
๐๐๐Selamat Membaca๐๐๐
Hari berganti hari akhirnya Aditpun membatalkan pekerjanya disebuah perusahaan tambang minyak yang cukup terkenal itu.
Ia ingin fokus dengan pengobatan Nayla. Apalagi sekarang Nayla dalam keadaan yang labil, jika salah bicara ia akan marah bahkan mengamuk sambil menangiss.
Saat ini Nayla dan Adit sedang duduk diteras depan sambil memandang langit yang sedang terang hingga terlihatlah bintang-bintang yang bertaburan.
"Dit..kalau aku gak bisa sembuh gimana?" tanya Nayla pelan sambil menundukan kepalanya.
"Kenapa kamu nanya kaya gitu yang, aku yakin kok kamu pasti sembuh" ucap Adit dengan sangat hati-hati agar tak melukai perasaan Nayla.
"Tapi aku gak yakin Dit"
"Jangan putus asa sayang..kita usaha ya.." bujuk Adit yang lalu menangkup wajah Nayla dengan kedua tangannya.
"Aku yakin Nay..kamu pasti sembuh asalkan sabar"
"Kamu pasti bosenkan Dit ngurusin aku" ucap Nayla dengan mata yang berkaca-kaca.
"Jangan ngomong gitu Nay, aku gak akan pernah bosen ngurusin kamu karena aku cinta sama kamu" Ucap Adit Sambil menatap Nayla lalu mengecup sekilas bibir Nayla.
"Adit..sihh" Nayla mengerutkan keningnya karena kesal pada suaminya.
"Kenapa? marah aku cium, ya udah sini balikin" Adit kembali mencium sekilas bibir Nayla.
Mata Nayla semakin membesar karena kesal.
"Apa sih kok melotot, kan minta di balikin ya aku ambil lah" jawab Adit dengan santainya
"Tapi kan bukan gitu juga balikinnya Dit" protes Nayla
"Trus maunya gimana? begini.." tangan Adit langsung menyomot bibir Nayla yang sedikit maju karena kesal.
"Ishhh.." Nayla menepis tangan Adit
"Tuh kan salah juga" ucap Adit sambil nyengirr
"Tangan kamu bau tau.."
"masa sihh" Adit langsung mencium tangannya
"oh..iya maaf aku lupa tadikan abis makan ikan ya, aku gak cuci tangan cuma di lap aja" ucap Adit tanpa rasa bersalah lalu ia sedikit berjongkok didepan sebuah kolam kecil yang ada dihalaman rumahnya lalu mencuci tangan disana.
"Dihh pada mati dah tuh ikan kena limbah B3" ucap Nayla
"Suka bener kamu kalo ngomong yang" Adit kembali tersenyum lalu berdiri dan mendekati Nayla.
"Dit aku mau pake tongkat aja" pinta Nayla sambil menatap Adit
"Kamu yakin yang mau pake tongkat" Adit memastikan kembali
"Iya.." Nayla tersenyum kearah suaminya berharap keinginannya dikabulkan.
"Aku bosan Dit cuma duduk dikursi roda doang, kasian kaki aku yang satunya gak bergerak juga" ucap Nayla memberi alasan
"Ya udah besok kita cari tongkat ya" Adit mengelus lembut rambut Nayla.
"Sayang kemarin Papa kirim uang buat nambahin berobat kamu, Tia juga" Adit memberitahu Nayla soal uang yang dikirim Ayah Nayla.
Sebetulnya Papa Nayla ingin sekali melihat kondisi putrinya namun sayang kondisinya tidak memungkinkan untuk pergi jauh.
Adit berjanji pada Ayah mertuanya akan VC esok.
__ADS_1
Mata Nayla nampak berkaca-kaca "Dit..aku gak mau papa liat aku kaya gini" ucap Nayla sambil menunduk.
Tanpa terasa air mata Nayla mengalir begitu saja.
"Jangan Nangis sayang, kalo kamu gak mau ngomong sama Papa gak apa-apa" ucap Adit sambil menghapus air mata Nayla dengan ibu jarinya.
"Bukan gak mau Dit, tapi aku gak mau Papa tambah sedih liat aku yang cacat" Nayla menundukan kepalanya.
"Aku gak mau cacat Dit.."
"Tolonginnn aku...aku gak mau kaya gini Dit..."
Nayla kembali menangis namun kali ini tangisannya membuat hati Adit sakit.
Ingin rasanya ia marah namun ia tak tahu haris marah pada siapa.
"Aku gak mau kaya gini....hu...hu...Aditt " Nayla menarik tangan Adit sementara Adit memalingkan wajahnya karena tak tahan melihat kesedihan yang dirasakan oleh istrinya itu.
" **Aakuu gak mau kaya ginii Ditt...gak mauu"
" Aaahhhhhh aku benci aku benciii**"
hu..hu...Nayla memukul-mukuli kakinya yang sakit.
Adit langsung menahan tangan Nayla agar tak menyakiti diri sendiri.
" Sayangg jangan kaya gini Nay...pliss" akhirnya air mata yang sedari tadi Adit tahan tumpah juga mengalir begitu saja tanpa permisi.
"Aku sakit Nay..liat kamu kaya gini" Adit kembali mendekap erat tubuh kecil Nayla ia menahannya saat Nayla meronta dan memukuli dadanya.
Ia membiarkan Nayla meluapkan semua emosinya karena saat ini tak ada apa pun yang bisa menenangkannya kecuali mengeluarkan semua emosinya yang terpendam.
Akhirnya Naylapun tertidur dalam dekapan Adit.
Adit mengambil air hangat dan washlap lalu dengan sangat hati-hati ia mengelap wajah Nayla.
"Met malem sayang mimpi indah ya yang" Adit mengecup lembut kening Nayla lalu ia ikut merebahkan diri disamping Nayla dan memeluknya.
Perlahan Aditpun ikut terlelap.
"*Jangannn ....jangannn tolongg jangan bawa aku...."
" Aditt tolonginn aku...."
" Ahhhhh tooolonghh*..."
Adit langsung terbangun saat mendengar suara Nayla yang sepertinya sedang bermimpi buruk.
"Nay...Nayla bangunn yang.."
"Bangun Nay..." Adit teruss mengguncang tubuh Nayla berharap Nayla segera membuka matanya.
Keringat bercucurann di dahi Nayla.
"*Ahhh ....jangan ...aku gak mauuu"
"Jangann bawa aku...tollonggg*"
"Sayang.. bangun dong Nay..." Adit terus menepuk-nepuk pipi Nayla namun istriny itu begitu susah untuk dibangunkan.
Dengan tepukan sedikit agak keras akhirnya Nayla terbangun dengan nafas yang tersengal-sengal.
"Aditt..aku takutt" Nayla langsung memeluk Adit saat sadar jika yang berada didepannya adalah benar suaminya.
__ADS_1
"Tenang sayang ini aku..." Adit berusaha menenangkan Nayla yang masih memeluknya erat.
"Aditt aku takut, dia mau bawa aku..." Nayla masih terisak saat menceritakan mimpinya pada Adit.
"Sayang itu cuma mimpi, ayo tidur lagi" Adit berusaha meyakinkan Nayla semua baik-baik saja.
"Aku gak mau tidurr..aku takutt" Nayla masih memeluk Adit erat seakan takut.
"Aku temenin ya tidurnya" perlahan Adit merebahkaj tubuh Nayla.
Mata Nayla terus melihat seisi ruangan seakan ada sesuatu yang sedang menatapnya.
"Nay..Nayla mata kamu jangan kaya gitu, madep sini kalo kamu takutt" Adit memaksa wajah Nayla agar menghadapnya.
Naylapun mengikuti apa yang Adit mau kini wajahnya beehadapan dengan wajah Adit.
Ia menatap Adit tidak berkedip.
"Kenapa dia liatin aku kaya gitu ya" batin Adit merasa bingung.
"Kamu siapa?" tanya Nayla..
"Ha...."
"Ini aku sayang suami kamu, Aditt" ucap Adit yang seakan tak percaya dengan apa yang ia dengar barusan.
"Bukan..kamu bukan Adit.." Nayla berusah mendorong tubuh Adit agar menjauh darinya.
"Nay..Nayla ini aku sayang.." Adit berusaha meyakinkan Nayla.
Setelah sekian menit akhirnya Aditpun menelpon aa dan menceritakan semuanya.
Hati Adit sedikit tenang saat aa bilang ia akan membantunya dari jarak jauh.
Aditpun masuk kedalam kamar, Nayla menjauhh dari Adit, wajahnya nampak seperti orang yang ketakutan.
"Nay..ini aku kamu jangan takutt aku gak jahat kok.." ucap Adit pelan berusaha meyakinkan Nayla.
Naylapun mulai berani menatap Adit namun ia masih belum berani jika harus mendekat.
"Itu betulan kamu Dit??" tanya Nayla raguu
"Iya ini aku Nay.." Adit mengulurkan tangannya dan Naylapun memberanikan diri untuk menyentuh tangan Adit.
"Jangan takut Nay...ada aku" ucap Adit pelan dan mulai mendekati Nayla pelan-pelan.
"Ini aku Nay.." Adit langsung mendekap Nayla saat merasa tak ada penolakan.
" Aku sayang kamu Nay.." ucap Adit lalu mencium kening Nayla.
Tak lama kemudian Naylapun kembali terlelap dalam dekapan Adit.
Hhallo maaf kemarin aku gak bisa up soalnya kesehatan aku masih ngedropp.
Buat para author maaf y kalo aku rada lama ngebales.
Maaf juga jika masih banyak typo padahl udah aku baca ulang.
jangan lupa kasih like dan Vote biar aku makin semangattt
Salam Maniss
Amellajj//authorr
__ADS_1