TERBUKANYA MATA BATIN

TERBUKANYA MATA BATIN
BAB 386


__ADS_3

SELAMAT MEMBACA


Saat pagi tiba dan anak-anaknya sudah berangkat kesekolah.


Nayla dan Adit nampak sedang ngobrol diteras depan sambil menikmati secangkir kopi dan roti bakar buatan Nayla.


"Dit...aku jadi kepikiran dengan apa yang diucapkan oleh Rania tadi malam, kalau memang ada sosok wanita disebelah Ardina apa mungkin itu mamanya ya?" tanya Nayla


"Bisa jadi sayang, dia datang karena tau jika saat ini Ardina sedang sakit, lagi juga sudah lama kita tidak ziarah ke makam Dina" jawab Adit.


"Gimana kalau nanti Ar sudah benar-benar sembuh kita sama-sama ziarah kesana ya" usul Nayla.


Aditpun setuju, saat jam sudah menunjukan pukul sembilan Nayla pun bergegas pergi ke toko kuenya dengan ditemani oleh Adit, dan setelah itu ia akan kesalon untuk memeriksa apa saja yang harus di beli agar salon milik Damar lebih ramai lagi.


Saat Nayla mengurus salon, Aditpun mempunyai kesibukan di tempat Fitnes nya.


Sementara itu di sekolah, beberapa teman Ardina dan Rania nampak mengerumuni mereka berdua saat jam istirahat.


"Ar kalo kita ke salon mama kamu kasih harga pelajar ya" ucap beberapa teman Ardina


Ardina hanya tersenyum sambil mengangguk.


Sementara itu Rania sibuk bermain game di hp nya.


"Woiii bukannya bantuin saudara loe itu malah sibuk sendiri" tegur Rahmat


"Biarin, gw gak ngerti soal kecantikan kaya gitu, kalo soal berantem baru gw tau" jawab Rania ngasal.


"Astaga loe itu cewe kenapa sukanya berantem sih"


"Iya gw suka benget berantem, apalagi kalo yang orangnya cerewet kaya loe" ucap Rania sambil menyeringai menatap Rahmat.


Rahmat pun langsung mundur selangkah saat melihat seringai di wajah Rania.


"Astaga loe seerem banget sih jadi cewe" Rahmat pun pergi meninggalkan Rania yang. kini menatapnya dan tersenyum miring.


Ardina yang ternyata memperlihatkan Rania sedikit ngeri saat tidak sengaja melihat senyuman Rania yang dia rasa aneh dan menyeramkan.


Bel tanda pulang sekolah pun berbunyi, mereka pun segera ke parkiran untuk mengambil motor dan langsung ke salon.


Begitu tiba disalon Rania langsung minta makan mie ayam dan juga es kelapa.


Naylapun langsung memesan apa yang kedua anaknya inginkan.


Saat sedang asik makan, Rania melihat ada seorang anak kecil sedang berdiri didepan kaca sambil melihat kearah nya.


"Ih itu anak siapa cantik banget" ucap Rania pelan.

__ADS_1


Ardina yang mendengar ucapan Rania langsung melihat kedapan namun ia tidak melihat ada siapa-siapa disana.


"Anak kecil mana Ran, gak ada siapa-siapa kok di sana" ucap Ardina.


"Ada Ar, itu anak cewe cantik banget, rambut nya hitam tebal, tapi mamanya mana sih, gak takut apa kalo anaknya di culik" ucap Rania.


Nayla yang kebetulan mendengar ucap kedua anaknya langsung melihat kearah kaca .


Awalnya ia tidak melihat ada seorang anak kecil yang berdiri disana namun saat ia melihat lagi ternyata ia melihat hal yang sama dengan yang Rania lihat.


Gadis itu tersenyum kearahnya.


"Hallo cantik, kamu siapa ? dimana Mama kamu?" tanya Nayla


Gadis kecil itu hanya tersenyum dan perlahan menghilang begitu saja.


Naylapun baru menyadari ternyata anak kecil itu sosok tidak kasat mata.


Nayla pun menceritakan apa yang ia dan Rania lihat pada Adit saat Adit datang kesalon.


Aditpun diam beberapa saat "kayanya kita harus ziarah kemakam anak pertama kita Yank sama ke makam Dina, mungkin mereka minta kita kunjungi" ujar Adit yang langsung teringat mending anak pertama mereka.


Wajah Adit terlihat sedih, saat kilasan masa lalu melintas di ingatannya.


Kalau saja bukan karena kesalahannya pasti saat ini anak pertama mereka masih ada.


"Kamu kenapa?" tanya Nayla


"Maafin aku sayang, kalau saja aku tidak bodoh waktu itu, sudah pasti anak kita masih ada" wajah Adit terlihat begitu murung nampak sekali ada rasa penyesalan di hatinya.


"Sudahlah sayang dia sudah tenang di alam sana, walaupun kita tiap hari mengirimkan doa untuk nya mungkin ia juga ingin kita melihat tempat peristirahatan terakhirnya" ucap Nayla pelan.


Mereka pun memutuskan untuk ziarah ke makam Dina pada hari Jumat sore dan setelah dari sana rencananya mereka akan ke Tasik tempat orang tua Adit tinggal karena disanalah makan anak pertama mereka berada.


Hari Jumat pun tiba, mereka pun sudah mempersiapkan semua dan telah memasukannya kedalam mobil.


Setelah dari makam Dina mereka pun melanjutkan perjalanan ke rumah orang tua Adit.


Setelah hampir delapan jam di perjalanan akhirnya menjelang subuh mereka baru tiba di rumah orang tua Adit.


Aditpun langsung membangunkan ketiga anaknya yang tertidur pulas.


Dengan langkah yang lemas Rania melangkah masuk kedalam rumah neneknya.


Ia pun kembali melanjutkan tidurnya di kamar waktu Adit muda.


Mungkin karena perjalanan jauh mereka pun bangun saat matahari sudah mulai tinggi.

__ADS_1


Setelah bangun tidur Rania dan Ardina pun langsung ke pancuran disamping rumah neneknya untuk mencuci muka.


Air yang begitu terasa dingin membuat mereka enggan untuk mandi.


Setelah cuci muka dan berganti pakaian kedua gadis itu pun langsung duduk diteras depan rumah neneknya sambil menikmati pemandangan dan udara yang masih Ter begitu segar.


"Enak banget ya disini, pas buka pintu pemandangannya gunung, disamping rumah ada pancuran buat main air" ucap Rania senang sambil memakan kue cucur yang sudah ada diatas meja


Radit yang baru saja bangun langsung ikut bergabung bersama kedua adiknya.


"Aa cuci muka dulu sana baru makan ih jorok" ucap kedua adiknya hampir secara bersamaan.


"Vitamin dek" jawab Radit singkat lalu langsung memakan kue.


Nayla dan Adit yang mendengar percakapan ketiganya hanya tersenyum.


"Itu kaya kamu ya Dit" ucap Nayla


"Dih gak lah, kamu juga kan suka kaya begini yank" sangkal Adit.


Tanpa mereka berdua sadari ketiga anak mereka memperhatikan kelakuan Mama dan papanya.


Mereka bertiga pun tersenyum.


Sore pun tiba mereka segera menuju tempat pemakaman umum tempat dimana anak pertama mereka bersemayam.


Radit dan kedua gadis itu awalnya tidak tahu jika mereka mempunyai seorang Kaka yang telah dulu pergi meninggalkan mereka.


Di pusara sang anak Adit nampak begitu sedih, ia menagis tanpa merasa malu di hadapan ketiga anaknya.


Rasa penyesalannya beg?itu dalam.


Andai saja ia tidak egois sudah pasti anak pertamanya masih ada hingga saat ini.


Nayla berusaha mengutamakan suaminya.


"Sudah yank kita iklhasin aja kasihan dia udah tenang disana" ucap Nayla sambil mengelus bahu suaminya.


Adit nampak begitu berat untuk meninggalkan makam anaknya, kakinya serasa seperti ada yang menahan.


"Ayo yank kita pulang ini sudah mau malam" ajak Nayla.


"Kaki aku seperti ada yang menahan Nay, mungkin ia ingin aku menemaninya malam ini" ucap Adit.


Naylapun langsung kembali berjongkok didepan pusara sang. anak.


"Sayang ijinkan kami pulang kerumah,kami sangat menyayangi kamu nak, tapi dunia kita sekarang berbeda, jika memang kamu rindu kita bisa bertemu lewat mimpi sayang"air mata Naylapun langsung menetes tanpa permisi ketiga anak mereka pun ikut berjongkok dan mengirimkan alfatihah untuk Kaka mereka yang telah tiada.

__ADS_1


__ADS_2