
SALAMAT MEMBACA
Entah kenapa sejak ia tiba di rumah Neneknya Fahri ia selalu melihat sosok wanita itu.
Awalnya ia memang takut namun karena Radit terus mengingatkannya agar tidak melamun dan juga sosok itu baik tidak menggangu rasa takut Raniapun sedikit menghilang.
Walaupun hanya baru beberapa jam saja ia merasa sudah terbiasa dengan sosok itu.
Malam ini selepas sholat isya mereka duduk di teras depan sambil bercanda.
"Loe itu waktu baru masuk nyebelin banget tau RI, enek gw liat loe, pengen banget rasanya gw pukul loe" ucap Rania
Fahri dan Radit hanya tersenyum mendengar curahan hati Rania.
"Iya Ri, waktu itu yang di warung tenda itu loe kan ya?" tanya Radit
Fahri hanya mengaguk " maaf ya kak Radit, waktu itu aku ngomongnya gak sopan ya" ucap Fahri menyesal.
"Gak apa-apa, udah lama juga sih, lagi juga kan waktu itu kita belum kenal jadi wajarlah kalo loe mikirnya begitu"
Fahri hanya tersenyum malu mendengar penuturan Radit.
Saat mereka sedang berkumpul sosok wanita itu pun ada disana walaupun sedikit lebih jauh namun Rania masih bisa melihatnya.
Pandangan Rania tidak pernah lepas dari arah pohon kecapi dimana sosok itu berada sambil tersenyum ke arahnya.
"kenapa hantu itu senyum terus ya sama gw, apa dia kenal "batin Rania
Fahri yang melihat jika Rania sedang menatap pohon kecapinya ia yakin jika Rania melihat sosok itu.
Fahri pun tiba-tiba saja jadi pendiam, wajahnya terlihat murung.
"Loe kenapa RI, ngantuk ya" tanya Rania
"Dih oon banget sih loe Ran, itu wajah sedih bukan muka ngantuk" sikut Ardina
Radit hanya tersenyum mendengar kedua adiknya berceloteh tidak jelas.
"Gw kedalam dulu ya, kalo kalian belum ngantuk ngobrol aja dulu gak apa-apa tapi jangan lupa yang terakhir masuk kunci pintu ya" Fahripun langsung masuk kedalam rumah meninggalkan mereka bertiga yang masih berada diteras depan.
Dari jendela kamar Fahri melihat sosok yang bermain ayunan di bawah pohon kecapi.
Ia menatap sedih sosok itu.
"Mah..." ucap Fahri lirih.
Ia begitu fokus melihat sosok itu tanpa ia sadari Radit masuk dan berdiri disebelah.
"Siapa sebenarnya dia Ri?" tanya Radit.
Fahri yang tidak tau jika Radit sudah berada disisinya sedikit terkejut.
"Kaka lihat juga ya?" tanya nya
Radit hanya mengaguk sambil tersenyum.
"Mungkin itu sosok ibu aku Ka" ucap nya sedih.
"Maksudnya?" tanya Radit pura-pura tidak mengerti.
Ia tidak mau mengira-ngira apalagi menerka maksud dari perkataan Fahri.
"Iya Kaka, dulu bunda aku meninggal saat melahirkan aku dan sejak saat itu pula kata nenek aku soso itu ada dan pohon itu rumah nya saat ini" wajah Fahri terlihat begitu sedih tanpa ia sadari ada sedikit air disudut matanya.
Raditpun mengelus lembut bahu Fahri.
"Ikhlasin Ri, kirim doa buat beliau agar dia tenang disana" ucap Radit.
"Tapi kok dia ngikutin adik gw terus ya?" tanya Radit.
"Gak tau kak, mungkin karena Rania bisa lihat dia juga,
"Bisa jadi sih" jawab Radit.
Kedua gadis itu pun sudah masuk kedalam kamar dan bersiap untuk tidur.
Dalam beberapa menit Ardina sudah terlelap namun Rania tidak.
Gadis itu nampak tidak bisa memejamkan matanya.
Terkadang ia melihat sosok itu berdiri di sudut kamar.
Rania berusaha melupakan tentang sosok itu dan memejamkan matanya.
Entah kenapa saat ia memejamkan mataku sosok wanita cantik itu seakan ada didepan wajahnya.
"Itu siapa sih kok ke inget terus" batin Rania
Ia pun langsung teringat Radit.
Ia pun mengirim sebuah pesan kepada Kakanya itu.
"Aa, aku gak bisa tidur, tapi Ar udah tidur dari tadi" pesan segera dikirim oleh Rania
Radit yang baru saja ingin tidur langsung membuka matanya lalu meraih ponselnya.
"Kenapa Ran?" tanya Radit
"Aa cewe itu ikutin Rania terus, sekarang aja ada di pojokan lagi liatin Ran"
"Ya sudah sebentar Aa kesana ya" balas Radit lalu turun dari kasur .
"Mau kemana aa?" tanya Fahri.
"Tadi Ran wa katanya gak bisa tidur, aku mau ke kamarnya mau nemenin kasian" jawab Radit lalu meninggalkan kamar Fahri.
Fahripun mengikuti Radit menuju kamar kedua gadis itu
Saat pintu dibuka Rania sedang meringkuk sambil memeluk Ardina yang sudah tertidur lelap.
"Ran..." panggil Radit.
Rania pun langsung membuka matanya dan duduk.
"Aa sini temenin Ran dong, gak bisa tidur nih" Rania menepuk tempat disebelahnya dan meminta Kakanya untuk duduk.
__ADS_1
"lah kok loe ikut juga Ri?" tanya Rania.
"Gak boleh ya?"
"Boleh, malah bagus kalo rame biar gak iseng" ucap Rania.
"Fahri menatap ke salah satu sudut dimana sosok itu berdiri.
"Jangan ganggu temen aku, lebih baik kamu diluar saja" ucap Fahri pada sosok itu.
"Loe ngomong sama siapa Ry" tanya Rania.
"Bukan siapa-siapa, loe tidur aja biar gw sama Kaka Radit yang jagain" ucap Fahri lalu menggelar tikar dan duduk dibawah.
"Bener kata Fahri,kamu tidur ya biar Kaka sama Fahri yang jagain"
Rania pun berusaha untuk memejamkan matanya.
Saat ia melihat ke sudut ruangan sosok itu sudah tidak ada.
"Dih bukannya tidur cepet"
Rania hanya tersenyum mendengar ucapan Kakanya.
Seperti terkenal sirep tidak butuh waktu lama ia pun tertidur.
Saat melihat Rania tidur kedua pria itu pun keluar dari kamar dan kembali ke kamarnya.
Rania heran karena saat ini ia berada ditempat yang sedikit asing.
Jika di lihat dari bentuk rumah, kini ia berada dirumah Neneknya Fahri,namun keadaannya sedikit berbeda ada taman bunga disebelah kiri dan pohon kecapi itu pun masih kecil.
ia melihat ada seorang wanita cantik sedang menyiram bunga.
Taman itu kecil namun terlihat rapi dengan aneka bunga yang berwarna warni.
"Halo tante siapa? kok ada disini" tanya Rania sambil memperhatikan wajah wanita cantik yang kini di hadapannya.
Wanita itu hanya tersenyum
"Kamu pasti temennya Fahri ya?"
Rania pun menganggukan kepala.
"Fahri nakal tidak kalau disekolah, dia gak nakal kan sama kamu?" tanya wanita itu lagi.
"Gak kok tan"
"Awalnya sih memang nyebelin, tapi pas kenal dia lebih jauh ya biasa aja" jawab Rania seperti sudah akrab dengan wanita itu.
Mereka pun berbincang-bincang sambil sesekali tertawa bersama.
"Tante titip Fahri ya, kayanya dia cuma bisa terbuka sama kamu loh" ucap tante itu sambil mengelus rambut Rania lembut.
Matahari sudah tinggi saat Rania membuka mata,
"Astaghfirullah ternyata aku cuma mimpi ya" decak Rania terkejut saat ia membuka mata ternyata hari sudah siang.
"Akhirnya bangun juga, tumben banget sih loe gw bangunin gak mau juga bangun udah kaya kebo tidurnya" ucap Ardina saat masuk dan mendapati Rania sudah duduk di kasur.
"Gw mimpi Ar, tapi mimpi itu kaya nyata banget deh" ucap Rania
Rania meminta Ardina untuk duduk disebelahnya, ia pun menceritakan tentang mimpinya tadi malam .
"Mungkin sosok itu cuma mau loe tau kalo dia udah ada lama disini dan dia gak jahat sama loe" ucap Ardina
"Ya tetep aja kalo dia muncul begitu gw takut lah, tapi kalo kaya dimimpi gak"
Ckelekkk
Pintu kamar dibuka, nenek nya Fahri muncul dari balik pintu.
"Neng Rania baru bangun ya" tanya Neneknya Fahri.
Rania hanya tersipu malu, ia takut jika neneknya Fahri mengira ia gadis yang malas karena hampir jam makan siang ia baru bangun.
"Ya sudah sana mandi dulu baru sarapan, yang lain sudah sarapan duluan" ucap Neneknya lalu kembali keluar.
Rania pun langsung bangkit dan menuju kamar mandi yang ada dibagian belakang rumah itu
Setelah selesai mandi ia pun langsung menghampiri Radit dan yang lain di samping rumah.
"Aa, kok gak bangunin Ran sih" ucap Rania sedikit merajuk.
"Kamu aja dibangunin gak mau, tadi kita udah nyoba berkali-kali bangunin tapi tetep aja pules" ucap Fahri.
"Masa sih" Rania merasa malu saat Fahri berkata begitu.
"Kita pulang jam berapa RI?" tanya Rania berusaha mengalihkan pembicaraan.
"Sorean sedikit ya, nanti aku mau kemakam mama aku dulu" ucap Fahri.
"Oh... ya udah gak apa-apa, nanti kita juga ikut kemakam mama loe gak apa-apa kan" ucap Ardina.
"Emang kalian mau ikut ke kuburan?" tanya Fahri seakan tidak yakin jika mereka bener-benar akan ikut.
"Kayanya loe gak percaya ya kalo kita juga mau ikut" Rania menatap Fahri
"Ya udah kalo mau ikut sih gak apa-apa, ayo siap-siap" Fahripun langsung masuk lewat pintu samping.
Saat Rania hendak berdiri tiba-tiba saja seperti ada yang menariknya hingga ia pun duduk kembali.
Aaawww
Rania meringis saat ia kembali terduduk.
"Loe kenapa?" tanya Ardina
"Ish bukan bantuin berdiri malah liatin aja" protes Rania.
Ardina tertawa sambil mengulurkan tangannya.
"Terimakasih"
"Sama-sama" jawab Rania entah kepada siapa.
__ADS_1
"Loe ngomong sama siapa Ran"
"Lah gw kira loe yang bilang terima kasih" Rania malah balik bertanya.
"Emang aneh loe, ada juga loe yang bilang terima kasih ama gw, terus yang bilang sama-sama itu gw" ucap Ardina.
"Kalo bukan loe terus yang tadi bilang terima kasih siapa dong?" Rania masih heran masalahnya ia tadi memang mendengar seseorang bilang terima kasih.
Ia pun berpikir "Kalau bukan loe berarti...." belum sempat Rania menyelamatkan kalimatnya Ardina sudah lebih dulu masuk kedalam rumah sambil berlari meninggalkan Rania yang yang masih mematung.
Saat Rania sadar jika ia sendirian ia pun langsung berlari masuk kedalam rumah.
"Gak sopan banget sih Ar, masa gw ditinggalin sih" protes Rania.
Ardina hanya tersenyum mendengar Rania yang memarahinya.
Setelah siap mereka pun langsung menuju makam Mamanya Fahri yang tidak jauh dari rumah mereka.
Saat dimakan Fahri terlihat begitu sedih.
Setelah mengirim doa untuk sang Mama ia memandang nisan Mamanya.
Setelah pulang dari makam Fahri nampak begitu murung.
Ia lebih banyak melamun, entah apa yang sedang ia pikirkan.
"Loe kenapa RI?" Rania duduk disebelah Fahri sambil mengambil satu buah jeruk yang ada didepan Fahri.
"Kepo banget sih loe?" jawab Fahri yang tiba-tiba jadi ketus.
"Dih kan gw cuma nanya, loe mau jawab sukur, gak juga gak masalah" jawab Rania
Fahri pun hanya diam tanpa menjawab pertanyaan Rania.
Karena merasa diabaikan Rania pun langsung berpindah tempat duduk di dekat Radit yang sedang sibuk dengan ponselnya.
"Aneh tuh orang, kadang baik, kadang nyebelin" keluh Rania saat berada disamping Radit.
"Awas jangan sampe terlalu sebel yang ada nanti malah suka loh" Radit menggoda Rania.
Ardina pun hanya tersenyum mendengar ucapan Radit.
"Idih aa tuh sama Kaka Karin, dan loe Ar sama si Mamat tuh cocok banget" ucap Rania sedikit sewot.
Nenek Fahri yang mendengar candaan mereka pun ikut tertawa.
"Kayanya dia cocok tuh sama loe, sama-sama kadang aneh" bisik Ardina sambil tertawa.
"Ihs kalian kenapa sih suka banget sih godain aku" ucap Rania dengan ekspresi sedikit marah.
Fahri yang melihat kelakuan Rania akhirnya tersenyum.
"Emang betul sih cuma loe satu-satu cewe yang bisa bikin gw kesel, marah, bahagia Ran" batin Fahri
Fahri yang sedang asik menatap Rania ternyata tidak luput dari panadi Radit dan Ardina.
Saat Rania sedang duduk sendiri sambil memainkan ponselnya tiba-tiba saja Fahri menghampirinya.
"Ran..." panggilnya
hmmmm
hanya kata itu yang keluar dari mulut Rania, menoleh pun tidak ia masih asik bermain Gani di ponselnya.
"Gak sopan banget sih loe diajak ngobrol malah liatnya kemana" gerutu Fahri.
"Loe mau nya gw liatin loe" Rania pun menatap wajah Fahri dengan mata yang ia buka selebar mungkin.
"Ya gak begitu juga sih Ran" Fahri yang merasa tidak nyaman dengan tatapan Rania langsung memalingkan wajahnya.
"Ciee tadi ada yang mau di liatin sekarang pas udah diliatin malah malu"ucap Rania menggoda Fahri.
Radit dan Ardina yang mendengar perkataan Rania hanya tersenyum.
"Lah gak jadi ngomong ya, padahal gw udah kepo banget ini mau tau loe ngomong apa" ucap Rania lagi.
"Astaghfirullah loe kan cewe Ran, jangan kaya begini dong Ran" ucap Fahri yang jadi salah tingkah.
wkwkw
Rania pun tertawa mendengar ucapan Fahri.
"Soal perempuan yang sering loe liat dan selalu ngikutin loe, mungkin itu mama gw" ucapa Fahri sambil menunduk.
"Maksudnya gimana?" tanya Rania
"Ya.. sepertinya dia suka dengan kamu"
"Kok bisa begitu, kan gw baru sekali kesini" tanya Rania.
"Gak tau gw juga Ran" jawab Fahri singkat.
"Iya sih tadi malam gw mimpi lagi ada di taman tapi kok rumahnya sama kaya rumah ini" Rania menjeda ucapannya lalu ia meminum air yang ada didekatnya.
"Ish itu kan air gw Ran main minum aja"
"Lagian kan loe duduk disana kenapa minumnya disini sih"jawab Rania tidak mau kalah.
"Di gelas itu kan ada bekas bibir gw Ran" bisik Fahri
"Teruss" tanya Rania masih belum mengerti dengan ucapan Fahri.
"Ya sama aja itu kaya loe abis nyium bibir gw Ran" bisik Fahri lagi.
Rania langsung melebarkan matanya dan memukul lengan Fahri sedikit kencang hingga pria itu pun sedikit meringis.
"Lanjut dong Ran, trus dia bilang apa" tanya Fahri semakin penasaran
"Kata dia ....." Rania tidak meneruskan ucapnya karena ia sedikit malu dan takut di bilang mengada-ada jika ia harus bilang wanita itu menitipkannya.
"Katanya gw harus sabar ngadepin loe yang kadang suka marah gak jelas" ucap Rania ngasal.
Sorepun tiba, mereka pun harus kembali ke rumah masing-masing.
Hampir jam sembilan malam saat mereka tiba di rumah Rania.
__ADS_1
Setelah mampir sebentar Fahri pun pamit pulang.
Sebenarnya rumah Fahri memang berada tidak jauh dari rumah Rania hanya berbeda beberapa gang saja, namun untuk saat ini ia tidak ingin Rania tau tempat tinggalnya.