
SELAMAT MEMBACA
Menjelang sore mereka sudah berkumpul di teras depan rumah Bi Siti, ada banyak makanan yang tersaji disana, Rania yang memang suka ngemil langsung mencicipi satu demi satu kue yang tersaji.
Saat ia hendak mencicipi kue apem gula merah tiba-tiba saja sosok bocil muncul disampingnya.
"Bikin kaget aja sih cil,loe mau kue emangnya?" ucap Rania yang seakan berbicara dengan manusia.
Keluarga Adit yang memang sudah terbiasa melihat Rania berbicara sendiri hanya tersenyum mendengar ucapan Rania.
"Masa iya hantu doyan kue Ran" ucap Radit sambil mengambil satu buah kue bolu.
"Lah siapa tau aa"
Nayla dan Adit pun tersenyum, mereka bersyukur mempunyai tiga orang anak walaupun sifat mereka berbeda tapi mereka saling menyayangi.
Ardina yang lebih kalem dan dewasa dibandingkan dengan Rania, sedangkan Radit begitu menyayanginya kedua adiknya.
Setelah ngobrol bersama Rania meminta ijin untuk jalan-jalan, soalnya sejak mereka tiba ia belum sama sekali mengeksplor kampung itu.
Karena tidak ingin terjadi sesuatu pada adiknya Raditpun ikut menemani keduanya.
Suasana di kampung itu saat sore lumayan sepi, tidak banyak anak-anak yang bermain dijalan, mungkin karena pekarangan rumah mereka luas hingga mereka pun cukup bermain didalam area rumah saja.
Saat melintasi sebuah tempat yang dipagari Rania berhenti.
Radit yang tau jika itu adalah makam langsung menyuruh Rania untuk segera melanjutkan perjalanan.
Seperti ada yang menahan kaki Rania gadis itu pun tidak dapat bergerak.
"Aa kaki Ran kaya ada yang pegang gak bisa dipake buat jalan" ucap Rania
"Ish aada-ada aja sih kamu Ran" Radit pun membaca ayat kursi yang ia yakin dapat mengusir hal-hal yang seperti Rania alami saat ini.
Setelah Radit selesai membaca ayat kursi mereka pun kembali berjalan mengikuti jalan aspal hingga akhirnya tidak ada lagi rumah disekitarnya.
"Udah mentok ni aa,ayo kita pulang nanti dicariin mama lagi"ajak Ardina
Mereka pun hendak berjalan pulang namun tiba-tiba saja jalan yang mereka lalui kini berubah yang tadinya jalan beraspal kini hanya seperti jalan setapak xx&saja.
"Kok jalannya berubah ya,kayanya tadi jalanya lebar beraspal lagi kok sekarang cuma jalan setapak aja" ucap Rania heran
"Aa juga gak tau Ran, kayanya sih iya tadi aja kita bisa jalan lega" ucap Radit yang merasa heran.
"Ya udahlah ayo kita pulang,ikutin aja jalan ini"
Raditpun berjalan didepan dan kedua adiknya mengikuti dibelakang.
Entah kenapa saat Rania butuh sosok bocil itu selalu tidak pernah ada.
"Ni bocil kemana sih,kalo lagi dibutuhin malah gak ada"ucap Rania
"Emang mau ngapain nyariin tuh bocil Ran?"tanya Ardina
"Ya kan bisa nanya sama dia,suruh nyari jalan"ucap Rania
"Udah gak usah ribut, sekarang kita fokus aja cari jalan" ucap Radit
Mereka pun berjalan menyusuri jalan setapak yang semakin lama semakin mengecil.
Radit pun terlihat bingung saat jalan yang mereka lalui semakin lama semakin sempit dan ditumbuhi semak belukar di sisi kanan dan kirinya.
"Aa ini kenapa jadi kaya hutan sih"ucap Rania yang tiba-tiba saja ingat dengan mimpinya.
"Aa juga gak tau Ran,kan tadi kita cuma ikutin jalan aja,itu juga jalannya cuma lurus harusnya kalau kita kembali ya cuma balik badan aja kan"ucap Radit.
"Aa Ar takut" Ardina memegang tangan Rania kencang, begitu juga dengan Rania yang memegang erat lengan Radit.
"Ya udah pegang tangan Aa ya, jangan sampe ada yang ketinggalan"ucap Radit sambil terus berusaha mencari jalan.
Sementara itu dirumah bi Siti,Adit dan Nayla terlihat cemas saat ketiga anak mereka tidak kunjung juga datang, padahal sebentar lagi magrib.
"Bi ini anak-anak pada kemana sih,udah mau Maghrib ini" ucap Nayla.
"Sabar aja Nay, mungkin sebentar lagi mereka tiba"jawab Bi Siti
"Gak bisa tenang bi, mereka kan anak-anak yang berbeda bi"ucap Nayla lagi.
"Justru karena meraka berbeda, mereka ada ujiannya sendiri Nay,bisa jadi saat ini mereka bertiga sedang di uji" ucap Bi Siti sambil memindahkan nasi yng yang baru matang kedalam sangku.
Karena begitu khawatir Adit menunggu mereka didepan pagarmaa
Hari pun sudah mulai gelap,namun ketiganya belum juga terlihat.
"Pah, ayo kita cari mereka ini udah gelap"
Nayla semakin gelisah saat malam semakin gelap namun ketiga anak-anaknya belum juga ada tanda akan pulang.
Karena tidak ingin membuat Nayla semakin khawatir, Aditpun mengikuti kemauan Nayla.
Ia masuk untuk mengambil senter.
__ADS_1
Dengan dibantu mang Jaja dan juga Bi Siti mereka pun berjalan mengikuti jalan yang tadi Radit lalui bersama kedua adiknya.
Bi Siti dan mang Jaja pun menyempatkan diri meminta bantuan kepada ketua RT untuk mencari ketiga keponakannya.
Karena jarak antar rumah yang lumayan jauh dan banyaknya pohon besar yang tumbuh di sisi jalan serta minim nya pencahayaan membuat malam terasa begitu begitu gelap.
Nayla yang memegang erat tangan Adit merasa ada yang aneh dengan jalan yang mereka lalui.
Mang Jaja yang sempat meminta bantuan kepada ketua RT untuk mencari ketiga keponakannya datang dengan beberapa orang warga.
Mereka pun berpencar agar lebih cepat untuk menemukan Radit dan adik-adiknya.
Sementara itu Radit masih terus berusaha mencari jalan keluar agar mereka dapat kembali ke rumah Bi Siti.
"Kayanya Ran pernah kesini deh aa" ucap Rania.
"Ish gak usah ngomong yang macem-macem deh Ran,kita aja baru kesini sekarang"ucap Ardina.
"Bener Ar, tapi Ran lupa kapan yang jelas didepan sana ada gubuk kosong" ucap Rania lagi.
Dan benar saja tidak jauh didepan mereka ada sebuah gubuk dan hal itu sama persis dengan mimpi Rania kemarin.
"Loe bener Ran, itu ada gubuk,Ar cape banget Aa, kita istirahat ya disana" pinta Ardina.
"Iya, aa juga pegel ini" ucap Radit.
Mereka pun beristirahat digubuk tua itu.
Rania pun melakukan hal yang sama seperti mimpinya ia meminta ijin kepada penunggu yang tidak dapat dilihat oleh mata.
"Numpang-numpang anak kambing mau istirahat" ucap Rania
"Dih sembarangan loe, gw bukan anak kambing,loe aja tuh" ucap Ardina kesal.
"He...he segitu aja marah Ar, bercanda tau biar gak serem" ucap Rania lagi.
"Udah gak usah ribut,kita numpang tidur disini dulu aja,besok pagi kalo udah sedikit terang kita lanjut lagi cari jalannya" ucap Radit.
Rania dan Ardina pun setuju, mereka berdua langsung merebahkan tubuh mereka diatas bangku kayu yang sudah mereka bersihkan terlebih dahulu.
Keduanya langsung tertidur pulas sedangkan Radit menjaga kedua adiknya.
Walaupun sebenarnya ia begitu lelah dan juga mengantuk namun ia khawatir jika ia tidur akan ada binatang buas.
Baru saja Rania tidur sebentar ia bermimpi bertemu dengan seorang kakek iya bilang akan menunjukkan arah keluar dari hutan yang tidak kasat mata itu.
Seperti ada yang membangunkan, Rania pun langsung membuka mata dan melihat Radit yang hampir saja tertidur.
"Kamu aja yang tidur, biar aa yang meadid"ucap Radit.
Sementara itu Nayla dan Adit serta dibantu beberapa orang warga terus berteriak memanggil nama mereka bertiga
Rania ...
Radit ...
"Ar...... kalian dimana" teriak Nayla dengan air mata yang sudah mulai mengalir.
"Sayang kamu jangan nangis, insyaallah mereka baik-baik saja, ada Radit yang aku yakin bisa jagain adik-adiknya"
"Tapi Dit, mereka dimana,aku takut terjadi sesuatu pada mereka"ucap Nayla sambil memeluk Adit.
"Yang sabar Nay,bibi juga yakin mereka baik-baik saja"ucap Bi Siti.
Nayla tiba-tiba saja melihat ada hutan yang begitu gelap didepan mereka.
"Dit,apa mereka masuk kedalam hutan itu ya?"
"Mana hutan sayang, aku gak liat ada hutan disini" ucap Adit.
"Ada, itu didepan kita, tapi hutannya kenapa begitu gelap sekali, tidak ada jalan setapak juga"ucap Nayla.
Adit pun mulai faham jika yang dilihat oleh Nayla saat ini adalah hutan yang tidak dapat dilihat oleh orang biasa.
Hanya orang-orang yang mempunyai kelebihan saja yang dapat melihatnya dan kebetulan anak-anak mereka merupakan anak yang spesial.
"Bisa jadi mereka masuk kesana" ucap Adit.
"Ayo kita masuk Dit,aku yakin mereka ada disana" ucap Nayla sambil menarik tangan Adit.
"Sayang tapikan aku gak bisa lihat apa yang kamu lihat Nay" ucap Adit.
"Kamu telpon Aa Iwan,aku yakin aa bisa nolongin kita" ucap Nayla lagi.
Aditpun menuruti permintaan Nayla, ia mengambil ponselnya dan langsung menghubungi Aa Iwan.
Aa Iwan yang memang sudah dapat merasakan akan ada sesuatu langsung mengangkat teleponnya.
Adit pun menceritakan semuanya kepada Aa dan aa Iwan hanya bilang jika ia dan Nayla tidak usah khawatir karena akan ada yang menolong dan membawa mereka kembali.
Aa Iwan tidak menjawab saat Adit bertanya apakah benar mereka saat ini ada dalam hutan yang Nayla bilang.
__ADS_1
"Apa kata Aa Iwan Dit,kita harus apa?"tanya Nayla yang semakin khawatir.
"Aa hanya bilang kita tidak perlu khawatir nanti akan ada yang menuntun mereka keluar dari dalam hutan itu" ucap Adit.
"Tapi kapan Dit, ini udah malem banget"
"Sabar sayang" ucap Adit yang tidak berani mengambil keputusan apakah mereka akan masuk kedalam hutan yang Nayla lihat atau hanya menunggu saja seperti yang ada Iwan ucapkan.
Sementara itu didalam hutan Rania melihat seorang yang berdiri saja tidak jauh dari tempat mereka.
"Kakek siapa?kenapa berdiri disitu, sini aja kek gabung sama kita" ucap Rania sambil tersenyum.
Entah kenapa Radit yang juga sama mempunyai kelebihan seperti Rania namun saat ini ia tidak dapat melihat sosok kakak yang Rania maksud.
"Kok gw gak liat ya Ran kakek yang loe bilang?"tanya Radit.
"Masa sih aa, itu loh kakek itu senyum"ucap Rania
"Bener Ran, aa gak liat ada orang disana"
"Kan emang itu bukan orang aa" jawab Rania
Mereka pun diam sesaat.
"Aa kata Kakek itu kita disuruh cepet keluar dari sini" Rania memberitahu Radit apa yang di ucapkan oleh kakek itu.
"Tapi kan kita gak tau jalan Ran, bisa gak kakek itu kasih tau kita jalan keluar dari sini?"ucap Radit
Rania pun melihat kearah kakek itu dan ia pun mengangguk.
"Ia aa bisa, dia mau kok kasih petunjuk agar kita bisa keluar dari sini" ucap Rania sambil tersenyum.
Rania pun langsung membangunkan Ardina yang sudah tidur pulas.
"Bisa-bisanya tidur pules ditempat kaya gini Ar" ucap Rania
"Gw ngantuk banget Ran, udah pagi ya"tanya Ardina yang masih sangat mengantuk.
"Pagi dari mana Ar, disini sih biarpun pagi tetep aja gelap"
"He....he kirain Ran"Ardina hanya nyengir saat mendengar perkataan Rania.
"Ayo cepet kata kakek itu kalau kita mau keluar harus sebelum pagi" Rania memberitahu apa yang kakek itu ucapkan kepadanya.
Mereka pun berjalan mengikuti petunjuk yang kakek itu ucapankan melalui Rania.
Sementara itu dirumah yang Rahmat kontrak, pria itu merasa kesal karena tidak melihat Rania dan beberapa mantra yang ia tujukan untuk Rania tidak mempan.
Mereka pun terus berjalan mengikuti apa yang dikatakan oleh kakek melalui Ramemiena
Saat mereka hampir tiba di perbatasan hutan ghoib dan juga dunia nyata tiba-tiba saja ada angin yang berhembus kencang membuat mereka saling berpegangan.
Rania ingat dengan apa yang kakek itu ucapankan jika mereka harus keluar dari hutan itu sebelum pagi tiba.
Tiba-tiba saja dari belakang Rania muncul sosok hitam dengan taring yang runcing dan juga kukunya yang panjang menarik paksa dan hendak membawa Rania.
"Aa tolong Ran, ini ada yang narik" teriak Rania sambil memegang kencang tangan Radit, begitu pun dengan Radit yang melihat Rania dalam bahaya langsung memegang erat adiknya itu.
Saat itu juga kakek berbaju putih itu ikut membantu mereka,dari telapak tangannya keluar sinar putih dan secepat kilat menghantam tubuh mahluk hitam itu.
Beberapa saat kemudian sosok itu pun menghilang dan angin kencang yang tadi hanya bertiup disekitar mereka pun ikut menghilang.
Kakak berbaju putih itupun meminta mereka bertiga untuk berlari sekencang mungkin hingga melewati perbatasan.
Mereka bertiga pun mengikuti apa yang diperintahkan oleh kakek itu namun sekencang apapun mereka berlari mereka seperti lari ditempat, perbatasan itu terlihat dekat namun mereka begitu sulit untuk tiba disana .
Adit yang mendapatkan sebuah pesan dari Aa agar membantu berdoa langsung meminta kepada semua yang ada di sana untuk doa bersama.
Seperti terjatuh dari ketinggian tiba-tiba saja mereka bertiga terjatuh dan itu terasa begitu sakit.
Bruakkkkk
Aaaaduh
Naylapun langsung terkejut tiba-tiba saja ketiga anaknya sudah ada didepannya.
"Alhamdulillah kalian selamat" Nyala pun langsung memeluk mereka bertiga.
"Mamah, ini beneran mamah kan?"tanya Rania masih belum percaya jika mereka sudah keluar dari dalam hutan itu.
Ia pun menatap satu persatu orang yang ada disana, hampir semua tidak ia kenal.
"Kamu pasti bukan mama Nay,kalian pasti mahluk jadi-jadian kan" ucap Rania yang masih belum percaya dengan apa yang ia lihat.
Karena kesal Naylapun langsung mencubit putrinya itu.
"Aduhhhh sakit mah" protes Rania.
"Lagian asal ngomong aja, harus bilang terima kasih mereka udah bantu nyariin kalian"
Rania pun langsung merasa malu, ia bersembunyi dibalik badan mamanya.
__ADS_1