
SELAMAT MEMBACA
Rania yang hari itu tidak masuk sekolah merasa jenuh dirumah, ia pun berniat ke toko kue milik Nayla untuk sekedar menghilangkan rasa jenuh.
Ia pun mengambil ponselnya dan menghubungi Mama Nayla untuk memberi kabar jika ia ingin kesana.
Awalnya Nayla tidak mengijinkan karena kondisi Ardina yang masih lemas, karena Ardina memaksa akhirnya ia pun mengijinkannya.
Dengan menggunakan ojek online ia pun segera menuju toko kue mamanya, namun tanpa sengaja ia melihat Rania yang sedang membeli makanan di pinggir jalan tanpa ragu ia pun meminta Abang ojol untuk berhenti.
"Ran akhirnya ketemu di sini" Ardina pun langsung turun dan membayar ojol yang ia tumpangi lalu menghampiri Ardina.
"Dih loe mau kemana, kan lagi sakit" Rania langsung memarahi Ardina.
"Gw bosen dirumah, loe gak pulang-pulang sih jadi gw mau ke toko kue mana aja" jawab Ardina sambil ikut memesan siomay.
"Ya udah gw ikut aja" setelah membayar jajanannya mereka pun langsung menuju toko kue Nayla.
Begitu tiba di sana Nayla sudah menunggu didepan tokonya yang lumayan ramai.
"Lah kok bisa barengan?" tanya Nayla pada kedua putrinya
"tadi ketemu dijalan mah" jawab Ardina
"Ya udah ayo masuk dulu, istirahat" ajak Nayla yang langsung masuk kedalam lalu di ikuti oleh kedua putrinya.
"Rania loe kan suka tuh makan kue mama, mumpung di sini ayo kita cobain satu persatu" bisik Ardina.
Mereka pun langsung melihat kue yang dipajang di etase lalu mengambil satu persatu kue yang mereka suka.
Setelah mendapatkan beberapa kue Rania dan Ardina pun langsung mencari tempat duduk lalu menikmatinya.
"Ar..di sekolah kan mau ada acara bersami Minggu depan" ucap Rania memberitahu Ardina.
"Aku gak mau ikut boleh gak ya?" Ardina nampak ragu.
Sudah terbayang dalam pikirannya jika ia harus menginap di sekolah.
"Coba aja nanti bilang sama mama, biar mama aja yang ijinin" saran Rania.
Mereka pun melanjutkan memakan kue, tanpa mereka sadari tidak jauh dari tempat mereka ada sepasang mata yang sedang asik memperhatikan mereka.
Hari pun berganti tidak terasa hari sabtupun tiba Rania yang tadinya tidak ingin ikut bersami akhirnya ikut juga setelah mendapatkan berbagai saran dari Mama dan juga Papanya
Mereka berangkat diantar oleh Papa Adit.
Setelah memastikan anak-anak masuk kedalam kelas sambil menunggu acara pembukaan dimulai barulah Adit kembali kerumahnya.
Awal acara dari pembukaan hingga acara memasak bersama untuk makan malam berjalan dengan lancar.
Mereka pun sholat magrib berjamaah di lapangan sekolah yang dilanjutkan dengan makan malam bersama.
Setelah acara makan malam mereka pun beristirahat sejenak.
"Ran kok perasaan gw gak enak banget ya" ujar Ardina
"Itu cuma perasaan loe aja Ar, inget kata Papa jangan pernah bayangin yang macem-macem, kalo loe merasa takut berdoa dan jangan jauh-jauh dari gw" Rania berusaha menenangkan saudari nya itu.
Walaupun mereka tidak satu ibu tapi mereka saling menyayangi selayaknya saudara kandung, bahkan banyak yang mengira jika mereka kembar.
Saat mereka sedang asik ngobrol tiba-tiba terdengar panggilan dari kk pembina agar segera berkumpul.
Mereka pun langsung bergegas memakai sepatu dan langsung berkumpul di lapangan.
Ada beberapa anak yang telat bergabung hingga regu mereka pun terkena imbasnya terkena hukuman.
Jam 11 malam acara jerit malam pun di mulai.
Regu pertama telah berjalan menuju pos pertama.
__ADS_1
Begitu pun dengan regu kedua dan selanjutnya hingga tiba giliran regu Ardina dan Rania.
Pos pertama dan kedua telah mereka lalui, sekarang mereka pun menuju ke pos selanjutnya yang harus keluar dari area sekolah dan memasuki kawasan perumahan.
"Teman-teman jangan lupa berdoa ya semoga kita bisa tiba di pos 3 tanpa ada kendala" ucap Rania yang menjadi ketua regu mengingatkan anggotanya.
"Aamiin" jawab mereka serentak.
"Ran kok gw gak nyaman banget ya,kaya ada yang ikutin kita" Ardina memajukan tubuhnya sedikit lalu berbisik kepada Rania.
"Sama Ar,kita berdoa aja ya semoga gak ada apa-apa" balas Rania berbisik juga.
"Teman-teman kalian sudah bawa yang kemarin aku minta kan" tanya Rania dengan suara sedikit keras agar temannya yang berjalan dibelakang bisa mendengar ucapannya.
"Sudah Ran" jawab mereka hampir bersamaan.
kemarin Rania meminta kepada setiap anggota regunya untuk membawa batu berukuran sedang sebanyak 10 buah.
Saat mereka hampir tiba di pos 3 tiba-tiba saja pepohonan yang berada di tepi jalan daunnya bergerak-gerak.
Sambil berjalan lebih cepat reaksi mereka pun bermacam-macam, ada yang menunduk, ada juga yang penasaran dan melirik ke arah pohon-pohon yang bergerak.
"Jangan takut teman-teman itu cuma angin kok" ucap Rania sok berani.
Padahal ia sendiri pun merasa takut,namun sebisa mungkin ia menyembunyikan rasa takutnya agar Ardina dan yang lain tidak merasa ketakutan.
"Perasaan tadi pos tiga udah kelihatan ya, kok kita gak sampe-sampe sih" tanya salah satu teman mereka.
"Iya bener" timpal yang lain.
Karena lelah mereka pun sedikit melambatkan jalannya.
"Aduhh cape banget nih kaki kaya udah gak kuat jalan" ucap salah satu teman mereka yang berada di tengah.
"Sabar ya temen-temen sebentar lagi juga sampe insyaallah" ucap Rania sambil menengok ke belakang memastikan anggotanya tidak ada yang tertinggal.
Ingin rasanya Rania berlari sekencang-kencangnya namun ia ingat dengan teman-temannya.
Ia pun membaca doa dalam hati semoga ia dan juga teman-temannya selamat sampai pos tiga.
Ardina yang melihat wajah pucat Rania pun jadi penasaran.
"Loe kenapa"
"He..he gak apa-apa Ar, cuma cape aja" jawab Rania berbohong.
Semakin lama Rania merasakan ia begitu merinding, ia pun mengambil batu kecil yang ia bawa dari dalam saku dan menggenggamnya.
"Teman-teman batunya di pegang ya" perintah Rania.
mereka pun langsung mengikuti perintah Rania.
"Ada apa sih Ran?" tanya salah satu temannya.
"Kayanya kakak pembina kita mau jahilin kita deh" ucap Rania.
"Kalau gw bilang timpuk ikutin ya semuanya" lanjut Rania.
Saat melewati beberapa pohon yang lumayan besar Rania seperti melihat ada sosok putih seperti sedang mengintip dari balik pohon.
"Astaghfirullah itu hantu apa orang ya" batin Rania
Saat melintasi pohon besar itu Rania semakin terkejut karena ia melihat wajah yang mengintip dari balik pohon terlihat hitam seperti gosong.
Ingin rasanya ia berlari namun ia ingat dengan teman-temannya.
Semakin lama ia semakin merasa takut sampai akhir ia pun tak mampu lagi melawan rasa takutnya.
"Teman-teman timpukkkkkk" titahnya dan sesaat kemudian mereka pun ikut menimpuki pohon yang Rania timpuk dengan baru.
__ADS_1
Karena tak terdengar suara apapun akhirnya mereka pun berlari sekencang-kencangnya.
Sekuat tenaga Ardina dan Rania berlari begitu juga dengan teman-teman mereka akhirnya mereka pun tiba di pos 3 dengan nafas yang tersengal-sengal.
Beberapa orang Kaka pembina yang berjaga di pos itu terlihat khawatir melihat kondisi Rania dan kelompoknya.
Setelah melapor mereka pun di ijinkan untuk beristirahat sejenak sebelum melanjutkan menuju pos berikutnya.
Setelah beberapa menit akhirnya mereka pun melanjutkan perjalanan menuju pos 4 namun sialnya jalan menuju pos 4 di rasa lebih menyeramkan dibanding tempat yang tadi mereka lalui.
Udara semakin terasa dingin saat kelompok mereka melintasi pemakaman umum yang begitu gelap karena hanya ada 2 lampu penerangan yang terpasang.
"Kok gw makin serem ya Ran" bisik Ardina
"Sama" jawab Rania singkat.
Hi ...hi....
samar - samar Rania mendengar suara wanita tertawa.
Lututnya bergetar karena takut, ia pun melihat kearah Ardina seakan ingin bertanya apa dia juga mendengar suara wanita tertawa.
Melihat wajah Ardina yang biasa-biasa saja ia bisa menarik kesimpulan jika saudara nya itu tidak mendengar apa yang ia dengar tadi.
Rania pun mengurungkan niatnya untuk bertanya, ia pun berusaha melawan ketakutannya.
Begitu tiba di pos 4 yang ternyata tidak begitu jauh dari area makam Rania pun menarik nafas lega.
Namun itu tidak berlangsung lama karena tugas yang diberikan di pos 4 adalah menulis nama-nama orang yang di makamkan di disana.
Satu regu yang terdiri dari 10 orang dibagi menjadi 2 kelompok.
Kelompok pertama pun mulai melakukan tugasnya dengan ditemani satu orang Kaka pembina yang mengawasi dari jalan utama sedangkan mereka harus sedikit lebih masuk kedalam area pemakaman.
Sambil menunggu gilirannya tiba Rania pun berdoa dalaam hati.
Akhirnya giliran Rania pun tiba, ia dan ke empat temannya mulai memasuki area pemakaman.
Detak jantung Rania semakin berdetak cepat, telapak tangannya pun mulai berkeringat dingin.
Ia pun meminta kepada temannya untuk segera menulis sesuai yang di perintahkan.
Akhirnya tugasnya pun selesai, mereka pun segera menuju jalan utama.
Saat mereka hendak keluar area pemakaman tiba-tiba saja salah satu teman mereka tertawa kencang dan sesaat kemudian menangis.
Rania pun langsung panik ia berlari sekencang-kencangnya menuju pos tanpa menghiraukan Kaka pembina dan juga teman-temannya.
Ardina yang melihat saudara tiba dengan wajah pucat langsung memeluk Rania.
"Loe gak apa-apa Ran?" tanya nya sambil menghapus keringat di wajah saudaranya itu.
"Gw gak apa-apa Ar, tapi itu...." Ardina langsung melihat kearah yang Rania tunjuk.
Beberapa Kaka pembina langsung menghampiri rekannya yang sedang membopong salah satu anggota yang terkadang berteriak dan sedetik kemudian ia tertawa.
Beruntung di sana ada salah satu Kaka pembimbing yang mempunyai kemampuan untuk mengobati orang yang ke rasukan.
Ardina yang masih trauma dengan kejadian beberapa hari lalu akhirnya menangis dalam pelukan Rania.
Sebenarnya Rania pun merasa takut namun saat melihat wajah Ardina rasa takutnya hilang begitu saja, ia berusaha menenangkan Ardina.
Kaka pembina yang memang mengetahui kisah tentang Ardina beberapa hari lalu pun ikut menenangkannya.
Setelah meminum segelas air putih yang telah dibacakan doa oleh salah seorang kakak pembina Ardina pun bisa sedikit lebih tenang.
Karena tidak ingin ada masalah akhirnya kelompok Rania di ijinkan untuk kembali ke sekolah tanpa harus singgah di Pos 5.
Dengan diantar salah satu Kaka pembina mereka pun kembali ke sekolah.
__ADS_1