
HAPPY READING
Beberapa tahun berlalu kini Radit sudah menginjak usia remaja, begitu juga dengan Ardina dan Rania karena usia mereka tidak jauh berbeda mereka pun sekelas.
Radit yang baru saja duduk di kelas satu SMA sepertinya mempunyai kemampuan seperti Nayla.
Terkadang ia melihat sesuatu yang tak kasat mata namun ia tidak berbicara dengan siapapun kecuali ia benar-benar merasa ketakutan baru ia akan bercerita kepada Papa Adit atau mamanya.
Siang itu selepas ekschool Radit tidak langsung pulang, Ia mampir sebentar ke perpustakaan mencari buku untuk menyelesaikan PR nya.
Setelah mencari di beberapa rak buku ia tidak menemukan apa yang ia cari.
"Ishh dimana sih bukunya masa gak ada sih" gerutu Radit
"Tanya ajalah dari pada pusing nyari" Radit bermonolog sendiri sambil berjalan menuju meja petugas yang menjadi perpustakaan.
Saat ia melewati beberapa lorong tanpa sengaja ia melihat sekelebat bayangan melintas di ujung sana.
Ia pun masih santai dan berpura-pura tidak melihat bayangan itu.
Setelah ia sampai di meja petugas yang menjaga perpustakaan ia baru menyadari ternyata hanya dia sendiri di ruangan itu.
Radit pun langsung melihat jam di pergelangan tangannya dan ternyata sudah hampir pukul 17.00
"Pantas saja sudah sepi" Akhirnya Raditpun memutuskan untuk keluar dari perpustakaan namun baru saja ia hendak membuka pintu tiba-tiba saja terdengar suara bising dari arah belakang.
"Gak usah berisik gw mau pulang" Raditpun melanjutkan membuka pintu namun saat pintu terbuka tiba-tiba saja ada angin yang berhembus ke arah wajahnya.
"Apaan sih, kalo loe mau lewat gak usah nabrak gw kan bisa" maki Radit entah pada siapa.
Ia pun segera menuju parkiran tanpa menghiraukan sosok wanita yang kini mengikutinya.
Raditpun semakin kesal saat ia merasakan motornya sedikit berat dan ia yakin kini sosok itu ikut membonceng dibelakangnya.
"Ngapain sih pake ikutan duduk dibelakang gw,kan loe bisa ngilang" ucap Radit kesal yang lagi-lagi entah ditujukan kepada siapa.
Beruntung sore itu tidak ada orang yang melihatnya berbicara sendiri.
Ia pun melajukan motornya walaupun dalam hatinya merasa kesal.
Setibanya di rumah ia langsung masuk kamar dan membersihkan diri.
Sementara itu sosok yang mengikuti Radit tidak bisa ikut masuk kedalam rumah karena rumah Radit sudah dipagari oleh Aa.
Setelah selama sholat Magrib berjamaah mereka pun makan malam bersama.
Nayla sedikit heran melihat wajah Radit yang nampak berbeda.
"Kamu kenapa Ra? kok mama perhatikan kaya lagi kesal" tebak Nayla pada putranya.
__ADS_1
Papa Aditpun ikut melihat wajah putranya dan untuk beberapa saat ia mengamati wajah Radit.
"Lagi kesel mungkin yang" ucap Adit darat
"Iya maksudnya kesel kenapa" timpal Nayla.
"Gak usah main tebak-tebakan sih Mah, Pah"
"Radit cuma lagi cape aja banyak tugas" lanjutnya.
"Yakin cuma itu aja" ucap Adit yang memang belum yakin.
"Paling juga lagi kesel tuh liat gebetannya makan siang sama cowo lain" timpal Rania sambil cengengesan, begitu pun dengan Ardina.
" Dih sok tau loe bocil" sangkal Radit
"Ayo ngaku aja Aa" paksa Ardina
"Apaan sih ni anak dua, makin gak jelas aja"
"Udah ah makanya Radit udah kenyang Mau, mau lanjut bikin tugas dulu" Raditpun langsung membawa piring kotornya kedapur.
Nayla menatap kedua putrinya yang memang suka jail mengganggu Radit.
"Kalian ada PR kan, mending sekarang kalian kerjakan terus abis itu tidur" titah Nayla pada kedua putrinya.
"Yesss momy" jawab keduanya bersamaan dan langsung meninggalkan meja makan.
Radit yang sedang sedang sibuk di dalam kamarnya sedikit penasaran dengan sosok yang mengikutinya dari sekolah.
Ia pun berjalan menuju jendela dan nyibak hordengnya sedikit
Ia pun melihat dengan jelas ada sosok wanita yang berdiri di bawah pohon mangga depan rumahnya.
"Untung aja dia gak bisa masuk" ucapnya pelan dan berjalan kembali menuju meja belajarnya.
Ia pun melanjutkan mengerjakan tugasnya hingga selesai lalu membaringkan badannya yang terasa begitu lelah.
Setelah sholat Isya Raditpun langsung tertidur.
Malam itu entah kenapa Nayla ingin sekali makan martabak, ia pun minta ijin pada Adit untuk keluar sebentar.
Ia pun mengeluarkan motornya dan segera menuju jalan raya.
Tak butuh lama ia pun kembali dengan beberapa dus makanan yang berisi martabak manis.
Tanpa sengaja ia melihat sosok wanita berdiri didepan pohon mangga depan rumahnya.
"Aku gak ganggu kamu, jadi kamu juga jangan ganggu keluarga ku" ucap Nayla lalu masuk kedalam rumahnya.
__ADS_1
"Sayang ni martabaknya, ada yang mau gak" panggil Nayla pada ketiga anak dan juga suaminya.
Namun sayang Radit sudah tertidur lelap dalam alam mimpinya hingga hanya kedua putri dan suaminya saja yang hadir di meja makan.
Setelah menghabiskan beberapa potong martabak ia pun langsung menyuruh anak-anaknya untuk masuk kedalam kamar dan segera tidur.
Seperti biasa kesibukan Nayla kala pagi membuat sarapan dan mempersiapkan segala sesuatu buat Adit.
"Mama Radit kayanya nanti pulang telat lagi mau ikut basket" ucap Radit sambil memakan satu buah roti dan memasukkan bekal yang sudah di siapkan Nayla, begitu juga dengan Rania dan Ardina.
Memang setiap hari mereka selalu membawa bekal yang sudah di siapkan oleh Nayla dan jug Empok.
Tidak jarang teman-teman mereka yang mengejek mereka tapi baik Radit,Ardina dan Rania tidak mau ambil pusing justru mereka mengira jika orang tua teman-teman mereka tidak memperhatikan anaknya.
Siang itu saat jam istirahat seperti biasa Rania dan Ardina memakan bekal makan siang mereka di kantin sambil memesan minuman kesukaan mereka Jus Alpukat dan Mangga.
"Dih anak TK mau makan siang" celoteh Bayu sambil duduk di sebelah Ardina.
"Ada suara tapi kok gak ada bentuknya ya Ran
ucap Ardina pura-pura tidak melihat Bayu tabg duduk disebelahnya.
"Sial gw disangka hantu gak keliatan" ucap Bayu sedikit marah.
Ardina dan Rania pun memakan bekal mereka tanpa menghiraukan kehadiran Bayu yang terus saja mengejeknya.
Sementara itu di gedung sebelahnya tempat dimana Radit bersekolah,remaja tampan itu nampak asik memakan bekalnya sambil membaca sebuah novel dibawah sebuah pohon.
Tanpa ia sadari tidak jauh dari tempat nya duduk ada sosok yang terus memperhatikannya.
"Radit......" teriak seorang wanita cantik yang bernama Ayu.
Radit hanya melihat sekilas Ayu lalu kembali menatap layar ponselnya.
"Loe makan apa sih kok kayanya enak banget" ucap Ayu basa basi.
"Loe bisa liat kan?" tanya Radit acuh
"hmmmm" jawab Ayu
"kenapa tanya kalo loe bisa liat" ucap Radit cuek.
"Kok loe dingin banget sih Radit, anget dikit kek sama cewe" ucap Ayu sambil cemberut.
"Yang nyuruh loe deketin gw siapa?"
"Gak ada sih, cuma gw suka aja sama loe Radit" ucap Ayu tanpa basa basi lagi.
" Itu hak loe mau suka sama siapapun" jawab Radit
__ADS_1
"Loe mau kan jadi pacar gw Dit?" tanya Ayu dengan wajah penuh harap.
"Maaf ya Yu,biarpun banyak cowo yang ngejar-ngejar loe tapi maaf hw gak mau pacaran dulu menurut gw kira masih kecil belum waktunya buat itu" ucap Radit yang langsung menutup bekalnya lalu pergi meninggalkan Ayu