
SELAMAT MEMBACA
Hari itu Ryan sengaja pulang cepat, ia sudah tidak sabar untuk mengantar Nayla ke rumah sakit.
Ia berharap mendapat kabar baik.
Sepanjang perjalanan ia terus saja tersenyum sambil melihat foto keluarga kecilnya.
"Sayang aku berharap ada kabar baik, aku juga berharap mempunyai anak dari kamu" ucap Ryan sambil memandang foto Nayla dan Radit yang sedang tersenyum.
Begitu sampai dirumah Nayla dan Radit sudah rapi.
Ryanpun langsung membersihkan diri dan beristirahat sejenak.
Selepas magrib merekapun langsung menuju rumah sakit yang berada tak jauh dari rumah mereka.
Tak perlu menunggu lama karena Ryan sudah mendaftar terlebih dahulu.
"Ny Nayla" panggil suster
merekapun langsung masuk.
Didalam ruangan Ryan dengan sangat serius mendengarkan penjelasan dokter.
Ia begitu bahagia saat sang dokter menyuruh Nayla untuk tes kehamilan.
Dan saat mendengar penjelasan sang dokter yang menyatakan Nayla sedang hamil Ryan pun langsung tersenyum bahagia.
Hatinya begitu berbunga-bunga akhirnya ia mempunyai keturunan juga dengan Nayla.
"Sayang kamu mau makan apa?" tanya Ryan dengan wajah sumringah.
"Aku belum mau makan Yan, gak pengen" jawab Nayla yang merasakan mual.
"Ayo dong sayang kamu ngidam apa biar aku turutin"
"Aku juga mau kaya suami yang lain loh yang mau susah saat istrinya hamil" ujar Ryan lagi.
"Iya, tapi aku lagi gak mau apa-apa Ryan" jawab Nayla sambil menyandarkan kepalanya.
"Ya udah kita pulang aja ya, trus kamu istirahat" Ryan mengelus lembut kepala Nayla.
Ryan sengaja membiarkan Nayla memejamkan matanya, ia konsentrasi mengemudi.
"Yan berenti dong sebentar" tiba-tiba Nayla membuka matanya.
"Iya sayang sebentar" Ryan pun menepi.
Ia sedikit heran kenapa Nayla minta berhenti dijalan yang cukup sepi.
"Kenapa sayang, kamu mual?" tanya Ryan yang langsung melepas sabuk pengamannya.
"Gak Yang, itu kasian kakek-kakek jam segini masih jualan" Nayla langsung turun menghampiri orang yang ia maksud.
"Disini gak ada orang sayang" Ryan yang baru menyadari langsung menyusul Nayla.
Nayla terlihat kebingungan saat ia tak melihat kembali kakek yang tadi ia lihat.
"Sayang...kamu nyari apa sih" Adit langsung memegang tangan Nayla.
"Tadi ada kakek-kakek Mas masih jualan dah jam segini"
"Tadinya aku mau beli semua jualannya biar tuh kake pulang" ujar Nayla.
__ADS_1
"Ih ngaco aja, gak ada siapa-siapa yang disini" Ryan langsung mengajak Nayla kembali kemobil.
Begitu mereka masuk kedalam mobil namun sialnya mobil yang mereka naiki tak bisa di starter.
Berkali-kali Ryan mencoba namun tidak bisa.
Naylapun melihat kembali ke arah kakek-kakek yang ia lihat tadi.
"Itu kake itu ada disana Yang, kok tadi gak ada ya..." ujar Nayla sambil mengerutkan keningnya bingung.
"Aku gak liat apa-apa sayang"
"Mending kita baca doa aja biar gak ada apa-apa" ucap Ryan sambil berdoa dalam hati agar tak ada hal yang aneh terjadi.
Tak lama kemudian tiba-tiba angin berhembus sangat kencang.
Nayla yang berada didalam mobil pun merasa ada yang aneh dengan angin yang berhembus kencang itu.
"Aku kok ngerasa gak enak ya yang" ucap Nayla sambil memegang lengan Ryan.
"Kamu kenapa sayang" Ryan merasa sedikit aneh melihat Nayla yang tiba-tiba saja memegang lengannya.
"Gak tau aku merinding yang"Nayla semakin mengeratkan peganganya di lengan Ryan.
"aku telp aa aja deh" Naylapun langsung mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Aa Iwan.
Beruntung Aa langsung mengangkat telpon Nayla dan meminta Nayla untuk tenang.
Tak lama kemudian angin kencang itu pun berhenti, begitu juga dengan kakek-kakek yang Nayla lihat sudah tidak ada.
Ryan berusaha kembali menyalakan mobilnya dan kali ini berhasil.
"Alhamdulillah bisa nyala sayang"Ryan pun segera melajukan mobilnya.
Pagi itu Ryan sudah berencana akan berbicara pada Nayla tentang ia yang akan ditugaskan.
"Sayang nanti sore kita makan di luar yuk" ajak Ryan
"Aku lagi males mas"
"Makan dirumah aja ya" tolak Nayla.
"Ada yang mau aku omongin sayang, dan aku pengen suasana yang romantis" Ryan sedikit memaksa.
Setelah sedikit merayu akhirnya Naylapun mau makan malam diluar dan hanya berdua dengan Ryan.
Sementara itu disalon Damra nampak seorang pria sedang menemani Damra.
Wajah Damra nampak terlihat kesal entah siapa pria itu hingga dapat membuat Damra yang biasanya ceria berubah seratus delapan puluh derazat.
"Pokoknya aku gak mau tau,kamu harus ikut aku pulang ke kampung Ra" ujar pria bertubuh tinggi tegap itu.
"Ra gak mau ikut, Ra udah bahagia disini" tolak Damra
Suasana salon yang sedang sepi menjadi gaduh karena perdebatan antara Damra dan pria itu.
Sementara itu Dina nampak berusaha tenang menghadapi masalah yang sedang ia hadapi.
Sore itu Ryan pulang cepat ia ingin segera bertemu dengan Nayla.
Entah kenapa sejak siang tadi yang ada dalam pikirannya hanya Nayla.
Setelah habis magrib merekapun segera berangkat sementara Radit tidak ikut.
__ADS_1
Disebuah rumah makan mereka duduk disebuah saung.
Ryan tersenyum saat melihat Nayla makan dengan sangat lahap.
"Kamu laper banget y sayang" Ryan mengambil satu lembar tissue lalu mengelap sudut bibir Nayla yang sedikit ada noda bumbu.
"Yan ...malu ih" Wajah Nayla seketika itu langsung merona karena malu.
"Kenapa malu sih yang, kita kan dah lama nikah kok kamu masih malu aja" ucap Ryan sambil tersenyum.
Setelah Nayla menyelesaikan makannya.
Ryan pun akhirnya berbicara soal rencana pindah tugasnya.
Diluar dugaan Nayla hanya tersenyum.
"Ya udah kamu berangkat sendiri aja ya Mas, biar aku sama Radit disini aja" ucap Nayla sambil tersenyum.
"Kamu ngijinin aku sayang" tanya Ryan seakan tak percaya.
Nayla tersenyum dengan sangat manis.
"Aku tau mas, aku tuh gak bisa milikin kamu seutuhnya, aku harus bisa membagi kamu sama negara" ucap Nayla.
"Lalu gimana kalau kamu ngidam sayang" Ryan nampak tidak tega melihat wajah Nayla.
"Insaya Allah anak yang ada dalam rahim aku ngerti mas jika ayahnya sedang sibuk jadi dia gak minta yang aneh-aneh" Nayla meneguk habis jus alpukat yang hanya tinggal setengah gelas.
"Kamu kapan berangkatnya Mas?" Nayla tersenyum manis berusaha membuat yakin Ryan jika ia baik-baik saja.
"Minggu depan sayang, dan saat ini aku hanya ingin terus sama kamu" Ryan mengambil tangan Nayla lalu mengecupnya.
"Ih...sok romantis deh kamu mas" ucap Nayla malu-malu.
"Pada dasarnya aku emang romantis sayang" Ryan tersenyum sambil terus menggenggam tangan Nayla.
Malam itu mereka habiskan berdua.
Ryan selalu berusaha membuat Nayla tersenyum.
Begitupun dengan Nayla yang kini bertambah dewasa, ia tahu jika Ryan selalu berusaha membuatnya bahagia dan ia pun tak mau mengecewakan Ryan.
Hari itu pun tiba, mobil yang menjemput Ryan sudah datang.
"Sayang aku pergi dulu, jaga Radit dan juga anak kita ya" ucao Ryan sambil mengelus perut Nayla yang masih rata.
"6 bulan gak lama sayang, paling tar pas kamu pulang perut aku dah gede" ucap Nayla berusaha menyembunyikan kesedihannya.
"Iya aku tau sayang, andai aku boleh memilih aku ingin disini saja menemani kamu sayang" Ryan nampak begitu berat untuk meninggalkan Nayla.
Setelah hampir setengah jam Nayla menyakinkan Ryan jika ia dan juga anak-anaknya akan baik-baik saja akhirnya Ryan pun pergi juga.
Setelah mobil yang membawa Ryan menghilang di ujung gang, Naylapun langsung masuk kedalam kamar lalu menangis sepuasnya.
Hallo semua maaf baru up lagi.
semoga gak pada lupa ya 😁😁😁.
Jangan lupa like dan juga komennya ya.
Salam Maniss
Amellajj/Author
__ADS_1