
SELAMAT MEMBACA
Setelah kejadian semalam Aa jadi mempunyai tugas baru yaitu harus lebih perhatian dengan Nayla karena dari yang Aa lihat sosok itu sepertinya mengincar Nayla.
Pagi pun tiba merekapun bersiap-siap untuk kembali ke kota B.
Setelah semua barang dipastikan sudah masuk kedalam bagasi, merekapun segera meninggalkan penginapan itu.
Didalam perjalanan Nayla lebih banyak diam.
Ryan yang diam-diam memperhatikan Nayla sedikit bingung dengan perubahan Nayla.
Aa yang seakan tau apa yang sedang dipikirkan oleh Ryan langsung menepuk bahu Ryan.
"Si Nay itu masih kena pengaruh dari sosok yang tadi malem Yan, kayanya sosok itu punya dendam dengan Nayla" Aa mencoba memperingati Ryan agar lebih hati-hati.
"Siapa sosok itu Aa?" tanya Ryan masih penasaran.
"Aa masih belum yakin sih Yan" jawab Aa ragu.
"Apa itu Ina Aa, dia marah karena Nay nikah sama Ryan dan Adit menderita" celetuk Nayla tiba-tiba.
Aa hanya tersenyum.
"Iya Nay kayanya sih gitu, tapi tenang itu bukan Ina tapi jin yang menyerupai Ina" jawab Aa sambil mengusap wajahnya.
"Iya Aa" balas Nay.
"Apa hubungannya ,kan itu salah dia sendiri kenapa punya wanita lain" jawab Ryan sekan tak terima.
"Gak usah dipikirin Yan, biar itu urusan Aa" Aa.menepuk bahu Ryan.
Merekapun kembali tiba dirumah Nayla.
Sedangkaj orang tua Ryan langsung kembali kerumah Ryan.
"Sayang kamu jangan terlalu mikirin hal itu ya, kita serahin aja sama Aa" Ryan mengelus lembut bahu Nayla lalu mengecup ujung kepala istrinya.
Hari berganti hari, beberapa malak sudah Nayla selalu bermimpi buruk.
Dalam mimpinya ia melihat orang yang tenggelam dan terapung-apung di tengah lautan.
Dalam mimpinya itu ia tak bisa melihat wajah orang yang tenggelam.
Ia pun menceritakan tentang mimpinya itu pada Ryan.
__ADS_1
Bukan Ryan namanya jika menganggap mimpi itu bisa jadi kenyataan.
Menurutnya hal itu terjadi karena Nayla terlalu lelah atau lupa baca doa.
Nayla hanya cemberut mendengar ucapan Ryan.
Perasaan Nayla semakin gelisah saat tau malam ini Ryan pamit tidak pulang karena akan pergi ke suatu tempat.
"Sayang semoga kamu baik-baik saja, semoga tidak ada hal buruk yang terjadi" Nayla berdoa dalam hati.
Sedangkan ditempat lain Adit sudah mulai berubah.
Ia sadar akan semua sikap buruknya pada Dina.
Ia sadar sekarang itu Dina adalah istrinya.
Beberapa kali ia pergi mengantarkan Dina berobat untuk mendapatkan momongan.
Ia berharap jika suatu saat nanti akan bahagia bersama Dina.
Sementara malam itu Nayla tidak dapat tidur dengan nyenyak.
Pikirannya selalu tertuju pada Ryan yang sedang bertugas, hatinya sangat cemas takut sesuatu terjadi pada suaminya itu.
Pagi pun tiba, untuk menghilangkan rasa cemasnya ia pun mengajak Radit bermain disalon Damra.
"Iya" jawab Nayla pelan.
Waktu terasa begitu lama, sebentar-sebentar Nayla melihat kearah jam.
Damra hanya tersenyum melihat kegelisahan Nayla.
Sebelum berangkat Nayla sempat memberi kabar pada Ryan jika dirinya dan Radit bermain di salon.
Siang hari Adit pergi mengunjungi tempat fitnessnya.
Ia tersenyum senang saat melihat Radit yang sedang bermain disalon.
Setelah memarkirkan motornya Adit langsung masuk kesalon dan menyapa putranya.
"Anak Papa lagi apa?" sapa Adit pada putranya yang sedang asik mengigit benda yang sedang ia pegang.
Tanpa meminta ijin Adit langsung menggendong Radit dan menghapus air liur yang membasahi wajah mungilnya.
"Ih...sayang Papa jorok ih,mukanya basah ama iler" ucap Adit sambil membersihkan wajah putranya.
__ADS_1
"Nay..aku boleh bawa Radit kesebelah gak?" tanya Adit
Nayla hanya menganggukan kepalanya bertanda boleh.
Akhirnya orang yang dari semalam Nayla tunggu pun datang.
"Assalam Mualaikum" sapa Ryan yang baru saja masuk.
Nayla langsung melihat kearah pintu dan begitu melihat wajah Ryan ia pun langsung tersenyum bahagia.
"Akhirnya kamu pulang juga" ucap Nayla sambil memeluk suaminya.
Ryan sedikit terkejut dengan sikap Nayla yang langsung memeluknya dan menangis.
"Kamu kenapa sayang, kok nangis sih?" Ryan menatap wajah Nayla dan menghapus air mata Nayla dengan jarinya.
"Gak apa-apa Mas, aku senang aja akhirnya kamu pulang" jawab Nayla jujur.
"Ada yang khawatir tuh Yan sampe gak bisa tidur mikirin kamu" celetuk Damra sambil membuatkan kopi untuk Ryan.
Ryan tersenyum bahagia ternyata Nayla mulai mencintai dirinya.
"Terima kasih ya sayang" Ryan mengecup kening Nayla.
"makasih buat apa?"tanya Nayla bingung.
"Buat semuanya, karena kamu dah khawatir sama aku dan nungguin aku pulang" jawab Ryan.
"Oh...itu" jawab Nayla malu.
"Mana Radit?" tanya Ryan yang baru sadar karena tidak melihat putranya.
"Lagi sama Adit" jawab Nayla.
"Oh...."
"Ra..gw numpang istirahat ya"Ryan yang merasa sangat lelah meminta ijin pada Damra untuk beristirahat sejenak di kamarnya.
Setelah mendapat ijin dari Damra, Ryanpun bergegas naik kelantai 2 menuju kamar Damra.
Karena terlalu lelah, tak butuh waktu lama Ryanpun langsung terlelap.
Halllo dah up lagi ni.
Jangan lupa ya tetap kasih dukungannya buat Author.
__ADS_1
Salam Manis
Amellajj/Author