
SELAMAT MEMBACA
Hari pernikahan Adit dan Nayla hanya tinggal dalam hitungan Jam saja.
Di kediamannya Adit nampak begitu gelisah hingga menjadi bahan ejekan Lilis dan kedua orangtuanya.
"Yang mau jadi manten dari tadi udah kaya setrikaan belum panas, mundar-mandir aja" celetuk Lilis sambil melipat pakaian Ardina.
"Atennn apa cihh Bi" tanya Ardina sambil naik kepangkuan Lilis.
"Besok itu Ardina bakalan punya Mama jadi nanti gak sama Bibi lagi ya" ucap Lilis menjelaskan pada gadis kecil di pangkuannya.
"Iya Ar biar Bibi mu cari calon suami masa iya udah tua belum mau nikah juga" ejek Adit pada adik satu-satunya itu.
"Aku mah nanti kalo cari suami gak mau kaya Aa suka gonta-ganti perempuan tapi pada akhirnya balik lagi sama si teteh Nay"
Itu yang namanya jodoh Lis biarpun Aa udah berkelana sama banyak cewe tapi ternyata jodoh Aa ya itu sama Nayla juga biarpun begitu banyak cobaannya" ucap Adit yang tiba-tiba saja teringat masa lalunya bersama Nayla.
Wkwkwkw
Tiba-tiba saja Adit tertawa terbahak-bahak hingga membuat Kedua orangtuanya dan juga Lilis langsung menatap ke arahnya.
"Istighfar Aa" ucap Lilis dan juga orang tua Adit.
"Astaghfirullah Al Azim ini anak kesambet apa ya" ucap ayah Adit yang langsung meminta segelas air kepada Lilis.
Melihat Adit yang terus tertawa Ayah Adit langsung mencipratkan air kewajah Adit.
Seketika itu juga Adit langsung menghentikan tawanya lalu memasang mimik wajah kesal sambil menatap sang Ayah.
__ADS_1
"Ayah ngapain sih pake nyipratin air segala" protes Adit.
"Kirain kamu kesambet Dit" jawab Ayahnya seakan tanpa rasa bersalah.
"Kesambet apa sih yah,, basahkan baju Adit" ucapnya masih dengan perasaan kesal.
" Lah tadi ngapain kamu ketawa begitu?" tanya Ayahnya
"Tadi itu Adit inget ulah Nayla Yah, waktu itu dia sampe kecebur got gara-gara ngintip Adit" ucap Adit menjelaskan lalu kembali tersenyum sendiri.
"Masa sih Aa, lah gimana ceritanya sampe kecebur got?" tanya Lilis yang mulai penasaran.
Aditpun menceritakan semuanya hingga akhir nya mereka tertawa bersama.
"Lucu banget ya si teteh,Lilis juga jadi lebih inget waktu si teteh cemburu liat Aa sama teteh Ina, waktu itu kita lagi di tukang gorengan saking cemburunya di teh Nay langsung makan bakwan yang baru aja diangkat sama mamang nya sampe dia kepanasan sendiri" lagi-lagi mereka tertawa bersama.
Sementara itu di rumah Nayla semua keluarga dari Ayah dan Ibu Nyala sudah datang, begitu pun dengan keluarga dari mendiang Ryan.
Setelah selesai acara pengajian nampak Aris(sepupu Nayla) dan Aa Iwan duduk santai di depan rumah sambil bercerita.
Sementara itu Nayla dan anak-anaknya langsung masuk kedalam kamar di temani oleh Empok.
Setelah kedua anaknya tertidur Naylapun ikut memejamkan matanya.
Empok yang seharian tadi sibuk mempersiapkan untuk acara pengajian pun ikut langsung tertidur pulas karena terlalu lelah.
Saat Nayla hendak memejamkan matanya tiba-tiba saja ia merasakan ada semilir angin yang menerpa wajahnya, dan tak lama Kemudian ia mencium aroma maskulin yang sama seperti yang biasa Ryan pakai dulu.
Ia pun langsung membuka matanya.
__ADS_1
"Mas itu kamu kah yang datang?" ucap Nayla pelan bahkan nyaris tak terdengar.
Ia pun kembali merasa sedih Karena kembali teringat Ryan.
"Sayang aku udah ikhlas kamu pergi, aku tau kamu datang hanya untuk melihat aku dan anak-anak kan" lanjut Nayla masih dengan suara pelan.
Tok... tok
Suara pintu kamar di ketuk dari luar.
"Nay...kamu udah tidur belum?"
Nayla hafal betul dengan pemilik suara itu.
"Belum Aa, ini baru mau tidur"
Jawab Nayla sambil perlahan turun dari tempat tidur.
Cklekkkkk
Naylapun membuka pintu dan terlihat Aa Iwan sudah berdiri sambil memegang satu gelas air berisi air putih.
"Minum dulu ini terus baca doa ya abis itu tidur inget besok hari bahagia kamu jangan mikir yang macem-macem" ucap Aa sambil memberikan air putih dan seakan tahu apa yang sedang terjadi.
"Iya Aa, terimakasih" ucap ku sambil tersenyum.
"Udah sana tidur"
"Jangan di kunci pintunya ya" pesan Aa sambil berlalu meninggalkan kamar ku .
__ADS_1