TERBUKANYA MATA BATIN

TERBUKANYA MATA BATIN
bab 422


__ADS_3

SELAMAT MEMBACA


"Ran...besok ikut kerumah gw ya,ya itung-itung lihat rumah baru kita aja"ajak Fahri


"gak ah gw males Ri" tolak Rania


"gw gak mau tau pokoknya besok gw jemput loe,kita nginep"


"idihh bisanya maksa,kalo gw dibolehin ya ama mama,kalo gak ya udah loe jangan maksa"jawab Rania


"mau boleh apa gak ama mama Nay intinya loe harus ikut gw,kalo loe gak mau gw culik sekalian trus gw bawa ke Kalimantan"ancam Fahri bercanda


"kok loe sekarang sukanya maksa gw terus sih Ri,yang laen lah loe ajak"dengus Rania kesal


"karena gw sukanya ama loe bukan ama yang laen,ngerti gak"ucap Fahri sambil menyentil kening Rania


"ishh sakit tau"


"mana yang sakit,sini gw liat" tanpa rasa curiga Rania membiarkan Fahri menyentuh keningnya yang tadi disentil Fahri namun tiba-tiba


cup...


Fahri mencium kening Rania sambil tertawa senang,sedangkan Rania yang terkejut karena Fahri tiba-tiba saja mencium keningnya hanya bisa ternganga tak percaya sambil mengusap kasar jidatnya yang tadi Fahri cium.


"ishhh amit-amit dah gw mah"gerutu Rania kesal


"jangan di elap napa Ran,yang laen pada ngarep tau gw cium,loe malah di apus"ucap Fahri dengan PD nya


Rania pun hanya melotot kesal pada Fahri,lalu ia pun pergi meninggalkan Fahri yang masih tertawa puas.


"dasar manusia jadi-jadian"gerutu Rania kesal


Begitu pulang kerja Fahri pun sudah menunggu Rania di depan pintu masuk dengan sepeda motor nya.


"ayo cepet naek Ran,gw lagi gak mau kasar ama loe"ucapnya pelan


Rania pun nampak berpikir,memang sih di rumah ia sendirian karena mama Papanya belum pulang dan Radit sudah dipastikan tidak akan pulang cepat soalnya ia lembur dan tak tau pulang jam berapa.


Rania pun yang berpikir hanya menemani Fahri makan akhirnya ia pun naik di jok belakang dan merekapun segera melaju dijalanan kawasan industri di kota "C"


Ditengah perjalanan Rania mulai menyadari kalau jalan yang kini dilaluinya bukan jalan yang biasa ia lewati.


"kita mau kemana Ri,trus ini dimana"tanya Rania sambil membuka kaca helmnya


entah karena tak mendengar atau memang tak mau menjawab Fahri hanya diam saja.


Rania yang kesal menunggu jawaban Fahri akhirnya menepuk bahu Fahri dengan kencang dan berhasil membuat Fahri sedikit meringis.


Fahri pun menepikan motornya


"apa sih Ran,sakit tau"


"kita mau kemana?"


"gak usah banyak nanya,tinggal ikut aja juga"sahut Fahri


"gw turun sini aja"ancam Rania yang sudah hendak turun namun Fahri langsung tancap gas alhasil Rania sedikit terjengkang.


"Fahriiii" pekik Rania kesal


setelah hampir satu jam lebih Fahri pun menepikan motornya disebuah warung pecel ayam


"kita makan dulu ya,gw udah laper"ucap Fahari lalu turun dari motornya


tanpa menjawab Raniapun mengikuti Fahri dan langsung duduk disalah satu bangku plastik


"kenapa loe kok jadi diem aja"tanya Fahri yang penasaran dengan perubahan Rania


Fahri yang kesal karena Rania yang tiba-tiba jadi diam dan hanya menurut apa pun yang Fahri pinta


"loe ngapa sih Ran kalo loe diem aja juga gak enak Ran gak seru kalo gak debat ama loe"gerutu Fahri makin kesal karena Rania masih tak mau menjawab ataupun menanggapi ucapannya.


"gw kaya lagi ngomong ama patung"lanjut Fahri kesal


"udah cepet abisin makanan loe trus kita lanjut lagi,tujuan kita masih jauh tau"ucapnya lalu meninggalkan Rania yang masih asik mencocolkan ayam gorengnya pada sambal


tin...tin...tinnnnnn


suara klakson motor Fahri sengaja ditekan berkali-kali karena tak sabaran dengan Rania.


"berisik loe" ucap Rania ketus


"loe lama amat makannya"


"eh...loe ngomong juga"ucap Fahri yang baru sadar tadi Rania berbicara dengannya walaupun terdengar ketus.


"loe kenapa sih yang,loe kesel gw bawa kabur"


"gak...pikiran gw cuma tiba-tiba gak enak aja gak tau kenapa"ucap Rania langsung naik di jok belakang dan melingkarkan tangannya dipinggang Fahri yang lebar.


Fahri yang merasa ada sesuatu yang melingkar dipinggangnya sedikit tak percaya jika Rania mendekapnya apa lagi ia berasa kalau saat ini gadis dibelakangnya sedang menempelkan wajahnya pada punggungnya.


"Tumben amat ni anak,tapi gak apa-apalah rezeki"gumam Fahri sambil tersenyum bahagia.


Fahri pun melajukan motornya dengan kecepatan sedang ia menikmati hangatnya dekapan Rania


"Ni anak kesambet apa ya,giliran gw suruh pegangan dia gak mau,giliran gak gw suruh dia malah pegangan mana kenceng banget lagi"batin Fahri


Akhirnya mereka pun sampai dirumah baru Fahri di daerah Bogor suasana yang begitu sejuk membuat Rania sedikit merasa tenang.


"ini beneran rumah loe Ri?"tanya Rania seakan tak percaya


"kenapa?loe pikir gw orang kismin ya"jawab Fahri


"gw gak ngomong gitu,loe aja yang ngerasa,lagian mana ada bos miskin" ucap Rania


"ni rumah suka disewa buat syuting tau"


"syuting apa?"tanya Rania seakan tak percaya


"sinetron,kadang ftv,trus orang-orang sini juga sering jadi figuran yang lari-lari gitu trus dibayar deh gocap"ucap Fahri bangga


"oh....."


hanya kata itu saja yang keluar dari mulut Rania.


Ia menatap sekeliling rumah Fahri,banyak terdapat pohon-pohon besar entahlah Rania tidak tahu pohon apa saja yang ia tahu saat ini ia merasa seperti ada yang memperhatikannya dari balik sebuah pohon.


"Masuk yu,gw dingin ni" pinta Rania


Fahri pun segera menaiki beberapa anak tangga sebelum akhirnya sampai pada sebuah pintu besar dan memasukan kunci lalu memutarnya hingga mengeluarkan bunyi


"ceklekkk"


"ayo masuk Ran katanya dingin diluar"ajak Fahri lalu merekapun masuk


"cuma kita aja ni disini Ri"tanya Rania


"kan rencananya besok kita kesininya,berhubung ada kesempatan buat nyulik loe sehari ya udah kita duluan kesininya yang laen besok baru pada kesini"ujar Fahri


"gw serem Ri"ucap Rania


Fahri pun tertawa bahagia mendengar Rania yang takut


"santai aja ada gw Ran"


Rania menatap malas kearah Fahri.


"gw cape Ri mau rebahan,kamarnya dimana"tanya Rania tak sabaran


"loe mau yang mana kamarnya,disini ada lima kamar"


"ya ...yang nyaman aja trus jangan ada hantunya"jawab Rania asal


"loe kira disini sama ama yang kemaren apa,rumah ini mah diurus Ran jadi gak ada yang begituan"ucap Fahri sesumbar


"udah ahh jangan banyak ngomong deh,gw mau rebahan nih"rengek Rania

__ADS_1


Fahri pun tersenyum,mereka menuju sebuah kamar yang tak jauh dari pintu depan dan setelah Fahri membuka pintunya terlihatlah sebuah kamar yang lumayan luas dengan tempat tidur yang lumayan besar.


Tanpa banyak bicara lagi Rania langsung menuju tempat tidur dan meletakan tasnya asal lalu merebahkan tubuhnya diatas kasur yang dingin walaupun tanpa Ac.


Mungkin karena lelah Rania pun langsung terlelap,namun tengah malam ia terbangun karena haus.


Ia melihat Fahri tidur dengan sangat pulasnya,ia ingin membangunkan Fahri namun kasian tapi jika tak dibangunkan ia tidak tahu dimana letak dapurnya dan belum tentu ada air minum,ia pun membuka tasnya dan mengambil botol minum yang biasa dia bawa namun isinya hanya tinggal sedikit,tapi lumayanlah untuk sekedar membasahi tenggorokannya.


Rania pun merebahkan diri lagi lalu menarik selimut hingga dadanya namun saat ia ingin memejamkan matanya ia mendengar suara kokokan ayam "emang ini udah mau subuh apa" batin Rania ia pun meraih ponselnya untuk melihat jam berapa sekarang,alangkah kagetnya Rania saat melihat baru jam 00.15 menit


"ahh bodo amat deh tuh ayamnya aja kali bangunnya kepagian" batin Rania lagi lalu ia kembali berusaha memejamkan matanya lagi namun saat ia hendak terlelap kembali ia terusik,ia mendengar suara orang sedang berjalan yang sedang diseret.


Rania menajamkan pendengarannya kembali ia mendengar suara itu.


"Ri... Fahri..bangun dong Ri..."Rania mengguncang-guncang tubuh Fahri namun Fahri hanya berguman tak jelas.


"ishhh kebo amat sih ni orang,Ri.. bangun dong..."Rania mengguncang-guncang tubuh Fahri namun kali ini semakin lebih kencang


"bangun gak loe Ri,kalo gak mau bangun gw jorokin sekalian nih biar jatoh"ancam Rania saat melihat Fahri mulai membuka matanya sedikit.


"apa sih Ran sayang,gangguin orang tidur aja,minta gw kekepin"celoteh Fahri


"gw aus Paijo gw kan gak tau dimana dapur loe"


"kayanya gak ada air minum dah,galonnya belom di isi ama si mamang,loe liat di tas gw dah kayanya ada air minum sisa tadi makan"


Rania pun membuka tas Fahri untuk mencari botol yang dimaksud dan benar masih ada airnya walaupun cuma setengah tapi lumayan lah.


Tanpa sengaja Rania melihat coklat kesukaannya di tas Fahri saat menaruh kembali botol yang ia ambil tadi.


"Ri...nicoklatnya buat gw ya"pinta Rania tanpa malu


"emang itu buat loe,tadi gw lupa mau ngasih nya,dah ambil sono"ujar fahri dengan mata terpejam


Seolah mendapat mainan baru Rania sangat senang ia pun langsung membuka bungkusnya dan tanpa menunggu esok lagi ia langsung memakannya pelan-pelan karena memang kesukaan Rania begitu jika makan coklat setelah digigit lalu di ****.


Fahri yang dari tadi memperhatikan Rania nampak begitu geregetan dengan ulah gadis itu.


"et dah ni bocah ya,udah cepetan makannya trus tidur lagi gw ngantuk nih"


"tidur aja sono ngapain nungguin gw sih"sahut Rania dengan santainya


"awas loe ya gangguin gw lagi"celetuk Fahri geram,ia pun langsung membalikan tubuhnya membelakangi Rania yang sedang asik menikmati coklatnya.


Rania pun acuh pada Fahri ia lebih memilih menikmati memakan coklatnya pelan-pelan.


Sesaat kemudian ia menoleh kearah Fahri dan ternyata sudah mendengkur.


Entah kenapa tiba-tiba Rania merasa ada yang memperhatikannya namun siapa dan dimana ia tidak tahu,ia hanya merasa bulu ditengkuknya berdiri begitupun ditangannya.


Rania pun buru-buru meyudahi makan coklatnya ia menyimpan sisanya diatas meja kecil yang ada didekat tempat tidur.


Saat Rania hendak merebahkan diri dikasur ia merasakan ada hembusan angin yang menerpa wajahnya padahal disitu tidak ada kipas angin ataupun Ac dan semua jendela tertutup rapat.


Ia pun langsung membungkus tubuhnya dengan selimut lalu memegang lengan Fahri dengan sangat erat.


"Raniaaaa"


setengah sadar Rania mendengar ada yang memanggil namanya dengan suara yang sangat lembut


Saat ia terdiam memastikan pendengarannya


setelah menunggu beberapa saat suara itu tak terdengar lagi


"ah gw salah denger kali ya tadi"monolog Rania lalu kembali merubah posisi tidurnya.


Namun lagi-lagi suara itu kembali terdengar namun sepertinya jauhh


"Raniaaaa"


"Raniaaaa"


hi....hi....hi...


lalu bersambung dengan suara tertawa yang begitu membuat bulu kudut Rania merinding


Sesaat kemudian terasa hening tak ada suara apa-apa Rania pun memberanikan diri membuka selimutnya.


Matanya berkeliling meneliti seisi ruangan seakan mencari sesuatu dan saat matanya tertuju pada sebuah lemari pakaian tiga pintu yang terbuat dari kayu jati ia langsung berteriak


"aahhhhh hantuuuuu"


lalu langsung menubruk tubuh Fahri yang masih tertidur karena posisi Fahri yang tidur dipinggir alhasil mereka berduapun terjatuh dari tempat tidur dengan posisi Rania yang menibani tubuh Fahri


"Rania loe ngapain sih,sakit tau"Fahri yang sedang asik dalam mimpinya terpaksa bangun karena ulah Rania


"iitu...Ri...diatas lemari ada ....ih....."Rania ngeri sendiri kala ia ingat sosok yang tadi ia lihat.


sosok wanita sedang duduk santai diatas lemari sambil memainkan rambutnya yang hitam panjang dan kusut entahlah sudah berapa tahun ia tidak menyisir rambutnya hingga terlihat sangat berantakan.


"gak ada apa-apa Ran...ishh"ucap Fahri kesal namun sesaat kemudian ia tersenyum saat menyadari posisinya sekarang.


Yah.. posisi yang membuatnya sangat bahagia karena Rania berada diatas tubuhnya walaupun itu terpaksa karena jatuh dari kasur.


Rania yang sedikit bingung melihat Fahri tersenyum senang akhirnya menyadari


"eh...maaf.. "ucap Rania malu lalu ia pun segera bangun dan duduk kembali di sisi ranjang.


"ngapain bangun sih Ran...kaya gitu terus sampe pagi juga gak apa-apa gw ikhlas"ucap Fahri bahagia


"apa sih loe"Rania langsung memalingkan muka karena kesal dan malu.


Fahri terus saja menggoda Rania hingga Rania pun jengkel dan memukulnya dengan bantal.


Setelah hampir satu jam lamanya mereka main pukul-pukulan bantal merekapun kembali tertidur dan melupakan sosok yang tadi Rania bilang .


Rania terbangun saat suara ponselnya berdering,dengan mata yang masih terasa berat ia pun mengambil ponselnya tanpa melihat siapa yang menelp ia sudah tau kalau itu pasti Ardina karena suara deringnya berbeda.


👩 " Hallo assalammualaikum"


👨 "wa'alaikum salam,loe dimana Ran?"


👩 "Gw lagi dirumah baru Fahri di daerah Bogor"


👨 " ada acara apa,tumben amat" terdengar


nada tidak suka dari Ardina.


👩 "dia kan baru beli rumah yang rencananya buat nanti kita tinggal"


👨 "kenapa gak ngajak gw Ran semalem"


👩 " maaf aku lupa soalnya nyampe


sini udah malem Ar, katanya pada mau nyusul"


👨 " ya udah loe hati-hati ya,pulangnya


kapan?"


👩 " besok katanya"


Akhirnya Ardinapun mematikan telponnya karena kesal Rania tidak mengajaknya.


"jiaaa dia marah"ujar Rania pada ponselnya


"berisik amat sih loe pagi-pagi yank" ternyata Fahri terusik oleh suara Rania


"biarin,gw laper ni Ri masak mie kek"


"iya tar gw cari si mamang dulu,loe mau makan apa'an" tanya Fahri lalu duduk disisi tempat tidur dan meraih tasnya untuk mengambil dompet.


"mau lonsay padang" jawab Rania santai


"ihhh sayang mana ada disini lonsay padang"


"ya udah sih kalo gak ada mah,apa ajalah yang penting gw makan"ucap Rania sambil cemberut lalu ia ingat dengan sisa coklat yang semalam,ia pun langsung menyambarnya dan memakannya.

__ADS_1


Karena udara sangat dingin maka coklatnyapun sedikit membeku.


"jangan lupa beli minum Ri"teriak Rania saat melihat Fahri. hendak keluar pintu


"bawel amat sih loe kecil-kecil"ejek Fahri sambil menutup pintu


Rania bsengaja tak ingin keluar dari kamar ia asik menikmati coklat sisa tadi malam.


Setelah coklatnya habis ia pun kembali bergemul dengan selimut berbulu dan tebal,ia membungkus tubuhnya hingga tak ada yang terlihat.


Setengah jam berlalu Fahri pun datang dengan membawa bungkusan dan secangkir kopi yang masih panas terlihat masih ada asap yang mengepul diatasnya.


"Ran ni sarapan loe cepet bangun"teriak Fahri sambil menaruh bungkusan yang ia bawa diatas meja.


Raniapun segera turun dari tempat tidur dan membuka bungkusan yang tadi Fahri bawa


"wah...ketoprak,teriak Rania senang karena memang sudah lama ia ingin makan ketoprak"


"kalo disini itu namanya kupat tahu oneng"celetuk Fahri


"bodo ah mau ketoprak apa kupat tahu sama aja yang penting gw kenyang"jawab Rania lalu memasukan sepotong ketupat yang berlumuran bumbu kacang lalu krupuk kedalam mulutnya.


"emmmm enak banget Ri"ucap Rania dengan mulut penuh


"ya udah abisin biar badan loe gak kaya triplek"sahut Fahri sambil tersenyum


"sue loe mentang-mentang badan loe keker kaya pohon kelapa" balas Rania tak mau kalah


"udah jangan banyak ngemeng mending cepet loe abisin trus mandi sono,bau loe gak mandi dari kemaren"


"kaya loe mandi aja semalem"balas Rania lagi tak mau kalah


"gw mah dah mandi tadi"


"gw gak ada baju ganti,loe sih maen bawa kabur aja"celetuk Rania


"udah gw beliin sekalian ama dalemannya tuh"jawab Fahri sambil menunjuk plastik hitam diatas meja.


"emang loe tau ukuran gw ?"tanya Rania kurang yakin


"punya loe kan kecil paling no 32 masih longgar"ucap Fahri membuat wajah Rania sedikit memerah karena tebakan Fahri memang benar


"biarin"sahut Rania lalu menyambar kantong plastik yang ditunjuk Fahri lalu membawanya kekamar mandi.


Terdengar suara Fahri tertawa seakan mengejeknya


Setengah jam lamanya Rania dikamar mandi,ia keluar dengan sedikit menggigil karena airnya memang sangat dingin.


Rania menghampiri Fahri yang sedang duduk diruang tengah sambil memainkan game yang ada diponselnya.


"Keluar yuk mau liat-liat pemandangan"ajak Rania pada Fahri yang tak menggubris ucapannya


"ehh..paijo loe denger gak sih"Rania mulai kesal karena diabaikan oleh Fahri


"udah sono keluar sendiri tapi jangan jauh-jauh tar gak bisa balik lagi"ujar Fahri namun pandangannya tak lepas dari ponselnya


Dengan sedikit kesal akhirnya Rania pun keluar dari rumah Fahri,tiba-tiba ia ingat tadi malam ada suara ayam,ia pun mengitari rumah baru Fahri yang lumayan luas namun ia tak melihat satu ekor pun ayam yang berkeliaran.


"lah trus semalam suara ayam itu dari mana"batin Rania


Rania yang sedang memikirkan suara ayam yang ia dengar tadi malam dikejutkan dengan sebuah tepukan dibahunya


"astagfirullah alaziem"ucap Rania sambil memegang dadanya yang berdegup kencang karena kaget,ia pun segera menoleh dan mendapati seorang pria sedang tersenyum padanya.


"maaf atuh kalo bikin eneng kaget,eneng pasti temennya pak Fahri ya"sapa Bapak itu ramah,Rania pun tersenyum dan mengangguk.


Jam 11an teman-teman Fahri pun mulai berdatangan,suasana yang tadinya sepi berubah menjadi sedikit ramai.


Rania sedikit bingung masalahnya ia tak kenal hanya satu yang ia kenal yaitu Alfian akhirnya ia pun hanya duduk sambil menikmati kripik pisang yang di beli Fahri.


"Ran...et dah ni bocah ya makan mulu tapi gak gemuk-gemuk"ejek Fahri lalu duduk disamping Rania dan ikutan mengambil kripik yang Rania pegang.


"ishh ganggu aja loe,sono temenin temen-temen loe"usir Rania


"dihh ngusir gw" Fahri yang memang sangat suka dengan sikap cuek Rania akhirnya mencubit pipi Rania hingga gadis itu memekik karena sakit.


"ishh sakit tau,maen cubit aja"ujar Rania ketus


"Ri mana tunangan loe,katanya mau loe bawa"ucap salah satu teman Fahri tapi kali ini cowo yang berbicara


"nih...bocahnya,kenalin dulu lah"


"Ran...kenalin ni temen gw namanya Bobby trus itu Nina cewenya"ujar Fahri memperkenalkan temannya sambil merangkul pundak Rania


Rania yang tidak suka dirangkul begitu oleh Fahri berusaha menurunkan tangan Fahri selain berat ia juga merasa risih.


"ya udah loe nikmatin deh acara loe,gw mau istirahat aja dikamar"ucap Rania sambil meninggalkan Fahri dan teman-temannya.


Sebenarnya ia memang kurang suka dengan acara seperti itu,buat Rania mending dikamar sambil dengerin musik n corat coret gak jelas.


Rania pun tertidur hingga tak terasa matahari mulai bersembunyi hingga hanya meninggalkan warna sedikit kelabu.


Rania pun melihat jam di hpnya sudah jam 5 sore ia pun langsung mandi dan berganti baju,lalu keluar dari kamar mencari Fahri.


"kok loe sendirian sih Ri gak gabung ama temen-temen loe"tegur Rania yang melihat Fahri sedang duduk menyendiri di sebuah sudut ruangan yang hanya ditemani lampu yang sedikit redup.


"ishh kok dia gak jawab ya" batin Rania


"loe sakit Ri?"tanya Rania yang bingung karena sikap Fahri berubah seratus delapan puluh derajat.


Fahri tetap diam dia hanya sedikit menunduk


"ihh kok tumben sih ni anak diem aja"batin Rania makin bingung


"elo kenapa Ri,marah ama gw?"tanya Rania yang semakin penasaran


Fahri hanya menggelengkan kepalanya


"loe aneh banget sih Ri,tadi siang aja loe masih biasa ama gw"celoteh Rania sedikit kesal


Fahri masih diam tak menjawab ia hanya menundukkan kepalanya,cahaya yang redup membuat Rania tak bisa melihat jelas wajah Fahri.


"ihh gw aus,gw ambil minum dulu ya"pamit Rania lalu segera berjalan menuju dapur


Namun baru didepan pintu dapur Rania sedikit mengerutkan keningnya,ia bingung kenapa Fahri ada didapur cepet amat berpindah tempatnya.


"woiii ngapain loe depan pintu"teriak Fahri dari dalam dapur


Rania masih dengan rasa penasarannya


"loe lewat mana Ri,tau -tau udah disini"tanya Rania


Fahri nampak bingung mendengar ucapan Nayla


"loe masih ngigo kali ya,gw disini dari tadi lagi nusukin sosis ama ngupasin jagung buat loe"jawab Fahri


"gak..tadi gw ngobrol ama loe disitu"tunjuk Rania sedikit ngotot


"ha...ha dikerjain berarti loe ama penungu sini"celetuk Fahri


Rania yang takut langsung duduk disamping Fahri


"serius loe Ri?"


"pantesan tadi gw ajak ngobrol loe diem aja kaya orang gagu"


"kalo ngomong ya kaga diayak,ngatain gw gagu" ucap Fahri


"swear deh,gw beneran Ri,sama banget sih ama loe cuma dia diem aja"ucap Rania ngotot


"iya gw tau emang disini aja bukan cuma loe doang yang diliatin temen gw juga dulu ada yang diliatin kaya loe"


"ah...loe mah,gw mau pulang aja ah Ri,ayo anterin gw ke terminal kalo gak sampe dapet bis"rengek Rania


Tingkah Rania yang merengek seperti anak kecil membuat teman-teman Fahri tertawa.


Rania yang baru sadar jika dirinya sedang menjadi bahan tertawaan teman-teman Fahri hanya cemberut kesal.

__ADS_1


__ADS_2