kemudian entah kenapa ia ingin sekali mencium seluruh wajah Mamanya.
Setelah puas ia mencium wajah Mamanya ia kembali merapikan selimut yang dipakai Mamanya dan menariknya sampai batas dada.
"Nay...itu kok banyak anak-anak sih pake baju putih cantik-cantik semua sama ganteng"
Nayla tak begitu menanggapi ucapan Mamanya karena semenjak Mamanya sakit memang sering berkata yang aneh-aneh.
"udah deh Mah,udah mau subuh mending Mama istirahat"
"Nay Mama pup"ucap Mama
"ya udah pup aja nanti Nay bersihin"ucap Nayla
"kamu gak jijik,kan kamu orangnya jijian"ucap Mama meyakinkan
"gak lah,kan dulu juga waktu Nay kecil mama yang bersihin pup nya Nay, ya sekarang gantian"ucap Nayla yang memang sekarang sudah terbiasa.
Saat Nayla hendak membersihkan kotoran mamanya, Mamanya langsung menolak,Mamanya minta agar esok pagi saja dibersihkannya Naylapun mengiyakan.
Mama memejamkan matanya,begitupun Nayla dia merebahkan kepalanya dikasur sedangkan badannya masih duduk disebelah Mamanya,entahlah kenapa saat ini ia tak ingin jauh dari Mamanya.
__ADS_1
Baru sejenak ia terpejam suara azan subuh sudah berkumandang Naylapun segera menunaikan sholat Subuh setelah itu ia kembali terlelap disamping Mamanya.
Jam 6 lebih 10 menit Nayla terbangun,ia melihat Papanya dan aa sudah rapi.
"mau kemana Pah?"tanya Nayla bingung
"Papa mau keluar sebentar sama aa,kamu gak apa-apa Papa tinggal?"
Naylapun menganggukan kepalanya.
Melihat Mamanya masih terlelap Naylapun segera Mandi.
Hampir 10 menit ia mandi dan alangkah terkejutnya ia saat melihat Tia sudah duduk disofa.
"tumben Tia kamu pagi amat kesininya"tanya Nayla pada sang Adik
"gak tau kak perasaan Tia gak enak dari kemarin,maunya kesini terus"
"sama Tia perasaan kaka dari tadi malem juga gak enak"ucap Nayla,ia menceritakan apa yang diucapkan oleh Mamanya semalam.
"apa Mama...."Tia tak melanjutkan ucapannya,Nayla yang mengerti kemana arah ucapan adiknya itu langsung menyangkalnya
"jangan ngasal deh Tia,liat tuh Mama masih nafas"tunjuk Nayla kerah Mamanya yang masih tertidur,setidaknya itulah yang dilihat oleh kedua kaka beradik itu.
Jam 8 Adit sampai dirumah sakit,ia juga merasakan hal yang tidak nyaman namun ia tak berani bercerita pada Nayla,oleh karena itu pagi-pagi sekali ia langsung datang menemani Nayla begitupun dengan Andi.
"kak kamu kan belum sarapan,aku mau kekantin kaka mau makan apa"tanya Tia
"mau mie rebus aja pake cabe sama telor ya"pesan Nayla
Tia dan Andipun meninggalkan ruangan menuju kantin.
Adit menatap kearah Mama,ia sedikit lega saat melihat mata Mama terbuka,namun ia sedikit merasa aneh tatapan mata Mama seakan mengisyaratkan kata"selamat tinggal"
Nayla yang ternyata juga merasakan hal yang sama dengan Adit,ia memegang kaki Mamanya begitu dingin
dek...
tiba-tiba jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya,nampak wajahnya begitu khawatir
"ada apa Nay?"tanya Adit berpura-pura
"ini Dit,kok tubuh Mama dingin banget ya,trus keringetnya gak kaya biasanya"ungkap Nayla
"kita panggil suster aja biar gak penasaran yang"
Akhirnya Naylapun memencet tombol dan tak lama kemudian suster Nana masuk
"ada apa mbak Nay"tanyanya ramah
"ini sus,badan Mama kok dingin banget ya,sama keringetan gini" ucap Nayla
Suster Nana pun mengecek keadaan Mama Nay.
Entah ada apa suster Nana memanggil temannya lalu suster Ade kembali mengecek kondisi Mama Nayla.
"ada apa sus" Nayla mulai panik saat suster Ade menelpon dokter jaga
"sus..ada apa?"tanya Nayla lagi kini dengan air mata yang mulai mengalir dipipinya
Adit berusaha menahan tubuh Nayla yang gemetar.
__ADS_1
"tensinya 60/30 dok"terdengar samar suara kedua suster dan dokter yang kini nampak sibuk.
"Mas...atau mbak tolong dibimbing Mamanya"pinta salah satu suster agar membimbing Mama Nayla mengucap kalimat syahadat.
Terdengar suara Adit membimbing Mama mengucapkan "la illaha illallah"
Seketika itu juga Nayla langsung tersungkur disamping tempat tidur dimana Mamanya terbaring dengan mata yang semakin lama semakin hampir tertutup dengan mulut seperti mengikuti apa yang Adit ucapkan
"Mama... jangan tinggalin Nay"
"Mah...bangun ....bangun Mah"
"Nay gak mau sendirian bangun Mah"
Suar teriakan Nayla yang terdengar histeris membuat Bu Netty dan Yudi langsung masuk keruangan
Nampak Adit berusaha menahan tubuh Nayla yang memeluk erat tubuh Mamanya.
Alangkah shoknya Tia saat ia sampai Mamanya sudah tiada, Tia pun langsung terduduk lemas sambil menagis disamping tubuh Mamanya yang telah dinyatakan meninggal oleh dokter.
Saat suster sedang mencabut semua selang yang menempel ditubuh Mamanya Nayla langsung menahan tangan suster Ade
"jangan dicabut suster Mama Nay masih hidup tolong pasang lagi sus" pinta Nayla dengan air mata yang masih membanjiri wajahnya
"Nay...sabar sayang,ikhlasin kasian Mama kalo kamu begini"ucap Adit lembut sambil berusaha mendekap tubuh Nayla
"gak...Mama masih hidup Dit,aku liat mama masih nafas"
"Mama bangun ayo buka matanya mah"
"jangan tinggalin Nay mah,Nay mohon buka matanya...hu.hu...bangun mah" Nayla masih belum bisa terima kenyataan kalau mamanya telah tiada ia masih mengguncang-guncang tubuh Mamanya lalu memeluknya erat.
Papa Nayla yang tadi ditelp oleh Adit akhirnya sampai ia langsung masuk dan memeluk tubuh istrinya yang kini sudah terbujur kaku
"mah...maafin papa,kenapa mama gak nungguin papa" Papa Nayla ikut menangis disamping jasad istrinya ia berusaha tabah
Ia melihat kearah Nayla yang kini masih terisak dan terlihat sangat lemas.
"mama bangun mah...."
"Nay gak mau mama pergiii"
"maaaaaahhhhhh"
Suara Nayla hampir tak terdengar ia masih memeluk erat tubuh Mamanya.
A'Iwan yang baru saja tiba langsung berusaha menenangkan Nayla.
Entah ilmu apa yang dipakai oleh aa akhirnya Nayla mau melepaskan pelukannya dan membiarkan kedua orang suster melepas semua peralatan yang masih menempel dan membersihkan Jasad Mama Nayla
Tiba-tiba Nayla ingat semalam Mamanya pup dan Saat membersihkan kotorannya terlihat begitu hitam pekat.
Hampir 2 jam Papa mengurus semua administrasi perawatan istrinya maklum satu bulan lebih Mamanya dirawat dirumah sakit inu.
Begitu menerima surat keterangan kematian dan melihat jam wafatnya Nayla baru sadar dengan semua ucapan Mamanya semalam ternyata dijam 9 pagi adalah jam wafatnya Mama dan yang dimaksud ingin pulang ternyata pulang kepada penciptanya dan mungkin anak-anak yang cantik adalah para penolong Mama nantinya disana soalnya selama ini Mama suka sekali memberi sumbangan kepanti asuhan dan Mama juga mempunyai beberapa anak angkat.
Setelah selesai mereka pun membawa jasad Mama Nayla pulang dengan Ambulance Nayla yang tak ingin jauh dari Mamanya ikut diambulance ditemani oleh Adit dan a'Iwan sedangkan Tia dan suaminya ikut dimobil Papa.
Haii para reader aku mohon maaf ya up nya rada telat soalnya harus nyiapin mental dulu maklum aku tuh baperan (he..he jadi curhat) gampang nangis
Terima kasih buat yang sudah memberi dukungan buat author dan jangan lupa tap jempolnya ya dan juga rate,vote dan juga kritsarnya authorr tunggu
__ADS_1
salam maniss
Amellajj/author