TERBUKANYA MATA BATIN

TERBUKANYA MATA BATIN
Bab 371


__ADS_3

HAPPY READING


Hari Sabtu Radit dan juga teman-temannya berencana menginap di rumah nenek temannya yang bernama Dio.


Jam 9 pagi Dio dan teman-temannya datang kerumah Radit untuk menjemput sekaligus meminta ijin pada Nayla.


Nayla sengaja membawakan beberapa buah kue sebagai buah tangan untuk Neneknya Dio dan juga untuk bekal selama di perjalanan.


Setelah hampir 6 Jam akhirnya mereka pun tiba di rumah Neneknya Dio.


"Woiii bangun dah sampe ini" Dio pun membangunkan temannya satu persatu.


"Udah sampe, akhirnya bisa selonjoran juga gw" ucap Raka


"Ayo masuk dulu tar kita tidur di kamar gw" ajak Dio pada ke empat temennya.


Setelah bersalaman dengan Neneknya Dio mereka pun masuk kedalam kamar sekedar meluruskan kaki dan merebahkan tubuh.


Seperti biasanya Radit selalu penasaran dengan tempat yang baru saja ia datangi.


Ia pun membuka jendela lebar-lebar agar ada udara yang masuk.


Raka, Dio dan Aldi nampak masih tidur pulas sedangkan Radit tidak dapat lagi memejamkan matanya.


Ia pun keluar dari kamar dan duduk diteras depan rumah.


Nenek Dio yang kebetulan saja baru dari warung langsung duduk disebelah Radit dan mengajaknya berbicara.


Baru saja bertemu sebentar mereka sudah begitu akrab.


Radit baru sadar jika yang sering ia temui di sekolah kini mengikutinya juga hingga ke rumah neneknya Dio.


"Ish ngapain sih lu pake ngikutin gw" decak Radit kesal.


Mahluk itu hanya tersenyum.


Radit yang tidak tau jika Neneknya Dio juga bisa melihat yang tidak kasat mata hanya tersenyum saat melihat interaksi antara Radit dan mahluk yang mengikutinya.


"Kamu tenang aja dia itu baik dan gak akak ganggu kamu" ucap Neneknya Dio.


Raditpun heran mendengar perkataan sang Nenek.


"Kok Nenek tau sih, apa Nenek juga bisa liat ...." Radit terlihat ragu untuk meneruskan perkataannya.


Neneknya Dio pun tersenyum sambil mengangguk bertanda Iya.


Radit pun banyak mendengar cerita dan juga nasehat dari Neneknya Dio.


"Dih udah akrab aja nenek sama Radit" ucap Dio yabg berdiri di depan pintu sambil mengucek-ngucek matanya.


"Nek makan sama apa?" tanya Dio sambil mengelus-elus perutnya.


"Dih bangun tidur langsung minta makan loe"


"Bodo" Dio pun langsung masuk kedalam dan membuka tuding saji melihat apa saja isinya.


Ia pun langsung mengambil piring dan mengisinya dengan nasi dan lauk pauk lalu membawanya keluar.


Ia duduk disamping Radit sambil menikmati makanannya.


"Baca doa dulu woiii"

__ADS_1


"Udah dalem hati Dit" ucap Dio sambil tertawa.


Setelah selesai makan Dio pun kembali ke teras depan sambil menikmati suasana sore di kampung Neneknya.


"Nanti malem kita cari belut yuk" ajak Dio


"Gw gak bisa cari belut, lagi juga gw jijik kaya uler" tolak Radit.


"Ayoo gw mau dong cari belut" ucap Raka dan Aldi yang ternyata sudah bangun.


Jam 10 malam mereka pun keluar rumah dan menuju sawah yang berada tidak jauh dari rumah neneknya Dio.


Dengan membawa senter masing-masing mereka berempat berjalan di jalan setapak menyusuri sawah.


"Horee dapet" teriak Aldi saat mereka berhasil menangkap belut yang bersembunyi di lubang.


Saat mereka sedang seru-serunya mencari belut dari kejauhan Radit seperti melihat sesuatu namun ia diam saja.


Ia tidak mau merusak suasana dan kebahagiaan teman-temannya.


"Eh..loe kan ngikutin gw terus ya dari Jakarta sampe sini, mending loe jagain gw sama temen-temen gw biar gak diganggu sama yang didepan itu" ucap Radit dalam hati pada sosok wanita terus saja mengikutinya.


"Baiklah Radit gw usahain ya, tapi gak janji juga sih kalo dia gak akan ganggu kalian" balas sosok wanita itu.


"ya,yang penting kan loe usaha" balas Radit lagi.


Radit dan teman-temannya semakin asik mencari belut sambil sesekali bercanda, tanpa mereka sadari ada beberapa sosok yang yang tidak suka dengan kehadiran mereka saat ini.


Saat mereka sedang tertawa tiba-tiba saja mereka mendengar suara seorang sedang berteriak.


WOIIIIII


"Itu suara siapa?" tanya Aldi yang mulai merasa ketakutan, ia pun memegang tangan Radit dengan sangat kencang hingga Radit sedikit meringis.


"Aaawww sakit Di" rintih Radit yang merasa perih di tangannya.


"Gw takut Dit, tadi itu suara apa?" tanya Aldi


"Gw gak denger apa-apa " sahut Dio berpura-pura berani padahal dalam hatinya ia pun mendengar suara itu.


"Ya udah kalo udah merasa gak nyaman mending kita pulang aja udah malem banget" ujar Radit


Akhirnya mereka pun setuju untuk kembali kerumah Neneknya Dio.


Mereka pun berjalan di jalan kecil ditengah sawah, saat melewati orang-orangan sawah saat Raka melintas di sampingnya ia merasa seperti ada yang memegang tangannya.


"Gak mungkin kan orang-orangan sawah tadi megang tangan gw" batin Raka.


Raka yang berjalan di paling akhir merasa jika ada seseorang lagi dibelakangnya.


Ia pun menoleh kebelakang dan tidak melihat apapun hanya gelap.


Namun ketika ia sedang berjalan ia kembali merasa ada yang mengikutinya lagi hingga ia pun kembali melihat kebelakang dan tanpa ia sadari ketiga temannya telah berada jauh didepannya.


Namun dalam penglihatan Raka saat ini ia sedang bersama teman-temannya.


Namun ia sedikit heran kenapa tiba-tiba saja Aldi,Radit dan Dio hanya diam padahal sebelumnya mereka saling berbicara dan bercanda.


Tiba-tiba saja ia merasa semua bulu-bulu halus ditubuhnya berdiri.


"Dit....Radit .." panggil Raka pada Radit yang berjalan didepannya.

__ADS_1


Tidak ada jawaban dari Radit bahkan menoleh pun tidak.


"Ishh si Radit dipanggil diem aja" decak Raka kesal.


"Dio.....woiii Dio" lagi-lagi yang dipanggil tidak memberikan respon hingga akhirnya Aldipun merasa kesal.


"Ishh pada budek apa dipanggil gak ada yang nengok" gerutu Raka pelan.


Tiba-tiba saja mereka bertiga berhenti secara bersamaan dan melihat kearah belakang.


Raka yang berjalan sambil menunduk tidak menyadari jika ketiga mahluk itu menatapnya.


Kaaa


"Kaya ada yang manggil gw" batik Raka ia pun mengangkat wajahnya dan saat itu juga ia melihat wajah dari ketiga temannya


Aaaaaaaaaaaaaa


Teriak Raka saat melihat wajah ketiga mahluk yang menyerupai teman-temannya.


Ia pun langsung membalikkan badannya dan berlari sekencang-kencangnya, berkali-kali ia terjatuh ke sawah yang berlumpur namun dengan cepat ia bangun dan kembali berlari menjauh.


"Tolonggggg ada hantu" teriak Raka yang terus berlari tanpa arah.


Hingga akhirnya ia berhenti berlari saat menabrak beberapa orang hingga terjatuh.


Aaawww


Teriak orang yang ditabrak Raka


Raka pun melihat orang yang ia tabrak


"Waaaaah hantuuu" Raka berteriak sekencang-kencangnya sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


Kebetulan yang di tabrak Raka adalah Dio yang tadinya berniat untuk menyusul Raka.


"Hantu? dih gak sopan lu Ka masa gw dibilang hantu" protes Dio


Radit dan Aldi Yeng berdiri tidak jauh dari sana langsung menghampiri Dio yang sedang memarahi Raka.


Radit yang melihat Raka begitu ketakutan mencoba membuka kedua tangan Raka.


"Ka ini gw Radit, Dio sama Aldi" ucap Radit pelan.


"Bukan kalian hantu, pergi saja jangan ganggu gw" usir Raka.


Radit pun berusaha menyakinkan Raka jika mereka bukan hantu tetapi teman-temannya.


Perlahan Rakapun menurunkan tangannya.


"Bener kalian bukan hantu yang tadi?" tanya Raka masih ragu.


"Bener Ka, ini gw" jawab Radit.


Raka pun mencubit tangan Radit kencang hingga Raditpun berteriak kesakitan.


"Dih sakit tau Ka" ucap Radit kesal.


"Iya sekarang gw yakin kalo kalian manusia" ucap Raka sambil tersenyum.


Karena tidak ingin ada kejadian aneh lagi mereka pun memutuskan untuk segera kembali ke rumah Neneknya Dio

__ADS_1


__ADS_2