TERBUKANYA MATA BATIN

TERBUKANYA MATA BATIN
Bab 252


__ADS_3

♣♣♣Selamat Membaca♣♣♣


Setelah bermimpi di datangin Ina berkali-kali akhirnya Nayla setuju membantunya.


Siang harinya seperti biasa Nayla kesalon Damra, saat salon sepi pengunjung Nayla menceritakan semua minpinya pada Damra.


Sesuai saran dari Damra Naylapun mengirim chat pada Adit dan memberitahukan jika sosok Ina minta dicabut benda yang masih terbenam di mata dan di bibirnya.


Setelah mengirim chat pada Adit Naylapun memasukan kembali ponselnya kesaku celananya.


"Kenape lakilu gak bales si Nay, beneran parah ni orang masih idup aja udah masang susuk udah metong juga masih aja gamgguin laki orang, lagi juga emang lakilu mau apa ama...ha......nntuuu" ucap Damra namun pada akhir kalimat ia melihat kearah Nayla.


"Loe gak apa-apa Nay?"tanya Damra yang melihat mata Nayla mulai berkaca-kaca.


"Gw butuh pelampiasan Ra"


"Loe mau ngapain" tanya Damra bingung


"Jajan baso yuk trus pake sambelnya semangkok sambel kita tuangin semua"


"Gw yang bayarin, tar sambelnya juga kita bayar" pinta Nayla sambil melihat Damra


"Ada pilihan lain gak selain itu,misalnya makan mie ayam semangkok, es campur semangkok tapi sambelnya normal 2 sendok aja" tawar Damra


"waaaaa gak mau Ra..itu gak berasa pedesnya" tolak Nayla sambil menangis


"Ya jangan semangkok juga kali Nay sambelnya tar gw ambeien kan berabe" ucap Damra pelan.


"Ya udah beli sofel aja sana sama es kelapa rasa alpuket" titah Nayla.


"Kalo es kelapa mah mint aja ama mas loe Nay tuh si Parjo" Damra langsung keluar dan membeli apa yang Nayla pinta.


Ruangan itu kini terasa sepi, ingatan Nayla kembali berputar pada saat ia kembali bertemu dengan Adit.


Saat itu Ia tak tahu jika Adit punya usaha fitnes di samping salon tempatnya bekerja.


Ia ingat waktu itu Adit berpura-pura menjadi pacar Damra.


"Kenapa kamu jahat Ditt..."


"Kenapa kamu gak ngerasa kehilangan aku.."


"Kenapa waktu itu kamu nolongin aku jika di hati kamu masih ada dia hu..hu kamu jahattt"tangis Nayla kembali pecah.


Hati terasa begitu sakit apalagi jika ia ingat ia harus kehilangan janin yang hanya beberapa minggu hadir dalam rahimnya.


Mata Nayla melihat sebuah gitar berada diatas lemari, dengan menaiki sebuah bangku plastik ia pun mengambil gitar itu.


Nayla yang pada dasarnya bisa bermain gitar mulai memetiknya.


"*Kuhampiri jalan yang kita lewati


setiap hari kita disini


kumenanti hadirmu tuk kembali


hanya kenangan yang tersisa disini


namun sekarang kau telah pergi


dan kuyakin kau tak akan kembali


Mungkin hari ini Hari esok atau nanti


berjuta memori yang terpatri dalam hati ini


mungkin hari ini hari esok atau nanti


tak lagi saling menyapa


meski kumasih mengharapkanmu*


Judul : Mungkin hari ini,hari esok atau nanti


song by : Try Suaka feat Nabila.


Nayla menghapus air mata yang mengalir deras di pipinya.


Damra yang baru masuk langsung kaget dan duduk di samping Nayla.


"Nay..kamu kenapa sihh" Damra langsung meletakan makanan yang di belinya dan memeluk erat Nayla.


"Udah Nay, yakin aja kalo dia masih jodoh loe bagaimanapun dia pasti balik ama loe" Damra mengelus punggung Nayla.


"Aku cuma sakit Ra, dia bener gak perduli ama aku lagi hu...hu"


"Adit jahatt Ra..aku benci ama dia" air mata Nayla membasahi baju bagian belakang Damra.


"Udahlah dia aja gak inget ama loe, ngapain juga loe inget-inget dia" ucap Damra kesal.

__ADS_1


"Met siang menjelang sore" seorang pria membuka pintu.


Namun pandanganya langsung melihat pada dua orang wanita yang duduk disofa sambil berpelukan.


Nayla dan Damra langsung melihat kearah pintu.


"Maaf kalo ganggu" Rian yang hendak masuk memutar kembali kakinya hendak keluar.


"Rian,..masuk aja"


"Gak ganggu ni gw" ucap Rian yang merasa tak enak hati.


"Gak..masuk aja"ucap Nayla sambil menghapus sisa air mata dengan punggung tangannya.


"Kamu abis nangis Nay ?" tanya Rian sambil menatap wajah Nayla.


"Gak tadi aku abis cuci muka Yan" sangkal Nayla


"Aku gak bodoh Nay.."


"Kalo udah tau kenapa nanya" sahut Nayla kesal apa lagi saat melihat Rian menyeruput es kalapa muda miliknya.


"Ha.... itu punya aku Yannn, ganti pokoknya gak mau tauu" rengek Nayla seperti anak kecil.


"cup...cup..cup..jangan nangis iya tar aku ganti" ucap Rian yang panik karena tiba-tiba Nayla merengek seperti anak kecil.


"Astaga Nay..." Rian langsung keluar membeli kembali es kelapa.


Rianpun masuk dengan membawa 3 bungkus es kelapa muda rasa alpuket plus jus alpuket sebagai permohonan maaf pada Nayla.


"Waaah jus alpukett" Nayla langsung menyeruput jus yang baru saja Rian letakan diatas meja.


Damra dan Rian hanya tersenyum melihat Nayla.


Dreeettt ..


getar suara ponsel Nayla.


Naylapun merogoh saku celananya dan melihat chat yang masuk.


"Akhirnya di bales juga, paling cuma mau nanyain soal Ina" guman Nayla yang dengan malas membuka kunci ponselnya.


"Adit ya Nay, bilang apa tuh anak"tanya Damra penasaran.


Naylapun memperlihatkan isi chat yang ia terima dari Adit.


"kamu tau dari mana kalo dia pakai susuk Nay?"


Nayla :


"Terserah mau percaya apa gak, dia minta tolong sama aku buat kasih tau ke kamu"


Setelah membalas chat Adit Naylapun menonaktifkan ponselnya.


"Nayla lagi butuh hiburan Yan, ajak jalan tuh" ucap Damra pada Rian.


"Ha..apa iya Nay, ya udah aku sih mau aja kalo jalan ama kamu" ucap Rian senang.


"Mau kemana?" lanjutnya


"Dihh siapa yang minta diajak jalan" sangkal Nayla dengan wajah yang sedikit merona karena malu.


"Kan Damra yang minta Yan bukan aku"


"Berdua aja kalo gitu sih" ucap Rian senang.


"Ya udah ayo mumpung masih sore, gw tutup dah salonnya" ucap Damra dengan semangat.


"Aku pulang dulu kalo gitu ambil mobil dulu" Rian pun dengan semangat karena akan jalan dengan Nayla.


Damra pun segera merapikan salonnya dan memasang tulisan closed dipintu masuk.


"kamu seneng amat Ra mau jalan ama Rian"goda Nayla


"Dihh bukan gitu Nay..gw butuh piknik tau, gw mandi dulu ya" Damrapun segera naik keatas.


Nayla merebahkan diri disofa, tatapan matanya kosong.


Hatinya terasa sakit saat menerima kenyataan Adit kini tak perduli lagi padanya.


"Aku gak boleh kaya gini, bener kata Damra aku gak boleh lemah, dia aja bisa gak perduli sama aku kenapa juga aku harus mikirin dia mulu" batin Nayla.


"Hidup teruss berputar aku hak boleh terus-terusan kaya gini" Nayla menyemangati dirinya sendiri.


Tak lama kemudian Damrapun turun dari tangga dan sudah rapi.


"Nay..cuci muka gih biar segeran dikit" Damra mendorong tubuh Nayla kearah kamar mandi.


Setelah Nayla selesai cuci muka ia pun memaksa Nayla duduk dibangku dan ia pun memoles sedikit makeup di wajah Nayla.

__ADS_1


"Nahh kan gini segeran dikit" ucap Damra saat melihat hasil karyanya diwajah Nayla.


"Ngapain sih Ra pake dandan segala" Nayla yang memang tak suka dandan sedikit protes


"Gak apa-apa Nay biar segeran aja"


"Ayo tuh Rian udah sampe" Damra menarik tangan Nayla dan ia pun mengunci pintu salon.


Damra memaksa Nayla duduk didepan sementara ia dibangku tengah.


"Kamu manis banget Nay" puji Rian saat Nayla sudah duduk manis disampingnya.


"Makasih pujiannya" jawab Nayla


Eehhmmm


"Yang belakang mau di puji juga"goda Rian sambil melirik kaca tengah mobil


"Gw sih gak perlu di puji emang udah cantik dari lahir" ucap Damra sambil tertawa.


"Iya tau Ra, tapi buat gw mah tetep aja yang paling manis itu yang disamping gw ini"


Wajah Nayla semakin memerah mendengar gombalan Rian.


Akhirnya merekapun menuju sebuah mall terbesar yang ada di kota itu.


Rian mengajak mereka main di arena bermain.


Nayla langsung menuju tempat bola basket mereka sudah baris bertiga.


"Lomba ya, yang kalah harus mau disuruh ya" tantang Damra


"Iya siapa takut" sahut Rian


"Emm aku anak bawang aja ya" timpal Nayla


"Dihh mana ada anak bawang segede gini, ada juga loe mah udah bisa bikin anak bukannya anak bawang Nay" Damra yang memang selalu ceplas ceplos jika berbicara membuat wajah Nayla memerah.


"ya udah kalo Nay kalah aku aja yang di hukum buat gantinya" Sela Rian yang membuat kedua wanita itu langsung melihat kearahnya.


"Deal" jawab Damra cepat


Akhirnya merekapun berlomba sampai akhirnya Damra yang kalah.


"Ra aku mau es crime yang di bawah sana ya" tunjuk Nayla kearah lantai satu


"Nay...gak kurang jauh apa beli esnya" protes Damra


"Ayolahhh Ra aku mah yang rasa coklat"rengek Nayla


"Ishh ngerjain ge loe Nay, untung gw udah terlanjur sayang ama loe" ucap Damra sambil berjalan menuju escalator turun.


Kini tinggal Rian dan Nayla, ada rasa canggung apa lagi saat Rian memandanginya.


"Jangan gitu dong liat nya aku malu" celetuk Nayla namun hanya di balas senyuman oleh Rian.


"Nay..seandainya kamu pisah sama Adit aku masih mau kok sama kamu" ucap Rian yang berhasil membuat jantung Nayla berdetak cepat.


"Ihh kamu mah jahat Rian, kamu doain aku ya" tanpa sadar Nayla memukul.bahu Rian.


Bukannya menghindar tapi Rian malah menangkap tangan Nayla.


"Aku serius Nay, aku sakit saat liat kamu nangis tadi" ucap Rian serius sambil menggengam tangan Nayla.


Sejenak Nayla seakan membeku sampai akhirnya...


"Pantes ya gw disuruh beli es nya yang jauh ternyata mau pegang-pegang ya" suara Damra yang kencang berhasil membuat Nayla dan Rian terkejut karena katahuan oleh Damra.


Nayla tersenyum malu, berbeda dengan Rian yang langsung merangkul bahu Nayla.


"Kenapa? iri ya, makanya tunangan loe jangan disuruh kerja mulu" sahut Rian sambil memakan es crim miliknya.


Nayla melirik bahunya, lalu melihat kearah Rian


"Apa sayang, mau aku suapin es nya" tanya Rian yang pura-pura tak mengerti arti tatapan Nayla.


Nayla membelalakan matanya " Jangan gitu kamu makin cantik tau" Rian mengedipkan sebelah matanya kearah Nayla.


Damra tertawa melihat Rian yang sedang berusaha menggombal pada sahabatnya.


Haii semua udah dulu ya upnya, lanjutt besok lagi.


Part ini udah lebih panjang ya dari yang biasanya.


Maaf dua hari yang lalu sistem sedang masalah hampir semua novel gak bisa up dan alhamdulillah kemarin sudah mulai seperti biasa.


Jangan lupa tap tanda Like,Vote dan juga komennya.


Amellajj/authorr

__ADS_1


__ADS_2