
Selamat Membaca
Tak berapa lama setelah menerima telpon yang Nayla yakin dari Dina, Adit pun pamit keluar pada Nayla.
"Sayang aku pergi dulu ya sebentar, buat makan siang kamu aku udah pesen sama pak Maman sekakalian buat jagain kamu" ucap Adit sambil mengecup kepala Nayla.
"Kenapa gak pulang aja sih Dit, aku mau dirumah aja, gak mau disini" pinta Nayla.
"Gak yang, aku masih mau berdua sama kamu, gak ada Damra dan gak ada Ryan, cuma aku dan kamu" ucap Adit yang kembali duduk disamping Nayla.
"Trus kamu mau kemana? ketemu Dina kan? dari pada aku disini lebih baik aku pulang Adit" sentak Nayla.
"Bukan kita berdua namanya tapi kita bertiga sama selingkuhan kamu" lanjut Nayla kesal.
"Nayla jangan mulai ya sayang, aku gak mau berdebat sama kamu" ucap Adit yang akhirnya mengalah dan berjalan masuk kedalam kamar.
Nayla yang ditinggalkan sendiri nampak begitu kesal.
"Sayang aku berangkat dulu" Aditpun berlalu dan berhenti saat berpapasan dengan pak Maman.
Entah apa yang mereka bicarakan Nayla nampak mengamati dengan serius dari kejauhan.
Tak lama kemudian terdengar suara mesin mobil menyala dan tak lama kemudian menjauh dan akhirnya tar terdengar lagi.
Nayla pun langsung masuk kedalam kamar.
Ia duduk diatas kasur sambil berpikir kenapa Adit membawanya ke tempat yang begitu jauh bahkan tak bertetangga.
Nayla pun membuka jendela kamarnya lebar-lebar sambil mengamati keadaan sekitarnya.
Hanya hamparan kebun teh yang terlihat.
Nayla pun kembali duduk diatas kasur.
Ia mencoba mengingat-ingat No telpon Damra atau Ryan.
"Aahh kenapa bisa gak inget sih" Nayla yang kesal melemparkan bantal kelantai.
Tiba-tiba ia ingat ada sisa uang semalam disaku celana panjangnya.
Nayla pun segera ke kamar mandi dan mencari celana yang ia pakai tadi malam.
Setelah menemukan apa yang ia cari, Nayla pun segera ke kamar dan berganti pakaian.
Ia memakai celana dan kaos yang ia beli tadi malam, lalu memasukan uangnya kedalam saku celananya.
Disalon Damra nampak bingung memikirkan Nayla yang tak ada kabarnya.
Ia pun langsung menghubungi Adit untuk bertanya tentang Nayla.
Berkali-kali Damra menelpon Adit namun tak ada satupun yang diangkat, begitu pun dengan chat tak ada yang dibalas.
Damrapun semakin merasa khawatir akhirnya ia pun menghubungi Ryan.
Tak perlu menunggu lama Ryan pun datang.
Damra mecerita semua pad Ryan.
"Jangan khawatir Ra, Adit itu kan suaminya, gak akan diapa-apain lah istrinya, apa lagi kan Adit sayang banget sama Nayla" ujar Ryan yang sebenarnya juga sangat khawatir.
Entahlah sejak semalam perasaanya sangat tak enak, pikirannya selalu pada Nayla.
Sementara itu didalam mobil berkali-kali ponsel Adit berbunyi namun ketika melihat nama Damra ia pun langsung mengacuhkan nya.
Aditpun sampai ditempat ia dan Dina janjian.
Setelah bertemu merekapun langsung pergi menuju suatu tempat.
Begitu tiba disebuah rumah mereka pun langsung turun dan masuk.
Ternyata rumah yang hanya berukuran type 21/60 itu adalah rumah orang tua Dina.
Nampak didalam kamar terbaring seorang wanita tua yang sepertinya sedang sakit.
Aditpun duduk disisi tempat tidur lalu mencium tangan perempuan tua tadi.
"Ibu maaf Adit baru sempat kesini liat ibu" ucap Adit pelan.
wanita tua itu tak bisa berbicara, ia hanya memberikan isyarat melalui anggukan kepalanya.
Sementara itu di Villa Nayla nampak kesal karena pak Maman tak mengijinkannya keluar pintu.
Nayla hanya diijinkan berputar-putar didalam rumah saja.
Kerena kesal akhirnya Naylapun memilih mengurung diri di kamarnya.
Didalam kamar Nayla hanya duduk diatas kasur sambil berusaha mengingat-ingat nomor telepon Damra dan Ryan.
Karena bosan ia pun tertidur.
__ADS_1
Pak Maman yang melihat Nayla tertidur akhirnya bisa bernafas lega karena ia bisa beristirahat.
Hari menjelang sore saat Adit pulang dari rumah orang tua Dina.
Nayla yang kesal karena Adit tidak juga pulang akhirnya kembali mengurung dirinya dikamar sambil mencari cara untuk keluar dari rumah itu.
Akhirnya Naylapun menemukan ide, ia pun mencari pak Maman.
"Pakk anterin saya beli pembalut ya,tapi saya gak ada uang gimana" ucap Nayla berbohong.
"Neng tunggu disini aja, biar saya yang beli" ucap Pak Maman.
Akhirnya ide Naylapun gagal, ia pun kembali masuk kedalam kamar.
Saat didalam kamar ia kembali melihat sosok Adit yang keluar dari kamar mandi lalu membuka pintu kamar dan keluar.
Nayla pun mengikuti sosok itu namun sialnya begitu ia keluar ia tak melihat sosok itu.
Ckkekkk
Terdengar suara pintu dibuka dari luar, Nayla pun langsung bersembunyi dibalik bangku.
Dari sela-sela bangku Nayla bisa melihat pak Maman masuk dengan membawa pesanannya.
Nayla yang tau jika usahanya akan sia-sia jika kabur akhirnya memutuskan untuk membujuk Adit agar mau pulang.
Sambil memakan gorengan Nayla banyak bertanya pada pak Maman.
Dari sini lah Nayla tahu jika Adit dan teman-teman nya sering ke villa itu dulu.
Malam pun tiba Adit belum juga pulang, padahal ia bilang hanya sebentar.
Hari ini Nayla berkali-kali melihat sosok yang menyerupai Adit, karena Nayla sudah tau ia pun mulai tidak penasaran lagi dengan sosok itu.
Tanpa sepengetahuan Nayla Adit sudah tiba namu ia sengaja tidak langsung menemui Nayla melainkan mencari Pak Maman untuk bertanya soal Nayla.
Nayla yang hendak keruang tamu sangat terkejut saat melihat Adit sedang berdiri.
Nayla pun langsung kembali ke kamar dan mengambil guling untuk memukul sosok yang menyerupai Adit.
Cklekk
suara pintu kamar dibuka dari luar.
Nayla yang berada dibalik pintu langsung memukul Adit dengan guling berkali-kali hingga Aditpun berteriak kesakitan.
Adit yang kesakitan karena pukulan dari Nayla akhirnya berhasil mendekap Nayla.
"Kamu bukan Adit, kamu cuma hantu yang menyerupai Adit" ucap Nayla yang terus memukuli dada Adit.
Adit yang sedikit kewalahan akhirnya berhasil memegang kedua tangan Nayla.
"Ini aku Nay, coba liat trus pegang, kalo hantu mana bisa dipegang" ucap Adit setelah berhasil menenangkan Nayla.
Malam itu Nayla membujuk Adit agar mau pulang besok pagi dan Aditpun setuju.
Pagi-pagi sekali mereka pun meninggalkan villa dan kembali ke kota "B".
Nayla yang meminta diantar ke salon dan Aditpun menyetujui.
"Assalamualaikum Damraaaa"teriak Nayla begitu keluar dari dalam mobil.
Begitu pun Damra sedikit terkejut saat melihat luka di kepala Nayla.
"wa'alaikum salam, kenapa kepala loe Nay" tanya Damra yang langsung mengintrogasi Nayla.
Adit pun hanya diam tak menjawab, ia malah masuk kedalam tempat usahanya.
Damra langsung menutup salon nya dan mengajak Nayla beristirahat di kamarnya.
Didalam kamar Nayla menceritakan semuanya yang ia lakukan dengan Adit.
"Ih kurang ajar juga ya Adit, pengen deh gw tonjok tuh cowok" maki Damra kesal.
"Dah lah gak usah urusin dia Ra, besok kamu bisa kan anterin aku?" tanya Nayla memastikan jika kedua temannya itu bisa mendampinginya saat ke pengadilan Agama untuk konseling.
Nayla sudah bertekad tidak akan tinggal serumah lagi dengan Adit.
Ia pun langsung meminta Damra untuk mengantarnya pulang kerumah.
Sementara itu Adit nampak begitu bingung disatu sisi ia berjanji pada orang tua Dina akan segera menikahi Dina agar bisa dapat selalu menjaganya.
Disisi lain ia takut kehilangan Nayla karena sampai saat ini ia masih sangat mencintai istrinya itu.
AAGGGHHH
Teriak Adit meluapkan kemarahannya.
Hari sudah larut malam saat Adit sampai dirumahnya.
__ADS_1
Ia sedikit heran karena melihat semua pakaiannya ada didepan kamar.
"Nayla ini apa maksudnya?" tanya Adit dari depan pintu.
ckleekk
Pintu kamarpun dibuka.
"Aku mau mulai saat ini kita tinggal terpisah aja Dit, kamu kan punya rumah gak jauh dari sini" ujar Nayla sambil berusaha menahan rasa sedih.
"Tapi Nay.. aku gak mau pisah sama kamu" ucap Adit.
"tapi aku juga udah gak mau disakitin sama kamu lagi Adit" balas Nayla.
"Aku mau kamu segera tanda tangan surat perceraian kita Dit" pinta Nayla.
"Nay..."
"Aku tau kamu berat melepas Dina kan, untuk itu aku yang ngalah Adit, dan aku mohon jangan persulit semuanya" ucap Nayla yang langsung kembali masuk dan menutup pintu.
Dibalik pintu Nayla menangis namun masih ia tahan agar suara tangisannya tak sampai didengar oleh Adit.
Adit merasa serba salah akhirya ia pun menandatangani berkas perceraian mereka.
Setelah kejadian itu mereka pun tinggal berpisah, Nayla tinggal dirumah peninggalan orang tuanya sedangkan Adit tinggal dirumah yang ia beli saat mereka masih pacaran dulu.
Sore itu Nayla dan Damra janjian untuk bertemu dengan Susi disebuah Mall yang ada di kota B.
Setelah mereka bertiga menemukan apa yang mereka cari akhirya mereka pun memutuskan untuk istirahat sejenak sambil mengisi perut.
Saat itu suasana lumayan ramai, tanpa sengaja Nayla melihat Adit dan Dina yang sedang makan.
Nayla langsung berbisik pada Damra memberitahu jika ada Adit disana.
Susi yang memang belum tahu permasalahan antara Nayla dan Adit merasa curiga melihat gerak-gerik Nayla dan Damra.
Ia pun mengikuti arah pandangan mata Damra dan akhirya ia pun langsung tanpa sadar berteriak.
"Nayla.. bukannya itu laki lu, ama siapa dia?" tanya Susi dengan nada marah.
"Emm itu .." belum sempat Nayla berbicara ternyata Susi sudah menghapiri Adit dan berdiri diantara Dina dan Adit.
"Adit..."
"Ini siapa?" terima Susi sambil menatap tajam kearah Adit lalu menatap Dina.
"Mbak ..."
"Mbak ngapain makan bareng sama suaminya temen saya" tanya Susi dengan nada sangat marah.
"Apa maksudnya ya mbak, ini itu tunangan saya dan sebentar lagi kita akan menikah" balas Dina tak mau kalah.
"Apa maksudnya ini Adit, loe mau duain Nayla, dasar laki-laki kurang ajar loe, mana janjian loe sama Almarhumah Mamanya Nayla" teriak Susi hingga semua mata pengunjung melihat kearah mereka.
Nayla hanya menangis ditempatnya duduk.
"Udah Ra..panggil Susi kita pulang aja" pinta Nayla sambil terus terisak.
Dina akhirya tau jika Adit sudah menikah dan ternyata Nayla adalah istri dari Adit, merasa begitu sakit hati karena sudah dibohongi oleh Adit.
Ia pun yang merasa malu langsung berlalu meninggalkan Adit sendiri.
Damra langsung menarik Susi dan membawanya keluar dari tempat makan siapa saji itu.
Susi yang masih begitu emosi nampak berusaha menahan amarahnya saat melihat Nayla yang masih berlinang air mata.
"Maafin gw Nayla..."
"Kenapa loe gak cerita kalo lakilu selingkuh" ucap Susi langsung memeluk Nayla dan ikut menangis.
Tak lama kemudian Ryan pun datang.
Didalam mobil Nayla menceritakan semua yang ia alami pada Susi.
"Bagus dah loe cerei ama dia, dasar kadal buntung bisa-bisa nya dia selingkuh tiada akhir" Susi terus saja memaki Adit.
Ryan yang mendengar semua sumpah serapah dari Susi hanya tersenyum.
**Hallo semua maafin Author ya yang baru bisa up lagi.
Karena kondisi Author yang belum terlalu fit.
Mohon maaf juga jika banyak typo.
Jangan lupa dukungannya buat Author biar lebih semangat.
Terima kasih biar semua yang sudah komen.
Salam Manisss
__ADS_1
Amellajj/Author**