TERBUKANYA MATA BATIN

TERBUKANYA MATA BATIN
216


__ADS_3

πŸ€πŸ€πŸ€Selamat MembacaπŸ€πŸ€πŸ€


Adit yang baru saja tersadar langsung melihat kearah istrinya yang masih terbaring dengan mata terpejam.


"Nayla..." Ia pun berusaha untuk bangun namun rasa sakit disekitar perut membuatnya terpaksa harus menahan keinginannya untuk mendekati Nayla.


"dokter...dokter.."panggilnya pada pria berjas putih yang baru saja selesai memeriksa kondisi Nayla.


"Oh..anda sudah siuman Pak Aditya,sebentar ya saya periksa dulu" ucap sang dokter lalu memeriksa luka Adit.


"Lukanya jangan sampai kena air ya Pak sama jangan banyak bergerak dulu" ujar sang dokter.


"Iya dok"


"dokter gimana kondisi istri saya, kenapa dia masih belum bangun juga" tanya Adit penasaran.


dokter muda itu pun menjelaskan kondisi Nayla secara mendetail pada Adit.


"dokter apa boleh saya mendekat pada istri saya, saya takut jika dia siuman nanti akan kembali histeris jika tak ada saya" pinta Adit dan dokter itu pun menyetujui.


Dengan dibantu suster, tempat tidur Aditpun didekatkan dengan tempat tidur Nayla.


"Sayang bangun ini aku ..." Adit menarik sedikit bibirnya saat teringat kata-kata Nayla sesaat sebelum ia tak sadarkan diri.


"Nay...bangun sayang, kamu gak akan jadi janda kok" bisik Adit berharap Nayla segera membuka mata.


Ayah Adit pun datang sambil membawa pakaian ganti untuk nya dan juga untuk Adit dan Nayla.


"Belum sadar juga Naylanya Dit?"tanya Ayah Adit


"Belum Yah,itu pengaruhh obat penenang juga soalnya tadi dia sempat histeris juga"ucap Adit penuh sesal.


"Ayah rasa setelah dia baikan nanti lebih baik kamu bawa dia kembali kerumahnya Dit,mungkin disana dia bisa lupain semua kejadian disini"


"Iya Yah..Adit juga mikirnya gitu, setelah semua urusan selesai Adit akan kembali ke kota "B" aja"


"Kasian dia kalau disini teruss, Adit juga mau nutup lagi Mata Batinnya, kalo bisa permanen alhamdulillah" lanjut Adit.


"Itu lebih bagus Dit, tapi biasanya yang Ayah tau kalau itu keturunan tidak bisa ditutup permanen nanti juga akan terbuka lagi" ujar sang Ayah.


Hari sudah sangat larut namun Nayla masih belum siuman.


"Kamu mau tidur sampai kapan sih yang, aku aja udah sadar ni.." ucap Adit sambil terus berusaha mendekatkan diri pada Nayla.


" Ayah bantuin aku dong, aku mau satu bed sama Nayla"pinta Adit pada Ayahnya


Ayah Aditpun membantu Adit pindah ke tempat tidur Nayla.


"Ayah tidur aja, biar Adit yang jagain Nay" Adit yang melihat Ayahnya kelelahan langsung menyuruh Ayahnya istirahat.


Ayah Aditpun langsung menggelar tikar yang ia bawa lalu langsung mengistirahatkan tubuhnya.


Tanpa menunggu lama ia pun langsung terlelap.

__ADS_1


Adit menatap wajah Nayla yang tertidur


"Dasar putri tidur, aku seneng kamu udah ada disisi aku lagi, maafin aku ya Nay.."


cup


sebuah kecupan mendarat di kening Nayla lalu Adit pun melingkarkan tangannya dipinggang sang istri lalu mengecup leher Nayla lalu ia pun membaringakan tubuhnya disamping Nayla dan merekapun terlelap.


Pagi pun tiba, Nayla pun terbangun dan merasakan sesuatu yang berat menimpa badannya.


" Ih..apa'an sih ini berat amat"gerutu Nayla saat ia membuka matanya.


Matanya terbelalak kaget karena melihat tangan yang kekar sedang melingkar di pinggangnya.


Ssketika itu juga tubuhnya bergetar takut,ia tak berani bergerak.


"huk...huk...tolong jangan sakiti aku..."


"Aku mohon..lepasin aku..."


"Mama..Nay..takut Ma..."


Adit yang masih tertidur merasa sedikit terganggu karena mendengar suara menangis.


Perlahan ia membuka matanya,dan seketika itu juga ia tersadar suara yang ia dengar adalah suara tangisan Nayla.


"Sayang...kamu kenapa" karena panik ia langsung duduk dan menarik paksa tubuh Nayla yang meringkuk sambil menangis untuk menghadapnya.


" Jangan..aku mohon..jangan sakiti aku.."tangisan Nayla terdengar begitu menyayat hati Adit hingga tanpa ia sadari air matanya mengalir.


" Nayla...sayang...ini aku Adit Nay.." Adit terus mengguncang-guncang tubuh Nayla agar gadis itu membuka matanya.


"A...awww aaaaa..jangan...aku mohon...jangan..." Nayla terus berteriak dengan suara yang serak, ia bahkan menutup kedua teliganya hingga selang infus yang tersambung ke tangannya terlepas dan darah segarpun mengalir dari infus yang lepas.


Adit langsung memencet bel dan tak lama kemudian seorang susterpun datang.


Adit melihat kearah Ayahnya tidur semalam namun sudah tidak ada.


Mungkin Ayahnya sedang membeli sarapan kira-kira itulah yang ada dalam pikiran Adit.


"Aduh ini kenapa bisa copot ya Pak?" tanya suster yang langsung menyambungkan kembali selang infus ketangan Nayla.


Melihat Nayla yang terus berteriak sambil memejamkan mata akhirnya suster itu pun keluar untuk memanggil dokter jaga.


Melihat Nayla yang terus meronta dan berteriak akhirnya dengan sangat terpaksa obat penenang pun kembali di suntikan di infusan Nayla dan dalam sekejap ia pun kembali terlelap.


Setelah dokter keluar,Adit mengusap kasar wajahnya, nampak kekecewaan dan marah di wajahnya.


"Anto....semua gara-gara Anto" Adit meremas kasar bantal yang ia pegang sambil menatap wajah Nayla yang kembali terpejam.


"Sayang..maafin aku Nay"


"Setelah ini semua selesai kita kembali ke rumah kita Nay...aku yakin kamu lebih aman disana walaupun aku harus selalu menahan hati agar tak selalu cemburu pada para pria penggemarmu sayang" ucap Adit pada Nayla yang tertidurr

__ADS_1


Adit kembali merebahkan tubuhnya disamping Nayla tapi kali ini ia menghadapkan tubuh Nayla menghadapnya agar saat Nayla bangun wajahnya lah yang pertama kali ia lihat.


Adit terus mengelus wajah Nayla, masih terlihat dengan jelas bekas luka memar yang kini berubah warna menjadi ungu diwajah Nayla dan luka di sudut bibirnya.


Cup..


Adit mengecup sekila luka dibibir Nayla dengan setetes air matanya yang mendarat diwajah Nayla.


Aditpun melihat warna yang serupa dipergelangan tangan Nayla.


"Sayang maafin aku, semua ini salah aku Nay..." Adit mengecup kening Nayla cukup lama.


Ia tak menghiraukan rasa perih dari lukanya yang tanpa ia sadari kembali mengeluarkan cairan merah.


Ayah Adit yang baru saja masuk kedalam ruangan sedikit terkejut melihat Adit yang sedikit meringis sambil memegang bagian pinggir pinggangnya.


Adit melepaskan pelukannya pada tubuh Nayla dan melihat kaos yang ia pakai sedikit ada noda merah.


Ia pun segera mengganti baju yang kotor dengan yang baru lalu menghabiskan sarapan dan juga meminum obatnya lalu kembali merebahkan tubuhnya disamping Nayla.


Saat matahari mulai tinggi Nayla membuka matanya.


Awalnya ia terkejut saat membuka mata yang pertama kali ia lihat adalah dada bidang seorang pria.


Adit yang menyadari Nayla sudah sadar langsung menarik dagu Nayla dan memaksa gadis itu agar menatapnya agar ia tau kalau Adit bersamanya saat ini.


Dengan mata yang berkaca-kaca Nayla langsung mengeratkan dekapannya sambil menangis.


"Aku senang kamu udah sadar Dit hu..hu.."


"Kalo seneng aku udah sadar trus kenapa nangis sihh bukannya di cium gitu.." goda Adit berusaha agar Nayla melupakan ketakutannya.


"Ih...maunya kamu itu sihh.." Nayla langsung memukul Adit yang tanpa sengaja mengenai lukanya.


"Aw...aduh..sakit sayang.. Adit meringis sambil memegang sisi kanan perutnya yang terbalut perban.


Untuk sesaat Nayla nampak bingung sampai akhirnya ia ingat jika Adit terluka akibat Anto yang menusuknya.


"Maaff Dit..sakit ya..." Nayla langsung berusaha duduk untuk melihat luka Adit.


Adit terus berpura-pura meringis menahan sakit padahal sebenarnya rasa sakit itu tidak ada artinya.


Muncul ide jahil di otaknya untuk menjahili sang Istri yang sedang memperhatikan luka di tubuh suaminya.


" Apa ini sakit A?" tanya Nayla yang entah dia sadar atau tidak karena memanggil Adit dengan sebutan A


**Haiii semua maaf πŸ™‡ ya kemaren aku gak up


maaf juga kalo cerita ini bikin sedikit bosan.


SALAM MANIS


Amellajj/authorr**

__ADS_1


__ADS_2