TERBUKANYA MATA BATIN

TERBUKANYA MATA BATIN
Bab 203


__ADS_3

🌹🌹🌹 Selamat Membaca 🌹🌹🌹


Pagi itu Adit sudah berangkat dari Bandara sepinggan Balik papan menuju bandara Suta.


Hatinya begitu bahagia karena sebentar lagi akan bertemu dengan istri tercintanya.


Ia sengaja mematikan ponselnya dari tadi malam, ia ingin memberikan kejutan pada Nayla.


Sepanjang perjalanan Ia senyum-senyum sendiri membayangkan wajah Nayla yang marah atau kesal.


Setelah menempuh perjalanan 2 jam lebih di angkasa akhirnya pesawat yang Adit tumpangipun tiba dengan selamat di Bandara Suta Tanggerang.


Setelah menunggu lumayan lama akhirnya bus yang menuju kotanya datang juga, ia pun segera naik dan mencari posisi yang nyaman soalnya jarak yang ditempuh lumayan lama.


Sementara itu Nayla dan Lilis sedang memperhatikan orang-orang yang sedang menangkap ikan.


Nayla nampak sedang berbicara dengan seorang pria sambil tertawa saat pria itu memberikan Nayla seekor ikan mas dengan ukuran yang lumayan besar.


" Ihh a ini ikannya geli ahh kegedean ikannya" ucap Nayla sambil menyerahkan kembali ikan yang ia gendong.


Dari kejauhan Anto sangat marah melihat Nayla bercanda dengan beberapa orang pria yang ada di empang itu.


" Nayla ngapain kamu disini?" Anto langsung berdiri disamping Nayla dan menariknya sedikit menjauh dari para pekerja yang ada di empang Ayah Adit.


" aww sakit To" Nayla meringis saat salah satu kuku Anto sedikit melukai tangannya.


" Aku gak suka ya Nay liat kamu dikerumunin laki-laki" Anto menarik paksa tangan Nayla dan memaksanya masuk kedalam mobilnya.


" Ihh Anto ini mau kemana sihh, aku mau pulang aja kerumah" Nayla menolak saat Anto memaksanya masuk kedalam mobilnya.


" Anto..gw gak mau ikut loe" Nayla bersikukuh menolak masuk kedalam mobil Anto.


" Nay..jangan bikin aku marah, masuk aku bilang " Anto menatap Nayla tajam.


" Gw...ga..." Anto langsung mendorong tubuh Nayla sedikit kasar hingga kepala Nayla terbentur.


" Aaww sakit tau, dasar gak waras" maki Nayla sambil mengelus ujung dahinya yang terbentur tadi.


Anto pun masuk dan menutup pintu mobilnya dengan sangat kasar.


" Gw sumpahin tuh pintu copot" Maki Nayla yang kaget karena ulah Anto.


Sepanjang perjalanan Nayla hanya diam dia enggan melihat wajah Anto.


Namun lama-kelama'an ia baru tersadar melihat jalanan yang sangat asing buatnya.


" Ini mau kemana To, kok jalannya gini sihh" tanya Nayla yang semakin bingung karena jalan yang mereka lalui begitu sepi dan sepertinya di pelosok.


Anto menatap Nayla tajam dan itu berhasil membuatnya sedikit merasa takut.


Sampai akhirnya merekapun tiba di sebuah rumah.


" Kamu tunggu aku disini saja Nay,aku ada perlu sebentar" titah Anto lalu keluar dari mobil dan masuk kedalam.


Beberapa menit kemudian Anto keluar ditemani seorang pria seumurannya .


" Wahh To loe bawa cewe cantik kenapa gak disuruh keluar sihh" celetuk pria itu


" Gak ada yang boleh liat cewe gw Dang, wajah cantiknya tuh cuma gw yang boleh liat" jawab Anto dengan nada tidak suka.


Nayla yang malas mendengar ucapan Anto langsung memalingkan wajahnya dan tanpa sengaja ia kembali melihat sosok wanita yang tadi malam mengganggunya berdiri tepat dibawah pohon jambu biji sedang memperhatikannya.


Anto yang melihat arah pandangan mata Nayla mengira Nayla menginginkan jambu biji yang memang sedang berbuah dan sudah besar.


Ia pun meminta temannya untuk memetik beberapa buah jambu untuk Nayla.

__ADS_1


" Ini sayang" Anto meletakan beberapa buah jambu biji yang sudah dicuci di dasboard mobil lalu mengelus lembut kepala Nayla.


Nayla yang terkejut tak bisa menghindar, ia nampak bingung "memangnya aku minta jambu ya??perasaan gak dehh, ah bodo lah mayan buat ngemil" batin Nayla masih dengan wajah bingungnya.


Ia pun mengambil satu buah jambu yang sedikit kecil lalu menggigitnya.


" Jangan digigit gitu Nay, nanti gigi kamu sakit" ucap Anto sambil memperhatikan wajah Nayla yang asik memakan jambu.


"Bodo" jawab Nayla


Nayla yang baru menyadari kalau jalan yang dilalui merupakan jalan kerumah Anto langsung protes namun tidak di gubris oleh Anto.


Anto pun kembali mengurung Nayla di dalam kamarnya namun kali ini ada begitu banyak cemilan yang Anto sediakan untuknya.


" Ihh To ini apa-apa'an sihh kenapa aku disini lagi sih" protes Nayla tak terima.


" Karena diluar sana mereka bebas melihat wajahmu Nay dan aku tidak suka itu karena wajah manismu ini hanya aku yang boleh lihat" ucap Anto dengan aura yang begitu menyeramkan di mata Nayla.


" Lah..kenapa begitu, emang salah gw gitu punya muka kaya gini" Nayla marah tak terima kalau itu alasan Anto mengurungnya.


" Terserah kamu suka atau tidak Nay, lebih baik kamu aku kurung disini agar tidak ada yang bisa menikmati wajah manismu kecuali aku" bisik Anto sambil mengelus pipi Nayla


" Dasar sakit jiwa loe, gw gak mau disini,gw bukan tahanan" maki Nayla sambil memukul Anto sekenanya.


" Terserah Nay suka tidak suka aku akan tetap mengurungmu disini" Anto menangkap tangan Nayla yang memukulinya lalu ia mengecup pipi Nayla sekilas lalu keluar dari kamar itu sambil tersenyum karena ia telah berhasil mengecup pipi Nayla.


" Isshh najiss...najiss..najiss" Nayla marah-marah sendiri sambil mengelap pipi dengan tangannya.


Setelah Anto keluar Nayla mengamati situasi di luar melalui jendela dan kebetulan tralis di jendela itu sudah dilepas.


Sejenak Nayla berpikir dan ia pun tersenyum saat menemukan cara untuk melarikan diri.


Dengan hati-hati ia keluar dari jendela lalu bersembunyi di balik pohon rambutan, ternyata ada untungnya juga punya badan minimalis jadi bisa bersembunyi dimanapun.


Nayla yang melihat ada 2 orang yang berjaga di depan pintu masuk dan dua orang lagi didepan pagar nampak bingung sebab tidak mungkin ia keluar lewat pagar itu sama saja menyerahkan diri.


Pohon rambutan ini juga sama, posisinya tak jauh dari tembok. Naylapun melihat ada satu dahan yang lumayan besar hampir menempel di tembok.


Akhirnya ia pun dengan sangat hati-hati memanjat pohon rambutan itu lalu merambat didahan yang hampir menenpel tembok, sesaat kemudian ia pun sudah berada diujung tembok lalu langsung meloncat keseberang dan kini ia berada di luar tembok rumah Anto.


Dengan tergesa-gesa Nayla berjalan menyusuri jalanan menuju rumah Adit, sialnya Nayla belum faham jalan-jalan kecil menuju rumah Adit yang ia tau hanya jalan raya ini saja.


Saat Nayla setengah berlari di sisi jalan dari kejauhan Anto melihat Nayla yang kabur, setelah memastikan itu betul Nayla Anto pun langsung tancap gas menyusul Nayla yang berlari.


Dengan Sangat marah Anto keluar dari dalam mobil.


Nayla yang melihat Anto sudah berdiri didepannya langsung membalikan badan hendak menghindar namun sialnya Anto sudah lebih dulu menangkap tangannya.


Anto yang sudah terlanjut marah langsung memaksa Nayla masuk kedalam mobil.


Tak lama kemudian ia kembali kerumahnya dan memaksa Nayla untuk turun.


" Kamu betul-betul menguji aku Nayla.."


"Kali ini aku benar-benar akan memberimu hukuman"


Anto menatap Nayla dengan penuh Amarah, karena Nayla terus meronta akhirnya Anto memanggul tubuh Nayla layaknya karung menuju belakang rumahnya.


Nayla yang kesal terus memukuli Anto sekenanya saking kesalnya Nayla menggigit punggung Anto dan itu berhasil membuat Anto sedikit meringis menahan sakit.


Plakkk


Anto yang kesal akhirnya memukul bokong Nayla yang terus menggigit punggungnya.


"Anto kurang ajar loe gak sopan maen pukul pantat gw aja" maki Nayla sambil terus menendang sekenanya.

__ADS_1


"Diamlah Nayla kalau tak ingin aku pukul lagi" ancam Anto.


Anto langsung menurunkan Nayla saat sudah berada disebuah ruangan.


"untuk sementara kamu disini dulu sayang, ini hukuman buat kamu yang udah mencoba kabur dari aku"bisik Anto lalu ia keluar dan menguncinya dari luar.


" Anto buka pintunya gw gak mau disini" teriak Nayla sambil memukul-mukul pintu berharap ada yang menolongnya.


Setelah sekian lama ia berteriak-teriak dan memukul-mukul pintu hingga kedua tanngannya membiru akhirnya Naylapun pasrah.


Dengan lemas ia duduk di lantai sambil bersandar di balik pintu.


Matanya berkeliling melihat tempat yang ia tempati sekarang.


Rasa keponya tiba-tiba muncul saat melihat sebuah pintu.


Ia pun berdiri dan berusaha membuka pintu tersembunyi itu.


Nayla sih berharap pintu itu terhubung dengan salah satu ruangan dirumah Anto hingga ia tak harus mendekam di dalam gudang.


Setelah bersusah payah akhirnya ia pun berhasil membuka pintu itu.


Nayla nampak takut karena ruangan itu begitu gelap hanya cahaya matahari yang sedikit masuk menembus celah-celah jendela.


Naylapun terbatuk-batuk karena debu, ia mencoba meraba-raba dinding mencari saklar namun tidak ada, tanpa sengaja kakinya menendang sesuatu di lantai, ia pun mengambilnya ternyata sebuah kotak kecil lalu dibukanya kotak itu ternyata ada Lilin berserta korek api.


Naylapun mencoba menyalakan Lilin itu dan saat Lilin sudah menyala alangkah terkejutnya Nayla saat melihat ada sebuah kotak besar dan panjang di sana.


Karena takut Naylapun mundur ia hendak keluar saja namun jiwa penasarannya meronta-ronta ingin tau apa isi dari kotak besar itu yang hampir mirip dengan peti mati.


Naylapun mulai ragu antara ingin membuka kotak itu atau mengurungkan niatnya dan kembali kedepan.


Seakan ada sesuatu yang menariknya untuk membuka peti itu.


Setelah mengumpulkan keberaniannya ia menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya.


Dengan perlahan ia berjalan ke arah peti itu dan begitu sampai didepan peti ia ragu untuk membukanya.


Namun tangannya seperti ada yang menarik dan memaksanya untuk menggeser penutup peti itu.


Dengan mata yang terpejam rapat dan jantung yang berdetak dua kali lebih cepat tangan Nayla menggeser penutup peti itu.


Yang ada dalam ingatannya saat itu isi peti itu adalah mumi atau zombie seperti di film yang suka ia tonton.


Namun ia pun menepis pemikiran itu " mana ada mumi atau zombie disini, kalau kunti,tuyul,pocong tuh baru banyak disini" batin Nayla.


Ia pun mulai membuka matanya sedikit demi sedikit, karena belum bisa melihat apa pun ia memasukan sebelah tangannya dengan meraba-raba seperti mencari sesuatu.


Nayla sedikit tersentak saat tangannya menyentuh sesuatu seperti kain.


Ia pun memalingkan muka karena takut, yang ada dalam pikirannya saat ini yang ia pegang adalah kain kafan


Ia pun menarik kain yang ia pegang tadi " kenapa kayanya lebar amat sihh, kaya baju" pikir Nayla.


Karena penasaran ia pun mengarahkan lilin itu tepat kearah peti dan alangkah terkejutnya Nayla saat sinar lilin memperlihatkan dengan jelas isi dari peti itu.


**Udah ahh sampe sini dulu lanjut besok ya...


yang penasaran harap sabar mau nebak-nebak juga boleh kok.


jangan lupa kasihh dukungan terus buat authorr ya buat penyemangat.


oh ya bab ini lebih panjang dikit semoga gak bosen ya...


Salam Maniss

__ADS_1


Amellajj/authorr**


__ADS_2