
Selamat Membaca
Tanpa terasa sebulan sudah berlalu setelah perceraiannya dengan Adit.
Hari itu Nayla merasakan badannya kurang fit, ia pun menghubungi Damra meminta ijin tidak pergi ke salon.
Damra yang sudah menganggap Nayla seperti adik sendiri akhirnya ia pun menutup salonnya, ia memilih menemani Nayla dirumahnya.
Tak butuh waktu lama akhirnya Damrapun tiba dirumah Nayla.
Ia pun langsung masuk dan menemui Nayla dikamarnya.
Dengan sangat hati-hati Damra membuka pintu kamar Nayla.
Begitu pintu terbuka ia melihat Nayla yang masih berbaring dengan wajah sedikit pucat.
Damrapun mendekat dan duduk di samping tempat tidur sambil memperhatikan wajah Nayla yang sedikit tirus.
"Maafin aku Nay, dulu aku sangat dukung kamu sama Adit, aku gak tau kalau akhirnya begini"
"Aku janji akan selalu jagain kamu Nay" ucap Damra pelan.
Sambil menunggu Nayla bangun Damra membantu Empok didapur.
Hari ini Nayla meminta Empok untuk membuatkannya tumis kangkung dan juga peyek udang.
Matahari sudah mulai tinggi saat Nayla membuka matanya.
Perutnya terasa seperti diaduk-aduk hingga ia pun langsung berlari menuju kamar mandi dan mengeluarkan seluruh isi perutnya.
Damra yang mendengar suara Nayla langsung berlari menuju kamar dan mencari keberadaan Nayla.
Damra begitu terkejut saat membuka pintu kamar mandi dan melihat Nayla yang terduduk dilantai karena lemas.
"Loe kanapa sih Nay, mag loe kambuh ya" tanya Damra sambil memapah Nayla menuju tempat tidur.
"Aku gak tau Ra, perut aku mual banget" jawab Nayla lemas.
Empok yang masuk dengan membawa satu gelas air hangat langsung menghampiri Nayla dan menempelkan punggung tangannya di dahi Nayla.
"Berobat ya Nay, biar cepet sembuh" ujar Empok yang merasa khawatir.
"Gak usah pok, besok juga sembuh" tolak Nayla
Nayla yang merasa sangat lemas langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur dan memejamkan matanya.
Damra dengan setia menunggui Nayla sambil memainkan ponselnya.
Saat Nayla tertidur ponselnya berdering, Damrapun langsung melihat siapa yang menelepon Nayla.
Namun Adit tertulis di layar ponsel Nayla.
Tak ingin Nayla terbangun Damrapun langsung menonaktifkan ponsel Nayla.
"Ngapain sih tuh buaya buntung masih nelpon aja" gerutu Damra sambil membenahi kamar Nayla dan membuka jendelanya lebar agar ada angin yang masuk.
Sementara itu di kantornya Ryan tidak dapat berkonsentrasi karena pikirannya terus pada keada'an Nayla.
__ADS_1
Sejak mendapatkan kabar dari Damra Ryan terlihat uring-uringan sebentar-sebentar melihat jam tak sabar menanti sore dan menemui Nayla.
Sementara itu dirumahnya Adit nampak kurus hampir tiap malam ia tak bisa tidur, sebentar-sebentar melihat ponselnya berharap Nayla mau membalas chatnya.
Dina yang setiap hari menemui Adit untuk mengurus semua kebutuhan Adit nampak sedih melihat kondisi Adit yang semakin kurus.
Setelah makan siang Aditpun kembali terlelap akibat obat tidur yang ia minum.
Saat Adit tidur Dina langsung pergi kerumah Nayla untuk berbicara.
Begitu tiba di rumahnya Nayla kedatangan Dina langsung disambut oleh Damra dengan wajah sinisnya.
"Ada perlu apa loe kemari, kan urusan mereka sah selesai loe bisa deh miliki tuh buaya" ucap Damra dari balik pagar.
"Ra ..aku mau bicara sama Nayla, tolong ijinin aku ketemu sama Nay" pinta Dina sambil memohon pada Damra.
"Loe mau ngomong apa lagi, mau nyakitin dia lagi" tanya Damra
"Bukan Ra aku ada perlu sama Nay" pinta Dina sedikit memaksa agar Damra mau membiarkannya bertemu dengan Nayla.
Nayla yang terbangun karena mendengar berisik dibawah langsung turun perlahan walaupun sebenarnya ia merasa badannya sangat lemas.
"Ada apa Ra kok kaya lagi berantem" tanya Nayla dari depan pintu.
Damra yang terkejut melihat Nayla sudah berdiri didepan pintu sedikit gugup karena tak menyangka Nayla akan turun.
Dina yang melihat Nayla tak menyia-nyiakan kesempatan iapun berteriak memanggil Nayla dan bilang ingin bicara.
Dengan sedikit kesal Damra akhirnya membuka pintu pagar dan membiarkan Dina masuk.
Dina tak langsung menjawab ia memperhatikan wajah Nayla yang terlihat pucat.
"Kamu sakit Nay?" tanya Dina
Emmm
hanya itu yang keluar dari mulut Nayla.
"Nay.. sebelumnya aku mau minta maaf,aku gak tau kalau kamu istrinya Adit" ucap Dina sambil menunduk
" Udahlah Din gak usah bahas lagi semua udah lewat" ucap Nayla pelan dengan wajah yang semakin pucat dan keringat mengalir diwajahnya.
"Damra aku gak kuat"ucap Nayla pelan dan tak lama kemudian ia tak sadarkan diri.
Damra yang melihat Nayla pingsan langsung berusaha menyadarkan Nayla dengan mengoleskan minyak kayu putih di depan hidung Nayla.
Setelah beberapa menit Nayla masih tak sadarkan diri Damra langsung mengambil ponsel Nayla dan menghubungi Aa Iwan.
Tak lama kemudian Aa pun tiba dirumah Nayla dan langsung menghampiri Nayla yang masih terbaring di bangku ruang tamu.
"Dina mending loe pulang aja" usir Damra secara tidak langsung pada Dina.
"Ra aku benar-benar minta maaf, aku gak tau kalau ternyata mereka masih sehati" ucap Dina sambil menunduk.
"Maksudnya apa?" tanya Damra sambil menatap tajam kearah Dina.
"Adit juga lagi sakit Ra gara-gara mikirin Nay" Dina berusaha menahan air matanya yang hendak jatuh.
__ADS_1
" Sejak mereka bercerai Adit terus merasa nyesel Ra, sekarang dia lagi sakit karena kangen sama Nay" ucap Dina yang akhirnya tak mampu menahan air matanya.
"Andai dia dulu jujur pasti semua gak akN jadi begini Din, dia masih cinta ama loe makanya dia ninggalin Nayla" ucap Damra sambil menahan rasa kesalnya.
"Udah loe pulang aja" Damra kembali mengusir Dina dan akhirnya Dina pun pulang.
Aa yang khawatir karena Nayla tak juga siuman akhirnya membawa Nayla kerumah sakit.
Setelah mendapat penanganan akhirnya Naylapun membuka matanya dan melihat sekitarnya yang yang terasa asing.
Dengan susah payah ia berusaha duduk namun karena lemas ia pun kembali merebahkan dirinya.
Sementara itu Aa yang dipanggil oleh dokter nampak serius mendengarkan penjelasan dokter yang menangani Nayla.
Aa menarik nafas panjang begitu keluar dari dalam ruangan.
Damra langsung menghampiri Aa dan bertanya apa yang dikatakan dokter tentang penyakit Nayla.
Sejenak Aa pun terdiam ia tak tau harus berbicara apa pada Damra.
"Aa.." panggil Damra sambil menepuk bahu Aa Iwan.
"Apa Ra, tar dulu Aa tuh bingung gimana kasih tau nya" jawab Aa sambil bersandar didinding.
"Emang kenapa aih si Aa bikin gw makin kepo" ucap Damra semakin penasaran.
"Si Nay hamil Ra" ucap Aa pelan
Damra yang terkejut mendengar perkataan Aa berusaha untuk menyakinkan pendengaran.
"Hamill?" ulang Damra dan Aa hanya membalasnya dengan anggukan.
"Ini pasti gara-gara yang kemarin dia di culik sama tuh kadal" Damra yang kesal mengepalkan tangannya.
"Diculik??"
"Sama siapa?" tanya Aa yang kini penasaran.
"Sama tuh kadal Aa" jawab Damra kesal
"Ihh kadal siapa Ra" tanya Aa tambah bingung.
"Kadal itu Adit Aa" jawab Damra kesal.
Akhirnya mereka pun duduk di bangku yang ada didepan ruangan sambil berpikir bagaimana cara memberi tahu Nayla tentang kondisinya saat ini.
**Hallo semua Maaf aku baru bisa up lagi.
Maaf juga kalau up nya cuma sedikit, semoga kalian gak bosan ya dengan kisah Adit dan Nayla.
Para reader jangan lupa kasih author like, rate dan komennya ya sebagai dukungan untuk author.
Terima kasih buat kalian yang masih setia.
Salam Manis
Amelajj/ Author**
__ADS_1