
HAPPY READING
Beberapa hari sejak Ardina sakit , Rania merasa begitu kesepian hingga ia pun setelah pulang sekolah langsung kerumah sakit dan akan pulang saat hati mulai malam dan itu pun bersama Radit.
"Ar loe makan yang banyak dong biar cepet sehat dan pulang, gak bosen apa tiduran terus" ucap Rania sambil mengupas apel dan memotongnya kecil-kecil.
"Ya pasti bosen kah tapi mau gimana lagi dokternya belum ijinin gw pulang" jawab Ardina sambil mengunyah buah apel yang tadi dikupas oleh Rania.
Nayla begitu bahagia melihat kedua putrinya saling menyayangi walaupun Ardina tidak lahir dari rahimnya namun Rania begitu menyayanginya begitu juga dengan Ardina.
"Mah..besok kan libur, mama pulang aja biar Rania yang jagain Ar"
"Mama sih gak yakin kalo kamu yang jagain Ran"
"Dih mama kok begitu, Rania bisa kok jagain Ar, dan juga kan ada aa Radit yang ikut jagain"ucap Rania menyakinkan mamanya.
"Yakin ni mau jagain" tanya Nayla memastikan
"Yakin mah" jawab Rania
Akhirnya Nayla pun malam itu pulang kerumahnya bersama Adit.
Malam itu Nayla tidak dapat tidur dengan nyenyak, ia sedikit khawatir tentang anak-anaknya.
Bukannya tidak percaya dengan Rania namun beberapa kejadian diakibatkan oleh sifat jahil dan juga rasa ingin tahu yang Rania miliki.
Sementara itu dirumah sakit Rania masih terjaga, sedangkan Ardina sudah tertidur pulas karena efek obat yang ia minum.
Sedangkan Radit masih sibuk dengan ponselnya.
"Aa, Ran leper kayanya dibawah ada tukang martabak deh"
"Terus...." tanya Radit pura-pura tidak mengerti dengan ucapan Rania
"Dih ..Ran mau martabak aa"
"Aa maukah beliin" pinta Rania sambil tersenyum.
"Aa udah pw banget ini Ran"
"Ya.... padahal Ran mau banget Aa" Raniapun memasang muka melas agar Radit mau membelikannya martabak.
Karena tidak tega melihat adiknya kelaparan akhirnya Raditpun mau membelikannya martabak.
Sambil menunggu Radit datang Rania pun memainkan game yang ada di ponselnya.
Beberapa saat setelah Radit pergi, tanpa Rania sadari pintu kamar mandi bergerak sendiri.
Awalnya ia tidak sadar namun saat suasana sepi baru lah suara derit pintu yang bergerak terdengar.
Kreeek...
kreeekkk...
Rania yang takut namun penasaran akhirnya memberanikan diri untuk melihat kebelakang.
__ADS_1
Saat ia menoleh kebelakang tidak terlihat apa-apa.
Namun saat ia kembali fokus dengan ponselnya ia kembali mendengar suara pintu seperti sedang dimainkan.
Ia pun mencoba melihat melalui layar ponselnya.
Saat itulah ia melihat sosok anak kecil sedang bermain didepan pintu kamar mandi.
Anak kecil itu sepertinya sadar jika Rania sedang melihat kearahnya .
Ia pun melihat kearah Rania sambil tersenyum.
Rania yang terkejut langsung melemparkan ponselnya ke kasur dan mengenai Ardina.
Ardina yang sedang tertidur langsung terbangun saat sebuah benda mengenai lengannya.
"Aduhhh ini apa sih" keluh Ardina saat merasakan lengannya sedikit sakit.
"Maaf Ar hp gw jatuh pas kena tangan loe" ucap Rania sambil nyengir .
"Sakit tau Ran, tangan ini lagi bengkak" Ardina mengelus lengannya yang masih terasa nyut-nyutan.
"Maaf sini gw elus-elus" Rania pun langsung mengelus tangan Ardina pelan.
Cklekkkkk
Suka pintu dibuka dari luar.
Rania yang masih takut langsung menoleh saat ia mendengar suara pintu dibuka.
"Loe kenapa Ran, segitu aja kaget" tanya Ardina heran.
"He...he gak apa-apa Ar, gw cuma laper aja nungguin aa yang beli martabak lama banget" jawab Rania berbohong.
"Ahh lebay banget sih Ran"
"Ni martabaknya yang biasa" ucap Radit sambil meletakkan martabak yang ia beli diatas meja.
Tanpa menunggu lagi Rania pun langsung memakan beberapa potong martabak.
Radit hanya tersenyum, ia tau jika saat ini Rania pasti sudah melihat sosok anak kecil itu.
Setelah kenyang Rania pun tertidur dengan hanya beralaskan karpet tipis dan selimut.
Radit yang tidak tega melihat Rania langsung menyelimuti Rania dengan selimut dan jaketnya.
Pagi pun tiba Rania terbangun saat ia merasakan ada sesuatu yang dingin menyentuh tangannya.
Saat ia membuka mata alangkah terkejutnya ia saat melihat sosok anak kecil itu berada disebelahnya.
Wajah pucatnya tepat berada didepannya.
Rania yang terkejut hendak langsung berdiri namun ia lupa jika saat ini ia sedang berada di bawah tempat tidur Ardina.
Hingga ia pun terbentur pinggiran tempat tidur.
__ADS_1
"Aduhhh sakit , benjol deh gw" Rania mengelus kepalanya yang teri panas dan sedikit benjol.
Radit yang ternyata sudah bangun sejak tadi hanya tertawa melihat tingkah Rania.
"Makanya pelan-pelan kalo mau bangun, disamain kaya dirumah aja Ran" ucap nya sambil tertawa.
"Aa..emang aa tadi gak liat apa yang bikin Ran keget?" tanya Rania sedikit kesal
"Liat, tapi aa biasa aja orang dia juga gak ngapa-ngapain" jawab Radit santai.
Ardina hanya tersenyum mendengar percakapan keduanya.
Jam 7 lebih mama Nay telah datang kerumah sakit dan meminta agar Rania pulang dan istirahat dirumah.
Karena enggan berada dirumah sendirian Rania pun akhirnya seharian berada dirumah sakit, beruntung hari ini Ardina sudah di ijinkan pulang.
Setelah selesai mengurus administrasi mereka pun pulang.
Papa Adit terlihat begitu repot karena menggendong Ardina masuk kedalam kamarnya lalu kembali lagi untuk mengambil barang-barang dan meletakkannya di dalam rumah.
"Alhamdulillah akhirnya bisa tidur nyaman dirumah" ucap Adit
Memang selama di rumah sakit Adit tidak bisa tidur enak, badannya terasa begitu nyeri saat bangun pagi.
Hari Senin pun tiba, Karena kondisi Ardina yang masih dalam masa pemulihan dengan terpaksa hari ini Rania masih sendirian di sekolah.
"Ran..gimana kondisi ayang gw, kok masih belum masuk sih?" Rahmat tiba-tiba saja datang dan duduk disebelah Rania.
"Ayank, sejak kapan loe jadian sama saudara gw?" tanya Rania ketus.
"Loe kenapa sih kalo sama gw galak banget Ran, jangan-jangan loe suka ya sama gw dan loe cemburu kalo gw nanya soal Ardina" ucap Rahmat dengan PD nya.
Rania langsung tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan Rahmat.
Fahri yang saat itu sedang membaca merasa terusik mendengar suara tertawa Rania yang begitu nyaring.
"Eh kalo ketewa itu gak usah kencang-kencang berisik tau ganggu orang juga" tegur Fahri .
"Sorry, gw kira loe gak punya kuping" ucap Rania dan berhasil membuat cowo yang bernama Fahri menatapnya tajam.
"Apa liat-liat" Rania balik menatap Fahri dengan tetap tidak sukanya.
Langit terlihat sudah sangat gelap saat Rania pulang sekolah.
Ia menunggu kedatangan Radit di halte sekolah.
Namun setelah menunggu hampir kima belas menit Radit belum juga tiba.
Tetes-tetes air hujan mulai turun dari yang awalnya hanya kecil-kecil hingga akhirnya hujan turun dengan sangat derasnya.
Sementara itu Radit masih berada di tempat parkir motor gedung sebelah.
Ban motor nya kempes hingga ia pun menuju bengkel yang berada didekat sekolah.
Namun tiba-tiba saja hujan turun dengan sangat derasnya.
__ADS_1
Dan saat ia ingin menelfon Rania ia baru sadar jika ponselnya kehabisan daya dan mati total.