TERBUKANYA MATA BATIN

TERBUKANYA MATA BATIN
Bab 368


__ADS_3

SELAMAT MEMBACA


Adit yang sedang bersantai bersama Nayla dan anak-anaknya begitu terkejut saat mendapat telepon dari sebuah rumah sakit yang menyatakan jika putranya Radit mengalami kecelakaan.


Ia dan Nayla langsung berganti pakaian dan hendak menuju sebuah rumah sakit tempat di mana Radit dan teman-temannya berada.


"Pah tadi kata perawatnya gimana kondisi Radit" tanya Nayla yang terlihat sangat khawatir.


"Mereka gak bilang mah, cuma kita di suruh kesana aja, mama yang tenang ya berdoa saja semoga Radit dan teman-temannya tidak luka" ucap Adit berusaha menenangkan Nayla


"Lah papa giman sih, kalo gak luka ya mana mungkin di bawa ke RS" ucap Nyala kesal.


"Astaghfirullah Mah papa itu tadi cuma salah ngomong aja, abis mama panik banget sih"


"Sayang kamu tenang dulu ya sambil berdoa" ucap Adit sambil mengelus kepala Nayla.


Nayla yang terlihat sangat cemas terus saja memainkan ujung pakaiannya sambil mulutnya terlihat seperti membaca sesuatu.


Akhirnya mereka pun tiba di rumah sakit yang di tuju dengan sangat tergesa-gesa mereka segera menuju UGD.


Nayla bisa bernafas lega saat melihat putranya sedang duduk dengan kepala di balut perban.


Adit pun segera menemui dokter jaga, karena Radit sudah boleh pulang ia pun segera mengurus administrasi dan segera membawa Radit pulang.


Saat masih di parkiran tiba-tiba saja Radit ingat pada Karin, tadi Papanya masih belum bisa di hubungi.


Entah karena merasa kasihan Radit pun minta kepada Papanya untuk menunggu sebentar.


Raditpun kembali masuk kedalam rumah sakit menuju IGD dan benar saja Kamrik masih duduk disana sambil termenung apa lagi ponselnya hilang.


"Rin.. bokap loe masih lama?" tanya Radit


"Gak tau Dit kan aku gak bisa hubungi Papa" jawabnya lesu.


"Loe balik lagi demi gw?" mata Karin sedikit berbinar bahagia.


Radit yang tadinya ia pikir acuh ternyata masih perduli kepadanya.


Raditpun menelpon Papanya dan meminta mengurus administrasi Karin agar bisa pulang bersamanya.


Tak butuh waktu lama Adit pun selesai mengirim administrasi dan mengajak Karin untuk pulang kerumahnya dulu.


Sebelum pulang Adit sempat bertanya tentang asuransi yang dapat di urus nanti.


Sepanjang perjalanan Nayla terus berusaha mengajak Karin berbicara.

__ADS_1


Bukan tanpa alasan tanpa sengaja Nayla sempat melihat ada sosok aneh yang mengikut Karin, bahkan saat ini sosok itupun duduk disampingnya.


Setelah dua jam lebih akhirnya mereka pun tiba di rumah Nayla.


Setelah menghubungi Papa Karin mereka pun segera beristirahat.


Nayla meminta kedua putrinya untuk menemani Karin di kamar tamu, ia khawatir jika terjadi sesuatu pada gadis itu.


Walaupun rumah Nayla telah di beri pagar ghoib namun ada kemungkinan dapat di tembus juga .


Malam itu Karin menginap dirumah Radit.


Ketiga gadis itu nampak masih tertidur pulas saat azan subuh sudah berkumandang.


Perlahan Nayla membangunkan mereka satu persatu untuk sholat berjamaah.


Karin sedikit tertegun karena selama ini ia belum pernah sekalipun sholat bersama di rumahnya.


Mama dan Papa ya terlalu sibuk dengan urusan masing-masing.


"Kak Karin ayo cepet ambil wudhu" teriak Rania dari depan pintu.


"Iya sebentar Ran" jawaba Karin yang mulai akrab dengan kedua adik Radit.


Mereka pun sholat subuh berjamaah dan setelah itu mereka menyiapkan bahan-bahan untuk sarapan.


Jam 9 Papa Karin datang menjemput putrinya, setelah sedikit berbasa-basi akhirnya mereka pun pulang.


Setelah Karin pulang Raditpun kembali istirahat karena luka dikepalanya ia lebih sering merasa pusing.


Hari itu Nayla tidak pergi ke toko kuenya, ia menemani Radit seharian.


Rania dan Ardina pun tidak mau jauh dari Kaka laki-laki Mereka.


"Ini pada kenapa sih aku tuh gak apa-apa cuma kadang pusing aja gak usah terlalu lebai kenapa" protes Radit yang merasa risih dengan kelakuan Mama dan adik-adiknya.


Setiap kali ia turun dari tempat tidur Lang di tanya mau kemana,atau mau apa.


"Aa harusnya tuh bersyukur punya adik dan mama yang sayang banget sama Aa" ujar Rania.


"Tapi ya gak kaya gini juga Ran, aa masih bisa ambil minum sendiri,aa juga bisa ke kamar mandinya sendiri gak usah di tuntun" protes Radit


Rania dan Ardina pun tertawa mendengarkan celotehan Aa mereka.


Selepas Magrib Adit baru tiba di rumah.Ia merasa ada sedikit keanehan saat akan masuk kedalam.

__ADS_1


"Kenapa hawanya beda ya"gumam Adit yang bisa merasakan ada sesuatu dirumahnya.


Ia pun segera membersihkan diri lalu menemui keluarganya.


Setelah melihat kondisi Radit ia pun segera makan malam sendirian karena Rania, Ardina dan Nayla sudah makan terlebih dahulu.


Tak lama setelah makan malam azan Isya pun berkumandang mereka segera sholat bersama.


Setelah selesai sholat Adit sengaja masih berdiam di mushola kecil yang ada di dalam rumahnya.


Nayla yang memang sudah tau namun tidak dapat berbuat apa-apa tadinya ia ingin bicara dengan Adit namun sebelum ia berbicara ternyata Adit sudah mengetahuinya.


Jam 23 lebih Adit baru keluar dari musholla wajahnya terlihat begitu letih.


Ia langsung masuk kedalam kamar dan melihat Nayla masih setia menunggunya.


"Kaya cape banget ya Pah"


"Iya Mah, ternyata mahluk itu lumayan kuat pantesan aja dia bisa nembus pager kita" ujar Adit sambil memegang dadanya yang terasa nyeri.


Nayla yang menyadari jika Adit terluka dalam langsung mengambilkam segelas air hangat untuk Suaminya.


"Sakit banget ya Pah"


"Iya mah, nyesek banget ini"


uhukkkk


tiba-saia Adit batuk darah.


Memang ini bukan pertama kalinya Adit batuk darah namun tetap saja Nayla masih merasa khawatir.


Ia pun langsung menelpon Aa Iwan untuk meminta pertolongan.


Setelah mengikuti petunjuk Aa Iwan melalui telfon akhirnya Aditpun merasa jauh lebih baik dan sesaat kemudian ia pun bisa tidur lelap.


Nayla yang merasa khawatir dengan kondisi Adit tidak bisa tidur, baru saja ingin memejamkan matanya seperti ada yang membisikkan agar ia jangan terlelap.


Dengan terpaksa ia pun begadang menjaga Adit yang sedang terluka dalam.


Pagi pun tiba kondisi Adit sudah jauh lebih baik, namun tidak semua Radit yang merasakan kepalanya begitu sakit.


Nayla yang baru saja hendak istirahat langsung terbangun saat mendengar suara Radit yang berteriak.


"Kamu kenapa Nak?" Nayla langsung memeluk Radit yang terus meringis sambil memegang kepalanya.

__ADS_1


Radit terus saja meringis kesakitan hingga dengan terpaksa Naylapun membawa Radit kerumah sakit terdekat.


Untuk mempermudah observasi akhirnya Raditpun harus rawat inap.


__ADS_2