
♥♥♥ Selamat Membaca♥♥♥
Hari berganti hari tak terasa seminggu sudah Adit benar-benar pergi meninggalkan Nayla.
Setiap hari yang Nayla lalui terasa berat, ia selalu teringat pada Adit.
Empok dan Damra yang selalu datang menghibur Nayla tetap tak berpengaruh.
"Nay..kamu jangan kaya gini terus, coba liat ni tangan tinggal tulang aja" ujar Damra bercanda sambil mengangkat tangan Nayla yg semakin kecil.
"Adit jahat Ra...katanya dia sayang aku, mana buktinya sekarang aja dia ninggalin aku lagi" ucap Nayla sambil menatap kosong kearah luar jendela kamarnya.
"Sabar Nay..aku yakin kok dia akan balik lagi sama kamu" Damra menyisir rambut Nayla yang nampak tak terurus.
Nayla hanya terdiam dengan kepala yang bersandar di tubuh Damra.
"Maafin aku Nay, aku udah janji sama Adit utuk gak bilang-bilang " batin Damra yang merasa iba pada sahabatnya .
Karena terlalu lelah menangis akhirnya Nayla pun terlelap.
Dalam tidurnya ia bermimpi Papanya menghampirinya.
Dalam mimpi itu juga Nayla melihat Papanya menangis namun yang Nayla tak mengerti saat Nayla bertanya ada apa papanya tak menjawab lalu perlahan papanya memburam dan akhirnya hilang dalam pandangan Nayla.
Seperti terkejut Nayla pun langsung terduduk lalu ia ingat jika papanya sedang sakit dan ia berjanji akan datang.
Tanpa pikir panjang lagi Nayla langsung memasukan pakaiannya kedalam tas gemblok yang biasa dia bawa dan semua keperluannya.
Lalu ia mengambil ponselnya dan memesan tiket pesawat melalui sebuah aplikasi.
Saat Nayla sudah mendapatkan tiket ia pun berusaha memejamkan matanya berharap bisa cepat terlelap dan bisa bangun pagi.
Sementara itu ditempat kerjanya Adit memandangi foto Nayla yang sedang tersenyum.
"Kamu lagi apa sayang, aku kangen banget yang, sabar ya sayang minggu depan kita ketemu lagi" Adit memandangi foto Nayla lalu mengecupnya lumayan lama.
Cup..
"Miss you sayang" Adit mendekap ponselnya lalu tak lama kemudian ia terpejam dan berharap bisa bertemu dengan Nayla walaupun hanya dalam mimpi.
Pagi pun tiba,
Nayla langsung terbangun saat suara alarm diponselnya berdering dengan sangat kencang.
Ia pun langsung mandi dan bersiap-siap setelah rapi ia pun langsung turun menuju dapur lalu memasukan susu yang sudah dibuat empok kedalam botol dan memasukan beberapa lembar roti kedalam tempat makan yang biasa ia bawa.
"Nay mau kemana udah rapi aja" sapa Empok
yang tiba-tiba muncul.
__ADS_1
"Ihh empok bikin kaget aja, Nay mau pergi dulu pok, Papa sakit" jawab Nayla sambil memakan satu lembar roti lalu memasukan botol dan tempat makan kedalam tasnya.
Empok nampak bingung
"Napa pok kok gitu liatinnya" tanya Nayla yang heran melihat wajah Mpok.
"Emn itu emang gak apa-apa neng pergi jauh sendirian" tanya mpok ragu.
"Gak apa-apa mpok, paling kalo nyasar Nay sekalian aja jalan-jalan" jawab Nayla sekenanya.
"Ya jangan sampe nyasar Nay, tar kalo gak bisa balik lagi gimana" kini wajah mpok nampak murung .
"Pok kan Nay punya mulut buat nanya kalo nyasar" jawab Nayla sambil melihat jam dipergelangan tangannya.
"Nay berangkat dulu tuh abang ojolnya dah dateng" Nayla langsung menciun tangan Empok lalu setengah berlari menuju keluar dan menghampiri abang ojol yang siap mengantarkan nya ke full bus Damri.
Tak butuh waktu lama Nayla pun sampai di sebuah mall yang terdapat pangkalan bus Damri yang akan membawanya kebandara.
Setalah membayar ongkos ojol ia pun langsung membeli tiket bus dan mencari kursi yang nyaman untuk ia duduki.
Tak lama kemudian bus pun berjalan keluar dari parkiran dan langsung masuk tol menuju Bandara Sukarno Hatta.
Sepanjang perjalanan Nayla menatap pemandangan disampingnya melalui kaca.
Ia kembali teringat pada Adit, Nayla yang tak tahu jika Adit akan segera pulang berpikiran jika Adit memang sudah tak perduli lagi padanya.
2 jam lebih akhirnya Nayla sampai juga di bandara, setelah cek in ia pun menunggu sebentar.
"Sendiri aja mbak" sapa pria itu sok ramah
Nayla celangak-celinguk melihat kekiri lalu kekanan
"Mas nanya saya?" tanya Nayla balik
"Iya lah, kan disini cuma ada mbak aja" jawab pria asing itu.
"Lah situ dah tau sendirian ngapain nanya" jawab Nayla dalam mode jutex nya.
Nayla lalu berdiri dan menuju sebuah eskalator naik saat terdengar sebuah panggilan dari maskapai yang akan ia naiki.
Sementara itu di salon, Damra melihat jam yang menempel di dinding sudah menunjukan pukul 11 namun Nayla tak kunjung datang.
Damrapun segera menghubungi ponsel Nayla namun tetap saja tak bisa dihubungi.
Akhirnya Naylapun mengeluarkan motornya lalu menuju rumah Nayla.
Alangkah terkejutnya Damra saat tau kalau Nayla sudah pergi kembali kekampung ayahnya.
Damra tertegun saat ia sedang melamun tiba-tiba saja ia melihat sepintas ada anak kecil berlari.
__ADS_1
"Ehh itu tadi apa sih?" tanya Damra pada diri sendiri.
"Kan gw gak bisa liat begituan, masa iya bisa ketularan si Nay sih" gumam Damra yang merasa merinding sendiri.
"Pokk..."
"Empokkk...aku balik kesalon ya" teriak Damra yang tanpa menunggu dijawab langsung keluar dan melajukan motornya menuju salon.
Setibanya disalon Damra nampak berpikir apakan akan memberitahu Adit tentang Nayla yang sudah kembali ke rumah Papanya di kampung atau menunggu Adit kembali baru diberitahu.
"Ahhh si Gonay kenapa jadi gw yang pusing sihh" Damra pun menaruh kasar kunci motornya diatas meja sambil berjalan kedapur.
"Kayanya kalo lagi kesel gini masak mie aja yang pedes biar keselnya ilang kaya si Nayla dulu" Damra berbicara sendiri sambil merajang beberapa buah cabe rawit untuk di masukan kedalam mie yang sedang ia rebus.
Setelah mie yang ia masak matang Damra pun segera memakannya, namun baru beberapa suap saja tiba-tiba ia ingat lagi dengan Nayla yang saat ini kondisinya tidak baik-baik saja.
Sementara itu Adit yang sedang bekerja banyak melakukan kesalah pikirannya selalu teringat pada istri yang sedang ditinggalkannya.
"Ada apa ya sama aku, kenapa kayanya hari ini aku kangen banget sih ama si Nay" batin Adit...
"Sayangg sabarr ya aku beberapa hari lagi pulang kok, aku janji setelah ini kita akan baik-baik saja" Adit berusaha menguatkan dirinya sendiri.
Sementar itu Nayla yang baru saja tiba di Bandara Minangkabau langsung naik travel menuju kota tempat papanya tinggal.
Didalam mobil perasaan Nayla semakin tak tenang, ia merasa akan terjadi sesuatu.
Nayla yang duduk di bangku depan berusaha memejamkan matanya.
Namun mobil travel yang ia naiki melaju dengan sangat kencang sedangkan jalan yang dilalui berkelak-kelok membuatnya tak bisa tidur.
"Uda pelanin dikit bisa gak, jangan terlalu ngebut" pinta Nayla pada sang sopir mobil travel.
"Tak bisa ka, kalau pelan nanti sampainya lama" jawab si pengemudi.
"Ya udah terserah uda aja lah, yang penting hati-hati" ucap Nayla pasrah..
Abang supir pun hanya tersenyum mendengar ucapan Nayla.
**Hallo semua maaf ya aku baru bisa up sekarang karena kesibukan di RL.
Karena besok sudah bulan Ramadhan Author minta maaf yang sebesar-besarnya jika ada kata-kata autor saat balas komen atau kata-kata dalam cerita author yang kurang berkenan di hati para reader.
Mohon maaf lahir dan Batin
Tapi jangan lupa tetep tekan tanda like,vote dan komen juga biar aku bisa mampir juga di karya kalian.
Maaf sekali lagi jika masih banyak Typo dan membuat kurang nyaman.
Salam Manis
__ADS_1
Amellajj/author**